Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.
Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.
Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.
Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. KEGIATAN SAMBILAN NOVI
Matahari pagi menyinari teras rumah dengan hangat ketika Rian sedang membantu Hadian menyusun buku-buku sekolahnya ke dalam tas ransel. Alea sedang duduk di kursi makan kecil, dengan penuh kesabaran mencoba menggambar wajah boneka Kiki-nya di atas kertas gambar yang diberikan Novi kemarin malam. Suara kompor gas yang menyala dan aroma kopi yang harum keluar dari dapur, menandakan bahwa Novi sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi bagi keluarga.
“Sayang, ada kabar baik dari Kakak Wati,” ujar Novi sambil membawa mangkuk bubur ayam hangat ke atas meja makan, diikuti dengan cangkir kopi panas untuk Rian. “Dia bilang ada beberapa acara besar yang akan diadakan oleh komunitas pengusaha di kota Cirebon bulan ini. Selain catering, mereka juga membutuhkan orang yang bisa membantu mengatur acara dan menghubungi tamu undangan. Kakakku menawarkan nama aku untuk membantu, dan mereka setuju lho!”
Rian mengangkat alisnya dengan sedikit terkejut, namun segera memberikan senyum mendukung. “Benarkah? Itu bagus sekali Sayang. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan penghasilan tambahan yang lebih banyak lagi untuk keluarga kita,” ujarnya dengan suara yang penuh semangat, meskipun dalam hati dia merasa sedikit heran mengapa acara pengusaha itu perlu bantuan tambahan selain catering yang biasanya dikelola Kakak Wati.
Novi tersenyum lebar, tampak sangat senang dengan kabar tersebut. “Iya lho Sayang. Selain itu, mereka bilang kalau ada kesempatan untuk bertemu dengan banyak pengusaha sukses dari berbagai bidang. Bisa jadi ada kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan sambilan yang lebih stabil atau bahkan bisnis kecil sendiri nantinya,” jelasnya sambil menyajikan telur mata sapi yang matang ke piring Hadian.
“Wah, itu bagus sekali Bu Mama! Kalau Bu Mama punya bisnis sendiri, kita bisa jualan makanan enak seperti yang Bu Mama buat setiap hari!” ujar Hadian dengan semangat, membuat Alea juga berteriak setuju sambil mengangkat pensil warna yang sedang digunakannya.
Rian mengangguk dengan senyum, menyaksikan antusiasme istri dan anak-anaknya. Meskipun dia memang merasa sedikit heran dengan kesibukan baru Novi yang akan membuatnya lebih sering keluar rumah, tapi dia tidak ingin menghalangi kesempatan baik untuk istri yang selalu bekerja keras membantu keuangan keluarga. “Baiklah Sayang, aku mendukung kamu sepenuhnya. Tapi ingat ya jangan terlalu memaksakan diri, kesehatan kamu tetap yang paling penting,” ujarnya dengan nada yang penuh perhatian.
Sejak hari itu, aktivitas Novi menjadi jauh lebih padat dari sebelumnya. Selain membantu catering di rumah Kakak Wati setiap hari setelah mengantar anak-anak ke sekolah, dia juga sering keluar untuk menghadiri rapat dengan panitia acara atau bertemu dengan pengusaha yang menjadi klien Kakak Wati. Kadang-kadang dia pulang larut malam, bahkan setelah anak-anak sudah tertidur pulas.
Pada awalnya, Rian benar-benar mendukung kesibukan baru istri. Dia merasa bangga melihat Novi yang semakin percaya diri dan mampu berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai kalangan. Malam hari ketika Novi pulang, mereka sering berbicara lama tentang pengalaman istri selama hari itu – mulai dari cerita tentang acara yang dia kelola hingga tentang pengusaha sukses yang dia temui dan memberikan nasihat baginya.
“Saya bertemu dengan seorang pengusaha makanan kalengan kemarin, Sayang,” cerita Novi pada suatu malam ketika mereka sedang duduk di teras rumah menikmati teh hangat. “Dia bilang kalau bisnis makanan olahan punya potensi yang sangat besar di pasar saat ini. Kalau kita punya modal cukup, mungkin bisa memulai usaha kecil seperti itu juga lho.”
Rian mendengarkan dengan saksama, mengangguk setiap kali Novi berbicara tentang ide-ide bisnis yang muncul di benaknya. “Itu memang ide yang menarik Sayang. Tapi kita harus berpikir matang dulu ya. Modal usaha tidak sedikit, dan kita juga harus mempelajari banyak hal tentang manajemen bisnis dan pemasaran produk,” ujarnya dengan suara yang bijak, ingin memberikan nasihat yang tepat tanpa menyurutkan semangat istri.
Namun seiring berjalannya waktu, Rian mulai merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan kesibukan baru Novi. Pertama, waktu yang dia habiskan di luar rumah semakin lama – kadang-kadang dia pergi sebelum anak-anak bangun dan baru pulang ketika mereka sudah tidur. Hadian mulai bertanya-tanya mengapa ibunya jarang ada di rumah, dan Alea sering menangis karena tidak bisa bermain dengan ibunya seperti dulu.
“Papa, kenapa Bu Mama sering tidak ada di rumah ya? Aku ingin Bu Mama ajarin aku memasak seperti dulu,” ujar Hadian pada suatu sore ketika dia dan Rian sedang memasang rak buku baru di kamar anak-anak. Rian merasa hati sedikit tertekan mendengar kata-kata putranya.
“Bu Mama sedang bekerja keras untuk mendapatkan uang agar kita bisa membeli banyak hal yang kita butuhkan Nak,” jawab Rian dengan suara yang lembut, mengusap kepala putranya. “Kamu harus mengerti ya, Bu Mama juga merindukan kamu dan Kakak Alea setiap saat.”
Selain itu, Rian juga mulai melihat perubahan kecil pada perilaku Novi. Dia mulai lebih sering memperhatikan penampilannya – mengenakan pakaian yang lebih rapi dan menggunakan kosmetik yang lebih banyak dari biasanya. Dia juga sering menerima panggilan telepon yang dia jawab dengan suara rendah di kamar atau di luar rumah, seolah tidak ingin Rian mendengar pembicaraannya.
Pada suatu hari minggu yang biasanya diisi dengan aktivitas keluarga bersama, Novi memberitahu bahwa dia harus pergi ke rumah Kakak Wati untuk menghadiri rapat penting tentang acara pengusaha besar yang akan diadakan minggu depan.
“Sayang, tapi hari ini kan kita sudah janjian akan mengantar anak-anak ke taman bermain dan makan siang bersama di restoran kesukaan mereka,” ujar Rian dengan nada yang sedikit kecewa, melihat wajah Hadian dan Alea yang langsung menunjukkan ekspresi kecewa mendengar kabar itu.
“Maafkan aku Sayang, tapi rapat ini sangat penting. Kalau acara ini berhasil, penghasilanku akan bertambah banyak dan kita bisa membeli barang-barang yang kita butuhkan untuk keluarga,” jelas Novi dengan suara yang sedikit tergesa-gesa, sedang sibuk mengepak tasnya dengan baju yang akan dikenakannya. “Kamu bisa ajak anak-anak sendiri saja kan? Mereka pasti akan senang bermain dengan Papa juga.”
Tanpa memberi kesempatan bagi Rian untuk berbicara lebih lanjut, Novi segera keluar rumah dengan naik ojek online yang sudah dia pesan sebelumnya. Rian melihat anak-anaknya yang sudah berpakaian siap untuk pergi ke taman bermain, wajah mereka penuh dengan kesedihan dan kecewa.
“Ayo Nak, jangan sedih ya. Papa akan ajak kalian ke taman bermain dan kita juga akan makan di restoran kesukaan kalian. Bahkan Papa akan belikan es krim tambahan untuk kalian berdua,” ujar Rian dengan suara yang penuh cinta, mencoba untuk membuat anak-anaknya merasa lebih baik. Meskipun hati dia sendiri juga merasa kecewa dan sedikit kesal dengan kesibukan Novi yang mulai mengabaikan waktu keluarga.
Harian berikutnya, Rian pulang kerja lebih awal karena ada cuti bersama di perusahaan. Dia berencana untuk memasak makanan kesukaan Novi dan anak-anak sebagai kejutan, serta berharap bisa berbincang dengan istri tentang pentingnya waktu keluarga yang mulai jarang mereka habiskan bersama.
Ketika sampai di rumah, Rian tidak menemukan Novi di sana. Dia berpikir bahwa istri mungkin sedang membeli kebutuhan rumah tangga atau mengantar anak-anak dari sekolah. Namun ketika Hadian dan Alea tiba di rumah dengan dibawa oleh tetangga Bu Siti, mereka mengatakan bahwa mereka tidak melihat ibunya di sekolah dan Bu Siti yang kebetulan sedang berada di dekat sekolah yang menawarkan untuk mengantar mereka pulang.
Rian mulai merasa khawatir. Dia mencoba menghubungi Novi melalui telepon, tapi nomornya tidak dapat dihubungi. Dia juga menghubungi Kakak Wati untuk menanyakan keberadaan istri, namun Kakak Wati mengatakan bahwa Novi tidak ada di rumahnya dan tidak ada acara atau rapat yang direncanakan hari itu.
“Padahal kemarin Novi bilang kalau dia akan ada di rumahku untuk mengatur pesanan catering minggu depan,” kata Kakak Wati dengan suara yang juga sedikit heran ketika berbicara dengan Rian melalui telepon. “Mungkin dia ada di tempat lain ya Pak Rian? Mungkin bertemu dengan klien atau sesuatu seperti itu.”
Setelah memastikan anak-anak sudah bermain dengan aman di kamar, Rian duduk di teras depan rumah dengan pikiran yang penuh kekhawatiran dan kebingungan. Dia mulai mengingat semua perubahan kecil pada perilaku Novi selama beberapa minggu terakhir – kesibukan yang semakin banyak, sering menerima panggilan telepon yang dia sembunyikan, hingga penampilannya yang semakin diperhatikan. Sebuah rasa tidak nyaman mulai muncul di dalam hatinya, meskipun dia berusaha sekuat mungkin untuk tidak memikirkan hal-hal negatif tentang istri yang dicintainya.
Ketika matahari mulai merunduk dan malam mulai menjelang, pintu rumah terbuka dan Novi masuk dengan wajah yang sedikit memerah dan napas yang sedikit terengah-engah. Dia terlihat terkejut ketika melihat Rian yang sudah ada di rumah, seolah tidak menyangka bahwa suaminya pulang lebih awal.
“Sayang, kamu sudah pulang? Aku tidak tahu kalau kamu ada cuti hari ini,” ujar Novi dengan suara yang sedikit terkesan terkejut dan tidak alami. Dia segera masuk ke kamar untuk mengganti pakaiannya, sebelum keluar lagi ke ruang tamu untuk duduk bersebelahan dengan Rian.
“Kamu kemana saja hari ini Sayang? Aku mencoba menghubungimu tapi teleponmu tidak dapat dihubungi. Anak-anak juga mencari kamu karena mereka tidak melihatmu di sekolah,” tanya Rian dengan suara yang tenang namun jelas, menatap langsung ke mata istri yang tampaknya sedang mencoba menghindari pandangannya.
Novi sedikit mengerutkan kening, seolah sedang berpikir untuk mencari alasan yang tepat. “Aku pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan untuk catering minggu depan Sayang. Teleponku mati karena kehabisan daya, jadi aku tidak bisa menjawab panggilanmu,” jelasnya dengan suara yang sedikit tergesa-gesa. “Maafkan aku ya, aku seharusnya memberitahumu duluan.”
Rian mendengarkan dengan cermat, melihat bagaimana tangan Novi terus bermain dengan ujung roknya sebagai tanda bahwa dia sedang merasa gugup atau tidak nyaman. Meskipun dia ingin mempercayai kata-kata istri, tapi rasa tidak nyaman di dalam hatinya semakin besar. Namun dia juga tidak ingin membuat tuduhan tanpa bukti yang jelas, terutama di depan anak-anak yang mungkin sedang memperhatikan pembicaraan mereka.
“Baiklah Sayang, aku hanya khawatir denganmu dan anak-anak juga merindukanmu,” ujar Rian dengan suara yang lebih lembut, mengambil tangan istri dan memeluknya dengan lembut. “Kita sudah jarang menghabiskan waktu bersama sebagai keluarga. Aku tahu kamu bekerja keras untuk kita semua, tapi jangan sampai kita kehilangan waktu berharga bersama anak-anak ya. Mereka tumbuh dengan cepat dan kita tidak bisa membalikkan waktu yang sudah berlalu.”
Novi terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk dan menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya. “Aku tahu Sayang, aku benar-benar menyesal. Aku terlalu fokus pada pekerjaan dan kesempatan baru yang mungkin bisa aku dapatkan, sehingga aku lupa akan hal yang paling penting dalam hidupku – yaitu kamu dan anak-anak kita,” ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar, menunjukkan bahwa dia benar-benar merasa menyesal dengan apa yang telah terjadi.
“Aku hanya ingin yang terbaik untuk keluarga kita Sayang. Aku melihat banyak kesempatan yang bisa membuat kita hidup lebih baik, dan aku takut kalau aku melewatkannya,” tambah Novi dengan suara yang lebih jelas, mengangkat kepalanya untuk melihat wajah suaminya. “Tapi aku menyadari bahwa tidak ada yang lebih berharga daripada kebahagiaan dan keharmonisan keluarga kita. Aku akan mencoba untuk lebih mengatur waktu dengan baik agar bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama kalian.”
Rian merasa hati sedikit lega mendengar kata-kata istri. Dia tahu bahwa Novi adalah orang yang baik hati dan selalu mengutamakan keluarga, jadi dia memilih untuk mempercayainya dan memberikan kesempatan bagi istri untuk memperbaiki diri. “Aku percaya padamu Sayang. Kita bisa bekerja sama untuk mengatur waktu dan mencari cara agar kamu bisa tetap bekerja namun juga tidak mengabaikan keluarga,” ujarnya dengan senyum hangat, mencium dahi istri dan memeluknya lebih erat.
Mendengar suara orang tua mereka berbicara, Hadian dan Alea keluar dari kamar dan berlari ke arah mereka dengan wajah yang ceria kembali. “Bu Mama sudah pulang ya? Kamu sudah janjian kan besok akan bermain dengan aku dan Kakak Alea di rumah?” tanya Hadian dengan suara yang penuh harapan, melihat ibunya dengan mata yang penuh cinta.
Novi segera membuka pelukan suaminya dan membungkus anak-anaknya dengan pelukan yang erat. “Tentu saja Nak, Bu Mama akan selalu ada untuk kamu berdua. Besok kita akan bermain bersama di rumah, Bu Mama akan ajarin kamu berdua cara membuat kue bolu yang lezat ya,” ujarnya dengan suara yang penuh cinta, mencium pipi anak-anaknya satu per satu.
Melihat keluarga kecilnya yang kembali bersatu dengan penuh cinta dan kehangatan, Rian merasa bahwa semua kekhawatiran dan keraguan yang ada di hatinya mulai sirna. Dia tahu bahwa mungkin masih ada tantangan yang akan datang dan mungkin ada hal-hal yang belum diketahuinya tentang kesibukan Novi, tapi dia memilih untuk tetap percaya pada cinta dan komitmen yang mereka miliki sebagai pasangan suami istri.
Namun di balik itu semua, Rian tidak bisa menyembunyikan perasaan bahwa ada sesuatu yang masih tersembunyi di balik kesibukan baru Novi. Suara hati yang tidak nyaman masih ada, bahkan jika dia berusaha untuk mengabaikannya. Dia berdoa dengan tulus bahwa apa yang dia rasakan itu salah dan bahwa Novi benar-benar hanya bekerja keras untuk kebaikan keluarga mereka. Namun dia juga membuat keputusan untuk lebih memperhatikan perubahan pada perilaku istri dan siap untuk menghadapi apa pun yang mungkin terjadi di masa depan, karena dia tahu bahwa tugasnya sebagai suami dan ayah adalah untuk melindungi dan menjaga keluarga kecilnya dengan sekuat tenaga.
Di malam hari itu, ketika seluruh keluarga sudah tertidur pulas, Rian masih terjaga di ranjang melihat wajah istri yang sedang tidur dengan damai di sebelahnya. Dia bertekad untuk selalu menjadi suami yang baik dan mendukung istri dalam setiap kesempatan yang dia dapatkan, namun juga akan tetap memperhatikan bahwa kebahagiaan dan keharmonisan keluarga selalu menjadi prioritas utama dalam hidup mereka berdua. Dengan doa dan harapan yang tulus, dia berharap bahwa semua hal yang terjadi adalah untuk kebaikan keluarga mereka dan bahwa mereka akan selalu bisa menghadapi segala rintangan hidup bersama-sama sebagai satu keluarga yang penuh cinta dan kasih sayang.