Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.
Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.
Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mirna Tengeng
Pagi itu, di depan cermin lemari tua yang kacanya sudah retak di ujung, seorang perempuan paruh baya berdiri dengan tubuh gemetar.
Ia menatap pantulan dirinya sendiri seolah sedang melihat orang asing.
"Ini... ini benar Ibu, Nduk?" tanya Rahayu lirih.
Tangannya yang kasar karena puluhan tahun mencangkul dan mencuci, kini mengusap permukaan kain kebaya yang membungkus tubuhnya.
Itu adalah Kebaya Kutu Baru berwarna hijau zamrud, terbuat dari bahan beludru halus yang memeluk tubuh ringkihnya dengan sopan.
Dipadukan dengan kain batik tulis motif Sido Mukti dan selembar selendang sutra berwarna krem yang tersampir anggun di bahunya.
Sekar Wening berdiri di belakangnya, tersenyum tipis. "Itu Ibu," jawab Sekar mantap. "Cantik. Anggun. Seperti istri pejabat keraton yang seharusnya."
Sekar menggunakan uang hasil penjualan sayur mayur "super" dari lahan tandusnya untuk membeli setelan ini.
Bukan untuk pamer.
Profesor Sekar memahami psikologi hierarki sosial.
Enclothed Cognition. Fenomena di mana pakaian yang dikenakan seseorang dapat memengaruhi proses psikologis dan cara orang lain memperlakukan mereka.
Selama ini, Bibi Mirna dan keluarga besar Adhiwijaya menginjak-injak ibunya karena ibunya berpenampilan seperti pembantu.
Visual adalah senjata pertama dalam perang persepsi.
"Tapi ini mahal sekali, Nduk... Uangnya sayang," Rahayu masih merasa tidak pantas.
"Uang bisa dicari lagi, Bu. Tapi harga diri Ibu tidak bisa dibeli," potong Sekar lembut sambil merapikan sanggul sederhana di rambut ibunya.
"Hari ini kan ada acara syukuran kelahiran cucu Pak Dukuh. Ibu harus datang. Tunjukkan pada semua orang kalau Ibu Rahayu sekarang bisa berdiri tegak."
Rahayu menelan ludah, matanya berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya dalam sekian tahun, ia merasa memiliki tulang punggung lagi.
...
Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama.
Menjelang siang, ketika Rahayu sudah siap berangkat, sebuah suara cempreng yang sangat familiar terdengar dari halaman.
"Wah, sepi amat gubuknya!"
Itu Bibi Mirna.
Sekar mengerutkan kening. Insting waspadanya langsung menyala.
Mirna masuk tanpa menunggu dipersilakan. Di tangannya, ia membawa rantang susun, sama seperti taktik manipulatifnya kemarin lalu.
Namun, langkah Mirna terhenti mendadak di ambang pintu. Matanya yang dipoles eyeshadow biru norak membelalak lebar saat melihat Rahayu keluar dari kamar. Rahang Mirna nyaris jatuh.
Di hadapannya, Rahayu Ningsih yang biasanya dekil, bau keringat, dan lusuh, kini tampak bersinar.
Warna hijau zamrud kebaya itu membuat kulit sawo matang Rahayu terlihat cerah dan berkelas. Kain sutra di bahunya berkilau lembut tertimpa cahaya. Aura kemiskinan yang selama ini menjadi bahan tertawaan Mirna lenyap seketika.
"Mbak... Rahayu?" Mirna tergagap. Rasa iri langsung meledak di dada Mirna. Panas dan membakar.
Bagaimana bisa? Bagaimana bisa janda buangan ini terlihat lebih mahal daripada dirinya yang adik pejabat?
Mirna melirik pakaiannya sendiri, daster batik pasar yang warnanya mulai pudar. Perbandingan itu membuatnya merasa kalah telak.
"Mau kemana dandan menor begitu?" sembur Mirna, nada suaranya tajam penuh dengki.
Rahayu tersenyum canggung, memegang ujung selendang sutranya. "Mau ke tempat Pak Dukuh, Dik Mirna. Diundang syukuran."
"Halah! Gaya-gayaan pakai kebaya apik! Biasa juga kain kiloan murah!" cibir Mirna sambil melangkah maju.
Matanya tertuju pada kain sutra halus itu. Tangannya gatal ingin merusaknya. Ingin merobek ilusi kemewahan itu.
"Ini aku bawakan gulai nangka. Masih panas," ujar Mirna, mengangkat rantangnya.
Senyum licik terbit di bibirnya. "Biar Mbak Rahayu sadar diri, makanannya tetap makanan desa, jangan sok jadi priyayi."
Mirna berjalan mendekat dengan langkah yang sengaja dihentak-hentakkan.
Saat jaraknya tinggal setengah meter dari Rahayu, kaki Mirna "tersandung" kaki meja yang sebenarnya diam saja.
"Aduh!"
Pekikan itu palsu. Sangat palsu.
Gerakan tangannya terencana. Tutup rantang itu terbuka.
Byur!
Kuah gulai nangka yang berminyak, berwarna kuning kunyit pekat, dan masih mengepulkan asap panas, tumpah ruah.
Cairan panas itu tidak jatuh ke lantai.
Mirna mengarahkannya dengan presisi ke dada dan bahu Rahayu.
Tepat di atas kebaya beludru dan selendang sutra yang baru dipakai lima belas menit itu.
"Ahhh! Panas!" Rahayu menjerit, mundur ke belakang sambil mengibaskan tangannya.
Noda kuning minyak santan langsung meresap ke serat kain sutra, menyebar jelek seperti luka infeksi. Panasnya kuah membuat kulit leher Rahayu memerah seketika.
Prang!
Rantang itu jatuh berantakan di lantai tanah.
Mirna pura-pura kaget, menutup mulutnya dengan tangan, tapi matanya berbinar puas.
"Oalah, Gusti! Maaf, Mbak! Lantainya tidak rata sih! Gubuk lantainya tanah sih!" seru Mirna tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Dia malah terkekeh kecil melihat kain indah itu kini basah kuyup, lengket, dan berbau bumbu gulai.
"Yah... rusak deh baju barunya. Sayang ya, padahal mau pamer ke Pak Dukuh," ejek Mirna sinis. "Memang monyet itu tidak pantas pakai emas, Mbak. Balik lagi jadi gembel sana."
Rahayu menangis.
Bukan karena sakit kulitnya yang melepuh, tapi karena sakit hatinya. Harga dirinya yang baru saja dibangun, dihancurkan lagi dalam sekejap mata.
"Kenapa kamu jahat sekali, Dik..." isak Rahayu, memandangi kain sutranya yang hancur.
Mirna berkacak pinggang, dagunya diangkat angkuh. "Siapa yang jahat? Itu kecelakaan! Lagian salah sendiri beli baju mahal-mahal, uangnya pasti hasil nipu orang kan?"
Mirna hendak berbalik pergi, merasa misinya sudah selesai dengan sukses.
Namun, sebuah tangan mencengkeram bahunya. Kuat. Dingin. Dan tidak bisa digoyahkan.
Mirna menoleh dan mendapati wajah Sekar Wening tepat di depan wajahnya.
Tidak ada kemarahan meledak-ledak di wajah gadis itu. Yang ada hanya tatapan sedingin nitrogen cair.
"Mau kemana, Bibi?" tanya Sekar datar.
"Lepas! Sakit tahu!" bentak Mirna, mencoba menepis tangan Sekar.
Tapi cengkeraman Sekar seperti catut besi. Di dalam kepala Profesor Sekar, ia tidak melihat Mirna sebagai bibi. Ia melihat sebuah spesimen anatomi yang perlu diberi stimulus korektif.
Sekar memindai struktur leher Mirna.
Ada otot Sternocleidomastoid yang tegang karena amarah. Di baliknya, berjalan saraf Nervus Accessorius yang mengontrol pergerakan leher dan bahu.
Kekerasan fisik seperti memukul atau menampar itu primitif dan meninggalkan bukti visum. Tapi manipulasi neuro-muskular? Itu seni.
"Bibi bilang itu kecelakaan karena lantai tidak rata?" tanya Sekar pelan.
Sementara tangan kanan Sekar bergerak cepat, secepat kilat. Jari jempol dan telunjuknya menekan titik spesifik di pangkal leher kanan Mirna, tepat di celah antara otot bahu dan leher.
Titik akupresur, dikombinasikan dengan tekanan mendadak pada saraf motorik leher.
"A-apa yang kamu..."
Cesss!
Sekar menekan kuat, lalu memutar sedikit jempolnya dengan teknik Deep Tissue Friction.
"Arghhhh!" Mirna menjerit kesakitan.
Rasanya seperti ada aliran listrik ribuan volt yang menyengat dari leher hingga ke ujung jari tangannya, disusul rasa kram hebat yang mendadak mengunci otot lehernya.
Sekar melepaskan tangannya mundur selangkah.
Mirna terhuyung.
Wajahnya pucat pasi.
Saat ia mencoba menoleh ke kiri untuk memaki Sekar, ia sadar ada yang salah.
Sangat salah.
Lehernya kaku. Terkunci.
Kepalanya miring ke kanan secara permanen, ditarik oleh otot yang mengalami spasme akut akibat manipulasi saraf tadi.
"Leherku! Leherku kenapa ini?!" Mirna panik. Ia mencoba memutar kepalanya, tapi rasa sakit yang tajam menusuk setiap kali ia mencoba bergerak satu milimeter pun.
Ia terlihat seperti orang yang terkena Torticollis akut atau dalam bahasa pribuminya tengeng parah dalam hitungan detik.
"Aduh! Aduh, Gusti! Sakit! Tidak bisa nengok!" Mirna menangis, memegangi lehernya yang kaku seperti beton.
Rahayu yang tadi menangis, kini terdiam kaget melihat adik iparnya meraung-raung dengan posisi kepala miring aneh.
Sekar berdiri tenang, melipat tangan di dada.
"Itu namanya 'Kutukan Lidah Jahat', Bi," ucap Sekar dingin, membual dengan wajah serius.
"Di dunia medis, itu spasme otot akut akibat niat buruk yang menumpuk di pembuluh darah."
Tentu saja itu bohong. Itu murni teknik totok syaraf yang memicu kontraksi otot involunter. Efeknya tidak berbahaya secara permanen, tapi sangat menyakitkan dan memalukan.
"Kamu apakan aku, Setan?!" teriak Mirna, air mata dan ingus mulai melleleh merusak bedaknya. "Balikin! Sakit!"
"Saya tidak melakukan apa-apa. Saya cuma pegang bahu Bibi," elak Sekar santai.
"Mungkin Gusti Allah langsung bayar tunai. Bibi merusak baju Ibu saya, jadi Bibi dibuat tidak bisa melihat keburukan orang lain lagi."
Mirna mencoba melangkah, tapi karena kepalanya miring permanen ke kanan, keseimbangannya terganggu. Ia berjalan miring-miring seperti kepiting.
Rasa sakitnya berdenyut setiap kali jantungnya berdetak.
"Tolong... Tolong..." rintih Mirna, nyalinya langsung ciut. Rasa sakit fisik ini jauh lebih menakutkan daripada ancaman apapun.
Sekar mendekat, menatap mata Mirna yang ketakutan.
"Sakit, Bi?"
Mirna mengangguk kaku sambil menangis. "Sakit, Nduk... Ampun..."
"Dengar baik-baik," bisik Sekar, suaranya menusuk.
"Kekakuan itu akan bertahan selama tiga hari tiga malam. Bibi tidak akan bisa tidur nyenyak, tidak bisa makan enak, dan harus berjalan dengan kepala miring jadi tontonan orang sekampung."
Mirna membelalak ngeri. Tiga hari?
"Kecuali..." lanjut Sekar.
"Kecuali apa? Apa saja Nduk! Sembuhkan Bibi!"
"Kecuali Bibi minta maaf pada Ibu saya. Sekarang. Dengan tulus. Dan ganti kain sutra itu tiga kali lipat harganya."
Mirna menggertakkan gigi. Gengsinya memberontak, tapi rasa sakit di lehernya mencabik-cabik ego itu.
"Cepat! Atau mau selamanya begitu?" gertak Sekar.
Mirna akhirnya ambruk berlutut di depan Rahayu yang masih shock.
"Mbak... Mbak Rahayu... maafkan Mirna," isak Mirna dengan suara serak menahan sakit. Kepala miringnya membuatnya terlihat menyedihkan.
"Mirna salah... Mirna iri... Mirna sengaja tumpahkan gulai itu. Maafkan Mirna, Mbak."
Rahayu, yang hatinya memang terlalu lembut, tidak tega melihat penderitaan itu.
"Sudah, Dik. Sudah Mbak maafkan. Berdiri, jangan begitu," kata Rahayu sambil mencoba memapah adik iparnya, meski bajunya sendiri masih kotor.
Sekar menghela napas panjang. Ibunya terlalu baik.
"Bangun," perintah Sekar.
Mirna berdiri susah payah.
"Sembuhkan aku, Nduk..." mohon Mirna.
Sekar menggeleng. "Maaf itu baru langkah pertama. Tiga hari lagi, kalau Bibi datang membawa kain ganti yang lebih bagus dan sikap yang lebih sopan, baru saya 'pijat' lagi biar sembuh."
"Sekarang pulang. Nikmati leher beton itu sebagai pengingat."
"Ta-tapi..."
"Pulang!" bentak Sekar.
Mirna tidak berani membantah lagi. Dengan kepala miring ke kanan dan air mata bercucuran, ia berjalan tertatih-tatih keluar dari halaman gubuk.
Pemandangan Mirna yang berjalan miring itu sungguh lucu namun memuaskan.
Sepeninggal Mirna, Sekar berbalik menatap ibunya.
Ia mengambil kain lap bersih, membasahinya dengan air, lalu dengan telaten mulai membersihkan noda gulai di leher ibunya.
"Nduk, kamu tidak keterlaluan?" tanya Rahayu cemas. "Nanti kalau dia kenapa-napa..."
"Dia tidak akan mati, Bu. Cuma pegal luar biasa," jawab Sekar tenang sambil mengusap noda kuning itu.
"Kadang-kadang, orang jahat tidak butuh ceramah, Bu. Mereka butuh rasa sakit fisik supaya otaknya kembali bekerja."
Sekar menatap kebaya yang rusak itu.
"Jangan nangis lagi ya, Bu. Kain ini rusak, tapi kehormatan Ibu baru saja menang."
"Nanti Sekar belikan lagi. Yang lebih bagus. Yang anti tumpahan gulai, kalau perlu Sekar buatkan dari serat Kevlar," batin Profesor Sekar, setengah bercanda pada dirinya sendiri.
Siang itu, meski baju barunya rusak, Rahayu Ningsih berangkat ke rumah Pak Dukuh dengan kepala tegak.
Dan di kejauhan, kabar tentang "Mirna Tengeng" karena kualat pada Rahayu mulai menyebar secepat angin di desa Kulon Progo.