NovelToon NovelToon
Ratu Layla ( Takhta Darah Di Atas Atlas )

Ratu Layla ( Takhta Darah Di Atas Atlas )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Barat
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: Anang Bws2

kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang Akar yang Merayap

Cahaya fajar mulai menyelinap melalui celah tirai beludru hitam di kamar sang penguasa Atlas. Ratu Layla membuka matanya, sisa-sisa amarah semalam masih mengendap di dasar jiwanya. Tanpa sepatah kata pun, ia bangkit dan melangkah menuju kamar mandi . Ruangan itu terbuat dari pualam gelap dengan pancuran air hangat yang terus mengalir. Layla menanggalkan pakaiannya, membiarkan air menyiram tubuhnya, mencoba membasuh rasa jijik dan dendam yang melekat setelah pertemuan dengan Gris. Di bawah guyuran air, ia terdiam, jemarinya menyentuh dinding marmer, membayangkan betapa kerasnya ia harus menempa diri agar tidak lagi direndahkan oleh siapa pun.

Setelah mengenakan gaun sutra yang ringan , Layla memutuskan untuk berjalan-jalan di taman istana. Taman itu penuh dengan bunga warna-warni, . Langkah kakinya yang anggun terhenti ketika sosok tegap menyusulnya dari belakang. Itu adalah Delta, panglima setianya yang tampak gelisah sejak perjamuan semalam.

"Yang Mulia," panggil Delta dengan suara rendah. Ia berjalan di samping Ratu, "Saya ingin bicara soal rencana Penyihir Petir. Saya khawatir umpan sihir itu justru akan menjadi bumerang bagi kita. Musuh kita bukan hanya sekadar gerombolan makhluk kasar, mereka dipandu oleh sihir yang licik."

Layla berhenti di depan sebuah pohon besar yang daunnya berwarna perak. Ia menatap Delta dengan tajam, namun ada sedikit kelembutan yang tersembunyi. "Delta, kau adalah panglima perangku yang paling perkasa. Keberanianmu di atas punggung Griffon tidak tertandingi. Namun, kali ini kau harus belajar mempercayai intrik. Penyihir Petir tahu apa yang ia lakukan. Kita butuh mereka keluar dari persembunyiannya agar Naga Api kita bisa menghanguskan mereka dalam satu serangan."

"Tapi, Ratu..."

"Cukup, Delta. Fokuslah pada kesiapan pasukan Minotaur dan Centaur. Biarkan sihir dilawan dengan sihir," potong Layla tegas,

Tiba-tiba, suara langkah kaki cepat terdengar. Penyihir Petir muncul dari balik pilar, wajahnya terlihat kaku. "Panglima! Berhenti membuang waktu di taman. Artefak umpan itu hampir selesai, aku butuh kau memeriksa koordinat penempatan pasukan sekarang juga!" teriak sang penasehat dengan nada memerintah yang tinggi.

Delta menggeram rendah. Sebelum ia melangkah pergi menghampiri Penyihir Petir, ia membungkuk sedikit ke arah Layla dan berbisik di dekat telinganya, "Penyihir tua itu hanya besar mulut, Yang Mulia. Dia terlihat seperti burung gagak yang tersambar petirnya sendiri setiap kali dia mencoba berakting hebat."

Mendengar makian halus tersebut, sudut bibir Layla terangkat. Sebuah senyuman tipis dan langka muncul di wajahnya yang dingin. Delta kemudian berbalik dan menghampiri Penyihir Petir dengan wajah ketus, mengikuti sang penasehat masuk ke dalam bangunan utama istana.

Layla kembali terdiam, merenung di tengah taman. Ia menatap langit, memikirkan masa depan Atlas yang kini berada di ujung tanduk. Tak lama kemudian, seorang pelayan tua yang setia menghampirinya dengan baki perak berisi beberapa buah apel merah yang ranum.

"Yang Mulia tampak sangat lelah," ucap pelayan itu lembut sembari menyodorkan buah tersebut. "Makanlah, ini akan memberikan sedikit kesegaran bagi jiwa Anda yang sedang terbebani."

Layla mengambil satu apel dan menggigitnya. Rasa manis yang sedikit asam itu cukup menghiburnya. Sesaat kemudian, ia memutuskan untuk mencari udara segar di luar tembok istana yang menyesakkan. Dengan kawalan beberapa pelayan dan sepasukan kecil Minotaur yang bersenjata lengkap, Ratu menuju ke tepian sungai yang membelah wilayah dekat istana.

Sesampainya di sana, Layla duduk di sebuah batu besar dan mencelupkan kakinya ke dalam air sungai yang dingin. Namun, saat air itu mengalir di sela jarinya, ia melihat sesuatu yang aneh. Ada percikan cahaya kehijauan yang samar, seperti debu bintang yang terperangkap di dalam arus. Aroma kayu lapuk dan tanah basah yang menyengat tiba-tiba tercium, padahal cuaca sangat cerah.

"Sihir Hutan..." gumam Layla dengan mata menyipit penuh curiga. Ia segera menarik kakinya dari air. "Kembali ke istana! Sekarang!"

Dengan langkah cepat, Layla kembali ke dalam istana dan langsung menuju ruang kerja penasehat. Ia ingin menanyakan fenomena di sungai itu, namun ruangan tersebut kosong. Ia mencari ke aula, ke menara petir, namun sang penasehat tidak ada di tempat. Rasa gelisah mulai merayapi hati sang Ratu. Ia menunggu dengan tidak sabar hingga matahari mencapai puncaknya.

Barulah menjelang siang, Penyihir Petir dan Delta muncul bersamaan dengan wajah yang kelelahan. Layla langsung memanggil mereka ke hadapannya. "Kalian dari mana saja? Ada sesuatu yang tidak beres di sungai. Aku melihat jejak sihir milik musuh di sana. Pergi dan awasi area itu segera!" perintah Layla dengan nada yang tidak bisa dibantah.

Tanpa banyak bicara, keduanya langsung berangkat menuju sungai. Di sana, Penyihir Petir mulai merapal mantra untuk mendeteksi energi tersembunyi. Namun, saat mantra itu dilepaskan, permukaan tanah di seberang sungai mulai bergetar hebat. Akar-akar raksasa mencuat dari bumi, saling melilit dan membentuk sosok-sosok raksasa yang mengerikan.

Penyihir Petir terbelalak. "Ini mustahil... Penyihir Hutan telah menciptakan pasukan baru. Mereka bukan sekadar pohon, itu adalah Manusia Pohon yang digerakkan oleh sihir hitam yang sangat kuat!"

Belum sempat mereka bereaksi lebih jauh, akar-akar itu meluncur ke arah mereka seperti cambuk raksasa. Delta dan Penyihir Petir langsung berbalik arah dan melarikan diri dengan memacu tunggangan mereka, menyadari bahwa posisi mereka telah ketahuan dan musuh jauh lebih siap dari dugaan.

Sesampainya di istana, Penyihir Petir langsung menghadap Ratu Layla dengan nafas tersengal, melaporkan penemuan mengerikan itu. Delta, yang merasa terdesak, mencoba memberikan solusi. "Yang Mulia, kita harus segera menebang semua pohon di sekitar perbatasan dan membakarnya! Jika perlu, kita hancurkan semua sumber air agar mereka layu!"

Mendengar saran Delta yang terdengar sangat konyol, seisi aula termasuk para pelayan dan penasehat lainnya meledak dalam tawa. Mereka menertawakan betapa sederhananya logika sang panglima dalam menghadapi sihir tingkat tinggi. Penyihir Petir mendengus sombong. "Kau pikir mereka hanya kayu bakar biasa, Panglima? Manusia pohon itu memiliki regenerasi yang luar biasa. Setiap luka yang kita buat akan tertutup oleh getah ajaib dalam hitungan detik. Mereka adalah benteng berjalan."

Wajah Delta memerah karena malu. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari aula dengan langkah kaki yang menghentak keras, meninggalkan tawa yang masih menggema.

Sisa hari itu dihabiskan dengan perdebatan panjang antara Layla dan Penyihir Petir. Mereka beradu argumen tentang cara menangkal pasukan baru faramis tersebut hingga sore hari menjelang. Tidak ada kesepakatan yang tercapai, hanya rasa frustrasi yang semakin menumpuk.

Malam harinya, Layla mencoba untuk beristirahat. Namun, baru saja ia memejamkan mata, suara gemeretak terdengar dari dinding kamarnya. Ia tersentak bangun dan melihat pemandangan yang mengerikan, akar-akar hitam yang tebal merayap di dinding istana. Akar itu bergerak dengan cepat menuju balkon, lalu dengan gerakan tiba-tiba, akar tersebut menyergap seekor Griffon yang sedang berpatroli, menyeretnya ke dalam kegelapan malam, dan kemudian menghilang seolah tidak pernah ada.

"Penasehat! Kemari sekarang!" teriak Layla dengan murka.

Penyihir Petir segera datang, bahkan tanpa mengetuk pintu. Ia langsung duduk di kursi di dalam kamar Ratu dengan wajah yang pucat pasi. Layla menceritakan apa yang baru saja ia saksikan. Dengan tangan gemetar, Penyihir Petir mengeluarkan bola kristal miliknya. Ia merapal mantra penglihatan jarak jauh untuk mengintip rencana Penyihir Hutan di jantung faramis.

Saat gambar di bola kristal itu muncul, Penyihir Petir hampir menjatuhkannya. Ia sangat terkejut dan kebingungan. Di sana, ia melihat ribuan kayu-kayu tua sedang dirakit, bukan menjadi jembatan, melainkan menjadi makhluk terbang raksasa semacam naga kayu yang mampu mengangkut pasukan.

"Mereka... mereka membuat armada udara dari kayu sihir," bisik Penyihir Petir dengan suara yang hilang. "Kita telah kehilangan keunggulan di langit."

Sang penasehat yang biasanya sombong itu kini tidak memiliki satu pun solusi. Ia bangkit dari duduknya dengan gontai dan keluar dari kamar Ratu tanpa sepatah kata pun. Layla kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur, menatap langit-langit kamar. Di tengah kegelapan, ia menyadari bahwa perang yang sesungguhnya bahkan belum benar-benar dimulai, namun Atlas sudah mulai retak dari dalam. Dalam tidurnya yang singkat dan penuh tekanan, ia hanya bisa berharap fajar esok tidak membawa kehancuran total.

1
Anang Anang
seru
Dini
sungguh mengerikan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!