Dikhianati dan dipermalukan, Nafiza Azzahra, wanita bercadar yang lembut, mendapati pernikahannya hancur berantakan. Dipaksa memulai hidup baru, ia bertemu Zayn Al Malik, CEO muda yang dingin dan tak tersentuh, Namun, sesuatu dalam diri Nafiza menarik Zayn, membuatnya mempertanyakan keyakinannya. Di tengah luka masa lalu, benih-benih asmara mulai bersemi. Mampukah Zayn meluluhkan hati Nafiza yang sedang terluka? Dan bisakah mereka menemukan cinta sejati di tengah badai pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Ciuman Zayn semakin dalam, melumat bibir Nafiza dengan lembut namun penuh kasih sayang. Nafiza memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan dari suaminya. Ia melingkarkan tangannya di leher Zayn, menariknya semakin dekat.
Zayn dengan senang hati memperdalam ciumannya, lidahnya menjelajahi setiap sudut mulut Nafiza, memberikan sensasi yang membuat Nafiza meremang. Nafiza membalas ciuman Zayn dengan penuh semangat, melupakan segala kekhawatiran dan rasa malu yang tadi sempat menghantuinya.
Ruangan itu terasa semakin panas, dipenuhi dengan gairah cinta yang membara. Nafiza dan Zayn seolah lupa bahwa mereka sedang berada di kantor, di mana sewaktu-waktu seseorang bisa masuk dan mengganggu mereka.
Namun, sepertinya dewi fortuna sedang berpihak pada mereka. Tidak ada seorang pun yang berani mengganggu mereka di saat-saat seperti ini. Mereka terlalu asyik menikmati keintiman mereka, tenggelam dalam lautan cinta yang tak bertepi.
Ciuman mereka semakin lama semakin panas, hingga akhirnya Zayn mulai menurunkan ciumannya ke leher Nafiza. Ia menciumi dan menjilati leher Nafiza dengan lembut, memberikan sensasi yang membuat Nafiza mendesah pelan.
"Mas ..." desah Nafiza lirih, merasakan sensasi yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Zayn mengangkat wajahnya, menatap Nafiza dengan tatapan yang penuh dengan hasrat. "Mas pengen kamu, Sayang," bisiknya dengan nada serak.
Nafiza menelan ludahnya, gugup mendengar ucapan Zayn. Ia tahu apa yang diinginkan suaminya, dan ia juga menginginkan hal yang sama. Namun, ia merasa ragu. Apakah pantas melakukan hal ini di kantor?
Zayn seolah bisa membaca pikiran Nafiza. Ia tersenyum lembut dan mengelus pipi Nafiza dengan sayang. "Kita nggak harus melakukan apapun kalau kamu nggak mau, Sayang. Mas cuma pengen deket sama kamu, pengen ngerasain kasih sayang kamu," ujarnya dengan nada lembut.
Nafiza menatap Zayn dengan tatapan penuh pertimbangan. Ia tahu, suaminya tidak akan pernah memaksanya untuk melakukan apapun yang tidak ia inginkan. Ia merasa beruntung memiliki suami yang begitu pengertian dan penuh kasih sayang.
"Naf juga pengen deket sama Mas," bisik Nafiza lirih, lalu kembali mendekatkan wajahnya pada Zayn dan menciumnya dengan penuh cinta.
Ia melupakan sejenak keraguannya dan membiarkan dirinya hanyut dalam gelora cinta yang membara. Ia tahu, ia aman berada di pelukan suaminya sendiri.
Zayn semakin memperdalam ciumannya, melumat bibir Nafiza dengan lembut namun intens. Tangannya bergerak bebas menjelajahi tubuh Nafiza, memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat Nafiza melayang.
Nafiza mendesah pelan di sela-sela ciuman mereka, merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia semakin mengeratkan pelukannya di leher Zayn, membiarkan dirinya hanyut dalam kenikmatan yang ditawarkan suaminya.
Namun, di tengah-tengah keasyikan mereka, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang membuat mereka terkejut dan segera menghentikan permainannya.
Nafiza dengan cepat mengikat dan merapikan cadarnya yang sedikit berantakan, berusaha menutupi wajahnya yang memerah. Zayn menghela napas kesal, merasa terganggu dengan kedatangan orang yang tidak diundang itu.
"Siapa sih yang ganggu?" gerutunya pelan, setelah memastikan kondisi mereka aman, lalu menyuruh masuk orang yang mengetuk pintu. "Masuk!"
Pintu terbuka, dan seorang wanita dengan pakaian rapi masuk ke dalam ruangan. Wanita itu adalah Riri, sekretaris Zayn.
"Maaf, Pak Zayn, Bu Nafiza. Saya mengganggu ya?" tanya Riri dengan nada menyesal.
Nafiza hanya membalas dengan tersenyum ramah. Sedangkan Zayn menatap Riri dengan tatapan tajam. "Ada apa, Riri?" To the poin Zayn dengan nada dingin.
Riri yang melihat raut wajah Zayn yang sedang tak bersahabat menelan Saliva-nya dengan susah payah. "Maaf, Pak. Saya cuma mau menyampaikan pesan dari Mr. Tanaka. Beliau ingin bertemu dengan Bapak besok pagi untuk membahas lebih lanjut tentang kerja sama kita," jelas Riri dengan nada sedikit gemetar.
Zayn menghela napas. "Baiklah, sampaikan pada Mr. Tanaka bahwa saya akan menemuinya besok pagi," jawab Zayn dengan nada datar.
"Baik, Pak. Kalau begitu, saya permisi dulu," ucap Riri, lalu segera keluar dari ruangan dengan langkah cepat.
Setelah Riri pergi, dan pintu kembali tertutup rapat. Zayn menatap Nafiza dengan tatapan yang penuh dengan penyesalan. "Maaf ya, Sayang. Gara-gara Riri, kita jadi nggak bisa lanjutin lagi," ujarnya dengan nada kecewa.
Nafiza tersenyum lembut dan mengelus pipi Zayn dengan sayang. "Nggak apa-apa, Mas. Mungkin memang belum waktunya," balasnya dengan nada menenangkan.
Zayn memeluk Nafiza erat, mencium keningnya dengan lembut. "Tapi tenang aja sayang, Mas janji, nanti di rumah Mas akan kasih kamu lebih dari ini," bisiknya di telinga Nafiza.
Bersambung ...
farhan semoga tdk ada kebahagiaan buat mu. gedek banget laki tukang selingkuh dan wanita pelakor. hhh.
menjijikan