NovelToon NovelToon
Bayangan Pewaris Kadipaten

Bayangan Pewaris Kadipaten

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata-mata/Agen / Ahli Bela Diri Kuno / Menyembunyikan Identitas / Era Kolonial
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hayisa Aaroon

Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?

Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.

Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.

Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.

Risikonya? Hampir mati setiap hari.

Akankah Arjo bertahan?

Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Kelompok Rahasia

Kang Guru Harjo mengangguk. “Ki Among yakin ini memang dia?”

“Tentu saja.” Ki Among ganti menatap sinis Arjo yang masih menunduk kesal. “Aku tidak meragukan pemuda ini kalau masalah perempuan. Coba kau beri dia pertanyaan detail tentang bagaimana bentuk alis, bulu mata, kening, dia akan sangat lancar menyebutkan. Dalam darahnya mengalir darah pengagum wanita.”

Arjo mengerutkan dahi. ‘Darah pengagum wanita? Bukannya semua laki-laki begitu?’

Kang Guru Harjo terkekeh. “Lanjutkan, apa saja kemungkinan yang lain?”

"Gadis ini bisa menjadi jalan untuk mencari tahu kelompok rahasia mana yang menyasar Ndoro Gusti Bupati. Bisa jadi, ini kelompok yang selama ini kita cari, yang selalu terputus jejaknya, seakan mereka tidak pernah ada."

"Kelompok rahasia?" Arjo tidak bisa menahan diri untuk bertanya.

Ki Among memandangnya, tatapan yang membuat Arjo ingin menelan kembali kata-katanya.

"Banyak yang iri dengan jabatan bupati." Suaranya datar, tapi ada sesuatu yang lebih dalam di baliknya. "Para demang tua yang merasa dilewati. Keluarga ningrat yang merasa punya hak lebih atas tahta kadipaten. Pejabat Belanda yang tidak suka dengan sikap Ndoro Gusti Bupati yang terlalu idealis. Pengusaha yang keuntungannya terganggu oleh kebijakan baru."

Arjo menelan ludah. ‘Sebanyak itu musuhnya? Aduh … mati aku!’

"Serangan hari ini bukan serangan amatir. Terencana. Terkoordinasi. Ada yang membiayai. Ada yang memberi perintah." Ki Among mengetuk foto dengan jari telunjuknya. "Kalau gadis ini memang bagian dari kelompok tersebut, dia bisa menjadi kunci untuk membongkar semuanya."

Kang Guru Harjo tampak berpikir. "Tapi bagaimana caranya, Ki? Gadis ini tinggal di kediaman Residen. Ayahnya pejabat tinggi Belanda. Tidak akan mudah mendekatinya."

"Tidak mudah memang." Ki Among mengangguk. "Van Linden mungkin kecewa pada putrinya yang terus membuat masalah, tapi bukan berarti dia akan membiarkan orang lain menyentuhnya. Darah tetap lebih kental dari air. Kalau ada yang berani mengganggu Kenes, meski hanya menguntit, van Linden akan mengerahkan seluruh kekuatannya."

"Lalu bagaimana?" Kang Guru Harjo mengerutkan dahi.

Ki Among terdiam.

Arjo memberanikan sedikit mengangkat pandangan, mengamati mata hitam yang seperti berkilat dalam kegelapan.

"Kalau bisa," Ki Among akhirnya berbicara, "kita menangkap dan menginterogasinya tanpa sepengetahuan orang-orang van Linden. Itu yang paling ideal. Mendapatkan informasi yang kita butuhkan tanpa menimbulkan kegaduhan politik."

Kang Guru Harjo mengangkat alis.

"Menculiknya, maksud Ki Among?"

"Ya."

Satu kata. Datar. Tanpa keraguan.

Arjo mendelik. ‘Menculik anak Residen?’

"Tapi itu bukan perkara mudah." Ki Among mengangkat tangan sebelum ada yang menyela. "Kediaman Residen dijaga ketat. Polisi kolonial berpatroli siang malam. Kenes sendiri, meski kelihatan sembrono, jelas terlatih bertarung. Kau sudah merasakannya sendiri, Arjo."

Arjo mengangguk tanpa sadar, mengingat tendangan dan tinju yang nyaris meremukkan tulang hidungnya.

"Penculikan yang gegabah hanya akan membuat kita ketahuan, memperburuk hubungan kadipaten dengan Belanda, memberi alasan bagi van Linden untuk menekan Ndoro Gusti Bupati." Ki Among menggeleng pelan. "Risiko terlalu besar."

"Jadi kita tidak melakukan apa-apa?" Arjo tampak sedikit kecewa.

Ki Among menatapnya, tajam.

Arjo menutup mulut rapat-rapat. Pandangan kembali tertunduk.

"Kita tidak akan diam." Ki Among melanjutkan. "Tapi kita juga tidak akan gegabah. Langkah pertama—mengawasi. Mempelajari kebiasaannya. Mencari celah. Menentukan waktu dan tempat yang tepat."

Ia menoleh ke kegelapan, bersiul pelan.

Dari bayangan di sudut gandok, sosok berpakaian hitam muncul, begitu senyap sampai Arjo tersentak meski sudah mengenalnya. Sosok itu membungkuk di samping Ki Among, menerima bisikan yang terlalu pelan untuk didengar.

Lalu menghilang kembali ke kegelapan.

"Aku akan mengirim murid-muridku untuk mengawasinya." Ki Among menjelaskan. "Dua puluh empat jam. Ke mana dia pergi, siapa yang dia temui, apa yang dia lakukan. Semua akan dilaporkan padaku."

Kang Guru Harjo mengangguk. "Berapa lama pengawasan ini berlangsung, Ki Among?"

"Selama yang diperlukan." Ki Among memandangnya foto Kenes sekali lagi. "Gadis seperti ini—muda, berani, tidak sabaran—pasti akan membuat kesalahan. Cepat atau lambat. Dan saat itu terjadi… Itu kesempatan kita.”

Ki Among menyimpan foto itu ke dalam saku kemeja hitamnya.

"Untuk sekarang," ia memandang Arjo dan Kang Guru Harjo bergantian, "jangan lakukan apapun yang bodoh. Jangan mencoba mendekati gadis itu sendiri. Jangan mencari informasi tanpa izinku. Kalau kalian melihatnya di suatu tempat, pura-pura tidak mengenalnya. Paham?"

"Paham, Ki Among." Kang Guru Harjo membungkuk.

Arjo ikut membungkuk, meski dalam hati ia tidak yakin bisa menahan diri kalau benar-benar bertemu.

"Bagus." Ki Among menatap Arjo tajam. "Terutama kau, Arjo. Kau akan sering keluar nanti, tidak menutup kemungkinan kau akan bertemu dengannya. Ndoro Gusti Bupati, garwo ampil-nya, masih belum ditemukan. Kenyataan itu membuat suasana hati beliau buruk, tidak stabil. Temperamennya buruk. Mudah marah. Mudah tersinggung. Mengambil keputusan tanpa berpikir panjang."

Arjo teringat Ndoro Soedarsono yang ia kenal. Tenang. Terkendali. Selalu berpikir tiga langkah ke depan. Sulit membayangkan orang itu menjadi temperamental.

"Kalau kondisi ini berlanjut," Ki Among memandang Arjo. "citra Ndoro Gusti Bupati sebagai pemimpin yang tenang dan bijaksana akan rusak. Para demang akan meragukan kepemimpinannya. Belanda akan mencium kelemahan. Musuh-musuh dalam kadipaten akan memanfaatkan."

Arjo mulai mengerti ke mana arah pembicaraan ini.

"Sampai Ndoro Gusti Bupati... pulih. Kau—" tatapannya menusuk Arjo, "akan lebih sering menggantikannya."

"Pertemuan dengan pejabat Belanda. Kunjungan inspeksi. Jamuan resmi." Ki Among menyebutkan satu per satu dengan nada datar, seolah sedang membacakan daftar belanja. "Semua yang membutuhkan wajah bupati yang tenang dan terkendali, kau yang akan tampil."

Arjo ingin protes. Ingin berkata bahwa tadi siang saja ia nyaris mati hanya karena perjalanan singkat. Kalau harus lebih sering tampil sebagai bupati—

"Sementara Ndoro Gusti Bupati," Ki Among melanjutkan, mengabaikan ekspresi pucat Arjo, "akan fokus mencari garwo ampil-nya. Itu prioritas utamanya sekarang. Segala urusan kadipaten yang bersifat seremonial dan diplomatik... akan ditangani bayangannya."

Kang Guru Harjo angkat bicara. "Ki Among, apakah ini tidak terlalu berisiko? Arjo baru saja diserang tadi sore—"

"Justru karena itu."

Ki Among memotong dengan tenang.

"Penyerang hari ini gagal. Mereka akan mencoba lagi." Mata hitam itu menatap Arjo, seolah sedang mengukur sesuatu. "Lebih baik yang mereka serang adalah bayangan, bukan bupati asli. Kalau bayangan mati..."

‘Kalau bayangan mati, bisa diganti dengan bayangan baru,’ Arjo melanjutkan dalam hati dengan getir. ‘Tapi kalau bupati asli yang mati, kadipaten runtuh.’

"kerugiannya lebih kecil." Ki Among menyelesaikan kalimatnya tanpa perubahan nada. “Yang terpenting adalah posisi bupati, kalau sampai jabatan itu jatuh ke ningrat yang haus kekuasaan dan rakus harta, bisa hancur kadipaten ini. Kita harus sekuat tenaga mempertahankan Ndoro Gusti Bupati.”

Arjo menelan ludah.

1
Kustri
kiro" kelingan ro rupamu ra Jo🤔
deg" sir ya Jo, kui persembahan nggo bupati yo
Rahayu Wilujeng
sugeng dahar siang ndoro bupati🙏
Ricis
akhirnya ketemu lagi ya Jo, jangan konyol lagi ya Jo 😀
Teh Qurrotha
apakah Agnes kenal sama wajah Arjo yang sekarang, waktu penyerangan dkereta Arjo blm di make over
SENJA
nah itu makanya jangan terbawa emosi terus jo 😶
SENJA
kamu bakal di cap antek pki ada bukti atau ngga 🤭 makanya jangan kritis terang2an lah tahun 1920-30 an mah 🤭
SENJA
dan tan malaka dan pimpinan lain sebenernya ga setuju 🤭 ini aksi massa bukan massa aksi 😶
SENJA
tidak sesederhana yang terlihat 😶
SENJA
yah memang itu tugasmu kan 🤔 mau gimana? kejam tapi yah itu🤭
SENJA
sekarang udah telat jo 🤭
Muchamad Ikbal
muaaanteeep tenaan....🥳
ᵖᵓ➳⃟✿- 𝘀𝘆𝘂 ˢʸ֟ᵘ
Semua berawal dari tatapan lalu remashhhh an Arjo😭😭😭
Kenzo_Isnan.
waaahhh lha iki jo jo . .
Kenzo_Isnan.: tak melu ngamini wis pokok'e 😆
total 2 replies
Kenzo_Isnan.
malah adu nasib kalian bertiga to ya 😅
Kenzo_Isnan.
tedjo+arjo sama" gendeng 🤣🤣🤣
Kenzo_Isnan.
semangat jd bayangan kakak mu sendiri arjo . .
kira" bsk kalau udah tau soedarsono ini kakak'y dr ayah yg sama kira" gmn ya reaksi arjo
Muhammad Arifin
Iki Paleng jodohmu Jo 🤪🤪
Kenzo_Isnan.
kasian kamu arjo tp yakinlah sesudah hujan pasti ada pelangi yg menanti mu di dpn sana
Muhammad Arifin
arjo welas asih....pantes Soedarsono suka...
Wiya Tun: betul,selalu ingat teman²nya
total 1 replies
Rahayu Wilujeng
wah..... harusnya pelajarannya lebih lengkap lagi, termasuk memberi respon pada semua istrinya, kan pasti beda2 responnya😄
Wiya Tun: mboten nopo² ndoro,Kula seneng, maturnuwun 🙏👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!