Siapa sangka Sania yang datang dari kampung untuk mencari kerja, tiba-tiba ditawari seseorang untuk menjadi seorang pengasuh seorang bayi yang menjadi korban keegoisan orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon slwarulla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Happy Reading ~~ maaf baru sempat update....
Seperti rutinitas sebelumnya jika laki-laki itu sedang tidak masuk kedalam kantor atau meliburkan diri maka, ia akan menyempatkan waktu untuk berolahraga walaupun setengah jam saja.
Ia kembali menghirup nafas dalam-dalam, mencari ketenangan untuk saat ini Saja.
Oh iya, mungkin lebih tepatnya Seno mencari aktivitas agar membuat dia lupa akan kejadian malam pernikahan Karin. Terlalu sakit untuk diingat nya.
Seno mengangkat barbel dengan terus memperhatikan foto Karin yang sedang berlibur di negara kincir angin tersebut. Tanpa dirinya tentu saja.
Matanya mulai menajam,
Seno membanting barbel dengan berat tertera 10 kg itu seketika membuat ruangan sedikit bergetar sejenak, Ia menghampiri bingkai tersebut dan membanting nya begitu saja. Ia ambil foto didalamnya dan dirobek sampai berhelai-helai kecil.
Kalau aku simpan terus kenangan milik Karin, mulai kapan aku bisa melupakan nya kalau bayang-bayang tentang dirinya terus ada dirumah.
Setelah selesai berolahrga, Seno mengistirahatkan tubuhnya sejenak diatas sofa seraya memainkan ponsel untuk menghapus beberapa file yang didalamnya banyak info mengenai Karin.
Ia ingin memulainya dari awal. Meskipun sulit, ia harus mencobanya. Ia tidak mau menyakiti lebih dalam perempuan yang kini telah menjadi istrinya itu.
"mas, kenapa tidak bangunkan aku begitu kamu bangun" Sania datang dengan lengan mengeringkan rambut basahnya dengan handuk
"kamu terlihat lelah, mas tidak tega untuk membangunkan kamu"
"ya tapi kan kamu jadi belum sarapan! Sean juga belum bangun dari tadi?" tanya nya dengan pandangan tertuju pada kamar Sean yang masih tertutup
"Ck, udahlah gak usah difikirin. Kamu pasti capek karena mengurusku semalaman"
Sania mengingat sesuatu. Ia menaruh telapak tangan dikening laki-laki itu, "Alhamdulillah, udah gak panas"
"Hm. Mas sudah sembuh karena kamu" ucapnya seraya menarik Sania untuk duduk dipangkuan nya. Setelah itu Seni mengambil handuk dilengan Sania dan digosoknya dengan lembut, "rambut kamu bisa rusak kalau digosok dengan kencang seperti tadi"
"Eh?" Sania ingin bangkit tapi ditahan oleh laki-laki itu, "biar aku saja mas"
Seno diam sambil tetap fokus mengeringkan rambut Sania. Kemudian, Seno merengkuh tubuh Sania dari belakang. Ia membelai rambut Sania dengan lembut.
"San, kita butuh liburan bareng untuk bisa saling mengenal. Banyak yang belum saya tahu tentang kamu, seperti makanan yang disukai, apa aja yang kita sukai. Begitu juga kamu, yang belum mengetahui Seluk Beluk tentang aku"
"aku tahu semuanya tentang kamu" balas Sania dengan tersenyum lebar
"makanan kesukaan ku?"
"semua jenis masakan rumahan. Terutama masakan aku" balas Sania. Tidak salah kan? Toh setiap ia memasak makanan terutama makanan rumahan, semuanya pasti habis ditandas Seno. Bahkan kalau sudah makan, masakan rumahan Seno pasti lupa dengan pola makan yang ia jaga agar tubuhnya tetap kelar dan tegap.
Seno mengusap tengkuknya dengan masih tetap memeluk Sania dari belakang, "bener sih" ujarnya, "kalau kesukaan aku aapa?" tanyanya lagi
"mba Karin" jawab Sania seraya tersenyum kecut lalu menoleh kearah belakang, "benar kan?"
Seno mendengus, tak ayal menyetujui ucapan Sania. Dengan sigap laki-laki itu mencuri kecupan dibibir ranum Sania, "mulai sekarang tidak ada lagi yang boleh berbicara tentang perempuan itu dirumah ini" jelas Seno lalu kembali mengambil kecupan
Sania bersemu, "mas!!"
...~§~...
Kadang kala bahagia bagi seorang Sania itu sangat sederhana. Mendapat tawaaan dari Sean diikuti Seno yang saling bercanda.
Sania sendiri sudah lama tidak menemukan kebahagiaan seperti saat ini. Seno yang cemong dengan bedak diikuti dengan tawaan Sean diikuti Sania yang tertawa melihat tingkah kocak Seno.
Tertawa kencang, Sania menyeka pipi Seno yang penuh dengan bedak tabur miliknya. Lalu ia menggigit bibirnya begitu Seno sudah ada dihadapan wajah Sania.
Kedua orang tua tersebut terpaku dan saling menatap. Seno menatap wajah malu-malu Sania lekat-lekat.
"ayah...." pekik Sean membuat kedua orang tua tersebut kelabakan sendiri
"eh kenapa nak?" tanya Sania
"mau jayan-jayan tama ayah tama mami" Ucap anak itu dengan pipi digembung-gembungkan
Seno terbahak tapi langsung diam seakan ingat sesuatu. Tanpa berbicara apa-apa lagi, ia bangkit dan berlalu begitu saja menghiraukan Sean yang terus menerus memanggil.
Sania mengangkat bahu acuh, "Sean muka nya mami bersihin dulu ya" Sean mengangguk riang
Dengan sigap Sania mulai membersihkan muka cemong Sean besertai candaan kecil membuat anak itu lagi-lagi tertawa hingga wajahnya sedikit memerah.
"sudah ah, nanti kamu sakit perut kalau kebanyakan tawa!" peringkat Sania
"endong, Eyan mau ketemu ayah" ujar anak itu
Mereka berdua dengan Sean digendongan Sania memasuki kamar Seno. Tapi orang yang dicari tidak kunjung ketemu. Sania mendapati sebuah pintu yang tersambung didalam kamar laki-laki itu.
"mas?" panggil Sania saat mendapati Seno yang menelungkup diatas kursi ruangan kantornya
Seno mendongak lalu berdecih, "mas baru ingat" ujarnya tiba-tiba, "jauhi anak itu dari saya sebelum saya kelepasan memukul nya"
"mas! Maksud mas apa!!!" pekik Sania sebelum perempuan itu menutup pendengaran anak kecil yang sedang tertegun
"dia bukan anak saya!" sahut Seno dengan dingin
"mas, apaan sih!"
"yah" panggil Sno dengan pelan
"pergi dari sini! Sean bukan anak saya" tegas Seno membuat Sania membawa Sean keluar yang sudah menangis keras dengan buru-buru
Walaupun belum genap dua tahun dan belum lancar berbicara. Sean sebagai anak kecil cukup pintar untuk memahami perkataan orang disekitarnya. Lihat saja anak itu yang kini menangis kencang setelah mendengar bentakan Seno padanya.