Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sunyi yang Berisik
Kesunyian ternyata bisa bersuara.
Ia tidak berteriak, tidak memanggil, tidak mengancam secara langsung. Ia hanya hadir—menekan dada, memenuhi ruangan, dan membuat setiap detik terasa lebih panjang dari seharusnya.
Carmela merasakannya sejak Matteo pergi.
Rumah di tepi danau itu tetap indah. Air berkilau di pagi hari, burung-burung beterbangan rendah, angin berembus lembut di antara pepohonan. Namun keindahan itu kini terasa seperti lukisan yang digantung terlalu rapi—tidak bisa disentuh, tidak bisa dimasuki.
Ia berjalan menyusuri lorong-lorong rumah, langkahnya pelan, seolah takut mengganggu sesuatu. Para pengawal menyapanya dengan sopan, tapi menjaga jarak. Maria mencoba mengajaknya bicara, namun percakapan mereka selalu berakhir cepat, terganjal oleh kehati-hatian yang tak terucap.
Carmela sendirian, meski tidak pernah benar-benar sendiri.
Ia duduk di ruang baca, membuka buku yang sama untuk ketiga kalinya hari itu. Kata-kata di halaman tidak benar-benar masuk. Pikirannya melayang ke Milan—ke Matteo—ke cara ia pergi tanpa menoleh terlalu lama, seolah jika ia melakukannya, ia akan berubah pikiran.
Apakah aku hanya beban yang harus diamankan?
Atau sesuatu yang lebih berbahaya: alasan ia bisa kehilangan kendali?
—
Panggilan dari Matteo datang sore hari.
“Apa semuanya baik-baik saja?” tanyanya tanpa pembuka.
“Aman,” jawab Carmela. Ia ragu sejenak sebelum menambahkan, “Seperti biasa.”
Matteo menangkap keraguan itu. “Kau terdengar jauh.”
“Aku memang jauh,” kata Carmela jujur. “Bukan hanya secara jarak.”
Keheningan singkat.
“Aku sibuk,” kata Matteo.
“Aku tahu.”
Nada itu—tidak marah, tidak menuntut—justru membuat Matteo mengernyit.
“Kau ingin aku pulang?” tanyanya.
Carmela menutup matanya sejenak. “Aku ingin kau bicara padaku seperti aku ada.”
Matteo terdiam lebih lama kali ini. “Aku melakukan semua ini agar kau tidak perlu memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya kau pikul.”
“Namun aku memikirkannya juga,” balas Carmela pelan. “Sendiri.”
Panggilan itu berakhir tanpa pertengkaran, tetapi juga tanpa kehangatan. Carmela menatap layar ponselnya lama setelah sambungan terputus, dadanya terasa kosong dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan.
—
Malam itu, hujan turun deras.
Carmela berdiri di depan jendela kamar, memandangi kilat yang sesekali membelah langit. Ada rasa gelisah yang tidak mau pergi—seperti firasat yang belum menemukan bentuknya.
Ketukan terdengar di pintu.
Bukan keras. Bukan tergesa. Terlalu teratur.
Carmela menoleh cepat. Jantungnya berdegup.
“Siapa?” tanyanya.
“Pengiriman,” jawab suara pria di balik pintu.
Maria muncul dari lorong, wajahnya tegang. “Aku tidak memesan apa pun.”
Pengawal memeriksa paket itu dengan ketat sebelum membawanya masuk. Kotak kecil, dibungkus rapi, tanpa nama pengirim.
Carmela sudah tahu.
Ia tidak perlu membuka kotak itu untuk merasakan kehadiran Lorenzo.
Di dalamnya terdapat sebuah buku—edisi lama, sampul kulit—dan secarik kertas kecil.
Kau tampak bosan di danau.
Kesunyian bisa lebih berbahaya daripada keramaian.
—L
Tidak ada ancaman. Tidak ada ajakan. Hanya pengakuan bahwa ia sedang diperhatikan.
Carmela menutup kotak itu dengan tangan gemetar.
“Buang,” kata Maria cepat.
“Tidak,” jawab Carmela pelan. “Bukan sekarang.”
Maria menatapnya khawatir. “Tuan Matteo—”
“Akan marah,” potong Carmela. “Aku tahu.”
Ia membawa kotak itu ke kamar dan menyimpannya di laci meja, seperti menyembunyikan bara kecil—belum membakar, tapi cukup panas untuk mengubah arah segalanya.
—
Matteo mengetahui kiriman itu keesokan harinya.
“Kenapa kau tidak bilang?” suaranya tajam melalui telepon.
“Karena aku tidak ingin kau bereaksi seperti ini,” balas Carmela.
“Seperti apa?” bentak Matteo.
“Seperti aku adalah masalah yang harus segera diatasi,” jawab Carmela, nadanya bergetar. “Aku ingin kau mendengarku dulu.”
Matteo menarik napas panjang. “Dia sedang bermain denganmu.”
“Aku tahu,” kata Carmela. “Dan aku tidak menjawabnya.”
“Keheninganmu juga jawaban,” balas Matteo dingin.
“Lalu apa yang kau inginkan dariku?” tanya Carmela. “Menjadi patung? Tidak berpikir? Tidak merasa?”
Matteo terdiam. Ketika ia bicara lagi, suaranya lebih rendah. “Aku ingin kau selamat.”
“Aku ingin kau percaya bahwa aku bisa kuat,” jawab Carmela. “Bukan karena dunia ini lembut—tapi karena aku belajar.”
Keheningan panjang menyusul.
“Aku akan datang,” kata Matteo akhirnya.
“Kapan?”
“Segera.”
Namun segera di dunia Matteo selalu berarti: ketika keadaan mengizinkan.
—
Hari-hari berikutnya menjadi ujian.
Carmela mulai menyadari bahwa isolasi bukan hanya soal jarak, tetapi tentang kehilangan pijakan. Ia tidak tahu apa yang terjadi di luar rumah danau, tidak tahu ancaman apa yang sedang bergerak, tidak tahu posisi Matteo di tengah pusaran itu semua.
Dan di celah ketidaktahuan itulah, keraguan tumbuh.
Ia mulai bertanya-tanya:
Apakah Matteo melindungiku… atau mengendalikanku?
Apakah aku pasangan… atau sekadar aset?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak punya jawaban cepat.
—
Matteo akhirnya tiba malam hari, tanpa pemberitahuan.
Carmela mendengar suara mobil dan langsung turun. Ketika ia melihat Matteo berdiri di ruang tamu, lelah dan kusut, emosinya bercampur—lega, marah, rindu, kecewa.
“Kau datang,” katanya datar.
“Aku tidak bisa tidur,” jawab Matteo.
“Itu alasan yang mahal,” balas Carmela.
Matteo menatapnya tajam. “Jangan uji kesabaranku.”
“Jangan uji keberadaanku,” balas Carmela, suaranya meninggi. “Aku di sini, Matteo. Tapi kau memperlakukanku seolah aku hanya perlu dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain.”
Matteo mendekat. “Kau tidak tahu apa yang sedang kuhadapi.”
“Dan kau tidak membiarkanku tahu,” kata Carmela. “Itu yang menyakitkan.”
Keheningan jatuh di antara mereka, tebal dan berat.
“Aku takut,” kata Matteo tiba-tiba.
Carmela terkejut.
“Aku takut suatu hari aku pulang… dan kau tidak ada,” lanjut Matteo. “Atau lebih buruk—kau ada, tapi tidak lagi utuh.”
Nada itu bukan kemarahan. Itu ketakutan mentah.
Carmela melangkah mendekat. “Aku juga takut,” katanya pelan. “Tapi aku tidak ingin hidupku hanya berisi ketakutanmu.”
Matteo menutup mata sejenak. Ketika membukanya kembali, ada kelelahan yang jujur.
“Aku tidak pandai membagi ruang,” katanya. “Aku terbiasa mengendalikan.”
“Dan aku terbiasa bertahan,” jawab Carmela. “Mungkin kita harus belajar dari satu sama lain.”
Matteo menatapnya lama, lalu mengangguk pelan.
—
Di tempat lain, Lorenzo menerima kabar.
“Matteo kembali ke danau,” lapor seseorang.
Lorenzo tersenyum tipis. “Bagus.”
“Kenapa?”
“Karena sekarang dia akan membuat kesalahan,” jawab Lorenzo. “Pria yang terlalu dekat dengan hatinya… selalu melakukannya.”
—
Malam itu, Carmela berbaring di samping Matteo—masih ada jarak di antara mereka, tapi juga kesadaran baru.
Kesalahpahaman belum sepenuhnya terurai. Ancaman belum berkurang. Namun satu hal menjadi jelas:
Sunyi bukan lagi sekadar ruang kosong.
Ia adalah medan perang yang paling berbahaya—karena di sanalah hati diuji tanpa perlindungan apa pun.