“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KIA 20
Di depan rumah dengan tulisan "NASI UDUK IBU SALAMAH" berdiri seorang perempuan paruh baya.
"Bu, saya mau pesan nasi uduk 20 bungkus buat besok pagi. Sebelum jam 6 harus sudah ada," ucap Miranda pada seorang perempuan paruh baya.
Perempuan paruh baya itu menatap sinis miranda.
"Hai, gembel, jangan ngerjain orang, ya. Pesan 20 bungkus emang enggak pakai uang apa? Kalau mau makan itu kerja, jangan nipu," jawab perempuan itu jelas memandang enteng Miranda yang memang penampilannya seperti gembel.
Andai saja Miranda yang dulu, pasti dia akan pulang setelah direndahkan seperti itu. Dia akan menyimpan semua penghinaan dalam hati.
Namun Miranda sekarang adalah Miranda yang lelah dihina, Miranda yang sudah berani mengacungkan senjata kepada para berandalan.
"Saya ke sini bukan untuk ngemis, apalagi menipu. Saya ke sini memang mau pesan nasi uduk," ucap Miranda. Dia mengeluarkan uang dari kantong dasternya. "Ini uang dari hasil mulung saya. Saya akan gunakan untuk membeli nasi uduk."
Melihat miranda mengeluarkan uang wanita paruh baya itu terlihat kesal.
"Ada apa ini?" ucap seorang perempuan yang keluar dari rumah yang bertuliskan Nasi Uduk Ibu Salamah.
"Ini loh, Mpok Salamah, ada gembel mau pesan nasi uduk lu. Tapi dia kan gembel, enggak mungkin dia bisa bayar. Kalau sudah pesan, nanti Mpok cuma dapat capek doang, dibayar enggak," ucap perempuan itu.
Miranda tertegun. Ternyata yang dia ajak bicara dari tadi itu bukan Ibu Salamah. Miranda menyesal kenapa langsung pesan saja, enggak perkenalan dulu.
Ibu Salamah memandang Miranda dari atas ke bawah.
"Yah, masa bisnis pertamaku akan gagal hanya karena penampilanku," ucap Miranda dalam hati merasa getir, tangannya terasa dingin
"Emang mau pesan berapa?" tanya Ibu Salamah dengan nada datar. Tatapannya penuh curiga.
"20 bungkus, Bu," jawab Miranda.
"Ok, totalnya 180.000," ucap Bu Salamah.
Miranda tertegun. Bukankah kata orang proyek harganya 7.000 per bungkus, harusnya totalnya jadi 140.000, dan dia akan jual lagi 10.000 per bungkus, ada untung 60.000, tapi kali ini malah mendapatkan harga 180.000, masih ada selisih 20.000.
Miranda ragu apakah mau lanjut atau tidak.
"Jangan banyak melamun," ucap Ibu Salamah setelah sekian lama Miranda hanya menundukkan kepala.
Sudah terlanjur curiga sama Miranda wanita parubaya itu tak mau dia dipermalukan langsung menghardik dengan nada tinggi.
"Hai, gembel, mendingan lu pergi. Jangan-jangan kamu iseng doang,"
"Ini uang 50.000 buat panjer, pelunasannya besok," ucap Miranda buru-buru memperlihatkan uangnya pada Ibu Salamah.
Melihat hal itu hatinya merasa panas karena di dalam kantong daster dia tidak ada uang sebanyak itu
"Yah, cuma 50.000 doang. Mending jangan diterima, Bu. Dia enggak akan bisa lunasin, Bu. Jangan-jangan dia besok akan bawa banyak temannya mengacau," ucap wanita paruh baya itu.
Ibu Salamah melihat wanita paruh baya itu.
"Kenapa aku harus menolak pesanannya?"
"Ya karena dia gembel," jawabnya.
"Nih, dengerin sama telinga lu, Marni?" ucap Ibu Salamah. "Jangankan gembel, andai Fir’aun masih hidup dia mau pesan nasi uduk di gue, gue buatin asal dia bayar."
Muka Marni tampak tak enak dipandang. "Nih, dengerin ya, Salamah, gue cuma ngingetin lu aja biar lu enggak rugi."
"Hey, mendingan lu pulang sekarang," ucap Ibu Salamah. "Tuh, lihat, ada bank keliling ke rumah lu. Jangan sampai suami lu tahu punya utang."
Marni melihat ke rumahnya.
"Ah, gila sih. Biasanya hari dia datang hari Rabu, kenapa Selasa sih," ucapnya panik. Dia berlari terbirit-birit ke rumahnya, pinjam uang 500.000 ke bank keliling untuk beli skincare dan suaminya enggak tahu. Kalau suaminya tahu dia pinjam uang tanpa seizinnya, suaminya akan marah.
"Mari masuk," ucap Ibu Salamah.
"Di sini aja, Bu. Saya kotor."
"Walau kotor, kamu akan menghasilkan uang buat saya, jadi ayo masuk," ucap Ibu Salamah.
Miranda masuk ke rumah sederhana tapi terlihat bersih.
Ibu Salamah dengan jalan agak diseret pergi ke dapur, dan Miranda di ruang tengah. Tak lama kemudian, Ibu Salamah datang membawa nampan berisi air dan camilan.
"Enggak usah repot-repot, Bu," Miranda merasa enggak enak hati.
"Hal pertama yang harus kamu lakukan dalam berdagang adalah perlakukanlah pelanggan dengan baik," ucap Bu Salamah.
Miranda mencatat perkataan Ibu Salamah dalam ingatannya.
"Hanya air dan makanan ringan, jadi tidak merepotkan," ucap Ibu Salamah. "Emang buat acara siapa kamu pesan sebanyak itu?" lanjut Bu Salamah bertanya.
Miranda ragu untuk menjawab yang sebenarnya. Takutnya nanti Ibu Salamah sendiri yang menjual nasi uduk ke proyek langsung.
Namun Miranda tidak terbiasa berbohong, akhirnya berkata, "Untuk orang proyek, Bu."
"Oh, orang proyek ya. Ya, mereka juga maunya ibu ngirim ke sana, tapi kaki ibu kena asam urat, enggak bisa jalan jauh. Untung saja ada kamu, jadi nasi uduk ibu bisa dirasakan oleh mereka," jawab Bu Salamah.
Mendengar hal itu, tentu saja Miranda merasa lega.
"Besok mau diambil jam berapa?" tanya Bu Salamah.
"Sebelum jam 6.30 aku harus sampai ke proyek, Bu."
"Kalau begitu, kamu habis salat subuh langsung ke sini, ya."
"Baik, Bu."
Ibu Salamah mengeluarkan sebuah nota lalu mencatat jumlah pesanan Miranda.
"Oh ya, nama kamu siapa?" tanya Ibu Salamah.
"Miranda."
"Nomor ponsel?"
"Saya yang enggak punya nomor ponsel, Bu."
"Saya enggak punya nomor ponsel," jawab Miranda.
"Ke depan kamu harus punya ponsel. Hal penting dalam dagang adalah komunikasi," ucap Bu Salamah.
"Mentang-mentang aku gembel, uang 50.000 saja harus pakai nota. Takut aku enggak bayar kali," ucap Miranda dalam hati.
"Hal kedua dalam berdagang, kamu harus mencatat semua transaksi kamu," ucap Ibu Salamah sambil menulis nota.
"Dengan menulis semua transaksi kamu, kamu akan tahu sebenarnya kamu itu rugi atau untung."
Miranda merasa bersalah dengan pemikiran sebelumnya. Pencatatan bukan hanya sebagai bukti, tapi sebagai hal pasti untuk menentukan untung dan rugi.
Miranda lagi-lagi mencatat hal penting itu. Ibu Salamah sudah memberikan beberapa hal penting dalam berdagang.
"Ini yang putih untuk kamu, dan yang kuning buat ibu," Ibu Salamah memberikan nota pada Miranda.
"Loh, kok jumlah totalnya 140.000, Bu?" tanya Miranda.
"Tadi ada si Marni, makanya aku bilang 180.000 biar dia enggak pesan di ibu," ucap Ibu Salamah.
"Kenapa, Bu? Dia pernah pesan dan enggak mau bayar gara-gara sambelnya kepedesan. Jadi kalau dia yang pesan, ibu kasih harga mahal karena banyak maunya."
Miranda tertegun. Heran bisa-bisanya Marni menuduh dia enggak akan bisa bayar, padahal dia sendiri pernah enggak bayar. Tapi memang di dunia ini banyak orang yang pandai mencari kekurangan orang, tapi tidak pandai mencari kesalahan sendiri.
"Kamu tinggal di mana?" tanya Ibu Salamah.
"Dekat Pasar Kramat Jati, Bu," jawab Miranda. Itu nama pertama yang dia hafal saat dia sampai di Jakarta.
"Kamu asli Jakarta atau luar Jakarta?" tanya Bu Salamah.
Miranda merasa Ibu Salamah ini seperti menginterogasinya.
"Saya asli Cikarang, Bu," jawab Miranda.
Kepala Ibu Salamah manggut-manggut.
"Apa kamu punya KTP?"
Dan hal inilah yang Miranda takutkan.
"Apa Ibu Salamah akan melaporkanku ke RT dan ke polisi, lalu aku dipenjara?" pikiran buruk langsung berputar di kepala Miranda.
gemes bgt baca ceeitanya