Demi menjalankan sebuah misi penting, Dinda rela melakukan apa saja untuk mendekati tetangga barunya yang super cuek dan dingin.
Tapi setelah dia mendapatkan yang ia inginkan dan berhenti mengejar lelaki itu, lelaki itulah yang berbalik mendekatinya.
Dan ternyata ada rahasia besar di antara keduanya.
jangan lupa like dan komen 💛
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinta Kuning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 (POV Author)
SAH!
Untuk kedua kalinya Aydan mengucapkan kalimat sakral dengan wanita yang sama. Tapi kini secara sah agama dan negara, juga secara terbuka.
Semua karyawan rumah sakit yang hadir menyaksikan sendiri, jika sebelumnya mereka hanya diberi tahu oleh Aydan bahwa gadis yang selalu ia tempeli adalah istrinya, kini mereka menyaksikan sendiri bahwa ucapan pria itu tidaklah berbohong.
Sempat terdengar desas-desus bahwa Aydan tidak konsisten dengan pendiriannya tentang batasan mahram. Kini ia buktikan bahwa gadis itu benar-benar istrinya. Aydan pun mengusahakan gadisnya tidak terkena dampak atas gosip yang beredar.
“Silahkan mempelai wanitanya bisa dihadirkan untuk menandatangani dokumen dan penyerahan mas kawin.” ujar penghulu kepada panitia.
“Biar Aydan yang jemput, Om.” ucap mempelai pria, kebetulan penghulu pernikahan adalah pamannya sendiri, adiknya ummi Lailatul.
Semua tamu undangan sempat tertegun, tapi pak penghulu mempersilahkan Aydan untuk menjemput istrinya.
Pria yang memakai setelan serba putih itu berjalan tanpa ragu menuju kamar sang istri yang sangat menguji kesabarannya. Tidak bisa dipungkiri jika jantungnya selalu berdetak cepat setiap bertemu dengan gadisnya itu.
Persis seperti pertama kali bertemu. Terlebih gadis itu selalu mengacau hidupnya.
Aydan sempat terpana saat pintu kamar pengantinnya terbuka. Gadis yang selalu menguji kesabarannya begitu cantik paripurna dibalut gaun putih pilihannya. Sama sekali tidak tampak seperti pembuat onar. Benar-benar terlihat seperti gadis baik-baik dan penurut.
Dinda celingak-celinguk mencari seseorang. Aydan tahu gadis nakal miliknya ini pasti mencari pacar temannya, Aira.
Dia sempat tidak bisa tidur memikirkan gadisnya yang memiliki segudang rencana demi bertemu pria Korea itu hingga ingin kabur dari acara pernikahan. Beruntung Jonie memacari sahabat sang istri, dari gadis itu pula ia bisa mendapat informasi.
“Bukankah kamu berjanji akan hadir di pernikahanku?” ucap Aydan membuat sang istri mematung.
“Dokter nikahnya hari ini juga?”
Allahu!
Aydan memejamkan mata sekilas sembari ber-istighfar dalam hati. Dia mengulurkan tangannya, “Ayo. Tamu undangan sudah menunggu kita.”
Dinda bergeming, ia masih mencerna. Tapi itu terlalu lama, Aydan mengambil tangan gadis itu dan hendak membawanya. Namun lelaki itu menyadari sesuatu saat Dinda mengangkat gaunnya.
“Mana sepatumu?” tanyanya saat melihat Dinda hanya memakai kaos kaki warna kulit.
Mulut Dinda seperti terkunci, ia pun ikut melihat kakinya.
Aydan berinisiatif sendiri. Dia membawa istri nakalnya ke dalam kamar untuk mencari sepatu pengantin berwarna senada dengan gaun.
Ia merasakan keterkejutan Dinda saat pintu kamar tertutup. Aydan menarik sebelah bibirnya sekilas.
“Ini bukan pertama kalinya kita berduaan dalam kamar.” bisik Aydan sangat dekat di telinga Dinda, dan gadis itu semakin menegang dibuatnya.
“Duduk.” titah Aydan, Dinda pun menurut.
Gadis itu hanya menatap lamat saat orang yang biasa ia sebut Kim Taehyung kw memakaikan sepatu pengantin di kakinya.
“Kenapa?” tanya Aydan seraya memasang sepatu terakhir sang istri. “Aku sangat tampan ya?”
Spontan, Dinda mengangguk tapi menggeleng setelahnya. Ia memalingkan wajah, pipinya terasa hangat karena malu.
Aydan duduk berlutut di hadapan istrinya setelah kedua sepatu sang istri terpasang sempurna. Tangan kirinya ia angkat di depan dada dan tangan kanannya ia letakkan di ubun-ubun sang istri. Sedangkan Dinda refleks memejamkan matanya, pun ia meng-aamiinkan setiap yang lelaki di hadapannya ucapkan.
Cup!
Seketika Dinda membuka matanya sempurna. Kemudian mengerjap. Sesuatu yang lembut baru saja menyentuh dahinya.
“Dokter?” cicitnya terkejut. Pupil matanya bergetar menatap tepat di manik mata Kim Taehyung kw.
Alis Aydan terangkat, “Kenapa?”
Glek! Dinda menelan saliva.
Aydan mendekatkan wajah mereka dan berbisik, “Bahkan kamu sudah dua kali mencium ku.”
Dinda melotot seolah tidak percaya.
“Aku punya catatannya.”
Netra Dinda semakin membola.
“Kamu tidak percaya?”
Gadis itu mengangguk.
Aydan membingkai wajah Dinda dengan kedua tangannya dan memajukan wajahnya memberikan satu kali lagi sentuhan singkat di belahan lembut milik sang istri yang sudah sangat lama membuatnya gemas. “Nanti aku tunjukkan catatanku kalau kamu nggak percaya.”
Tubuh Dinda nyaris stroke ringan, ia tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Seluruh saraf di tubuhnya tidak mampu bekerja dengan baik.
“Ayo kita turun sekarang, pak penghulu menunggumu untuk tanda tangan dokumen pernikahan,” kata Aydan, tapi Dinda masih membatu. “Atau kamu mau langsung malam pertama, ‘uhm?” bisiknya menggoda.
Berkali-kali Dinda melotot, jika berterusan mendapat kejutan, bola matanya bisa-bisa keluar. Wkwk!
“Dokter! Ngomongnya—”
“Sama istri sendiri nggak papa.” sahut lelaki itu cepat.
“Istri?” Dinda mengulang ucapan Kim Taehyung kw, “Dokter—suami antah berantahku itu?” sambungnya.
Kini Aydan yang tertegun, sudah beberapa adegan yang mereka lakukan, gadis ini masih belum menyadarinya?
Dia mendengus pelan, “Menurutmu aku mau menyentuhmu kalau kamu bukan mahramku, hm?”
Dinda mengangguk.
Awh! Dinda mengaduh karena Aydan mencubit pelan ujung hidung mungilnya.
Tok.. Tok.. Tok...
“Dan, Din, nanti aja belah nangkanya!” suara Jonie terdengar sangat lantang. Bisa-bisa tiga lantai mendengar suara lelaki itu. “Gue juga mau ijab kabul woy!”
Dinda terkejut, tapi tidak untuk Aydan.
Lelaki itu mengambil telapak tangan kecil sang istri dan menggenggamnya. Sedikit menariknya agar gadis itu berdiri mengikutinya menuju pintu utama. Sedangkan tangannya yang lain membantu membawa ujung gaun sang istri yang cukup panjang.
Ceklek!
“Sedang apa sih kalian di dalam lama banget? Bisa nggak produksi baby-nya ntar malam aja?” cerocos Jonie. “Mentang-mentang penghulu Om lo sendiri ya, Dan! Semena-mena ninggalin acara—”
Sedangkan Aydan tidak perduli dengan kemarahan lelaki itu, ia tetap menggandeng tangan sang istri melewati Jonie yang tengah terperangah begitu saja.
“Heh!” Jonie berkacak pinggang, tapi bibirnya menyunggingkan senyum. Ia pun sangat bahagia dengan pernikahan sang sahabat.
Kini pasangan pengantin baru itu hanya berdua dalam lift khusus menuju lantai garden area.
Aydan melingkarkan tangannya di pinggang kecil sang istri, membuat tubuh Dinda lagi-lagi menegang. “Jauhkan pikiran anehmu dari ingin kabur di acara pernikahan kita, Dindaku.” bisiknya, dan kembali menegakkan tubuh.
Gadis itu mendongak, “Kakanda ta—u?” ucapnya spontan, dan terbata di akhir kalimat.
“Tentu saja.”
Glek!
“Mulai sekarang kamu hanya boleh menyukaiku, tidak boleh ada lagi Kim Taehyung diantara kita.”
“Mana bisa begitu—”
Ting!
Dinda tidak bisa menyelesaikan kalimat protesnya karena pintu lift sudah terbuka, karena semua atensi para tamu dan hadirin tertuju pada mereka. Raja dan ratu hari ini.
Dresscode putih-cream yang di kenakan para tamu undangan membuat netra Dinda berbinar, seperti yang pernah ia inginkan ketika menikah. Tapi ia kini sudah lupa karena lebih memikirkan konser BTS.
Dinda menatap bagaikan mata elang mencari mangsa di tengah-tengah tamu yang hadir, ia mencari keberadaan seorang pengkhianat yang sudah mengacaukan rencananya. Dan dengan mudah ia menemukannya, sang tersangka tengah tersenyum jahil ke arahnya, Dinda menyorot mata mereka bergantian dengan kedua jari. ‘Awas lo ya!’ ia berbicara tanpa suara.
Tapi Aira malah menjulurkan lidahnya.
Kalau saja Aydan tidak menahan tangannya, Dinda mungkin sudah menghampiri gadis itu dan memberikan pelajaran.
***