Rahman adalah pemuda biasa yatim piatu yang sejak kecil ikut dengan Pakde nya, hingga suatu hari dia di ajak menemani pakde pergi kegunung Kawi.
di gunung itu lah dia menyaksikan hal yang sangat tidak dia duga, bahkan menjadikan trauma panjang karena dari ritual itu dia harus sering berhadapan dengan sesuatu yang mengerikan.
Untung nya Rahman punya teman bernama Arya, sehingga pemuda itu bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Mengancam
"Bila kau masih saja ikut campur maka kau akan jadi tumbal untuk selanjutnya nya." iblis merah menggeram.
"Tumbal? ya Allah suami ku memang punya pesugihan!" batin Bu Kades menjerit.
Sraaaaaak.
Duaaaaaak.
Kepala Bu Kades terbentur lagi dengan kekuatan yang sangat besar sehingga dia otomatis kembali pingsan, siapa saja pasti akan pingsan bila mengalami hal seperti itu karena mereka harus menahan rasa takut dan juga rasa sakit yang begitu besar di dalam diri.
"Kau memang istri dari pria itu, tapi aku tidak akan pernah peduli." seringai iblis merah.
"Apa yang kau lakukan?!" Parto mendengar keributan dan langsung masuk kamar.
"Hahaaaaa istri mu ini akan membuat masalah jadi lebih baik bila Dia segera mati saja." ujar iblis merah.
"Tidak! jangan sakiti istriku, dia tidak tau masalah ini." Parto langsung menolak.
"Semua tumbal memang tidak perlu tau, istri mu akan sama seperti orang lain juga karena dia sama sekali tidak tau." iblis merah tetap kekeh.
Ploook.
Parto agak kaget karena mendadak saja dia di lempar dengan telur yang sudah berwarna hitam pekat serta bau yang begitu menusuk sehingga siapa saja yang mencium akan merasa mual, telur itu adalah telur dari pemberian Purnama yang dibawa oleh Bu Kades untuk mengetahui pemujaan apa yang telah di lakukan oleh Parto.
Sayang nya lihat itu malah di ketahui oleh Iblis merah sehingga sekarang keselamatan Bu Kades sudah sangat terancam karena dia berani ikut campur dalam urusan ini, habis merah malah ingin membuat Bu Kades menjadi tumbal juga karena dia sudah berani untuk mengusik ketenangan dia yang ada di dalam rumah tersebut.
Namun Parto tidak ingin menumbalkan sang istri karena dia ingin bahagia dengan istri dan juga nanti akan menjadi pertanyaan besar bagi seluruh warga kampung bila mendadak saja Bu Kades meninggal dunia, sebab selama ini dia terkenal sehat dan tidak memiliki penyakit sehingga sudah pasti nanti akan muncul kecurigaan.
Arman masih bisa di manipulasi karena dia memiliki pertengkaran dengan Rahman dan juga yang lain karena percakapan di sekolah saat itu, hingga sekarang para warga percaya bahwa Arman meninggal karena dia merasa iri dengan Rahman yang sudah memiliki motor baru dan juga bagus sehingga nekat untuk gantung diri di kebun karet.
Walau sebagian orang masih tidak menyangka akan hal itu tapi tetap saja semua warga di desa ini bisa dikatakan telah percaya bahwa Arman gantung diri hanya karena rasa iri hati, tapi ini Bu Kades masih perlu di carikan alasan dan Parto juga tidak ingin kehilangan sang istri begitu saja, namun setelah di lempar telur busuk seperti ini maka dia menjadi kebingungan.
"I...ini apa?" Parto gugup dan juga agak takut karena telur yang di lempar tadi sudah bercampur dengan ulat yang begitu banyak.
"Istri mu meminta tolong kepada seseorang untuk mengetahui apa yang sudah kau lakukan di gunung itu." jelas iblis merah.
"Hah! tapi siapa yang bisa mengetahui tentang hal itu?" Parto kaget sekali.
"Sebelum keadaan menjadi semakin buruk maka lebih baik kau ikuti saja saran dari aku, istrimu ini harus mati." Iblis merah masih tetap meletakkan tangan di leher Bu Kades.
"Tidak, aku pasti akan berusaha untuk menceritakan apa yang telah terjadi agar dia tidak ikut campur lagi dalam urusan ini." Parto tetap saja menolak.
"Bila terjadi lagi hal seperti ini maka aku tidak akan pernah memberi ampun!" ancam Iblis merah karena keselamatan dia di sini juga terancam bila orang yang di ajak kerjasama oleh Bu Kades jauh lebih kuat di bandingkan dengan dia.
Parto mengangguk setuju karena dia memang sangat tidak mau bila sang istri sampai celaka dan meninggal dunia dalam urusan ritual gunung tersebut, sebab sejak dulu dia sudah memiliki cita-cita untuk bahagia bersama sang istri dan di hormati oleh banyak orang seperti sekarang.
"Kau urus istrimu ini dengan benar karena aku tidak ingin mengambil resiko." Iblis merah segera menghilang dari pandangan mata.
"Astaga, aku harus bagaimana untuk memberi alasan kepada dia?" Parto bingung sendiri karena nanti pasti sang istri akan banyak bertanya.
Ini dia harus pintar mencari alasan agar tidak salah jawab, bisa bahaya bila sang istri juga mengetahui bahwa dia telah melakukan ritual pemujaan di Gunung Kawi saat itu. memang tidak masalah bila bercerita kepada sang istri namun resiko yang harus Parto tanggung adalah kemarahan yang begitu besar, sebab sang istri pasti menolak dan tidak ingin melakukan hal musyrik seperti itu.
...****************...
Glodaaaak.
"Apa itu?" Rahman terbangun ketika dia mendengar suara yang begitu berisik.
"Tidur saja, Man. tidak usah dengarkan soal itu!" Edo ternyata sudah terbangun dan dia mendengar hal tersebut.
"Itu suara apa?" Rahman bertanya kepada Edo karena penasaran.
"Aku juga tidak tahu itu suara apa tapi yang jelas pasti ada yang tidak beres." jawab Edo pula.
Rahman menelan ludah dengan susah payah karena dia curiga bahwa itu adalah arwah Arman seperti yang sudah dia lihat sebelum ini, bila Edo saja terlihat cuek dan seolah tidak ingin mendengar suara maka sudah pasti Edo sering mendengar namun dia berusaha untuk mengabaikan nya.
"Kau kalau mau mencari maka jangan ajak aku." Edo sudah tahu niat dari Rahman.
"Aku hanya penasaran itu suara apa dan apa memang Arman menjadi arwah gentayangan." lirih Rahman.
"His kau ini, malah kau sebut pula dia menjadi arwah gentayangan seperti itu!" Edo langsung bangun dan duduk karena sangat takut.
"Kau juga takut ya?" Rahman bertanya dengan nada polos.
"Kau pikir saja sendiri, kalau Arman itu adalah teman kita tapi yang jelas ia sudah meninggal dunia." tegas Edo.
Glodaaaaak.
"Ya Allah!"
Edo sampai terjingkat karena memang sungguh ketakutan mendengar suara yang begitu berisik dari luar kamar, lebih tepatnya itu adalah suara dari luar rumah dan tepat di halaman samping rumah Edo karena dulu Arman sering duduk di sana untuk ngobrol atau bahkan sekedar minum minuman gelas.
"Kok suaranya tambah jelas aja!" Edo sungguh takut sekarang.
"Ayo kita intip bareng biar bisa memastikan apa itu memang arwah Arman yang sedang gentayangan." ajak Rahman karena dia juga ada rasa penasaran.
Sedangkan Edo langsung menggeleng karena dia sudah membayangkan kalau arwah Arman akan muncul dengan rupa yang begitu seram sehingga dia tidak mungkin berani untuk melihat, sebab selama ini tidak ada setan yang berwujud cantik atau tampan karena mereka semua memang berwujud seram.
Selamat pagi besti, jangan lupa like dan komentar nya ya, persiapan bakar apa ni bes.