Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.
Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianat
Sepuluh menit kemudian, ruangan itu terasa mencekam. Brian masuk dan melempar berkas ke meja dengan dentuman keras.
"Terima kasih sudah datang," suara Brian mengalun tenang, namun matanya mengunci Syarif. Ia memberi kode pada Frans untuk menyalakan layar besar yang menampilkan simbol kalajengking hitam.
"Salah satu dari kalian membuka pintu untuk serigala semalam," lanjut Brian sembari berjalan mengelilingi meja, lalu berhenti tepat di belakang kursi Syarif. Ia meletakkan tangannya di bahu sang komisaris. "Dan aku tidak suka ada kotoran di rumahku sendiri."
Syarif berdeham, mencoba tenang. "Tuan Brian, kami tidak tahu apa maksud simbol itu."
Brian terkekeh dingin. "Kau tahu, Syarif. Kuku wanita itu mengelupas karena mencoba melawan. Menurutmu, apa yang akan terjadi pada kuku orang yang berkhianat"
Darmawan yang duduk di ujung meja tiba-tiba menjatuhkan pulpennya. Tangannya bergetar hebat saat berusaha mengambil benda itu kembali. Brian melirik pelan, senyum sinis tersungging di bibirnya. Target pertama sudah menunjukkan reaksi.
Brian berdiri, merapikan jasnya yang tak berkerut. Aura di sekelilingnya mendadak berubah menjadi sangat menyesakkan. Ia berjalan perlahan mendekati Syarif, lalu membungkuk hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa sentimeter.
"Syarif," bisik Brian, nadanya rendah namun tajam seperti sembilu. "Kau adalah orang lama kakakku. Katakan padaku, seberapa besar harga yang mereka tawarkan sampai kau tega mengkhianati perusahaan ini?"
Syarif akhirnya menoleh. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum sinis yang penuh kebencian. "Kakakmu terlalu lemah, Brian. Dia punya kekuatan besar, tapi dia ingin bermain bersih. Di dunia ini, kau tidak bisa memiliki keduanya."
Mendengar itu, rahang Brian mengeras. Kilat amarah yang selama ini ia sembunyikan di balik wajah aktornya kini meledak. Ia mencengkeram kerah baju Syarif hingga pria tua itu terangkat sedikit dari kursinya.
"Kau pikir nyawa kakakku dan wanita itu tidak berharga," geram Brian. Suaranya menggelegar di ruang rapat yang kedap suara itu. "Kau pikir kau bisa menukar darah keluarga Aditama dengan tumpukan uang dari kartel itu?"
Syarif tertegun, napasnya tersengal karena cengkeraman Brian, namun ia tidak membantah. Diamnya Syarif adalah pengakuan yang paling nyata.
"Kakakmu... dia sama keras kepalanya denganmu," desis Syarif di sela seleret tawanya yang parau. "Dia menemukan apa yang seharusnya tidak dia cari."
Brian melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Syarif terjerembap kembali ke kursi. Brian membalikkan badan, berusaha mengatur napasnya yang memburu.
"Frans," panggil Brian tanpa menoleh. "Bawa Darmawan ke ruang bawah. Biarkan tim interogasi khusus mengobrol dengannya sampai dia memberikan kode akses rekening luar negeri itu."
"Jangan, Tuan! Tolong!" jerit Darmawan saat Frans menyeretnya keluar.
Kini Brian kembali menatap Syarif dan Rizal dengan tatapan kosong yang mematikan.
"Tahan Syarif di kediaman pribadinya di bawah pengawasan ketat. Putus semua akses komunikasinya. Jika ada satu saja informasi yang bocor ke luar, aku sendiri yang akan memastikan dia menyusul kakakku ke liang lahat."
Setelah ruangan dikosongkan, Brian berdiri sendirian menatap pemandangan kota. Tangannya masih sedikit bergetar. Kematian kakaknya adalah luka lama yang kini terbuka kembali, dan pelakunya orang-orang kepercayaannya sendiri.
"Mereka akan membayar semuanya, Hendra," ucap Brian saat Frans kembali masuk ke ruangan. "Bukan hanya dengan uang, tapi dengan nyawa."
...***...
Di dapur mewah Mansion Aditama, Arumi sibuk mengaduk adonan es krim cokelat. Senyum tipis terukir di bibirnya saat mengingat permintaan Brian pagi tadi. Pria sejuta pesona yang biasanya dingin dan kaku itu tiba-tiba merengek ingin dibuatkan es krim cokelat buatannya. Sungguh kontras dengan citra aktor besar yang ia sandang.
Di sisi lain meja dapur, Dona tak kalah sibuk. Ia sedang berjuang mencetak puding stroberi berbentuk hati. Wajahnya tampak serius, bahkan ada sedikit noda tepung di pipinya. Sudah beberapa kali ia mengulang karena bentuknya tidak sempurna.
" Please, please... jangan gagal lagi," cicit Dona pelan, hampir seperti doa.
Tingkah nona muda Aditama itu tak pelak membuat Arumi dan beberapa pelayan yang melintas tersenyum geli.
"Memangnya buat siapa puding itu, Dona?" tanya Arumi sembari memasukkan adonan es krim ke dalam mesin pendingin.
"Ini untuk Frans, Kak," jawab Dona tanpa mengalihkan pandangan dari cetakannya.
Arumi menghentikan gerakannya sejenak, alisnya terangkat. "Memangnya dia suka puding? Setahuku Frans orang yang sangat praktis soal makanan."
"Tidak juga, sih. Tapi aku akan memaksanya makan karena kami sudah pacaran!" ucap Dona dengan nada bangga yang meledak-ledak.
"Apa?! Kamu pacaran dengan..."
"Siapa yang sudah pacaran?"
Suara bariton yang berat itu seketika memotong kalimat Arumi. Brian berjalan mendekat dengan langkah santai, jasnya sudah dilepas dan kemejanya digulung hingga siku. Ia mengecup pipi Arumi dengan lembut sebelum beralih mencium puncak kepala Dona.
"Ah... itu... tadi kucing temanku pacaran dengan anjing sebelah, Kak!" jawab Dona absurd. Ia gugup setengah mati.
Brian mengangkat alisnya, menatap adik sepupunya dengan tatapan tidak percaya. "Kucing dan anjing? Sejak kapan kau tertarik dengan biologi yang menyimpang seperti itu?"
"Ah, sudah selesai! Bibi Astrid, tolong bawakan puding ini ke kamarku, ya? Aku mau menelepon Mami dulu!" Dona berseru panik, memberikan kode pada pelayan senior di sana lalu segera lari terbirit-birit menghindar dari interogasi Brian.
Bibi Astrid tersenyum maklum, membawa nampan berisi puding itu diikuti pelayan lain, meninggalkan pasangan itu berdua di dapur.
Brian beralih menatap es krim buatan Arumi. Dengan wajah jahil, ia mengambil segenggam kacang almond dan menaburkannya lagi ke dalam adonan yang hampir jadi.
"Oh astaga, Brian! Nanti teksturnya gagal, ini sudah cukup!" keluh Arumi kesal, mencoba menjauhkan tangan Brian.
Bukannya berhenti, Brian malah menarik pinggang Arumi, memeluknya dari belakang dengan erat. Ia menelusup kan wajahnya, mencium ceruk leher Arumi yang selalu beraroma vanila dan bunga segar.
"Biarkan saja gagal," bisik Brian dengan suara serak, seolah beban berat dari kantor tadi menguap begitu saja. "Aku hanya butuh sesuatu yang manis sekarang, dan itu bukan cuma es krim ini."
Brian menahan wajah Arumi ke samping, mengunci tatapannya sejenak sebelum akhirnya melumat bibir wanita itu. Ciumannya tidak lagi lembut, ada tuntutan dan gairah yang tertahan setelah hari yang panjang di kantor. Ia menyesap bibir Arumi, membelit lidahnya dengan penuh dominasi, memancing suara lenguhan kecil keluar dari mulut istrinya.
Di ambang pintu, langkah Bibi Astrid terhenti. Sebagai pelayan senior, ia sudah paham betul gelagat tuan mudanya jika sedang ingin bermesraan. Dengan gerakan tenang dan cekatan, ia melangkah ke arah tembok, menekan tombol pintu dapur agar tertutup otomatis. Tak lupa, ia mematikan akses CCTV di ruang dapur itu demi privasi mereka sebelum berlalu pergi.