NovelToon NovelToon
Red Flag VS Radar

Red Flag VS Radar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cintamanis / Idola sekolah / Playboy
Popularitas:222
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
​Lalu datanglah Mori.
​Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
​Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

​Jam istirahat seharusnya menjadi waktu bagi Mori untuk mengistirahatkan otaknya dari rumus-rumus Fisika dan kelakuan tengil Lian. Namun, suasana kelas yang gaduh karena teman-temannya masih menggoda soal kejadian di depan kelas tadi membuat Mori merasa sesak.

​"Mor, ayo ke kantin! Gue laper banget nih, pengen bakso," ajak Jessica sambil menarik-narik ujung seragam Mori. Nadya dan Alissa sudah siap di ambang pintu dengan dompet di tangan.

​Mori tersenyum tipis, mencoba terlihat biasa saja. "Kalian duluan aja deh, Jes. Gue mau ke toilet bentar, mau cuci muka. Nanti gue nyusul ke meja biasa, ya?"

​"Beneran ya? Jangan lama-lama, nanti baksonya keburu habis!" seru Alissa sebelum mereka bertiga berlari menuju kantin dengan riang.

​Mori menghela napas panjang saat teman-temannya menghilang di belokan koridor. Ia berjalan menuju toilet putri yang terletak di ujung koridor gedung lama—area yang biasanya sepi karena sebagian besar murid berkumpul di pusat sekolah atau kantin.

​Baru saja Mori sampai di depan pintu toilet, langkahnya terhenti. Tiga orang gadis sudah berdiri di sana, seolah-olah memang sedang menunggu mangsa. Di tengah-tengah mereka, berdiri Alina dengan tangan bersedekap dan tatapan yang bisa membunuh.

​"Nah, ini dia bintang kelas kita hari ini," ucap Alina dengan nada sinis yang kental.

​Mori tidak gentar. Ia menatap Alina datar. "Permisi, gue mau lewat."

​Bukannya memberi jalan, Alina justru memberikan isyarat pada dua temannya. Dengan kasar, mereka menarik lengan Mori dan menyeretnya masuk ke dalam toilet. Pintu toilet ditutup dan dikunci dari dalam dengan bunyi klik yang membuat jantung Mori berdegup lebih kencang.

​Mori dihentakkan ke arah wastafel. Ia meringis pelan saat punggungnya menabrak pinggiran porselen yang keras.

​"Lo pikir lo siapa, hah?" Alina maju, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Mori. Bau parfumnya yang menyengat sangat kontras dengan aroma maskulin Lian yang tadi sempat Mori hirup. "Lo anak baru, nggak usah sok kecentilan!"

​Mori membetulkan letak kacamatanya yang sedikit miring, matanya tetap tenang meskipun tangannya sedikit gemetar. "Gue nggak ngerti maksud lo apa, Al."

​"Nggak usah akting polos!" Alina berteriak, suaranya menggema di ruangan lembap itu. "Gue liat ya cara lo tadi di depan kelas. Sok-sokan pinter, sok-sokan cuek, padahal lo sengaja kan biar Lian makin penasaran sama lo? Lo sengaja bikin Lian ngedipin lo depan semua orang biar gue panas?!"

​Mori mendengus, sebuah tawa kecil yang ironis keluar dari bibirnya. "Lian? Lo pikir gue seneng digituin? Buat gue, Lian itu gangguan. Kalau lo mau dia, ambil aja. Gue nggak butuh."

​PLAK!

​Alina menampar pipi Mori. Suara tamparan itu terdengar keras. Pipi Mori langsung memerah, terasa panas dan berdenyut.

​"Jaga mulut lo! Lo itu cuma parasit yang dateng ke sini buat ngerusak hubungan gue sama Lian!" bentak Alina. "Lian itu punya gue. Semua orang di Garuda tau itu. Dan cewek parasit kayak lo nggak berhak dapet perhatian dia sedikit pun!"

​Dua teman Alina mulai bertindak. Salah satu dari mereka mengambil botol air mineral dari tasnya dan menyiramkannya ke kepala Mori. Air dingin itu mengalir di wajah dan seragam Mori, membuatnya terlihat berantakan dalam sekejap.

​"Ini biar otak lo agak encer, biar lo sadar posisi lo di mana," ejek salah satu teman Alina.

​Mori memejamkan mata, membiarkan air itu membasahi tubuhnya. Ia merasa terhina, tapi ia menolak untuk menangis di depan mereka. Ia ingat kata-katanya sendiri: Jangan biarkan orang-orang toksik menang.

​Alina mengambil pita biru dari rambut Mori—pita yang tadi pagi ia pasang dengan rapi—dan menariknya dengan kasar sampai kunciran rambut Mori berantakan. Alina menginjak pita itu di lantai toilet yang kotor.

​"Jangan pernah pake barang-barang manis kayak gini lagi. Lo nggak pantes," desis Alina. "Sekali lagi gue liat lo caper ke Lian, atau sekali lagi gue denger Lian nyebut nama lo, gue bakal bikin lo nyesel seumur hidup udah pindah ke sekolah ini. Paham?!"

​Mori hanya diam, menunduk melihat pitanya yang kini berwarna abu-abu karena debu dan injakan sepatu Alina.

​"Jawab, jalang!" Alina menjambak rambut Mori agar gadis itu mendongak.

​"Gue nggak... akan pernah... caper ke cowok red flag kayak dia," ucap Mori terbata-bata, menahan rasa sakit di kulit kepalanya. "Tapi gue juga nggak bisa kontrol kelakuan dia. Kalau lo merasa terancam, itu masalah lo sama Lian, bukan sama gue."

​Alina yang semakin murka berniat melayangkan tamparan kedua, namun suara gedoran keras di pintu toilet menghentikan gerakannya.

​"WOY! BUKA PINTUNYA!"

​Itu suara cowok. Suara yang sangat familiar.

​Alina pucat pasi. Ia segera memberi kode pada teman-temannya untuk melepaskan Mori. Mereka mencoba merapikan diri seolah tidak terjadi apa-apa. Alina membuka kunci pintu dengan tangan gemetar.

​Begitu pintu terbuka, Lian berdiri di sana dengan wajah yang menyeramkan. Nggak ada lagi senyum miring atau tatapan nakal. Matanya gelap, rahangnya mengeras, bener-bener visual Gabriel Guevara yang sedang dalam mode "pembunuh". Di belakangnya ada Jojo yang tampak khawatir.

​Lian tidak melihat ke arah Alina. Matanya langsung tertuju pada Mori yang berdiri di depan wastafel dengan seragam basah kuyup, rambut berantakan, dan pipi yang merah membengkak.

​Lian melangkah masuk, melewati Alina seolah gadis itu adalah transparan.

​"Siapa yang ngelakuin ini?" suara Lian rendah, tapi penuh ancaman.

​"Lian, tadi itu... kita cuma lagi ngobrol, terus Mori nggak sengaja jatuh—" Alina mencoba membela diri dengan suara gemetar.

​Lian berbalik kilat ke arah Alina. "Gue nggak nanya lo, Al. Gue nanya... siapa. yang. ngelakuin. ini?!"

​Alina terdiam seribu bahasa. Dia belum pernah melihat Lian semarah ini. Selama ini Lian selalu membiarkan Alina melakukan apa saja karena dia tidak peduli, tapi kali ini berbeda.

​Lian kembali menatap Mori. Dia mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh pipi Mori yang bengkak, tapi Mori refleks menghindar. Mori menatap Lian dengan mata yang mulai berkaca-kaca—bukan karena takut pada Alina, tapi karena dia benci fakta bahwa Lian adalah alasan semua penderitaan ini terjadi.

​"Pergi, Lian," bisik Mori. "Ini semua gara-gara lo. Gue benci lo."

​Lian terpaku. Tangan yang tadi menggantung di udara perlahan mengepal. Dia melihat ke lantai, melihat pita biru Mori yang sudah kotor terinjak. Lian memungut pita itu, lalu menatap Alina dan gengnya dengan tatapan yang sangat dingin.

​"Mulai hari ini, kalau ada satu helai rambut Mori yang jatuh karena ulah lo, jangan harap lo bisa sekolah dengan tenang di sini. Gue nggak main-main," ucap Lian tajam.

​Lian melepas jaket denimnya dan mencoba memakaikannya ke bahu Mori yang basah, tapi Mori menepisnya dan lari keluar dari toilet sambil menahan tangis.

​Lian tidak mengejar. Dia berdiri di sana, di tengah toilet yang bau, memegang pita biru yang kotor. Penyesalan mulai merayap di hatinya, sesuatu yang baru bagi seorang red flag sepertinya. Dia sadar, obsesinya untuk membuat Mori "melihatnya" justru telah menghancurkan dunia gadis itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!