NovelToon NovelToon
Selayaknya Cinta

Selayaknya Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Keluarga
Popularitas:28.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏

Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.

Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.

Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.

Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.

Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Getar Rasa

"Lo buta, Van," ucap Arga pelan namun menohok.

Devan mengernyit. "Apa?"

"Lo buta karena dendam lo sama Tamara. Lo lampiasin semuanya ke Putri cuma karena dia ada di sana. Karena dia 'tumbal' yang gampang diinjek." Arga menatap sahabatnya tajam. "Hati-hati, Bro. Ada jenis kehilangan yang nggak bisa diganti sama kata maaf. Jangan sampe lo nyesel pas dia beneran nyerah sama lo."

Devan terdiam sesaat, kalimat Arga terasa mengganggu telinganya. Namun, ego laki-laki itu terlalu tinggi untuk runtuh. Ia meneguk habis minumannya, lalu berdiri.

"Nggak akan ada penyesalan buat parasit, Ga. Gue balik duluan."

Devan hendak beranjak, tangannya sudah meraih kunci mobil di atas meja, namun suara Arga yang memberat menahannya di tempat.

"Van, duduk dulu! Gue belum selesai," cegah Arga tegas.

Devan berdecak, namun ia kembali menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa. "Apa lagi? Kalau lo mau ceramah soal moral, gue cabut."

Arga menatap sahabatnya lurus-lurus, tatapan yang jarang sekali ia keluarkan kecuali untuk hal yang sangat serius. Ia menarik napas panjang sebelum mengucapkan kalimat yang selama ini menggantung di antara mereka.

"Van, gue tahu, lo juga tahu," suara Arga merendah, namun setiap katanya terdengar jelas di tengah alunan musik jazz kafe. "Gimana sebenarnya kisah hidup Putri. Dia itu kehilangan ibu sejak bayi, ibunya meninggal setelah melahirkan dia."

Devan memalingkan wajah, enggan menatap mata Arga, tapi telinganya tak bisa menutup diri.

"Putri..." lanjut Arga dengan penekanan, "enggak pernah diterima di rumah Tamara. Dia anak dari istri kedua ayahnya. Dan lo tahu kan, ayahnya terpaksa menikah dengan ibu Putri juga karena permintaan kakeknya, bukan karena cinta. Tapi apa? Putri seorang yang harus menanggung derita itu. Lo enggak kasian sama dia?"

Rahang Devan mengeras. Kalimat itu menelusup masuk, menembus pertahanan egonya yang tebal. Ia tahu fakta itu, semua orang di lingkungan elit mereka tahu aib kelahiran Putri. Tapi selama ini, Devan memilih untuk melihat fakta itu sebagai alasan untuk membenci, bukan untuk mengasihi.

"Itu bukan urusan gue, Ga," sangkal Devan, meski suaranya tak sekeras tadi. "Nasib dia emang sial, tapi kenapa harus gue yang nanggung buntutnya? Kenapa harus gue yang kejebak sama anak pembawa sial itu?"

"Karena sekarang dia istri lo, Devan!" sentak Arga, sedikit menaikkan nada bicaranya hingga beberapa pengunjung menoleh. Arga mengabaikan mereka. "Dia enggak minta dilahirin, Van. Dia enggak minta ibunya meninggal. Dia juga enggak minta dijodohin sama lo buat gantiin Tamara yang kabur entah kemana."

Arga mencondongkan tubuhnya, menunjuk dada Devan. "Lo marah sama Tamara, lo kecewa sama pak Brahma, tapi lo lampiasin semuanya ke Putri cuma karena dia yang paling lemah. Dia yang paling nggak bisa ngelawan. Lo sadar nggak, sih? Lo sama brengseknya sama orang-orang yang ngebuang dia di rumah itu."

Devan terdiam kaku, tangannya mengepal erat di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih.

Pertanyaan Arga menempel di otaknya seperti lintah, menghisap keyakinan dirinya. "Lo enggak kasian sama dia?"

Bayangan wajah Putri melintas di benaknya, bukan wajah yang memelas minta dikasihani, tapi wajah tabah yang selalu menunduk saat dimaki.

Wajah pucat yang tetap tersenyum menyambutnya pulang, meski tahu tak akan ada balasan. Wajah seorang gadis yang seumur hidupnya dihukum untuk dosa yang tidak pernah ia lakukan.

Egonya goyah, ada retakan kecil di dinding kebencian yang ia bangun. Rasa bersalah yang asing mulai merayap naik, mencekik lehernya.

"Apakah gue... terlalu kejam?" batinnya berbisik.

Di detik berikutnya, rasa sakit akibat ditinggalkan Tamara kembali menyengat, rasa malu karena dipermainkan takdir kembali mendominasi.

Devan tidak boleh terlihat lemah, mengakui kesalahannya pada Putri berarti mengakui bahwa ia telah menjadi monster selama ini, dan Devan belum siap menerima kenyataan itu.

Devan segera membangun kembali tembok pertahanannya, lebih tinggi dari sebelumnya.

"Simpan rasa kasihan lo, Ga," ucap Devan dingin, berdiri dengan kasar. Ia menutupi kegoyahan hatinya dengan topeng kemarahan. "Gue nggak butuh nasihat lo soal rumah tangga gue. Putri ada di sana buat bayar utang keluarganya ke gue. Titik!"

Tanpa menunggu balasan Arga, Devan melangkah pergi meninggalkan kafe. Langkahnya lebar dan cepat, seolah sedang lari dari kebenaran yang baru saja dilempar ke wajahnya.

Namun, di dalam mobil yang melaju membelah jalan di kesunyian malam, kata-kata Arga terus bergaung, memantul-mantul di kepalanya tanpa henti.

"Putri seorang yang harus menanggung derita itu..."

Devan memukul setir mobil dengan frustrasi. "Sialan!" umpatnya.

Ia benci perasaan ini, ia benci karena jauh di lubuk hatinya, ia tahu Arga benar.

Ia sedang menghukum orang yang tidak salah, dan kesadaran itu membuatnya semakin marah. Marah pada Tamara, marah pada keadaan, dan yang paling parah, marah pada dirinya sendiri.

Sesampainya di rumah, ia berharap menemukan alasan untuk kembali membenci Putri. Ia berharap melihat Putri melakukan kesalahan, agar rasa bersalah di dadanya bisa hilang.

Namun, yang ia temukan hanyalah keheningan rumah yang gelap, dan sosok ringkih istrinya yang tertidur di sofa, menunggu kepulangannya seperti orang bodoh yang setia.

Melihat tubuh kurus Putri yang meringkuk di bawah cahaya remang, kalimat Arga kembali menghantamnya lebih keras.

Devan berdiri mematung di samping sofa, menatap wajah pucat istrinya yang sedang terlelap, pertahanan egonya kembali diuji.

Untuk sedetik, tangan Devan terangkat, seolah ingin membenarkan letak selimut yang merosot dari bahu Putri, gerakan refleks yang didorong oleh sisa nurani. Namun, sebelum tangannya menyentuh kain itu, Putri bergerak dalam tidurnya, merintih pelan menahan sakit.

Devan tersentak, menarik tangannya kembali seolah tersengat listrik. Wajahnya kembali mengeras. Tidak! Dia tidak boleh peduli, peduli berarti kalah.

"Caper," desis Devan pelan, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri daripada menghina Putri.

Ia menendang kaki meja pelan, membangunkan Putri dengan sengaja, mengubur rasa kasihan itu dalam-dalam di bawah tumpukan egonya yang terluka.

***

Waktu terus berjalan, dan Putri masih saja diabaikan. Sekarang pernikahan mereka bahkan sudah jalan delapan bulan, beberapa bulan lagi genap satu tahun.

Sekarang, mereka berdua tinggal di perumahan elit. Devan sengaja mengajak Putri untuk pindah, supaya jaraknya ke kantor lebih dekat.

Pagi itu, suasana di meja makan terasa jauh lebih berat dari biasanya. Devan duduk diam, menatap layar tabletnya yang menampilkan berita saham, namun matanya tak benar-benar membaca satu kalimat pun. Ekor matanya terus mencuri pandang ke arah dapur, tempat Putri sedang sibuk.

Kalimat Arga beberapa waktu lalu seperti hantu yang menolak pergi.

Devan mendengus pelan, mencoba mengusir suara itu. Ia menajamkan fokusnya pada Putri. Gadis itu berdiri di depan kompor, mengenakan daster rumahan yang kini terlihat kebesaran di tubuhnya.

Bahunya merosot, rambut panjangnya diikat asal, memperlihatkan leher belakang yang tampak begitu ringkih, seolah satu sentuhan keras saja bisa mematahkannya.

Saat Putri berbalik membawa piring berisi nasi goreng, Devan bisa melihatnya dengan jelas, sangat jelas.

Wajah itu bukan sekadar pucat, itu adalah warna putih kelabu yang tidak wajar, seolah darah telah berhenti mengalir di bawah kulitnya. Bibir yang biasanya merah muda alami, kini pecah-pecah dan memutih. Dan mata itu... mata yang dulu selalu berusaha menatapnya dengan binar harapan, kini cekung dan redup, dikelilingi lingkaran hitam yang pekat.

"Dia kurus sekali," batin Devan tanpa sadar mengakui. Tulang selangkanya menonjol di balik kerah baju yang longgar.

Waktu awal-awal tahu bahwa yang memasak untuknya adalah Putri, Devan sangat marah. Namun, dia bisa apa? Bi Rena juga sudah tidak bekerja lagi dengannya, wanita itu ikut ajakan anaknya untuk pindah dari kota kelahirannya.

1
Dwi Winarni Wina
pergi yg jauh putri klo tidak anggap cari kebahagiaan sendiri, percuma bertahan ya rasa sakit kamu dapatkan...
Dwi Winarni Wina
Putri hanya dijadikan isti pajangan aja sm devan, putri dah biasa keberadaannya tidak dianggap...
Dwi Winarni Wina
kasian malang bingit nasibnya putri sengsara terus, sabar ya putri kebahagiaanmu pastinya akan dateng nanti...
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ
Dari sini keliatan nya julian itu cukup baik
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
owalah Julian kok Ogeb sih jngn langsung telan Jul, cerna dulu omongan Tamara
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ𓆪: sip🤣😭😭 nnti dicari tau
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
selidiki lah
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
harus cari tau Jul, jangan percaya gtu ajah
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ
Secara tidak langsung sifat tamara yg seperti ini adalah hasil didikan dari Anggun juga sejak kecil /Facepalm/
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ
dokter elena makin lama bisa setres dia kalo gini terus 🤣🤣
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
salah satu netizen kmu put, aku nih
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ: Tabok nihh /Hammer//Hammer/
total 3 replies
APRILAH
penderitaan itu seolah-olah jurang yang tak berujung.
Panda
hmmmmm 🤔🤔

ku kira Devan bakal lebih keras kepala dari ini

ternyata gampang luluh juga baru liat lebam dan kejadian kopi doang

di sini putri Uda kurus banget dong kakkk???
Panda: curiga si putri bakal rebith
total 2 replies
Panda
waduh metafora nya bisa bikin salah persepsi ini 😏
Panda
gue dong kak 🤣
Serena Khanza
dih najis banget si anggun nuduh sembarangan awas tiati kena karma bu 😏🙄 trus pak brahma setidaknya empati dikit kek, inget tuh putri jamgan pernah nolongin atau baik2 in keluarga toxic kayak gitu, buang aja ke laut
Kaka's
bintang 5 yah sesuai alur cerita
Kaka's
/Awkward//Awkward//Awkward//Awkward/waduh... sakit mas.. 🤭🤭🤭
Kaka's: 🤣🤣🤣🏃🏻‍♂️🏃🏻‍♂️🏃🏻‍♂️🏃🏻‍♂️
total 1 replies
Hunk
Masih aja lu bahas cewe yang gak jelas.
Hunk
Dokter aja ampe tau si putri hidup sebatang kara
Hunk
Ini adalah kata kata dokter di sinetron. Otomatis ga akan selamat/Sob/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!