Afnan tahu dia adalah penjahat, demi mendapatkan Dareen yang menjadi obsesinya sejak lama, Afnan tega menghancurkan kebahagiaan Jeslyn, sahabat sekaligus wanita yang dicintai Dareen.
Satu jebakan licik darinya, sebuah penghianatan yang membuat Dareen kehilangan dunianya dan mulai menanam kebencian mendalam pada Afnan.
Namun, Afnan belum puas.
Melalui skenario malam yang kotor, Afnan akhirnya berhasil menyeret Dareen ke altar pernikahan, ia mendapatkan status, ia mendapatkan raga pria itu, tapi ia tidak pernah mendapatkan jiwanya.
"Kau telah menghancurkan hidup Jeslyn, dan sekarang kau menghancurkan hidupku, Afnan. Jangan pernah bermimpi untuk dicintai di rumah ini."
Di tengah dinginnya pengabaian Dareen dan bayang-bayang Jeslyn yang masih bertahta di hati suaminya, Afnan tetap bertahan dengan segala tingkah centil dan nekatnya untuk membuat sang suami bertekuk lutut.
Akankah cinta yang berawal dari penghianatan ini akan menemukan titik terang?
#KOMEDIROMANSA
#KONFLIKRING
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bertepuk12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Wanita berpiyama hitam itu duduk manis sembari mengobati lukanya seorang diri melewati kaca pemantul, kadang ringisan kecil terdengar seolah-olah membuktikan bagaimana luka itu terasa menyakitkan bagi sang empu.
"Shhh- Pipiku benar-benar membiru." Gumam Afnan kesal, lantas ia menghela nafas sebelum akhirnya senyuman kecut terbit diantara bibirnya saat ia mengingat bagaimana ia dengan licik menjebak Dareen.
Jika biasanya prialah yang terobsesi untuk mendapatkan wanitanya, maka sekarang Afnan akan membalikan keadaan, ia akan memaksa Dareen untuk mencintainya.
Tidak... Tidak, Afnan bukan wanita lemah yang akan menangis tatkala dibentak, ia akan menjawab, sejak kecil ia selalu diajarkan untuk tidak ditindas.
~flashback on~
Suara musik dj yang terdengar begitu memekik telinga terdengar, menghantarkan rasa aneh. Di tengah suasana gemerlap clubbing yang penuh cahaya neon dan dentuman musik yang menghentak, dua gadis bergaun kurang bahan itu tengah menikmati malam mereka.
Mereka berdiri di dekat meja wine, tubuh mereka bergerak lincah mengikuti irama musik yang dimainkan DJ, seolah tak peduli akan tatapan mesum yang diberikan beberapa pria pada mereka.
Bersama senyuman ceria nan penuh semangat, mata mereka berkilau, tercermin dari kilatan lampu yang menyinari ruangan dan terpantul dalam retina.
"Kau mabuk?" Suara ketus bercampur tak senang terdengar, Afnan datang bersama sang kakak ipar, yakni Jeslyn Van Deogore, wanita cantik dengan proposal tubuh sempurna.
Mendengar pertanyaan itu, Jeslyn menoleh, mencebikkan bibirnya tanda mengejek, "Kupikir pertanyaan itu cocok untuk dirimu sendiri Afnan, lihatlah wajah hornymu."
"A-pa?" Afnan membulatkan mata terkejut, memegang wajahnya sendiri, memang ia akui kepalanya sudah kepalang pusing, semua terasa aneh di matanya. Berputar-putar.
Kekehan kecil terdengar, Jeslyn menyahut gelas kecilnya yang sudah terisi wine, meneguknya hingga tandas, "Afnan, mari buat malam ini begitu menyenangkan."
"Ah, aku setuju, aku ingin bermain-main." Afnan berdiri pelan, sebelum ia melangkah lebih jauh, ia menarik rompi Jonathan selaku sang bartender, lalu meninggalkan bekas liptintnya di pipi pria itu.
"Segera hubungi aku sayang~~~" Seru Afnan berjalan menjauh, memberikan flying kiss dan langsung berlalu pergi meninggalkan Jeslyn yang sekarang juga entah kemana perginya.
Memilih masuk pada segerombolan orang yang berjoget, Afnan pun terlihat meliuk-liukan tubuh, tak acuh pada tatapan setan yang diberikan padanya dari pria-pria hidung belang.
Memang pria normal mana yang tidak akan tergoda akan kemelokan tubuh sempurna seorang Afnan? Dada sintal serta bulat, tak lupa pantatnya yang padat berisi dipadukan dengan pinggang ramping, kaki jenjang menambah kesempurnaan tubuhnya.
Hingga tiba-tiba netra itu melotot terkejut, disaat Afnan dapat melihat pria yang ia cintai setengah mati tengah duduk manis sembari menghisap batangan nikotin, hanya bersama seorang dua pria, yang ia yakini adalah Zico dan Bryan.
Akibat alkohol yang menguasai akal sehatnya, spontan saja ide aneh muncul di benak Afnan dalam sekejap, tanpa pikir panjang pun, wanita itu akan mewujudkan keinginan bejat otaknya.
Secara kasar Afnan menarik satu pelayan yang memang sedari tadi menulis pesanan dari meja sang pujaan hati, "Hay, kau!"
"Saya nona?" Pelayan itu menunjuk dirinya sendiri, lantas berjalan pelan menuju wanita yang memanggilnya setelah mendapat anggukan.
"Ya, apa yang pria itu pesan padamu, yang hanya menggenakan setelan santai tanpa printilan apapun?"
Sang pelayan mengangguk, "Satu Rosé Zinfandel, untuk Tuan Dareen."
Bibir Afnan menyunggingkan senyuman setan, perlahan ia menarik dompet yang terselip di dalam dressnya, mengambil beberapa lembar dollar, "Berikan obat perangsang dengan dosis rendah, mengerti?"
"Tap-"
"Jika tak becus, jangan harap kau bisa bekerja di sini lagi, kau tau aku siapa bukan?" Afnan mengancam dengan sorot netranya yang berubah menjadi tajam.
Anggukan sopan pelayan itu layangkan, "Baik nona."
Biar saja jika Afnan dikata sebagai orang gila karena ingin menjebak seorang Dareen, salah satu pengusaha muda dengan berbagai properti yang menggiurkan, wajahnya yang tampan bak Dewa Yunani, dan tubuh atlestis bagai atlet.
Afnan sudah mencintai Dareen sejak lama, cukup dua tahun yang lalu ia jatuh hati pada pria ramah penuh senyuman dan bertutur kata lembut itu, dan sekarang perasaannya benar-benar ingin meledak. Ia tak bisa menahan.
Akan Afnan gunakan cara apapun agar Dareen menjadi miliknya, hanya untuk menjadi miliknya! Bahkan dengan cara kotor sekalipun, ia tak peduli.
Memilih untuk menjauh sejenak, Afnan bisa melihat bagaimana Dareen menikmati winenya hanya sekali teguk, tak taukah nasib pria itu tengah dipertaruhan?
Menimang-nimang, Afnan berseru binggung, "Bagaimana caraku mendekatinya? Apakah seolah-olah tanpa kesengajaan?" ia berseru dengan kepala yang mulai nyeri, efek alkohol memang luar biasa.
Tuhan pun sepertinya berkehendak seperti yang Afnan inginkan, Dareen melihatnya yang tengah dilingkari berbagai pria hidung belang. Reflek saja Dareen melambai lantas berjalan begitu gagah menghampiri Afnan yang kini bersandiwara tengah ketakutan.
"Ka-k Dareen?" Afnan membuat netranya sedikit membulat, terkejut akan kehadiran pria yang tiba-tiba merengkuh tubuhnya lembut.
Dareen menarik tubuh Afnan, menghela nafasnya lega, "Mengapa sendiri? Di sana terlalu bahaya, bagaimana jika kau dilecehkan hmm?" Tanyanya sedikit serak, khawatir.
"Dude, dia sudah menjadi wanitaku malam ini, kau bisa mencari yang lain." Salah satu pria tampan dengan surai blonde berseru pada Dareen, menghempaskan tangan pria itu yang tengah bertengger pada wanita incarannya.
Kening Dareen terangkat tak senang, "Wanitamu?" Ia mengulum senyuman tak percaya, "Jangan bermimpi terlalu jauh, pria idaman Afnan bukan seorang angsa jelek sepertimu. "
Mengepalkan jemarinya erat, mata pria itu berkelit tak senang, "Bajingan!"
Memilih abai, Dareen segera menarik tangan Afnan yang kini sedikit gemetar agar mendekat padanya, namun ia menggeram sebal tatkala pria blonde di hadapannya itu masih menggenggam erat pinggang sang wanita.
"Lepas, atau aku benar-benar akan melubangi kepalamu." Ancam Dareen bersama tatapan santai, namun dibalik itu ia tengah berjaga-jaga, menarik pistol di belakang t-shirtnya.
Pria blonde itu menurunkan bibirnya tanda tengah mengejek, "Damn, kau pikir aku takut? Orang gila mana yang ingin melubangi kepalaku di tengah banyaknya lautan manusia?"
Bibir Dareen terangkat membentuk seringai, "Oh tentu, kupikir ginjal murahanmu itu masih bisa berfungsi dengan baik, setidaknya 5 ribu dollar."
Dengan gerakan santai, Dareen mengeluarkan pistolnya, senyuman setan terlihat saat ia dengan sengaja meniup ujung pistol itu, netranya menyipit, tengah mengancam.
"Ka-u! Dasar gila!" Sang pria blonde langsung pergi begitu saja, meninggalkan Dareen yang terkekeh geli.
"Membuang energiku saja," Dareen berdecak kecil, lantas menarik Afnan, membawa tubuh mereka keluar dari kerumunan, "Afnan, jangan nekat seperti itu lagi, kau harus membawa seseorang yang bisa melindungimu."
Sekalipun Dareen membenci Louis, selaku kakak Afnan yang telah merebut kekasih hatinya Jeslyn, namun tetap saja, ia tak bisa abai terhadap gadis kecil yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
"Tadi aku bersama Jeslyn, namun entah di mana wanita itu." Afnan menjawab dengan gumaman kecil, sembari memijat pelipisnya, demi Tuhan, ia benar-benar ingin pingsan sekarang.
Melihat gelagat aneh Afnan, membuat Dareen menghela nafas, tentu dapat ia tebak jika wanita itu sudah dikuasai oleh alkohol, "Ingin pulang?"
"Jangan!" Afnan menggelengkan kepalanya takut, "Aku tak mau Kak Louis tau, dan berakhir memotong uang bulananku." Beonya sempoyongan.
Menangkap tubuh Afnan yang kini menimpanya, Dareen segera mengangkat tubuh sang wanita pelan, seolah-olah tak ingin menyakiti, segera saja ia langkahkan kakinya menuju basement.
Sesuai permintaan Afnan, Dareen membawa wanita itu menuju apartemennya, namun dengan pikiran yang masih positif, ia akan langsung pergi saja, menginap di hotel atau di manapun itu.
Namun entah mengapa, selama Dareen mengendarai mobil, tubuhnya malah terasa panas, pun dengan wajahnya yang kini sudah memarah bagai kepiting rebus, sesuatu yang menggantung di antara selangkangan mengeras secara tiba-tiba.
"Bajingan, apa aku diberi obat perangsang? Atau hanya efek mabuk?" Dareen mengerang, netranya tiba-tiba berkabut dengan deru nafasnya yang mulai memberat.
Sedangkan Afnan dengan sengaja menyikap gaun hingga memperlihatkan paha mulus miliknya, lantas menarik tali lengannya sehingga dress itu turun namun masih menggantung.
"Ka-k kepalaku pusing." Afnan mengeluh, lantas ia menjatuhkan kepalanya di bahu kokoh milik Dareen, tangannya pun secara tak sopan tiba-tiba berada di atas celana Dareen, menyentuh gundukan yang sudah berdiri itu.
Dareen mengerang perlahan, ditatapnya wajah Afnan yang kini terlihat begitu rupawan, pikiran itu berkelana, membayangkan beberapa adegan intim yang sialnya membuat ia semakin menegang.
"Afnan bisa menghindar lebih dulu? Sepertinya aku sedang dalam keadaan yang tidak baik." Dareen mencoba untuk memberi pengertian, namun sayang sekali, Afnan abai, wanita itu malah semakin berani.
Dareen yang memang sudah berada diambang nafsunya pun segera memarkirkan mobil di basement apartemen, menarik tekuk leher Afnan untuk ia cium, hingga pergulatan bibir itu tak bisa dihindari.
Nafas mereka beradu dengan sengsara, bagai melampiaskan perasaan masing-masing, sepanjang lorong menuju apartemen Dareen, mereka tetap berciuman dengan bibir berkelit.
Hingga tibalah mereka di pintu apartemen, Dareen hanya perlu menempelkan sidik jarinya sebagai pengenal, hingga pintu itu otomatis terbuka dan langsung tertutup saat dua manusia berbeda gender itu masuk.
Direbahkannya tubuh Afnan di atas ranjang dengan pelan, Dareen mengerang frustasi, mengusap bibir Afnan yang sudah membengkak karena ulahnya, ini salah, ia tak ingin berbuat lebih pada seorang yang sudah ia anggap sebagai adik.
Sesaat Dareen termangu, benar, semuanya salah, ia ingin melindungi Afnan dengan menyelamatkan wanita itu dari berbagai pria saat di clubbing tadi, bukan malah merusaknya disaat sang wanita ia bawa pulang.
Memilih bangun, namun sayangnya Afnan tak mengizinkan, wanita itu malah menarik tekuk lehernya mencium dengan begitu bruntal, mengabaikan Dareen yang kini sudah kepalang pusing akibat nafsunya yang sudah diambang batas.
"Jangan salahkan aku Afnan, kita dalam keadaan mau sama mau, dan jangan pernah meminta pertanggungjawaban padaku." Perkataan yang Dareen ucapkan, sebelum akhirnya mereka melakukan pergulatan yang panas.
~flashback off~