Darrel melepaskan gemerlap kemewahan keluarganya dan memilih hidup sederhana demi wanita yang mencintainya. Namun, pengorbanannya berbuah pahit: sang istri justru meninggalkannya, karena tak tahan dengan kerasnya kehidupan pasca kemewahan.
Terpuruk dan seorang diri, Darrel harus menghadapi kenyataan pahit membesarkan kedua anak kembarnya. Akankah dia menyerah pada keadaan dan kembali pada kehidupan lamanya yang penuh kemudahan? Atau justru bangkit, menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya, dan membuktikan bahwa dia mampu bangkit dan menemukan cinta sejati?
Kisah perjuangan seorang ayah yang terkhianati, demi masa depan kedua buah hatinya.
Temukan kisah mereka hanya di sini:
"Sang Pewaris Tersembunyi" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Menyesal?
Darrel menutup laptopnya dengan kasar, lalu menarik napas dalam-dalam guna meredam emosi yang hampir meledak. Diraihnya ponsel yang tergeletak di meja lantas menghubungi seseorang. "Pastikan tidak ada informasi apapun tentang saya yang bocor ke media."
Setelahnya Darrel memutuskan sambungan teleponnya tanpa peduli bagaimana reaksi orang tersebut. Dia kemudian berdiri dan berjalan menuju jendela, menatap jalanan depan rumahnya yang tampak lengang. Tiba-tiba, bayangan Mami Mia muncul di benaknya. Kilasan tentang bagaimana dulu ketika dirinya meminta ijin akan menikahi Nancy hadir di pelupuk mata.
"Bang Rel, mami mohon...jangan lakukan ini. Wanita itu tidak mencintaimu. Dia hanya menginginkan hartamu!" Mami Mia berdiri di hadapannya dengan tatapan memohon, air mata mengalir di pipinya.
"Mami salah. Nancy mencintai abang apa adanya, Mi," jawab Darrel bersikeras.
Mami Mia menggelengkan kepalanya dengan sedih. " Baiklah jika itu memang pilihan Abang. Berarti Abang sudah siap dengan konsekuensinya harus keluar dari rumah ini dan meninggalkan semua fasilitas yang selama ini Abang nikmati."
"Mami mau lihat sejauh mana wanita itu akan bertahan hidup bersama Abang yang serba kekurangan. Jangan sampai Abang menyesal, karena telah mengabaikan peringatan mami."
"Abang akan membuktikannya pada Mami." Dia tetap teguh pada pendiriannya.
Darrel memejamkan mata, mencoba mengusir kenangan itu. Namun, suara Mami Mia terus terngiang-ngiang di telinganya. "Abang akan menyesal...! Abang akan menyesal...!"
Darrel membuka matanya kembali dengan tatapan kosong. Penyesalan menghantamnya seperti gelombang tsunami yang dahsyat. Mami Mia benar, Nancy tidak pernah mencintainya. Dirinya telah dibutakan oleh cinta palsu wanita yang kini meninggalkannya demi mengejar impiannya atau pria lain seperti yang diberitakan.
Darrel teringat akan kehidupannya yang serba mudah sebelum mengenal Nancy. Dirinya hidup bergelimang harta, kemewahan, dan kekuasaan. Dia adalah sang pewaris perusahaan keluarga "Al Gha Corp", masa depannya jelas sudah terjamin. Namun, dia rela melepaskan semua itu demi Nancy karena percaya bahwa cinta lebih penting daripada uang dan kekuasaan.
"Bodoh!" gumamnya sembari memukul kepalanya sendiri. "Kenapa aku begitu bodoh?"
Darrel menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Dia tidak bisa mengubah masa lalu. Yang bisa dilakukannya sekarang adalah belajar dari kesalahannya dan berusaha bangkit dari keterpurukan.
Dia berbalik dan berjalan menuju dapur lalu membuka kulkas. Mengambil sebotol air dingin lantas meneguknya hingga tandas, berharap bisa meredakan rasa panas yang membakar dadanya.
"Aku tidak boleh lemah. Jika lemah bagaimana aku bisa menjadi sandaran untuk anak-anakku? Mereka membutuhkan aku."
Darrel masuk ke kamar mandi, tanpa melepas pakaiannya dia berdiri di bawah shower dan menyalakannya. Menikmati setiap guyuran air dingin dari ujung kepala hingga ke seluruh badannya berharap bisa mendinginkan isi kepalanya yang berkecamuk. Airmatanya mulai mengalir bersama tetesan air yang turun dari shower.
Dirinya merasa hancur dan sendirian. Jikalau bisa, ingin rasanya memutar waktu kembali dan membuat pilihan yang berbeda. Namun, itu semua hanya angan-angan belaka. Dia harus menghadapi kenyataan dan melanjutkan hidup. Demi kedua buah hatinya Zayn dan Zoey. Memastikan bahwa mereka tidak kekurangan kasih sayang.
.
.
.
Seorang wanita paruh baya, tetapi masih terlihat cantik di usianya yang sudah setengah abad lebih, tampak duduk di sofa kamarnya sambil mendekap sebuah figura foto. Airmatanya terus mengalir bak anak sungai membanjiri pipi mulusnya. Berita tentang perceraian putra sulungnya sangat mengguncang hatinya. Ia adalah Mami Mia-ibunda Darrel, yang dulu menentang keras pernikahan Darrel dengan Nancy. Kesedihan begitu kentara di wajah cantiknya yang selalu terawat dengan skincare mahal.
"Sudahlah, Mi. Tidak ada gunanya menyesali apa yang sudah terjadi." Papi Baim berkomentar bijak menyikapi kejadian yang menimpa putranya.
"Bukankah seharusnya Mami senang? Setidaknya, Bang Rel tidak terjebak terlalu lama dengan wanita itu," lanjutnya, lantas duduk di sebelah sang istri dan membawa belahan jiwanya itu ke dalam pelukannya.
Airmata Mami Mia semakin deras, banyak hal yang ia pikirkan. "Kasihan cucu-cucu kita, Pi. Bagaimana nasib mereka tanpa kasih sayang seorang ibu? Mami nggak sanggup membayangkannya."
"Lalu, Mami mau apa?" tanya Papi Baim seraya mengecup kepala sang istri yang berbalut hijab.
Mami Mia melepaskan pelukan lantas menatap wajah suaminya dengan pandangan serius. "Bagaimana kalau kita datangi Bang Rel dan meminta dia kembali. Dengan begitu kita bisa merawat cucu-cucu kita, Pi," ucapnya penuh harap.
"Apa Mami pikir Bang Rel akan menerima begitu saja niat baik kita?" balas Papi Baim.
"Hal itu justru sama saja dengan melukai harga dirinya, Mi. Lebih baik kita suport dia dan doakan semoga Bang Rel kuat melewati masa sulit ini. Kita bisa menawarkan bantuan dari jauh, tanpa membuatnya merasa terbebani," lanjut Papi Baim dengan lembut.
Mami Mia terdiam, menimbang-nimbang perkataan suaminya. Papi Baim benar, Darrel adalah pria yang keras kepala dan mandiri. Dia tidak akan suka jika orang lain ikut campur dalam hidupnya.
"Tapi, Pi, Mami khawatir," ucap Mami Mia dengan suara bergetar. "Bagaimana kalau Bang Rel tidak bisa mengurus anak-anaknya dengan baik? Bagaimana kalau mereka kekurangan sesuatu?"
Papi Baim menggenggam tangan istrinya dengan erat. "Kita percaya saja pada Bang Rel, Mi. Papi yakin dia adalah ayah yang baik dan pastinya akan melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya. Kita akan selalu ada untuk membantu mereka, jika mereka membutuhkan."
Mami Mia mengangguk pelan. Ia memang harus mempercayai Darrel dan memberinya kesempatan untuk membuktikan bahwa putranya itu bisa menjadi ayah yang baik untuk Zayn dan Zoey cucunya.
"Baiklah, Pi," ucap Mami Mia pada akhirnya. "Kita akan mendukung Bang Rel dari jauh. Tapi, kalau dia kesulitan, kita harus siap membantunya."
Papi Baim tersenyum dan memeluk istrinya dengan erat. "Itu baru istri papi yang hebat" bisiknya. "Kita akan selalu ada untuk anak dan cucu-cucu kita."
Namun, dalam hati, Mami Mia masih merasa khawatir. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Darrel akan menghadapi semua ini sendirian. Ia berharap Darrel akan segera menyadari kesalahannya dan kembali kepada keluarganya serta cucu-cucunya akan tumbuh menjadi anak-anak yang sehat dan bahagia.