"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MPG_20
“Terus sekarang rencana lo apa?” tanya Bagas sambil menyruput kopinya yang sudah hampir dingin.
Bayu mendengus kesal. “Eh, kutu. Gue ngajak lo ke sini bukan buat nemenin gue ngopi, tapi buat nemenin gue mikir.”
“Hahaha… sorry, sorry. Gue kira otak liar lo udah nemuin pencerahan.”
Bayu menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit cafe dengan napas berat. “Sekarang tuh bocah ada di mana?”
“Entah. Lagi milih-milih penthouse sama Ajeng kali. Tadi Ardi bilang Naren belum sampai kantor.”
Bagas langsung menegakkan badan. Sorot matanya berubah tajam, mode advokatnya aktif. “Oke. Berarti sekarang kita bikin Naren sibuk dulu sama urusan lain. Minimal hari ini dia berhenti hunting penthouse. Urusan besok, kita pikir sambil jalan.”
Bayu mendengus skeptis. “Sibuk apaan? Semua kerjaannya pasti udah di-handle Ardi.”
“Ya kita buat aja masalah yang nggak bisa di-handle Ardi,” sahut Bagas santai, seolah sedang membicarakan perkara sepele.
Setelah rapat kilat itu, keduanya bersiap menjalankan misi penyelamatan—atau tepatnya, misi penyelamatan sahabat mereka dari kejahatan jin dasim yang terkutuk
“Semobil sama gue aja,” ajak Bayu sambil berdiri. “Biar gampang. Nanti gue suruh orang ngambil mobil lo di sini.”
Mereka baru saja masuk ke mobil saat Bayu menoleh cepat ke Bagas. “Buruan, telepon.”
Bagas mengangguk, langsung menghubungi Naren. Tak sampai tiga dering, telepon itu diangkat.
[Gimana, bro?] suara Naren terdengar santai di seberang.
[Gue sama Bayu lagi otw ke kantor lo. Ada yang perlu dibahas. Lo di kantor, kan?]
[Ngapain kalian ke kantor? Gue lagi ada urusan di luar. Kalau ada apa-apa, bahas sama Ardi dulu aja.]
Bagas melirik Bayu sekilas. Dari jawaban itu saja, dia sudah yakin—Naren sedang bersama Ajeng.
[Cumi, gue sama Bayu sampai ninggalin kantor buat bahas ini. Menurut lo, ini masalah receh?] nada Bagas sengaja ditekan, serius dan mengancam.
Bayu menahan napas, lalu berbisik panik, “Anjir, Gas. Kalau dia malah mutusin kerja sama gimana? Bisa minus sampai akhir tahun gue.”
Bagas malah cekikikan pelan. Serangannya tepat sasaran—dua mangsa sekaligus.
[Agak sorean aja ya, gue masih ada urusan di luar] tawar Naren. Mood Ajeng baru saja membaik setelah mereka menemukan apartemen dengan penthouse yang cocok. Dia tak mau merusaknya.
[Kalau urusan luar yang lo maksud itu main kuda-kudaan sama bini lo, gue kasih waktu satu jam buat nunggu. Tapi kalau nggak, lo datang sekarang juga. Atau gue sama Bayu mundur dari proyek amal lo.]
Ancaman itu membuat Naren terdiam beberapa detik.
[Oke. Gue otw sekarang.]
Nada pasrahnya jelas terdengar.
Begitu telepon ditutup, Ajeng langsung bereaksi. “Please, Ren. Jangan buat aku kecewa lagi.”
“Kita tetap beli penthouse ini, sayang. Tapi nggak sekarang,” bujuk Naren lembut. “Aku harus ke kantor dulu. Besok pagi aku jemput kamu, kita langsung ke kantor pemasaran. Kita selesain administrasinya hari itu juga, biar kamu bisa langsung nempatin.”
“Kalau keburu dibeli orang lain gimana?” Ajeng merengek.
“Nanti aku hubungi CP-nya. Aku kirim DP sekarang.”
Ajeng tersenyum puas. Ia tahu betul di mana letak kelemahan Narendra.
Mereka tiba di basement. Naren sudah melangkah beberapa langkah saat Ajeng menunduk.
“Sayang, bentar. Tali sepatu aku lepas.”
Naren berhenti, lalu—
“Narendra.”
Ia refleks menoleh. Wajahnya langsung pucat pasi. Suara itu… ia mengenalnya terlalu baik.
“Ma… Mas Raka,” ucapnya gugup.
Ajeng mendongak, melihat seorang pria berdiri tak jauh dari mereka. Ia bersiap melangkah mendekat, namun gerakannya terhenti ketika Naren berseru cepat.
“Kakak ipar!” Naren segera menjabat tangan Raka, menepuk pundaknya kecil. Dalam dadanya, jantungnya hampir copot. Jika sampai Raka melihatnya bermesraan dengan Ajeng—tamat sudah.
Mendengar sapaan itu, Ajeng refleks mundur satu langkah. Sama seperti Naren, tubuhnya ikut bergetar. Statusnya jelas—wanita simpanan pria beristri.
“Gimana kabarnya, Mas?” tanya Naren, berusaha setenang mungkin.
“Baik, alhamdulillah. Kamu sendiri?”
“Alhamdulillah sehat, juga mas, "
“Kamu ngapain di sini?”
Naren menarik napas lega. Berarti Raka tidak melihat apa pun sebelumnya. “Ada meeting di kafetaria Tower A, Mas.”
Raka tersenyum kecil. “Mas sendiri ngapain di sini?”
“Insumo ini kan milik Rusdiantoro Grup juga, Ren.”
Dada Naren berdesir. Selama ini ia sering ke Insumo. entah di restoran atau pusat kebugaranya tapi ia tak pernah tahu jika kompleks ini milik keluarga istrinya.
“Oh… Naren nggak tahu, Mas,” jawabnya sambil nyengir
“Haha, santai. kan sekarang udah tau. Gimana kabar Rayna?”
“Alhamdulillah baik, Mas. Maaf belum sempat ngajak main. Lagi sibuk banget, kerjaan numpuk abis cuti nikah.”
“Iya nggak apa-apa. Tapi nanti pas main, harus bawa kabar bahagia ya,” Raka tertawa menggoda adik iparnya
Naren paham maksudnya. “Hehe… iya, Mas. Doain aja semoga Rayna cepat isi.”
Ada dentuman aneh di dadanya saat mengucapkan itu. Dalam hati, ia justru berdoa sebaliknya—ia ingin Ajeng yang menjadi ibu dari anak-anaknya.
“Aamiin,” jawab Raka tulus.
“Mobil kamu parkir di mana?”
“Di depan, Mas.”
“Sama. Yuk bareng.”
Mereka berjalan berdampingan. Ajeng berdiri mematung di belakang, seperti tiang tak bernyawa. Naren bahkan tak berani meliriknya.
“Mas langsung berangkat ya, Ren. Hati-hati. Salam buat Rayna.”
“Siap, Mas. Hati-hati juga.”
Begitu mobil Raka melaju pergi, Naren langsung mencari Ajeng. Ia belum sempat melangkah saat Ajeng sudah berjalan lebih dulu ke mobil.
“Sayang,” panggilnya lembut.
“‘Di’i in yi mis simigi Rayni cipit isi,’” Ajeng menirukan ucapannya dengan nada mengejek.
“Udah, jangan dibahas. Kamu tahu aku nggak serius,” Naren menghela napas. “Aku anter kamu ke bar dulu. Abis itu aku ke kantor.”
“Kita jadi beli penthouse di sini, kan?” Ajeng meraih tangan Naren di kemudi.
“Yang… kamu tadi dengar sendiri kan? Insumo itu punya Rusdiantoro Grup.”
“Terus kenapa?” suara Ajeng meninggi. “Justru bagus! Biar Rayna cepat tahu kamu selalu milik aku.”
Nada Naren ikut naik. “Kalau Rayna tahu nggak apa-apa. Tapi kalau keluarga yang lain gimana?”
“Udah. Kita cari tempat lain.”
Ajeng terdiam. Tak biasa Naren membentaknya. Sepanjang jalan, mereka tenggelam dalam keheningan hingga tiba di bar milik Ajeng. Setelah menurunkannya, Naren langsung pergi tanpa banyak kata.
---
di kantor Tunggal Jaya Grup. Bagas dan Bayu sudah duduk di ruang Ardi.
“Tugas lo, Bay,” kata Bagas. “Pancing Naren biar cerita soal rencana beli penthouse.”
“Oke.”
“Pak Naren sudah di parkiran,” ujar Ardi tiba-tiba.
“Buruan!” Mereka bertiga berhamburan ke ruang meeting.
“Lo dari mana aja? Kita nungguin lo sampai berdebu,” sindir Bayu.
“Sorry. Ada apa?” Naren duduk di ujung meja.
Bagas mulai bercerita panjang lebar—masalah fiktif yang ia dramatisasi habis-habisan. Bayu hampir muntah mendengarnya.
“Syukurlah beres,” simpul Naren.
“Tadi Seno ketemu gue di SPBU,” karang bayu. “Katanya lo di Insumo sama Ajeng."
"Cek in lo?” tanya Bagas tajam menimenimpali
" sembarangan.” sahut Naren cepat
“Terus ngapain lo di sana?” potong Bagas. “Jangan bilang mau beliin Ajeng unit gara-gara penthouse dia kegeser Rayna.”
Naren diam.
“Bagus. Sekalian aja lo bangunin istana emas buat dia sampai lo jadi gembel,” Bayu menyambar.
“Wajar dia marah,” Naren akhirnya bicara. “Gue ninggalin dia nikah. Sekarang dia terusir dari penthouse yang gue siapin buat dia. Gue cuma mau ngasih hak dia.”
“Hak?” Bayu mendengus. “Yang harus lo penuhin itu hak Rayna. Di akhirat yang ditanya itu istri, bukan hak pacar. lo ngaji di mana sih, heran gue. "
Naren terdiam.
“Beli boleh,” sela Bagas. “Tapi jangan atas nama dia.”
“Kenapa?”
“Dunia ini nggak bisa diprediksi. Kalau bubar, lo nggak bakal rugi.” jawab Bagas
“Lo doain gue bubar?”
“Gue cuma realistis.”
“Dia minta atas nama dia. Biar Rayna nggak bisa ngusir.”
Bagas menarik napas. “Gini aja. Administrasi lo selesain. Gue bikinin sertifikat palsu buat pegangan Ajeng.”
Bayu dan Naren melongo.
“Lo gila? Itu penipuan!” bentak Naren
“itu Preventif namanya, lagian menurut keyakinan lo juga gak bakal ninggalin dia kan, jadi apa badanya tuh tempat atas nama lo atau dia, ” jawab Bagas tenang.
Akhirnya, Naren setuju setelah bujuk rayu Bagas dan Bayu.
“Oh iya,” Bayu menoleh. “Lo masih betah ninggalin bidadari surga lo di rumah?”
Naren teringat Rayna. janjinya membelikan salep, ringisan Perih nya tadi. dan Jam sudah menunjukkan pukul empat sore sekarang.
“Gue cabut,” katan Naren tiba-tiba, berlari kecil keluar ruangan.
Bayu menghela napas frustasi. “semoga dia gak kelewat plenger,"
“Tenang,” jawab Bagas. “Kita pantau pakai ponsel Ardi.”
POV AUTHOR END
plisss dong kk author tambah 1 lagi