Intan, memiliki sifat pemalu, inscure, dan selalu menghindar dari keramaian. Penampilannya selalu menggunakan kacamata, rambut yang selalu diikat satu, membuat penampilannya terkesan culun. Intan dinikahkan oleh Mama dan Papanya dengan laki-laki narsis, hanya dikarenakan hutang keluarganya. Namun siapa sangka, ternyata hutang adalah sebuah kebohongan agar Intan mau menikah.
Begitu pula dengan sebaliknya, Rifal, pria narsis yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi karena ketampanannya yang membuat kaum hawa ingin menjadi istrinya.
Akankah pernikahan Intan dan Rifal menjadi sebuah keluarga yang harmonis? Setelah semuanya terbongkar, akankah Intan dan Rifal memilih untuk berpisah?
Update tidak menentu, tapi saya akan usahakan untuk update setiap hari😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maililiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hotel
Di ruang makan.
Satu pasang suami istri dan sepasang calon pengantin sedang menikmati sarapannya. Karena hari minggu, Nahla akan mengajak Intan jalan-jalan ke mall yang cukup jauh. "Agak siangan dikit, kita jalan-jalan yuk, Intan," ajak Nahla.
"Tidak, Bunda! Intan tidak boleh kemana-mana," ujar Rifal dengan tegas.
"Kenapa? Bunda nanya ke Intan, kenapa kamu yang jawab?" Nahla yang tidak ingin mendapat penolakan pun sedikit meninggikan ucapannya.
"Intan capek, Bun. Semalam aja pulang tengah malam." Rifal menuangkan air bening ke gelasnya.
"Kenapa pulang semalam itu? Oia, mana pesanan kue yang bunda inginkan?" tanya Nahla dengan selidik.
"Nah itu, kami cari kesana-kesini enggak ketemu kuenya di mana," jawab Rifal.
"Terus? Padahal bunda pengen makan kue," lirih Nahla.
"Yaudah, nanti beli sama ayah aja. Katanya mau ke mall, bareng ayah aja. Sekalian weekend." Rubin mengambil gelas yang sudah berisi air bening.
Acara sarapan pun sudah selesai, sambil menunggu waktu agak siang, mereka berempat duduk di ruang keluarga. Ruangan dan desain rumah yang sangat bertolak belakang dengan rumah tempat Intan dibesarkan. Mengingat rumah adat, rasa kangen kepada orang tua gadis itu pun menggebu-gebu. Berhari-hari tidak ada kabar dari mereka, membuat Intan tidak bersemangat.
"Ayah, lihat deh. Ini kue kayaknya enak banget." Nahla memperlihatkan foto kue kepada suaminya.
"Nanti beli yah, Bun." Rubin mengacak-acak rambut istrinya dengan gemas.
Sementara Intan dan Rifal fokus pada benda yang dipegangnya. Rifal yang masih fokus menatap layar laptopnya untuk mengecek beberapa email yang masuk. Setelah selesai, Rifal menatap layar ponselnya dan menutup laptopnya.
Banyak pesan masuk dari sahabatnya yang mengajaknya untuk berkumpul, karena mereka sudah lama tidak berkumpul kembali. Rifal sesaat berpikir, lalu menatap orang-orang yang ada di ruangan itu. Setelah itu membalas satu persatu pesan yang masuk.
Hari pun mulai siang, waktu menunjukan pukul 09:00 WIB. Rubin sudah siap untuk mengantarkan istrinya berbelanja, baik kebutuhan dapur maupun bukan. Begitu pula dengan Rifal, pria itu sudah siap dengan kemeja kotak-kotaknya serta jam tangan sebagai aksesoris pelengkapnya. Sedangkan Intan masih duduk santai di ruang keluarga.
"Kamu mau kemana, Fal? Pakai baju kotak-kotak, rapi lagi," tanya Nahla yang melihat anaknya sudah bersiap-siap untuk pergi.
"Mau ketemuan sama temen," jawab Rifal. "Ayo, Sayang." Rifal menarik tangan Intan yang sedang duduk sendirian.
"Ayah, Bunda, kita pamit dulu yah." Intan dan Rifal mencium tangan Nahla dan Rubin. Kemudian keluar dari rumah megah itu.
"Dasar anak muda, enggak mau ngalah sama yang tua." Nahla menggeleng-gelengkan kepalanya.
Intan dan Rifal menaiki mobil milik Intan yang tersimpan di bagasi rumah Rifal. Sebelumnya Rifal sudah bilang kalau untuk hari ini dan kedepannya pakai mobil Intan, karena mobil miliknya berada di bengkel.
"Kita mau kemana?" Intan memasang sabuk pengamannya.
"Mau ketemu teman-temanku," jawab Rifal sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Tapi, bagaimana dengan penampilanku? Lihatlah, aku masih mengenakan baju milik Abang. Yang jelas-jelas kebesaran." Intan memalingkan wajahnya dan menghadap ke jendela. "Aku tidak ingin ikut, Bang. Cepatlah putar balik!" pinta Intan kepada Rifal.
"Ka, ayolah balik lagi," pinta Intan untuk yang kesekian kalinya. Ingat dengan ucapan 'Ka' Intan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Rifal yang mendengar panggilannya bukan lagi dengan kata 'Abang', Rifal langsung meminggirkan mobilnya. Setelah berada di pinggir jalan, Rifal melepaskan sabuk pengamannya. Lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Intan. Secara spontan pun Intan langsung memundurkan kepalanya.
Lagi-lagi sebuah ciuman mendarat sempurna di bibir merah muda nan manis itu. Bagaikan candu buat Rifal, Ia mencium Rifal bukan hanya satu kali, tapi lebih dari dua kali. Setelah dirasa cukup lama, Intan langsung mendorong tubuh pria yang ada di depannya. Andaikan Intan tidak melepaskannya, pasti Rifal akan berbuat lebih.
"Itu hukumanmu karena lagi-lagi salah memanggilku. Lakukan saja berkali-kali, maka dengan senang hati aku akan menghukummu. Jadi diamlah! Kamu sudah menjadi canduku." Rifal memasang sabuk pengamannys kembali, lalu tersenyum kepada Intan yang masih bengong. Mobil pun kembali melaju.
"Maaf," lirih Intan. Wajahnya terus menatap ke arah kaca jendela mobil. Melihat jalanan yang cukup ramai karena akhir pekan.
Setelah perjalanan selama sepuluh menit, akhirnya Rifal dan Intan sudah sampai di kafe, di mana semua sahabatnya sudah menunggu. Rifal turun dari mobil yang diikuti oleh Intan dari belakanh. Kafe yang ramai itu membuat nyali Intan ciut untuk masuk ke dalam kafe. Rifal melihat Intan yang diam mematung, ia mengulurkan tangannya.
"Aku malu." Intan menggelengkan kepalanya, sungguh gadis itu tidak mau masuk ke kafe yang notabenenya kafe modren yang kebanyakan pelanggannya cantik san seksi, jauh dari pada dirinya.
"Ayo, Sayang. Mau aku hukum kembali di depan umum?" Rifal menaik turunkan alisnya. Tangannya menggenggam tangan Intan dengan erat.
Hingga akhirnya Intan menurut karena takut Rifal menyerangnya secara dadakan. Ketiga sahabat Rifal sudah menunggu dengan didampingi pasangan mereka masing-masing. Putra melambaikan tangannya, dan pandangan itu langsung ditangkap oleh mata Rifal. Intan dan Rifal pun berjalan mendekati tiga pasangan itu.
"Kali ini lo bawa gandengan, Fal," canda Putra.
"Iya dong, karena gue tau kalau lo lo pada bawa gandengan juga." Rifal duduk dan bergabung bersama mereka.
"Aih, rupanya dulu Rifal iri sama kita." Mereka pun tertawa lepas.
"Mamamama," celoteh Nai, anak dari Cheryl dan Vai.
"Kamu mau sama aunty?" tanya Vai kepada balita yang ada dipangkuannya. "Jangan yah, Nak. Nanti aunty-nya kerepotan," larang Vai. Namun balita yang tadinya diam, kini menangis.
"Gapapa." Intan mengambil alih pangkuan Nai dari ibunya.
"Maaf ngrepotin." Intan hanya membalasnya dengan tersenyum
Mereka pun berkenalan dengan Intan yang baru bergabung. Di kumpulan itu, hanya Intan yang pendiam sambil memangku balita yang terlihat akrab dengannya. Aura keibuan pada diri Intan terpancar begitu jelas.
Tidak hanya berkumpul di kafe, mereka mengelilingi taman, pantai dan tempat wisata lainnya. Karena belum puas, mereka berencana menyewa kamar hotel untuk menginap semalam. Dan malamnya mereka bakar-bakaran. Karena malam tahun baru, kamar hotel hanya tersisa dua kamar. Satu kamar khusus para laki-laki, satu kamarnya lagi khusus untuk wanita.
"Bang, aku mau pulang saja," bisik Intan di telinga Rifal.
"No, Dear. Kita nginap disini semalam aja. Nanti pulang, oke." Rifal menggenggam tangan Intan dengan erat. "Kamu jangan takut, kalau butuh sesuatu panggil aja aku."
"Tapi, Bang. Aku tidak punya baju ganti. Baju punyaku ada di rumah mama papa." Intan mencoba membujuk Rifal untuk pulang dan tidak menginap.
Bersambung ....
Jangan lupa like, komen, dan vote. Terima kasih.
merasa paling laki aja klo bgn..😅😅😅
red velvet bukan red valvet
berjibaku bukan bercibaku.
semngat trus nulis ny ya thor