Saras wati versi moderen
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rozalina Apriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Edu
"Sahira, kok di sini?" ucap Sesil yang berpapasan di jalan. Sesil baru selesai acara bersama teman-temannya lalu hendak pulang dengan motornya.
"Ngak kok kak, kebetulan lewat sini."
"Oh... dari tadi belum pulang ya? Mau aku antar?" tawar Sesil.
"Ngak usah Kak makasih, aku bisa naik angkutan umum," tolak Sahira.
"Atau mau kerumahnya Agatha, sekalian aku anter."
"Eh, ngak kok Kak. Aku mau pulang takut di cariin."
'Dia pura-pura baik atau apa sih, ni orang bikin bingung aja.'
"Oh ya udah kalo gitu, aku duluan ya Sahira."
"Ya Kak," Sahira mencoba tersenyum manis, meskipun melihat senyum Sesil ada rasa sedikit sakit hati.
#
"Woi Ra, dari mana aja kamu. Dari tadi kita berdua nungguin kamu tapi ngak balik-balik," ucap Ria yang duduk di riang tamu.
"Hello... ini zaman purba apa? Kalian kan bisa telpon."
"Udah ratusan kali Sahira Amalia, tapi ngak aktif," Ria ngotot.
"Upss... lupa kalo ponsel aku lowbat, hehe."
"Sahira, dari mana aja kamu," Ibunya Sahira sedikit marah.
"Dari sekolah Ma, ada yang harus di urus sedikit."
"Kenapa ngak bilang? Dari tadi Papa sama Mama cariin kamu, sampai cemas loh. Sampe Rere dan Ria kesini."
"Hehe, maaf Ma. Tadi mau ngabarin tapi keburu ponsel Sahira mati."
"Ya udah makan gih sana, kamu kayaknya pergi pagi banget belum sempat sarapan kan?"
"Ya Ma, Sahira mau ganti baju dulu."
Rere dan Ria mengikuti Sahira masuk ke kamar.
"Ra' kamu habis nemuin Kak Iman ya?" tanya Rere yang dari awal menebak begitu.
"Ngak."
"Terus kamu ngapain ke sekolah kalo ngak nemuin Kak Iman."
"Dia ngak datang ke sekolah," ucap Sahira ketus.
"What," Rere dan Ria berbarengan.
"Emangnya kalian ngak janjian?" tanya Ria.
"Ho'oh, kok bisa di hari pengumuman kelulusan ngak dateng."
Belum sempat Rere menyelesaikan kalimatnya Sahira sudah terisak, meneteskan air mata yang sejak tadi ia bendung.
"Ra, kok nangis?" tanya Rere yang melirik Ria, Ria menggeleng.
"Ra, cerita dong. Kan kita berdua jadi bingung" ucap Ria.
"Ngak papa, aku cuma mau nangis bentar," Sahira memeluk Ria.
"Ra, kamu nangis karna Kak Iman mau ke Ausi ya?" tanya Rere.
Sahira melotot.
"Ausi, maksudnya?"
"Kamu belum tahu ya?"
"Udah Re jangan berbelit-belit, Bang Iman beneran mau ke Ausi?"
"Aku denger dari Kak Rudi temennya, katanya sih begitu,"
"Ada hubungan apa kamu sama Rudi?" tanya Ria.
Wajah Rere tampak bingung mendapat pertanyaan dari Ria. Sahira diam dengan pikirannya.
"Jawab Re! Kamu pacaran sama Kak Rudi."
"Kak Rudi katanya pernah di telpon Kak Iman dan Kak Iman bilang kalau dia mau le Australia," Rere menunduk.
"Re, kamu belum jawab pertanyaanku," Ria masih ngotot.
"Kami sebenarnya backstreet, Jangan bilang-bilang ya please. Kalo ketahuan habis lah aku sama Mamaku." ucap Rere lirih.
Rere memang di larang pacaran oleh orang tuanya, takut memngganggu fokus belajarnya.
"Hah," Ria mendengus.
"Jadi selama ini kamu sering ngak ada waktu sama aku ternyata kamu sibuk pacaran," Ria setengah berteriak.
"Please jangan keras-keras nanti ketahuan."
"Huuuaaaa," Sahira membesarkan tangisnya.
"Aduh kok tambah gede sih?" ucap Rere.
"Kalian berdua kalo mau beramtem jangan di sini. Dan kamu habis ngasih kabar buruk malah sibuk berantem," ucap Sahira menunjuk Rere.
"Aduh... ni mulut harusnya ngak keceplosan, jadi pusing sendiri aku," gumam Rere.
Ria menatap Rere sinis, efek karna cuma dia yang merasa jomblo.
#
Agatha mulai mengelilingi daerah kampusnya, mencoba menarik bafas perlahan sambil memejamkan mata, ia ingin meresapi udara di sana.
"Pokoknya Pak Adi ngak boleh tinggalin Agatha sendiri, di mana Aga di situ Pak Adi harus ada juga."
"Siap Buk," bisik mereka berdua yang berada di belakang Agatha.
"Belajar bahasa inggris yang benar, jadi pas Agatha di bully kamu bisa bela. Pokoknya Agatha ngak boleh di bully. Awasin terus."
"Siap Buk.*
" Awasi semua yang ingin berteman dengannya, siapa tahu mereka bukan mau berteman."
"Siap Buk."
"Awasi makanannya, obatnya dan kegiatannya. Laporkan semua pada saya, ngak boleh ada yang ketinggalan. Setiap hari, ingat setiap hari!"
"Siap Buk."
"Kamu juga harus laporan setelah dia selsai terapi."
"Siap Buk."
"Siap, siap aja dari tadi."
"Laksanakan," Pak Adi mendekat ke Agatha.
Agatha menoleh bingung dengan suara keras Pak Adi.
Hamparan halaman yang menghijau dan celotehan orang sekitar terdengar samar.
Agatha mulai tersenyum kembali, berkeliling di daerah baru yang ia akan tinggali bersama Pak Adi.
#
"Pak Adi, kan saya suruh tunggu di parkiran kenapa ikut masuk?" ucap Agatha yang hendak masuk kelas untuk pertama kalinya.
"Ngak kok Mas, ngak ikut. Saya mau liat-liat kampus Mas aja sekalian mengasah kemampuan bahasa saya."
"Ya udah, tapi jangan mepet-mepet saya juga dong. Pak Adi bisa liat-liat tapi ngak perlu di belakanga saya terus."
"Iya Mas, saya ke sana ya," menunjuk sebuah kursi di taman.
"Ya udah sana!"
"Indonesia ya," ucap seorang yang wajahnya kebule-bulean tapi lidahnya Indonesia banget.
"Maksudnya?" Agatha terheran dengan orang asing yang tiba-tiba datang menyebutkan asalnya.
"Kamu orang Indonesia kan, meskipun wajahmu agak ke jepang-jepang gitu."
"Ya."
"Perkenalkan, Eduard Aruan. Biasa di panggil Edu, Batak punya bro." ucap Edu mengulurka tangan.
"Agatha," Agatha menyambut tangan Rudi.
"Kamu keturunan Jepang ya?"
"Iya Papaku Jepang."
Pertemuan dengan Edu adalah awal keakraban mereka.
"Sudah ki bilang tadi, aku aku keturunan Batak. Marga ku Aruan."
"Kok wajah kamu bule, nyasar ya pas lahir?" sedikit senyum di sudut bibir Agatha.
"Huhaha, Ibuku Ausi bro. Kenapa? Kerlalu ganteng ya?" ucap Edu terbahak.
"PeDe banget lu. Jurusan apa?"
"Sama sepertimu."
Agatha mengerutkan kening.
"Ya bro, gwe udah lama liatin lu yang ternyata mengambil jurusan yang sama sepertiku. Ternyata kita sama-sama menyukai bisnis ya."
"Oh, jadi kamu seorang penguntit juga."
"Apa? Penguntit itu bahasa yang kasar tau," Edu berteriak membuat orang disekelilingnya melirik.
"Maksudnya bukan begitu," Agatha takut jika Edu benar-benar marah.
"Hehe, bercanda kali Bro. Lu di bentak dikit udah ciut."
"Hah... udah ah, ngomong sama lu ngak bisa kelar. Kelas yuk!"
"Ayuk anak muda. Bersemangat untuk belajar," Edu berteriak dan mengangkat kedua tangannya dengan percaya diri.
Agatha menutup wajah dengan tangan karna semua orang disana menoleh pada mereka.
"Kenapa Bro, ayuk!"
Agatha membuka wajahnya dan tersenyum kecut pada orang-orang disana. Edu masak bodo' dia tidak perduli ekspresi orang tentangnya.
Edu mendorong kursi roda Agatha hingga ke ruang kelas.
Flash Back Off
lebaiiii..