"Aku lihat kamu mirip seseorang."
"Mirip siapa?"
"Mirip menantu idaman Papaku."
---
Diego dan Alita, mereka terlihat seperti remaja biasa. Ke sekolah dan belajar seperti siswa pada umumnya.
Perfect partner yang usil dan jahil, tidak sesederhana yang terlihat. Layaknya tumbuhan hijau pemangsa, keduanya menunggu dan memangsa, dan akan menyerang balik jika ada yang mengganggu.
Siang dan malam adalah waktu yang berbeda, begitu pula dengan identitas Mistletoe, Shaun dan Lele.
Status : Tamat.
Lagu rekomendasi :
Johnny Orldano - What if - ft Mackenzie Ziegler
Johnny Orlando - Everybody Wants You
Johnny Orlando - Last Summer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xiie Lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shaun & Lele 25
Happy reading!
.
***
Kehilangan seorang figur pahlawan bagi beberapa murid menjadi duka tersendiri. Banyak yang berbelasungkawa, tapi tak sedikit juga yang merasa bagai di Surga. Pasalnya, sang guru yang mendapat julukan Malaikat Maut itu benar-benar bagai malaikat pencabut nyawa.
Segala sesuatu yang menurut Mr. Michael salah ditegur bahkan langsung mendapat larangan keras. Bagi yang merasa itu adalah hal baik demi masa depan akan berpikir kepergian lelaki itu meninggalkan luka, kehilangan figur ayah yang sayang pada anaknya.
Berbeda lagi dengan siswa yang tidak suka dengan caranya. Mereka mencibir, mengatakan kalau lelaki itu pantas mati dengan cara seperti itu. Penguasa monarki yang paling ditakuti oleh para siswa pembuat onar memang pantas dipancung atau bahkan dimutilasi menurut mereka.
Dalam beberapa hari, berita pembunuhan itu menjadi perbincangan hangat. Para polisi dan detektif berusaha mengumpulkan bukti kejahatan yang dilakukan si pembunuh, memburu berbagai cctv di sepanjang jalan.
Dan pada saat yang bersamaan, bukti yang ditemukan mengguncang seluruh kepolisian. Seorang pemuda menjadi tersangka utama pembunuhan tersebut. Bukti dari cctv jalanan menemukan sosok pemuda itu.
Bagai tersambar petir di siang bolong, kepala pemuda itu hampir pecah oleh runtutan pertanyaan yang menyudutkan dirinya. Ingin menangis, rasanya percuma.
Seorang detektif menggeram tertahan di depannya, mengepal tangan karena mulut pemuda itu tertutup rapat.
"Katakan! Kau pembunuhnya, bukan?" tanya si detektif sekali lagi. Berulang kali lelaki itu mengulangi pertanyaan yang sama dan sekian kali juga pemuda itu menjawab dengan jawaban yang sama. "Aku tidak membunuhnya!"
Pemuda berlesung pipit itu menahan air matanya. Dituduh sebagai tersangka pembunuhan sangatlah menyakitkan. Summer mengepalkan tangannya erat, berjanji dalam hati akan menangkap pembunuh itu dengan tangannya sendiri.
"Lalu bagaimana kau akan menjelaskan tampangmu yang terpampang jelas di cctv jalan itu?" Lelaki berseragam lengkap dengan atribut di hadapannya menunjuk layar yang berisi rekaman jejak cctv yang ditemukan, terdapat wajah Summer setengah tertutupi masker.
"Aku bukan pelakunya," lirih Summer menahan air mata.
"Scan wajah dan bola mata menunjukkan hasil yang sama dengan milikmu. Apa lagi yang ingin kamu sembunyikan? Kalau kamu dibayar untuk itu, kamu bisa mengatakannya dan kami akan mengurus dalang di balik semua ini."
Summer kehabisan akal, dia kembali menggeleng. Ruangan yang pengap dan dipasang cctv di setiap sudut menjadikan tubuhnya bagai jagung di dalam penggorengan. Panas dan ingin pecah.
"Baiklah," ujar si detektif sambil menghembuskan napas kasar. "Jelaskan bagaimana kamu bisa berada di jalan itu pada siang yang bersamaan?"
Summer kembali menggeleng. Wajahnya tertunduk, meremas kain berlapis di pahanya. Rasa sakit dan marah berkecamuk di dadanya, membuat darahnya mendidih sampai di kepala. "Aku tidak tahu karena aku ada di sekolah hari itu! Anda bisa mencari bukti di daftar hadir sekolah!"
Lelaki di hadapannya kembali berucap. "Kamu bisa melakukannya sepulang sekolah, karena di cctv kamu memakai seragam sekolah dan bukti yang lebih akurat lagi, seragam yang kamu pakai hari itu ada bercak darah," jelas sang detektif.
Mulut pemuda itu seolah terkunci, lidahnya melekat di langit-langit, rasa sesak di dadanya membuat Summer enggan berbicara. Sakit yang tak tertahankan. "Aku tidak melakukannya," cicitnya kemudian. Dan saat itu juga runtuh sudah pertahanannya.
Summer menangis dalam diam, meremas celana yang dipakainya. Entah orang akan menganggapnya cengeng atau apa, yang bisa dia lakukan sekarang hanya melampiaskan rasa sakit dan amarahnya. Tertunduk dan menghapus air mata yang tak kunjung habis.
Sang ayah sebagai opsir yang juga menyelidiki kasus ini tidak bisa membantunya. Lelaki itu menatap malang anaknya yang tidak tahu apa-apa dari balik kaca, menitikkan air mata melihat pemandangan yang sangat menohok hatinya.
"Mungkin aku harus menyerah, Summer," gumam Lucas.
***
"Kamu kenapa? Hari ini diam terus seperti ayam yang sedang bertelur."
Pemuda bermanik cokelat madu itu melirik pada gadis cantik yang sedari tadi terdiam di tempat duduknya. Diego tersenyum tipis, pemilik manik hijau itu sedang mengkhawatirkan seseorang.
"Lele? Are you ok?"
Gadis yang dipanggil namanya segera menoleh, dia menghembuskan napas berat. "Kamu percaya kalau Summer yang melakukan itu?"
Diego terdiam sesaat sebelum menjawab. "Kita tidak bisa menilai orang hanya dari kulit luarnya saja. Ada bagian yang tidak bisa kita selami, entah kebaikan atau keburukan karena hanya dia dan Tuhan yang tahu."
Alita kembali menyandarkan kepala di badan kursi, menarik napas dalam-dalam sambil menutup mata. Resah dirasakannya setelah mendapat kabar bahwa Summer tersangka utama pembunuhan itu. "Tapi aku percaya Summer tidak melakukannya," imbuh Alita.
"Kenapa kamu sangat yakin?"
"Karena setahu aku, Summer tidak pernah bermasalah dengan Mr. Michael, terlebih lagi dia siswa yang pintar. Jadi, tidak mungkin punya dendam," ujar Alita memberikan alasannya.
Diego menyeringai tipis. "Kamu bisa berspekulasi seperti itu, tapi kenyataannya polisi sudah menemukan bukti."
Alita terdiam sejenak. Benar juga apa yang dikatakan Diego, hanya saja hati kecilnya menolak untuk percaya kalau Summer orang yang berhati dingin dan menjadi pembunuh.
Sepanjang perjalanan pulang sekolah dihabiskannya untuk melamun. Menebak bagaimana perasaan Summer sekarang, apakah pemuda yang ceria itu mampu membela dirinya sendiri.
Sampai di apartemen pun, Alita tetap diam seribu bahasa membuat Diego menghembuskan napas berkali-kali. "Tenanglah, ayah Summer seorang polisi. Dia pasti akan berusaha keras untuk membebaskan anaknya dari jeratan sanksi yang berat," jelas Diego.
Gadis itu menoleh dengan mata berbinar. "Benarkah?"
Diego mengangguk. "Hm."
Namun, sesaat kemudian wajah cantik nan mulus itu kembali murung. "Bagaimana mungkin? Polisi yang menemukan bukti itu, dan pastinya ayah Summer juga salah satu dari mereka. Menghancurkan bukti sama saja dengan menghancurkan karir ayahnya. Polisi tidak boleh melakukan itu."
Diego tertawa pelan. "Kamu pintar juga," ucapnya.
Alita berdecak tidak suka. Dia mendengus. "Otak aku miskin ilmu Matematika, Fisika dan Kimia saja. Tentang sejarah, hukum dan yang lainnya masih mampu ditampung kok," tukasnya membela diri.
Pemuda bermanik cokelat madu itu kembali tertawa dan mengacak rambut Alita gemas. "Aku tahu, ayo makan. Kamu harus tetap kuat agar bisa memikirkan pria lain lagi."
Alita menyeret langkahnya dengan berat ke meja makan diikuti Diego. Bahkan untuk makan pun, Alita rasanya tidak kuasa. Dia kembali mengingat bagaimana raut putus asa Summer saat ditarik paksa dari kelas pagi tadi.
"Apa kamu tidak bisa menolong Summer? Dia temanmu, Shaun," pinta Alita sambil mengaduk-aduk makanan di dalam piringnya.
Pemuda itu mengedik acuh, masih lanjut memakan makanannya tanpa halangan apapun. "Ada harga yang harus dibayar jika aku melakukannya. Kamu tahu sendiri, aku miskin, Lele."
Alita mengerucut sebal, dia menatap Diego dengan tatapan memelas. "Ayolah, membantu teman adalah perbuatan yang mulia, Shaun. Ambil saja uang kita, anggap saja uang itu habis dilahap pencuri. Kita bisa mencuri lagi."
Diego terkekeh sinis. "Sejak kapan kamu royal? Setahuku, kamu orangnya pelit," cibir pemuda itu.
"Pelit bukan berarti hati nuraninya hilang 'kan? Ayolah, bantu dia," rengeknya lagi.
Mau tidak mau, Diego mengangguk. "Tanpa kamu memohon pun aku pasti akan membantunya. Dia teman baik."
Alita tersenyum karenanya. "Ternyata kamu masih punya hati nurani juga. Tidak akan menuntut balas budi 'kan?"
"Tidak ada yang gratis di dunia, Lele," tukas Diego yang membuat Alita terasa disindir. Dia kembali mengingat bagaimana meminta balas budi dari Liz waktu itu. "Ck, dasar licik."
"Karena memang seperti itu." Diego terkekeh.
Malam itu juga, Diego pergi berjalan santai di pinggir jalan tempat dia biasa bermain roller skate. Mata indahnya tidak sengaja menangkap sosok yang tidak asing.
Dengan cepat, Diego mengganti penampilannya kembali seperti biasa dia tampil di depan para antek-antek miliknya di seluruh penjuru.
"Selamat malam, Tuan Owhadi. Ternyata kau masih kuat berjalan-jalan sementara anak sulungmu menjadi tersangka utama. Benar-benar konyol," sapanya yang berhasil menggetarkan seluruh tubuh lelaki yang bernama Lucas itu.
"Saya mohon, Tuan .... Bantu anak saya ...." Lucas segera berlutut, memohon dengan penuh rasa takut di dalam rangkulan gelapnya malam.
"Dan kau akan memberiku kepastian?" tanya Diego sambil menyeringai.
.
---
---
Mungkin banyak yang tidak paham sama alurnya😉, yah maklum, aku orangnya yang suka membuat orang lain penasaran. Tunggu aja kelanjutannya dan jan lupa klik jempol dan komen 'next'.
***