Sekuel Dinikahi Konglomerat Sejagat!
Biar terasa greget baca dulu novel tersebut, baru maraton ke sini.
Devin terpaksa menikahi anak dari asisten pribadi orangtuanya, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya.
Perintah dari Argan selaku orangtua, tidak dapat dia tolak. Terpaksa menerima pengantin pengganti, meski dia tidak mempunyai perasaan apapun.
Akankah Devin bisa membangun cinta, bersama Tasya yang super cuek? Atau justru Tasya yang sulit membangun cinta, pada Devin yang dingin nan arogan?
Simak kisahnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Buruk
Pukul 20.30. Devin naik ke atas ranjang tidur, lalu melingkarkan tangannya pada tubuh Tasya.
"Devin lepasin." Pinta Tasya.
"Aku tidak mau." Jawab Devin.
"Lepaskan, apa kamu lupa kalau kita teman." Tasya mengingatkan.
"Iya, kamu teman hidupku." Jawab Devin.
Tasya sibuk bergerak, wajahnya terlihat cemas.
"Devin." Tasya berteriak.
"Apa sih, sudah dekat masih saja berteriak." Jawab Devin.
Tasya sibuk bergerak, Devin segera mengangkat kaki kanannya menindih kaki Tasya. Devin terus tersenyum, memandang wajah Tasya.
"Tasya, Devin, kalian tidak apa-apa 'kan?" Tanya Argan, dari luar kamar.
"Tidak Pa, kami sedang berduaan." Jawab Devin, sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Tasya.
"Cepat beri kami cucu." Argan memberikan amanah.
Dia segera pergi meninggalkan kamar mereka.
'Hah Papa minta cucu, gawat ini. Aku tidak mau, aku takut.' Batin Tasya.
Devin mencium tubuh Tasya yang wangi, matanya beralih menatap bibir ranum miliknya. Devin segera mencium Tasya, gadis itu menolak namun Devin memaksa. Devin sudah tidak tahan lagi, karena dia cinta pada Tasya. Lagipula mereka sudah sah pikirnya.
"Apa kamu sudah gila, lepaskan." Tasya memberontak.
"Ayo, Tasya aku akan segera melakukan hal yang kamu takutkan." Jawab Devin.
Tasya terus mengerakkan tubuhnya, ke kanan dan ke kiri. Devin segera menghampiri Tasya yang sedang tidur, karena Tasya sedang bermimpi.
"Tasya, bangun." Devin sibuk, menepuk-nepuk pipi Tasya.
Tasya bangun dari tidurnya, dia melihat Devin di sebelahnya.
"Ternyata hanya mimpi." Ucapnya, sambil mengelus dada.
"Mimpi apa kamu?" Tanya Devin.
"Aku mimpi buruk." Jawabnya.
"Makanya, jangan lupa baca doa sebelum tidur. Kalau bangun juga, jangan suka teriak-teriak dengan suami." Jawab Devin, dia mengacak-acak rambut Tasya.
"Dasar anak nakal." Ujar Tasya. Dia membenarkan rambutnya.
"Biarin, walaupun nakal tapi tampan." Jawab Devin, dengan bangga.
Pukul 06.55 Tasya dan Devin sudah keluar dari kamar. Tasya dan Devin pura-pura bertengkar kembali.
"Devin kamu itu keterlaluan, karena sengaja mematikan air shower." Tasya berucap dengan lantang, sambil mengedarkan pandangan ke sekitar.
"Kamu yang keterlaluan, handuk basah diletakkan di atas kasur." Jawab Devin.
Argan dan Nadin menghampiri mereka, sambil tersenyum. Mereka tahu, bahwa Devin dan Tasya sedang bersandiwara.
"Kalian harus sarapan pagi, jangan membuang tenaga." Ujar Nadin.
"Iya Ma." Jawab mereka bersamaan.
Di sekolah, Tasya segera mengikuti tes urine. Dia tidak boleh keluar, sebelum hasil tes laboratorium keluar.
Setelah dipastikan Tasya memang tidak hamil, dia baru boleh mengikuti ulangan di kelasnya. Hasil tes telah keluar, itu merupakan bukti yang cukup kuat.
Tasya membuka kertas hasil ulangan matematika miliknya. Ada rasa kesal, melihat angka penilaian dari guru. Apalagi warnanya merah, itu pertanda dia harus mengikuti ulangan untuk kedua kalinya.
'Ternyata aku lemah di bidang matematika. Harusnya aku minta ajari pria kaku.' Batin Tasya.
"Tenang Sya, kamu baru kali ini juga." Ujar Tera.
"Iya, ada aku juga yang mengulang lagi." Tambah Okta.
"Iya Tera, tapi aku ingin masuk ke kampus Elite. Aku ingin nilai ku bagus semua." Jawab Tasya.
Tasya mengacuhkan Okta, dia tidak mempedulikannya. Tasya masih merasa sakit hati, karena mengira Okta menyebar rekaman video dirinya.
"Sya, aku akan membuktikan ke kamu. Aku memang suka sama Devin, tapi bukan aku orangnya. Please, percaya sama aku." Ujar Okta jujur.
"Lalu, siapa lagi Tante?" Tanya Tera.
"Bisa saja orang yang dengki pada persahabatan kita." Jawab Okta, sambil melirik Rumi dan Rubis.
Tasya melihat dua orang yang dilirik oleh Okta. Dia berpikir sejenak, memang bisa saja mereka yang melakukan laporan itu.
'Aku harus menyelidikinya.' Batin Tasya.
Jam istirahat tiba, Tasya menarik tas gendong Rubis dari belakang.
"Hei lepasin." Teriak Rubis.
"Aku tidak mau, sebelum kamu jawab pertanyaanku." Jawab Tasya.
Rumi menghempaskan tangan Tasya. Dia menatap tajam, gadis yang tidak disukainya itu.
"Cari masalah iya lu." Ujar Rumi berkacak pinggang.
"Kalian yang mencari masalah duluan. Ngaku saja, pasti kalian yang sengaja kirim rekaman video ke kepala sekolah." Tasya mengintrogasinya.
"Kalau iya kenapa, bukankah tidak masalah." Ujar Rubis.
"Aku punya rekaman kalian, yang sedang berebut toilet. Sungguh itu sangat memalukan, bila tersebar ke seluruh sosial media." Ancam Tasya.
"Kamu mengancam kita silahkan, kami tidak takut. Tapi, lihatlah sosial media yang heboh sekarang." Jawab Rubis.
Dia melemparkan rambutnya, hingga mengenai wajah Tasya.
"Hah, heboh sekali komen mereka." Tasya melihat layar ponselnya.
Tasya mulai membaca satu persatu ulasan pengguna sosial media.
"Widih, komennya tidak enak sekali. Awas kalian berdua, akan aku kasih pelajaran. Bukan balas dendam, tapi membuat kalian berdua kapok." Monolog Tasya.
Tasya mengirim rekaman video Rubis dan Rumi ke sosial media.
"Cewek-cewek yang berlagak paling cantik, tapi berebut toilet."
Devin diam-diam mengintip akun sosial media Tasya. Dia tersenyum melihat status Tasya, namun seketika teringat seseorang.
"Bukankah perempuan ini, yang hampir tertabrak denganku waktu itu." Devin berbicara sendiri, teringat akan kejadian lampau.
Dia ingat dengan Rubis, dan dia tidak tahu kenapa Tasya menyebarkan hal buruk yang dilakukan oleh Rubis.
'Jangan-jangan dia ini musuhnya si Tasya.' Batin Devin.
Sepulang dari sekolah, Tasya dijemput oleh Devin. Rubis segera berlari ke arah Devin, yang ada didekat Tasya.
"Kamu pria yang hampir menabrak ku waktu itu 'kan?" Ujar Rubis, berlagak akrab.
"Eh iya, kamu perempuan yang waktu itu minta antar sampai sekolah." Jawab Devin.
'What? Devin diam-diam main di belakang. Dia mengantar si Rubis ke sekolah. Huh, benar-benar menyebalkan si Rubis ini. Dia pasti mencari perhatian Devin suamiku.' Batin si Tasya, merasa tidak terima.
Tasya segera menarik tangan Devin, sambil menatap Okta dengan tatapan tajam.
"Devin sayang, kamu harus segera pergi ke kantor. Kita masih banyak kerjaan, jangan membuang waktu untuk orang tidak penting. Gadis genit cocok diabaikan." Ujar Tasya, sambil tersenyum lebar.
"Heh, kamu nyindir aku?" Bentak Rubis.
"Bagus sih kalau merasa. Biar sekali-kali berkaca, dan sadar diri." Jawab Tasya.
'Dasar pengantin pengganti, awas saja kamu. Aku pasti bakalan dapatin hati Devin, sebelum jatuh cinta sama bocah seperti kamu.' Batin Rubis.
Devin segera masuk ke dalam mobil, kerena mendengar Tasya menutup pintu dengan kuat. Tasya merasa kesal, melihat kedekatan mereka.
'Apaan sih Tasya, tidak perlu cinta dengan pria kaku wajah es ini.' Batinnya.
"Tasya sayang!" Seru Devin, sambil mengelus kepalanya.
"Apaan sih panggil-panggil sayang." Jawabnya ketus.
"Kamu juga memanggil aku sayang di depan temanmu. Oh aku tahu, kamu sengaja biar dia menjauh." Jawab Devin asal tebak, tapi menjengkelkan buat si pendengar.