Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.
Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 Jarak Dan Ujian Yang Terasa
Hari-hari setelah pernikahan tidak berjalan seindah yang dibayangkan. Bukan karena kurangnya cinta, melainkan karena kenyataan hidup mulai menampakkan wajah aslinya. Adit yang terbiasa hidup dengan segala kemudahan perlahan mulai merasakan perubahan besar dalam hidupnya. Dulu, ketika ia masih berada di kota, uang bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan. Apa pun yang ia inginkan bisa dibeli. Makan di restoran mahal, kendaraan nyaman, liburan tanpa perhitungan. Semua terasa normal baginya. Kini, setiap rupiah harus dipikirkan. Adit mulai mencatat pengeluaran. Hal kecil yang dulu tidak pernah ia lakukan.
Ia menghitung kebutuhan harian, biaya listrik, beras, kebutuhan dapur, dan kebutuhan Naya. Awalnya ia mencoba terlihat santai, tetapi Naya bisa melihat perubahan itu. “Aku masih cukup,” kata Adit suatu malam ketika Naya menanyakan keadaannya. Namun Naya tahu, suaminya sedang berusaha keras menyesuaikan diri. Ia melihat Adit sering termenung, memandangi catatan kecil di tangannya, lalu menghela napas panjang. “Aku tidak ingin kamu terbebani,” kata Naya pelan. “Aku yang seharusnya bertanggung jawab,” jawab Adit. “Aku suamimu.” Tekanan itu semakin terasa ketika tabungan Adit mulai menipis.
Ia sadar, hidup hanya mengandalkan penghasilan kecil tidak akan cukup untuk jangka panjang. Ia tidak ingin Naya hidup kekurangan karena keputusannya. Akhirnya, Adit mengambil keputusan besar. “Aku harus ke kota,” katanya suatu pagi. Naya terdiam. “Ke kota?” “Iya. Aku mau melamar pekerjaan di tempat lain. Pengalamanku masih bisa dipakai,” jelas Adit.
“Aku tidak bisa kembali ke perusahaan lama, tapi aku yakin masih ada peluang.” Naya menggenggam ujung gamisnya. Ia sudah menduga hal itu akan datang, tetapi ketika benar-benar diucapkan, hatinya terasa berat. “Berarti kita akan berjauhan,” ucap Naya lirih. “Untuk sementara,” jawab Adit cepat. “Aku janji, kalau sudah ada kemajuan, kita pindah ke kota. Kita hidup bersama lagi.” Naya menunduk lama. Ia tidak ingin menjadi penghalang bagi masa depan Adit. Namun perpisahan, meski sementara, bukan hal yang mudah baginya. “Aku setuju,” akhirnya Naya berkata. “Aku akan menunggu di desa.” Adit terlihat lega, tetapi juga bersalah. “Aku akan pulang setiap ada libur kerja,” janjinya. “Aku tidak akan meninggalkanmu.” Hari keberangkatan Adit tiba.
. Naya mengantarnya sampai ujung desa. Tidak ada tangis berlebihan, hanya pelukan singkat dan janji yang diulang-ulang. “Aku percaya sama kamu,” kata Naya. “Aku juga percaya sama kita,” jawab Adit. Namun setelah Adit pergi, rumah itu terasa jauh lebih sepi. Naya kembali menjalani hari-harinya di kebun, seperti sebelum menikah. Ia menyiram tanaman, memanen sayuran, dan menjual hasil kebun seperti biasa. Namun kini, setiap sudut rumah mengingatkannya pada suaminya. Malam-malam terasa lebih panjang. Naya sering duduk sendiri, memandangi ponsel jadulnya, menunggu telepon dari Adit. Kadang telepon itu datang, kadang tidak. Jika datang, suara Adit selalu terdengar lelah, tetapi berusaha ceria.
Di sisi lain, Ratna mengetahui keputusan Adit pergi ke kota. Ia tidak melihat itu sebagai usaha, melainkan sebagai celah. “Lihat?” kata Ratna dengan nada mencemooh saat bertemu Adit di kota. “Kamu meninggalkan istrimu di desa. Hidup susah seperti itu mau sampai kapan?” “Aku bekerja,” jawab Adit dingin. “Aku membangun masa depan.” Ratna tertawa kecil. “Masa depan dengan perempuan desa? Kamu masih bisa kembali ke keluarga. Lepaskan saja dia.” Adit menatap ibunya tajam. “Aku sudah menikah.” “Pernikahan itu tidak ada artinya tanpa restu,” balas Ratna. “Kamu masih anakku.” Ratna terus mempengaruhi Adit. Ia mengingatkan kembali kehidupan nyaman yang dulu Adit miliki.
Ia membandingkan hidup Adit sekarang dengan masa lalunya, membuat Adit merasa terjepit. Adit mulai ragu. Apakah ia sudah salah memilih? Apakah Naya akan menjadi beban seumur hidupnya? Ia memikirkan kata-kata Ratna, “Kamu bisa mendapatkan yang lebih baik.” Adit menggelakkan kepala, mencoba mengusir pikiran itu. “Aku cinta Naya,” bisik nya.
Tapi bisikan itu kalah dengan suara di dalam hatinya yang mulai goyah. Di malam yang sunyi, Adit duduk sendirian di apartemen sempeknya. Ia memandangi foto Naya, lalu tiba-tiba ponselnya bergetar. Naya. Adit tersenyum, tapi senyum itu cepat menghilang. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Apakah ia harus menceritakan kekawatirannya? Atau berpura-pura semuanya baik-baik saja? “Halo, Naya…” suara Adit terdengar berat. Naya langsung tahu ada yang tidak beres. “Apa ada yang salah?” tanya Naya, suaranya penuh keprihatinan. Adit ragu sejenak.
“Tidak… aku cuma lelah,” jawabnya. Naya tidak percaya sepenuhnya, tapi ia tidak mendesak. “Aku tunggu kabarmu,” katanya lembut. Adit menutup matanya, merasa semakin terjepit. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Adit terus berpikir, mencoba mencari jawaban. Ia berjalan ke jendela, memandang kota yang gelap. Suara klakson mobil, hiruk pikuk orang-orang, semuanya terasa asing baginya. Ia merasa terjebak di antara dua dunia. Dunia lamanya yang nyaman, dan dunia barunya yang penuh kesulitan. “Aku harus kuat,” bisik Adit.
Tapi bisikan itu tidak cukup untuk menghilangkan keraguan di hatinya. Keesokan harinya, Adit pergi ke sebuah perusahaan teknologi yang sedang membuka lowongan. Ia yakin bisa mendapatkan pekerjaan di sana. “Adit, kamu cocok untuk posisi ini,” kata HRD-nya. “Kamu bisa mulai minggu depan.” Adit tersenyum, merasa ada secercah harapan...
Selamat pagi,selamat membaca
Tinggalkan jejak kalian
Like komen nya..
Terimakasih..