NovelToon NovelToon
Hantu Tampan Si Mesum

Hantu Tampan Si Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Dunia Lain / Spiritual / Hantu / Suami Hantu
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut.​"Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.​Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis.​"Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas.​"Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.​Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

"Jel! kapan sih mas gamaku itu seperti Arjuna," Bisik Dinda di tengah kelas berlangsung.

Tuk! suara pukulan pulpen, Ternyata Ira lah pelakunya, ia memukul kepala Dinda dengan pulpen miliknya.

"Kamu benar-benar minta di getok Dinda Kita lagi belajar! Kamu malah tanya soal itu." Geram Ira pada Dinda

"Aduh! Sakit, Ira!" ringis Dinda sambil mengusap kepalanya yang terkena serangan pulpen maut.

​"Makanya, fokus! Dosen lagi menjelaskan soal teori ekonomi, kamu malah bahas teori percintaan lintas alam!" bisik Ira dengan nada tajam yang hanya bisa didengar oleh mereka bertiga.

​Jelita yang duduk di antara mereka hanya bisa menahan tawa sambil tetap pura-pura menulis catatan. Namun, jujur saja, konsentrasi Jelita pun sedang terganggu. Cincin di jarinya terus memberikan sensasi hangat, dan ia bisa merasakan kehadiran Arjuna yang seolah sedang bersembunyi di balik bayangan tirai kelas yang tertiup angin.

​"Ya habisnya, Ra," gumam Dinda lagi, masih tidak mau menyerah meski kepalanya baru saja digetok. "Aku iri sama Jelita. Pangerannya itu effort-nya luar biasa. Lah, Mas Gama? Datang kalau ada bahaya doang, habis itu hilang. Cokelatnya dimakan, tapi orangnya nggak kelihatan. Aku kan juga mau dikasih cincin atau paling nggak... dijemput pakai kereta kencana gitu."

Tiba-tiba, suasana di dalam kelas yang tadinya tenang berubah menjadi sunyi yang mencekam. Suara dosen yang sedang menjelaskan di depan perlahan-lahan terdengar mengecil di telinga Jelita, seolah-olah ada sebuah kubah pembatas yang menyelimuti tempat duduk mereka.

​Cincin di jari Jelita bersinar lebih terang dari biasanya.

​"Dinda..." bisik Jelita pelan. "Hati-hati dengan ucapanmu."

​Seketika, di kursi kosong tepat di sebelah Dinda, muncul kepulan asap tipis berwarna biru tua. Perlahan tapi pasti, sosok Gama muncul dengan zirah lengkapnya, namun kali ini ia tampak lebih santai, tanpa pedang di tangannya. Ia duduk dengan kaki bersilang, menatap lurus ke arah papan tulis, seolah-olah ia juga mahasiswa di sana.

​Dinda membeku. Matanya melotot hampir keluar. "I-ira... Jel... itu..."

​"Diam, Manusia Berisik," suara bariton Gama terdengar dingin tapi kali ini ada nada yang sedikit berbeda. "Aku di sini bukan karena cokelatmu. Aku di sini untuk memastikan kalian tidak bicara sembarangan tentang Baginda Arjuna."

​Ira langsung pura-pura menunduk dalam ke bukunya, keringat dingin mulai membasahi dahinya. "Nah, kan... mampus kamu, Din. Dipantau langsung sama ajudannya."

Melihat Gama benar-benar muncul di sebelahnya, rasa takut Dinda menghilang lebih cepat daripada rasa lapar saat jam istirahat. Ia justru mulai berani mencuri-curi pandang ke arah rahang tegas Gama yang tertutup helm perak sebagian.

​"Mas Gama... berarti dari tadi dengar ya aku bilang apa?" bisik Dinda dengan nada yang dibuat-buat semanis mungkin.

​Gama menoleh sedikit, matanya yang berkilat biru menatap Dinda dengan tajam. "Setiap kata. Dan untuk pertanyaanmu... aku bukan Arjuna. Aku ksatria yang tidak punya waktu untuk hal-hal romantis yang tidak berguna."

​Namun, secara mengejutkan, Gama meletakkan sesuatu di atas meja Dinda. Sebuah batu kristal kecil berwarna biru jernih yang tampak sangat indah.

​"Simpan itu. Jika kau merasa bahaya mendekat, remas kristal itu. Aku akan datang lebih cepat daripada Arjuna mendatangi Ratunya," ucap Gama, lalu sosoknya perlahan memudar kembali menjadi udara kosong, meninggalkan aroma maskulin yang dingin di sekitar Dinda.

Dinda hampir saja berteriak histeris kalau saja Ira tidak sigap membekap mulutnya lagi.

​"JELITA! LIHAT! AKU DIKASIH HADIAH!" gumam Dinda di balik tangan Ira, matanya berkaca-kaca bahagia sambil menggenggam kristal biru itu.

​Ira menghela napas pasrah. "Gila. Satu pangeran mesum, satu ksatrianya mulai tertular bucin. Aku rasa aku satu-satunya orang normal yang tersisa di kelompok ini."

​Jelita hanya bisa tersenyum melihat sahabatnya. Namun, tiba-tiba ia merasa ada tangan dingin yang melingkar di bahunya, dan sebuah kecupan ringan terasa di pipinya—kecupan yang hanya bisa ia rasakan sendiri.

​"Jangan biarkan ksatria itu lebih romantis dari rajanya, Jelita..." bisik suara Arjuna yang terdengar cemburu di telinga Jelita.

"Kamu jangan bicara seperti itu Ira, jangan-jangan kamu yang malahan lebih parah dari aku! Tau taunya ternyata ada musuh Arjuna yang menyukaimu." Celetuk Dinda.

Ira langsung tersedak ludahnya sendiri mendengar celetukan Dinda yang luar biasa sembarangan itu. Wajahnya yang tadi pucat pasi kini berubah menjadi merah padam karena menahan geram sekaligus malu.

​"Dinda! Mulutmu itu benar-benar minta disumpal sepatu ya?!" bisik Ira dengan nada yang bergetar karena emosi. "Musuh Arjuna menyukaiku? Kamu pikir ini film fantasi apa?! Aku ini cuma manusia biasa yang kebetulan terseret urusan asmara gaib kalian!"

​Jelita hanya bisa menutup mulutnya, berusaha sekuat tenaga agar tawanya tidak pecah dan mengganggu dosen yang masih asyik menjelaskan di depan. Ia melirik Ira yang tampak sangat frustrasi, lalu kembali menatap cincin di jarinya.

​"Tapi Ra," sela Jelita dengan nada menggoda, "Dinda ada benarnya. Aura kamu itu sangat kuat sejak sering membantu Kakek Wiryo. Siapa tahu ada sosok dari 'sana' yang diam-diam memperhatikanmu dari balik kegelapan."

Baru saja Jelita menyelesaikan kalimatnya, lampu di dalam kelas mendadak berkedip-kedip tidak stabil. Suara dosen di depan perlahan memudar, seolah-olah waktu sedang melambat.

​Ira merasa tengkuknya mendadak sangat dingin. Ia menoleh ke arah jendela kelas yang tertutup, dan di sana, tercetak sebuah telapak tangan yang samar dari uap dingin di kaca. Bukan telapak tangan biasa, tapi tangan yang sangat besar dengan kuku-kuku tajam yang elegan.

​"Jel... Dinda..." suara Ira bergetar. "Jangan bilang omongan konyol Dinda barusan langsung jadi kenyataan."

​Tiba-tiba, sebuah bayangan hitam legam melintas cepat di luar jendela, diikuti dengan suara tawa rendah yang terdengar seperti gesekan logam—sangat berbeda dengan suara Arjuna yang berwibawa atau Gama yang dingin. Suara ini terdengar... berbahaya dan nakal.

Cincin Jelita berpendar merah terang secara otomatis, sebuah tanda peringatan bahaya. Jelita segera menggenggam tangan Ira.

​"Dia bukan bawahanku, Jelita... hati-hati," suara Arjuna terdengar tajam dan penuh peringatan di pikiran Jelita. "Itu adalah Mahesa, panglima pemberontak yang sempat melarikan diri saat penobatanmu semalam. Sepertinya dia sudah menemukan 'target' baru untuk memancingku keluar."

​Dinda yang melihat ekspresi kedua sahabatnya mendadak serius, langsung meremas kristal biru pemberian Gama. "Mas Gama! Tolong! Ira mau diculik hantu jahat!" bisiknya panik ke arah kristal itu.

​Tiba-tiba, selembar mawar hitam layu jatuh tepat di atas buku catatan Ira. Di kelopak mawar itu, tertulis sebuah nama dengan tinta berwarna merah darah: "IRAWATI".

​"Tuh kan! Apa aku bilang!" seru Dinda, kali ini benar-benar berteriak hingga seisi kelas menoleh. "Ira punya penggemar rahasia dari neraka!"

Dosen berhenti bicara dan menatap ke arah mereka dengan bingung. "Ada apa di sana? Saudari Dinda, kenapa berteriak?"

​Namun, sebelum Dinda bisa menjawab, seluruh jendela kelas bergetar hebat. Ira merasa ada sesuatu yang menarik helai rambutnya dengan lembut, diikuti bisikan yang membuat jiwanya bergetar.

​"Sampai jumpa di malam yang gelap, Manusia Berani... kau akan menjadi tawanan yang jauh lebih menarik daripada Ratu kecil itu."

​Ira langsung berdiri tegak, wajahnya pucat pasi. Ia menatap Jelita dengan mata berkaca-kaca. "Jel... sepertinya aku dapet masalah besar. Kenapa harus aku?!"

​Dinda malah nyengir di tengah ketakutannya. "Tenang Ra, kalau dia ganteng kayak Arjuna, nanti aku dukung kok! Kita bisa triple date nanti!"

​"DINDA! STOP!" teriak Ira dan Jelita bersamaan.

1
Mingyu gf😘
Arjuna jahat
Mingyu gf😘
sadar jelita sadar
Stanalise (Deep)🖌️
Ya, kalau setannya kayak gini visualisasi nya siapa yang ga kepincut. Beneran 🐊 nih the mycth
Stanalise (Deep)🖌️
Tapi thor, sebenarnya nih si Jelita dia emang bisa nglihat atau ngga Thor? #Bertanya dengan nada lembut. 🥺
Greta Ela🦋🌺
Jangan woi. Hantu ini gak tahu tempat, dah tahu sekarang lagi jam kuliah malah diganggu
Greta Ela🦋🌺
Ya wajib lah dengerin dosen. Kocak amat lu
Greta Ela🦋🌺
Hantunya ganteng gini mah🤣
Greta Ela🦋🌺
Hantunya ini ngada2 ya🤣
Blueberry Solenne
Cape banget Ini yang Jadi temen-temennya, harus rebutan Jelita sama Hantu
Wida_Ast Jcy
tidak semudah itu juga kali. kalau teror berakhir otomatis ceritamu tamat donk. ya kan thor
Wida_Ast Jcy
Bukan masalah begitu jelita. namanya juga sahabat mungkin mereka ingin membantu. dan kesian harus membiarkan dirimu
studibivalvia
merinding tapi bikin terang-sang ya kan jel? 🤣
chemistrynana
ALAMAKK TAKUTNYA
arunika25
memangnya hantu tampan itu lebih menakutkan dari hantu biasa. suka posesif gitu padahal baru ketemu.😱
Ani Suryani
hantu cabul
CACASTAR
jujur cerita ini rada bikin merinding tapi campuran romantika saat penggambaran tokoh ya muncul..hantu kok tampan sih
CACASTAR
kenapa jadi gerah bacanya yaaa🤭
CACASTAR
kak Jing Jing ilustrasinya bikin salfok 😄
Blueberry Solenne
Leluhur si Jelitanya jahat banget, wajar lah si Arjuna nuntut haknya, eweh tapi serem ya bagaimana mungkin dua makhluk beda alam bersatu
Greta Ela🦋🌺
Apa2an sih ini hantu. Sadarlah woi kalian ini beda dunia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!