NovelToon NovelToon
Elizabeth Vale

Elizabeth Vale

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / CEO / Action / Cinta Terlarang / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Four

Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.

Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.

°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧⁠◝⁠(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EV — BAB 04

PERTARUHAN YANG KONYOL

Di sebuah pesta yang begitu tenang dengan lampu yang tak terlalu terang, namun musik klasik mengalun mengisi ruang hening. Para tamu dari konglomerat berkumpul, mungkin bisa dihitung dengan jari. Dan jangan lupakan penyanyi yang berpakaian dan berpenampilan ala Marilyn Monroe membuat mata para tamu terpana akan kecantikan itu.

Luis dan Elizabeth melangkah masuk saat kedatangan mereka disambut hangat dan terbuka. Terutama akan tamu baru yang Luis bawa.

“Senang melihat Anda datang Tuan Holloway!” kata seorang pria paruh baya yang juga berpakaian setelan jas rapi.

“Saya bisa memperkenalkan nya, jika Anda mau?!” kata pria itu tersenyum ramah ke Elizabeth dan Luis.

Wanita cantik itu hanya membalas senyuman tipis tak begitu lama. Hingga Luis menyetujuinya. Tak cuman ada pria, namun para wanita konglomerat juga ada di sana dan terpana akan kecantikan dan kelembutan Elizabeth.

Luis memberikan tangan Eliza kepada pria itu sehingga wanita itu menoleh ke suaminya dengan sedikit penuh tanya.

“Jangan khawatir, dia hanya akan memperkenalkan mu kepada yang lain! Aku bersamamu.” Kata Luis yang mencium pipi Eliza sebelum akhirnya tangan Eliza berpindah ke tangan pria asing tadi, lalu diciumnya punggung tangan Eliza dan mengajaknya berjalan lebih maju, tepat di tengah sofa yang melingkar di tengah ruangan.

Elizabeth tak pernah berada di tempat seperti itu, melainkan di pesta yang lebih terbuka bersama ayahnya atau ibunya.

“Kita memiliki tamu baru, dia istri dari tuan Holloway— Luis Holloway.” Kata pria itu tersenyum memperkenalkan Elizabeth kepada para tamu di sana. Pria itu kembali menatap Elizabeth dan bertanya lembut. “What is your name, ma'am? (Siapa namamu, Nyonya?)”

“Elizabeth Taylor! Elizabeth Holloway.” Katanya dengan suara lembut dan pelan.

Para tamu wanita mulai berbisik saat tahu marga yang juga tak kalah terkenalnya dari kalangan konglomerat.

Kata pria yang duduk di samping Luis yang kini meneguk segelas Vodka sembari terus menatap ke arah Elizabeth. “Istri Anda sangat menawan Tuan Holloway! Andai aku bisa meminjam nya darimu!”

“Tentu saja kau bisa.” Jawab Luis yang langsung saja membuat pria bernama Carlos itu menoleh saat hendak meneguk minumannya.

Luis yang juga meneguk beer nya, ia seketika menoleh sekilas ke Carlos dan kembali menatap lurus dan datar saat Carlos terkekeh kecil akan candaan ataupun keseriusan dari ucapan Luis barusan.

“Seorang dari Taylor. Tidak heran jika kau terlihat sangat anggun dan cantik!” puji wanita paruh baya yang tersenyum ke arah Elizabeth.

Mendengar pujian itu, Eliza teringat akan ucapan ibunya yang ternyata pelajaran dari ibunya memang tidak sia-sia. Orang selalu memuji dan memandang baik keluarga Taylor karena keanggunan, kelembutan dan kecantikan mereka.

“Terima kasih!” balas Eliza tersenyum puas, hingga akhirnya dia dipersilahkan duduk di samping Luis.

“Aku harap kau masih betah di sini.” Bisik Luis ke istrinya.

“Aku masih sanggup, mereka semua ramah!” balas Eliza tersenyum menatapnya, namun Luis hanya diam dan kembali menatap lurus.

“Pertahankan itu.”

Elizabeth menoleh usai perkataan barusan dari sang suami. Lalu kembali menatap lurus dan perlahan senyumannya hilang.

“Sangat disayangkan karena Tuan Vale tidak datang.“ Kata tamu wanita yang masih muda dan menikmati wine nya sembari menyeringai kecil.

“Dia tidak suka berdekatan dengan kita. Atau mungkin dia memang tipe pria yang sibuk dan susah bergaul!” canda pria tua yang seolah mengenal betul kepribadian pria bernama Vale itu.

Elizabeth hanya diam mendengarkan percakapan simpel tadi. Dia menangkap nama itu—Vale—meski hanya sepintas lewat di antara gelas yang beradu dan tawa tipis yang dibuat-buat. Ada sesuatu dalam cara mereka menyebutnya; setengah meremehkan, setengah berhati-hati.

Seolah nama itu bukan sekadar orang, melainkan batas yang tidak boleh disentuh sembarangan.

“Ah, Vale,” gumam Carlos sambil memutar gelasnya. “Pria itu selalu membuat suasana menjadi terlalu… kaku.”

“Kaku atau berbahaya?” sahut seseorang di ujung sofa, disambut tawa kecil oleh yang tamu lainnya.

Luis hanya menyeringai setiap kali mendengar nama itu.

“Ia hanya tahu memilih permainan.” Kata pria tua.

“Ngomong-ngomong soal permainan,” Carlos mencondongkan tubuhnya, nada suaranya berubah lebih ringan, seperti hendak bercanda. “Sudah lama kita tidak bertaruh, Luis.”

Beberapa pasang mata menoleh. Musik klasik terus mengalun, lembut, bertolak belakang dengan ketegangan yang tiba-tiba mengental.

“Taruhan apa?” tanya tamu wanita dengan santai.

“Kau tahu,” Carlos terkekeh. “Hal-hal kecil. Saham. Konsesi. Atau—” Ia melirik Elizabeth dengan terang-terangan, tanpa rasa sungkan.

“—sesuatu yang lebih berharga.”

Elizabeth menegang. Jemarinya yang semula bertaut di pangkuan kini mencengkeram kain gaunnya. Ia menoleh pada Luis, berharap ada penolakan, setidaknya candaan yang menutup kemungkinan itu.

Namun Luis meletakkan gelasnya dengan pelan. Terlalu pelan.

“Kau ingin bermain?” kata Luis.

“Jika kau berani,” balas Carlos.

Keheningan jatuh seperti tirai berat. Lalu, dengan nada datar yang membuat darah Elizabeth terasa mendingin, Luis berkata,

“Baik. Aku pertaruhkan istriku.”

Tidak ada teriakan. Tidak ada keterkejutan yang dramatis. Beberapa tamu hanya tersenyum, yang lain mengangkat alis, seolah itu bukan hal asing. Bahkan ada yang mengangguk kecil—menerima aturan permainan yang tak tertulis.

“Sangat menarik tapi aku setuju.” Kata seorang pria muda yang sangat berminat. “Kalau begitu, aku pertaruhkan istriku juga.” Lanjutnya.

“Aku tidak ingin kalah. Aku pertaruhkan adik perempuan ku, dia sedang mencari pasangan hidup!” kata seorang wanita yang tersenyum kecil seolah benar-benar menikmatinya.

Elizabeth merasa dunia miring.

“Luis,” bisiknya cepat, nyaris tak terdengar. “Itu tidak lucu.”

Luis tidak menoleh. “Aku serius.”

Jantung Elizabeth berdebar keras. Ia menelan ludah, mengingat pesan ibunya, kehormatan keluarga, senyum yang harus dijaga. Ia mencoba bertahan, mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya permainan kata.

Namun Carlos tertawa pendek. “Menarik. Kau selalu tahu cara membuat malam jadi hidup Mr. Holloway!”

“TIDAK,” Elizabeth berdiri tiba-tiba. Suaranya menggema lebih lantang dari yang ia rencanakan. “Aku tidak setuju.”

Semua mata tertuju padanya.

“Ini bukan candaan, dan wanita bukanlah barang yang harus dibuat pertaruhan. Itu sangat konyol dan tidak manusiawi.” lanjutnya, napasnya bergetar meski punggungnya tetap tegak dan suaranya tegas.

Wajah Luis membeku. Tatapannya lurus, gelap, menahan sesuatu yang berdenyut di baliknya. Tak ada suara, hanya ada keheningan semata.

Kesadaran menghantam Elizabeth seketika. Ia baru saja melanggar batas yang tak terlihat. “Aku—aku minta maaf,” katanya cepat, menunduk sedikit. “Permisi.”

Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah pergi. Langkahnya cepat, anggun yang dipaksakan. Musik kembali terdengar, percakapan berlanjut seolah tak ada apa-apa.

Luis bangkit. Tidak ada kata. Ia mengikuti Elizabeth.

Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan yang mencekik. Tidak ada sentuhan. Tidak ada penjelasan. Lampu-lampu kota melewati jendela seperti garis-garis dingin.

Sesampainya di mansion, Luis berjalan lebih dulu menuju kamar. Elizabeth mengikutinya dengan wajah tegas dan tetap tenang karena dia pikir dia tidak bersalah dan justru menghentikan hal yang tidak manusiawi. Namun, setiap langkah terasa semakin berat.

Eliza menatap punggung suaminya yang mulai membuka jas hitamnya, lalu melonggarkan dasinya saat ia berbalik menatap istrinya. “Apa kau tahu soal sopan dan kehormatan? Aku jadi meragukan hal itu dari seorang Taylor, sayang.”

“Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar. Dan permainan tadi— ”

“Kau membuatku menahan malu, dan melewati batasanmu.”

Elizabeth terdiam menatap mata suaminya yang sudah terlihat merah bak ingin meluapkan amarahnya.

1
Rosita Ros
sangat bagus
Almun
aku jadi bingung,sebenarnya mereka ini korban dari vale.atau dua dua nya korban🤔🤔
Four.: mungkin... dua²nya korban
total 1 replies
sleepyhead
jadi kemeja hitamnya sdh digantikan dgn jubah tidurnya yah, atau mgkn karena udara terlalu dingin Vale memakai keduanya 🥰
Four.: sudah aku perbaiki kok/Grimace/
total 3 replies
sleepyhead
Psikopat handsome
Four.: ohh jadi istilahnya begini. "Aku rela engkau gebukin bang, asal kita bersama"😅
total 3 replies
sleepyhead
Sambil diselipin scene cameo saat 🐌 Garry berjalan 🤭
sleepyhead: wkwkwkk
total 2 replies
sleepyhead
( -̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥᷄◞ω◟-̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥᷅ ) sedih gua tor
Four.: jangan nangis nanti kelihatan orang, malu
total 1 replies
sleepyhead
Ketika kelembutan mengalahkan kekerasan dan logika juga keberanian bisa mengalahkan kekuatan yang tak terkendali...
its too little to late Dude..
Four.: aku mau jadikan Luis menjadi pria baik /Chuckle//Slight/
total 3 replies
vnablu
apakah nanti tuan Vale akan emm adalah dengan Eliza.. ngambil kesempatan dalam kesempitan nih tuan Vale 🤭🤭..
Four.: yaaa mungkin aja /Bye-Bye/
total 1 replies
vnablu
hobii banget ni orang nguping 😄😄 kalo nggak nguping jiwa kepo nya meronta" hahahaha
Four.: kalau GK ada dia sepi lohh /Grin/
total 1 replies
sagi🏹
thor kenapa gak di bikin jadi tangguh aja si Elizabeth thor kan dia juga berasal dari keluarga bangsawan thor
Four.: eak... eak... /Applaud/
total 5 replies
Tiara Bella
apa mwnya Vale ini ke Eliza ya....
Four.: ada dehhhh
total 1 replies
Almun
vale pliss.ya kaget lah lizaa🤧🤭
Four.: jadi dag--dig-dug sendiri
total 1 replies
Kinara Widya
lanjut kak...
Four.: wokehhh 👍
total 1 replies
sleepyhead
Dan pesan terakhir Ibunya, ( ⚈̥̥̥̥̥́⌢⚈̥̥̥̥̥̀) nyesek gua tor
Four.: Kata-kata ibu selalu ada pesan yang mendalam lohh 🤧/Sweat/
total 1 replies
sleepyhead
Cili ini Lambe turah versi Birmingham yah😅
Four.: ho, oh
total 1 replies
sleepyhead
exactly, karma is a myth...
Four.: yeah... you're right.
total 1 replies
sleepyhead
she's just nit into you, dumbass..!
Four.: ho,oh
total 5 replies
sleepyhead
Hell yeah 🤣👏👏
sleepyhead: wakakkkk
total 2 replies
sleepyhead
pintarnya kamu Eliza , bs memanfaatkan situasi dan memancing esmosi 🤭 Luis 😁
di rela menjadi samsak asal tubuhnya tdk dijamah 👏👏👏 attagirl
Four.: yaa... harus menahan sakit yang luar biasa kannn /Grimace/
total 1 replies
sleepyhead
How tragicly 🥶
Four.: sangat tragis🤧
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!