Kisah dua insan yang saling mencintai, namun terhalang oleh restu orang tua. Seorang pemuda nan soleh jatuh cinta kepada seorang gadis yang biasa saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Diana Santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Sekolah
Tugas murid adalah belajar
Tugas guru adalah mengajar
Jika kamu tidak ingin belajar
Maka kamu tidak akan pintar
...*****...
Keesokan harinya ...
Pagi-pagi sekali Riri sudah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Dia sangat bersemangat akan hal itu. Sampai-sampai dia mendahului alarm jamnya, ketika ia akan bangun pagi ini.
Dia berkata pada jamnya, "Selamat pagi! Kali ini aku mendahului mu, karena aku tidak ingin terlambat ke sekolah."
Dia segera mandi dan bersiap diri untuk memakai seragam sekolah miliknya. Setelah sekian lama tidak memakainya, ada sedikit rasa canggung yang di rasakan oleh Riri.
Ketika dia keluar dari kamarnya, ibunya menyambut dirinya dengan senyuman di wajah yang telah tampak sedikit kendur itu.
Lalu, Sekar menyapa putrinya itu,
"Riri ... tumben sekali kamu bangun sepagi ini dan sudah rapi pula, ada apa ini tidak seperti dulu?" tukasnya dengan rona heran di wajahnya.
"Eh, Ibu. Ibu, uda mau siap-siap jualan, ya?" elaknya tak menjawab tanya dari ibunya.
"Loh, kenapa kamu malah tanya Ibu, sih? Pertanyaan Ibu saja belum kamu jawab. Ayo, katakan ada apa kamu sudah rapi begini?!" paksa ibunya menuntut jawaban.
"Nggak, apa-apa, kok, Bu. Ini cuma iseng aja, berhubung aku juga 'kan udah lama nggak ke sekolah. Makanya, nggak ingin terlambat, Bu. Itu aja, kok," jelasnya panjang lebar.
"Ya, udah kalau gitu kamu sarapan dulu, ya! Ibu sudah siapkan sarapan untukmu."
"Kalau gitu, kita sarapan bareng, ya Bu?!" pintanya manja.
"Ya, apa boleh buat," ucap Sekar seolah terpaksa menerima ajakan dari putrinya.
Riri dan juga ibunya telah siap untuk pergi dari rumah. Mereka tak lupa untuk mendoakan satu sama lain sebelum mereka pergi.
"Semoga kamu berhasil, ya! Ibu akan selalu mendoakan mu, Nak!" ucap Sekar, lalu mengecup kening Riri.
"Ya, Bu. Semoga jualannya laris manis, ya Bu! Aku pergi dulu. Assalamualaikum!" kata Riri setelah menyalami tangan ibunya.
"Waalaikumsalam!"
***
Di sekolah ...
Suasana sekolah terasa bising tapi penuh dengan keceriaan. Begitu Riri tiba di depan pintu gerbang sekolah. Ia menarik napas dalam-dalam dan mulai merasakan hangatnya kehidupan dari sinar mentari pagi yang menyentuh kulitnya.
Tak khayal itu membuat satpam sekolah jadi memperhatikan dirinya. Lalu, satpam itu segera mendekatinya dan bertanya padanya.
"Hai ... kamu! Sedang apa disini? Jangan menghalangi orang yang mau masuk, mengerti ...!" teriak satpam itu padanya.
Namun, ketika Riri menoleh dan melihat ke arah satpam itu. Satpam itu segera menyadari ucapannya yang telah sangat kasar pada Riri.
Dengan ramah Riri menyapa pak satpam itu.
"Selamat pagi, Pak! Maaf, kalau saya menghalangi jalan! Saya hanya sedang mengobati rasa rindu saya pada sekolah ini, Pak!" jelas Riri pada satpam itu.
"Maaf, Nak Riri! Bapak, nggak tahu kalau kamu yang berdiri di sini tadi," ucapnya menyesal.
"Nggak apa-apa, kok Pak! Santai saja, kalau gitu saya masuk dulu, ya Pak!" pamitnya meninggalkan satpam yang masih linglung itu. Satpam itu hanya mengangguk saja.
Di segera berjalan ke Ruang Kepsek. Namun, ketika dia masuk. Di melihat betapa sibuk nya pak Kepsek itu. Ada perasaan tak enak dalam hatinya untuk mengganggu pak Kepsek itu.
Tapi, dia memberanikan diri untuk menemui Kepsek itu.
Tok ... tok ... tok ....
"Permisi, Pak! Boleh, saya masuk?" tanyanya pada Kepsek itu.
"Oh, Riri ...! Silahkan, masuk saja!" balas Kepsek itu.
"Maaf, Pak! Jika saya mengganggu, Bapak! Kedatangan saya kesini untuk bertanya pada Bapak." tuturnya dengan sopan.
"Oh, tentu saja boleh. Silahkan, apa yang ingin kamu tanyakan?!"
Sejenak, Riri merasa bingung harus memulainya dari mana dan bagaimana cara yang tepat untuk menanyakan mengenai ujian itu.
Dengan gugup, dia mulai merangkai kata dan menyuarakannya pada Kepsek itu.
"Pak, apakah saya masih bisa di terima menjadi murid di sekolah ini lagi?" Akhirnya, itulah kata yang keluar dari mulut Riri.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Kepsek itu malah balik bertanya.
"Jadi begini, Pak. Saat saya memutuskan untuk keluar dari sekolah ini. Itu karena posisi saya benar-benar mendesak, Pak. Saya tidak tahu harus berbuat apa, Pak. Makanya, saya tidak bisa berpikir panjang dan langsung memutuskan untuk berhenti saja. Tapi, sekarang saya sadar, bahwa sekolah memang sangat penting, Pak." Dengan tegas dia menyampaikan itu pada Kepsek itu.
"Lalu, yang kamu mau apa?" tanya Kepsek itu pada Riri.
"Apa saya masih bisa mengikuti rangkaian ujian sekolah, Pak?" ucapnya dengan penuh harapan.
"Hem ..., kalau itu yang kamu mau. Saya juga bingung harus menjawabnya bagaimana. Masalahnya, kamu sudah terlalu banyak ketinggalan pelajaran. Saya takut, kamu nanti kamu malah tidak bisa menjawab soal-soal ujian itu," tutur Kepsek itu pada Riri.
"Tapi, saya bolehkan, Pak mengikuti ujian itu?!" tanyanya penuh harap.
"Bagaimana, ya? Waktunya, sangat mepet. Apa kamu yakin bisa menyusul ketertinggalan kamu?" katanya merasa ragu.
"Pak, jika soal itu biar saya yang urus. Saya hanya butuh izin dari Bapak."
Dengan penuh perhitungan, akhirnya Surya mengizinkan Riri untuk tetap mengikuti ujian sekolah.
"Baiklah, saya beri kamu izin. Tapi, kamu harus bisa buktikan pada saya. Bahwa, keputusan saya tidak salah!" ucapnya tegas, seolah menuntut Riri untuk itu.
"Terima kasih, Pak! Saya akan belajar semaksimal mungkin! Agar, saya dapat buktikan ke Bapak. Bahwa, keputusan Bapak tidak akan salah."
Riri bergegas pergi untuk mencari Puri dan ingin mengajaknya belajar bersama di perpus sekolah.
Saat dia tengah mencari Puri, lalu dia melihat Puri tengah berjalan dengan seseorang. Mereka terlihat sangat akrab dan begitu dekat.
Sontak saja Riri berubah haluan. Dia tak ingin mengganggu kesenangan sahabatnya itu. Dia sadar, bahwa selama dia tak ada di sisi Puri mungkin teman Puri yang sekarang ini lah yang menjadi sahabat bagi Puri.
Akhirnya, dia memutuskan untuk pergi sendiri saja ke perpus sekolah.
***
Di perpus sekolah ...
Begitu, Riri memasuki perpus. Dia melihat ada seseorang yang tak ingin ia lihat. Ya, dialah laki-laki yang membuat Riri patah hati kala itu.
Meskipun, cintanya hanyalah cinta sepihak saja tapi tetap saja membuatnya patah hati. Walau sebenarnya laki-laki itu tak pernah mengetahui perasaannya. Tetap saja dia tak ingin melihat wajahnya yang sangat pernah ia kagumi dulu.
Dengan setengah berbisik pada dirinya sendiri.
"Kenapa, Gibran ada disini juga, sih? Kalau ada dia mood ku jadi hilang untuk belajar. Tapi, ya sudahlah! Itu tidak penting, yang terpenting sekarang adalah aku harus cari buku-buku yang aku butuhkan untuk ku pinjam."
Gibran yang masih asyik membaca buku, tak menyadari kehadiran Riri di tempat itu. Riri juga tidak tahu bahwa, Gibran sekarang sudah putus dengan Della.
Kini, Della juga sudah move on dari Gibran dan melabuhkan hatinya pada Arya. Dulu, sebenarnya Puri pernah bercerita kepada Gibran.
Puri mengatakan pada Gibran, bahwa sahabatnya yang bernama Riri itu. Sangat amat menyukai Gibran. Namun, Puri tak pernah memberi tahukan hal itu pada Riri, bahwa dia telah mengatakan hal itu kepada Gibran.
Sebab, dia tahu sahabatnya itu tak akan suka dengan caranya. Tak lama setelah mengetahui hal itu. Riri pun pergi ke Jepang dan Gibran tak tahu kapan Riri akan kembali.
Gibran tetap putus dengan Della. Bukan karena dia tahu bahwa Riri menyukai dirinya. Melainkan, karena dia tak suka terhadap sikap Della padanya.
Menurutnya, Della bukanlah perempuan yang setia apa lagi tulus menyayanginya.
Riri yang tengah sibuk mencari buku, entah mengapa ia tak bisa fokus mencari buku yang ia butuhkan. Ketika ia tengah berkeliling mencari buku. Ia tak menyadari, bahwa dia menabrak seseorang. Kakinya menginjak kaki seseorang yang berada di belakangnya.
Lalu, ia pun berbalik badan dan berkata.
"Maaf ...! Maaf ...!" katanya pada orang itu.
Dia tak menyangka, bahwa yang dia injak adalah kaki Gibran.
"Ya, nggak apa-apa, kok! Kamu lagi cari buku apa, sih?" tanya Gibran pada Riri.
Riri yang masih melihat Gibran dengan rona heran di wajahnya. Tak mendengar ucapan Gibran padanya.
Sontak, Gibran menepuk pundaknya dan berkata lagi.
"Hei ... kamu belum jawab pertanyaan aku!"
"Oh, emang kamu tanya apa tadi?" ucap Riri kikuk.
Sikap Riri yang begitu kaku dan kikuk, membuat Gibran tersenyum-senyum geli. Sampai-sampai, giginya yang putih itu terlihat berjajar rapi.
Tak ingin melihat dirinya lebih malu lagi, Riri memutuskan untuk pergi menjauh dari Gibran. Saat, berbalik badan. Riri menggerutu pada Gibran.
"Dasar laki-laki menyebalkan! Huh, aku muak dengannya!" tukasnya.
Dengan cepat Gibran meraih tangan Riri.
"Hai ... tunggu dulu! Jangan pergi begitu saja! Kamu kenapa, sih? Salah, ya kalau aku hanya ingin berteman denganmu?" jelas Gibran pada Riri yang ditatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Lepasin tanganku!" berontak Riri tak suka dengan sikap Gibran padanya.
" Tapi, ..."
"Aku bilang lepasin, sekarang!" ucapnya dengan menekankan kata sekarang.
Tentu saja aksi mereka itu membuat gaduh di perpus sekolah. Sehingga, ada yang meneriaki mereka.
"Woi ... kalau mau ribut keluar aja, deh!" kesal salah satu siswa di perpus itu. Lalu, yang lainnya juga ikut bicara.
"Benar, tuh! Ganggu, aja!" timpal salah seorang lagi.
Gara-gara di suruh keluar, Riri jadi tidak bisa belajar di perpus. Dia amat sangat kesal pada Gibran karena dialah yang membuat kerusuhan itu terjadi.
Namun, Gibran tidak kapok. Dia masih tetap mengikuti Riri diam-diM dari belakang. Riri memutuskan untuk pergi ke kantin sekolah. Guna mengisi perutnya yang mulai lapar.
***
Di kantin sekolah ...
Kantin sekolah yang begitu ramai, serta kebisingan yang tak henti-henti tetap tak membuat nafsu makan Riri menurun sedikit pun.
Riri menyantap makanan dengan lahapnya. Tanpa ia sadari, Gibran ternyata sedang memperhatikan dirinya.
Melihat ekspresi Riri yang makan dengan lahapnya. Membuat Gibran senyum-senyum tak karuan. Kali ini dia tak lagi mendekati perempuan itu. Ia takut, jika nanti Riri melihatnya. Selera makan perempuan itu akan hilang.
"Alhamdulilah, kenyang. Kalau gitu aku ke perpus lagi deh. Mudah-mudahan kali ini aku bisa dapatin buku yang aku butuhkan."
Setelah lama berkeliling, akhirnya dia mendapatkan semua yang dia butuhkan.
"Ah, beres juga. Berhubung aku belum masuk kelas hari ini. Akan lebih baik aku manfaatin untuk belajar aja, deh. Mudah-mudahan aku bisa menyimpan semuanya di otak ini!" ucapnya sambil memegang kepalanya dengan lembut. Serta senyuman yang membuatnya terlihat semakin menggemaskan.
Gibran semakin menyukai Riri, tingkah gadis itu membuatnya semakin penasaran akan pribadinya.
"Kenapa kamu begitu menggemaskan, Riri? Aku benar-benar jadi semakin penasaran denganmu. Sepertinya, kamu orang yang sangat menarik dan pantas untuk di perjuangkan." katanya pada dirinya sendiri.
Setiap kali, Riri membalik halaman demi halaman buku. Tak sedetik pun yang terlewatkan oleh Gibran. Meski dia hanya bisa melihatnya dari kejauhan.
Padahal, bel masuk telah berbunyi sedari tadi. Walau banyak murid-murid yang telah masuk ke kelasnya masing-masing, hal itu tak terlihat oleh Gibran. Di matanya saat ini hanya ada Riri seorang.
Sementara, absen di kelas tengah berlangsung. Teman-temannya saling bertanya tentang Gibran.
"Eh, kalian tahu Gibran ada dimana?" kata Roni sambil berbisik pada temannya yang lain.
"Nggak tahu." jawabnya.
"Tumben, Gibran telat! Biasanya, dia masuk sekolah paling awal. Masa, siswa teladan dan sepintar dia ingin ketinggalan pelajaran? Ini benar-benar, nggak masuk akal. Pasti, terjadi sesuatu padanya!" gerutu Roni pada dirinya sendiri.
Roni adalah sahabat terbaik Gibran. Tentu saja dia sangat mencemaskan nasib sahabatnya itu saat ini.
"Roni, kamu kenapa, sih?" tanya salah satu siswi di kelas itu.
"Aku lagi ke pikiran sama Gibran. Dia nggak pernah seperti ini sebelumnya." jawabnya khawatir.
"Oh, Gibran. Tadi, aku lihat dia lagi ada di perpus. Dia lagi memperhatikan Riri." jelas siswi itu pada Roni.
"Serius kamu? Emang kapan Riri balik?"
"Nggak tahu?" jawabnya.
"Makasih, ya infonya!"
Puri yang mencuri dengar obrolan Roni dengan teman sekelasnya itu. Dia juga merasa heran.
"Loh, emang Riri jadi masuk sekolah hari ini? Kok, dia nggak masuk sih ke kelas?" batin Puri.
"Pak, saya permisi sebentar, ya!" kata Roni minta izin.
"Ya, jangan lama-lama!"
"Ya, Pak!"
Roni bergegas pergi mencari Gibran ke perpus sekolah. Sesuai dengan info yang di berikan oleh teman sekelasnya.
Dia mendatangi Gibran yang ada di salah satu sudut di perpus. Dia langsung menarik Gibran keluar dari perpus.
Setelah di luar, Gibran bertanya pada Roni.
"Maksud kamu apa? Kenapa tiba-tiba menarik tanganku seperti tadi?" protes Gibran.
"Bran, harusnya aku yang tanya ke kamu! Ngapain kamu ada disini? Kamu nggak sadar kalau bel sekolah udah bunyi dari tadi?"
"Emang udah masuk, ya?"
"Ya, ampun, Bran! Masa kamu nggak dengar, sih? Ya, udah. Sekarang kita ke kelas, nanti aku yang jelasin ke guru. Kenapa kamu bisa terlambat oke?!"
"Ya, makasih, Ron!"
Mereka pergi dari perpus dan Gibran masih sempat menatap ke arah Riri. Riri yang tak mendengar apa pun karena dia terlalu fokus kini. Dia tak sadar bahwa adanya keributan di luar perpus.
Aksi Roni yang memegang tangan Gibran hingga ke dalam kelas. Membuat murid-murid tertawa.
"Haa ... haa ... haa ...." tawa semua murid di kelas.
"Ada apa ini?" tanya pak guru yang tengah fokus menulis di papan tulis.
"Bapak, lihat saja sendiri! Apa yang sedang mereka lakukan, coba?" kata salah seorang murid di kelas itu.
"Roni, kamu ngapain? Kenapa kalian pakai gandengan segala?" tanya pak guru yang heran pada tingkah Roni dan Gibran.
"Maaf, Pak! Tadi, saya lagi bantuin Gibran yang terjebak di toilet, Pak. Benar 'kan, Bran?!"
Gibran yang tak mengerti apa maksud sahabatnya itu, malah kelihatan kebingungan. Roni yang mengedipkan matanya, membuat Gibran mengerti kini apa maksud sohibnya itu.
"Ah, ya ... ya ... benar, Pak! Maafkan atas keterlambatan saya, Pak!"
"Ya, sudah! Kalian boleh duduk, tapi ingat jangan di ulangi lagi!"
"Siap, Pak!" ucap mereka kompak.
***
Mungkin Ryu lebih condong ke sifat ibunya
Sosoknya masih misterius, semoga dia juga orang baik
Hey kaum adam! Awas aja ya kalau kalian berani bikin Puri patah hati maka kalian akan dihajar olehnya
Gibran kamu mau tahu siapa yang ada dihati Riri? Sini aku bisikin namanya itu Ryu
Riko,Riri takut teman-teman sekolahnya digondol maling jadi dia agak ragu untuk ikut pergi sama kamu😂
Meski begitu tetap aja hati Rico hancur berkeping-keping
Tapi syukurlah, Riri ada tempat tinggal.
Daesuke kamu harus move on dan cobalah membuka hatimu kembali untuk wanita lain
Itu benar banget Gibran, kamu itu membuat Riri jadi gak fokus belajar tahu tapi Riri tak mau mengakuinya
Terus nanti Ryu gimana? Apa dia bukan jodohnya Riri?
Gibran sama Roni lucu banget sih kalian😂
Cowok kayak kamu termasuk langkah Ryu
Riri ibumu nyembunyiin kunci dipot kalau aku sih nyembunyiin kunci rumah dibawah keset yang ada didepan pintu
Jadi Riri menolak tawaran orang itu dong kalau dia mau pulang keIndonesia? Kalau Karina gimana?
Puri aku yakin Riri juga merasakan hal yang sama kaya kamu. jadi bersabarlah kalian pasti dipertemukan lagi sama Authornya ya😁
Ya ampun itu namanya ikatan batin ya Ryu, gak lihat orangnya tapi kamu bisa merasakan kehadirannya
The best deh Ryu, suka sama karakternya