Persahabatan yang solid dari masa sekolah akhirnya harus berkumpul pada satu Batalyon di sebuah daerah perbatasan karena suatu hal. Situasi semakin kompleks karena mereka harus membawa calon istri masing-masing karena permasalahan yang mereka buat sebelumnya.
Parah semakin parah karena mereka membawa gadis mereka yang sebenarnya jauh dari harapan dan tak pernah ada dalam kriteria pasangan impian. Nona manja, bidadari terdepak dari surga + putri sok tau semakin mengisi warna hidup para Letnan muda.
KONFLIK TINGKAT TINGGI. Harap SKIP bila tidak mampu masuk ke dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Soal perasaan.
Mohon maaf Setelah keributan dengan Bu Nurmala usai, bidan tiba tepat waktu dan membantu Dinda masuk kamar yang sudah disiapkan di rumah. Kontraksi semakin kuat, tapi dengan dukungan penuh dari Bang Rama.
Wajah Bang Rama pucat pasi melihat perjuangan sang istri. Mungkin dulu dirinya adalah lelaki yang hanya tau bertempur tanpa rasa takut namun saat melihat perjuangan sang istri yang hanya memiliki dua pilihan setengah mati atau mati, cinta itu semakin luar biasa untuk Dinda.
Setelah memperjuangkan sekuat tenaga, akhirnya lahirlah bayi laki-laki, putra pertama dari Letnan Rama.
//
Sore hari itu. Dira, istri Bang Arben menghubungi dan tiba-tiba merasakan kontraksi yang sangat kuat saat sedang menyiapkan makanan untuk Bang Rico.
"Tolong pulang sebentar ya, Bang. Dira nggak kuat jalan lagi." Rintihnya terdengar dari ponsel.
"Iy, sayang. Abang pulang sekarang ya." Tanpa menunggu berlama-lama lagi, Bang Arben segera pulang. Dalam kepanikan, ia hanya bisa menghubungi teman-temannya untuk menjaga Bang Rico.
Sesampainya di rumah, Bang Arben langsung membawa Dira ke rumah sakit, namun terjebak pohon tumbang di jalan.
Siapa yang mengira, kesibukan yang padat di Batalyon membuat para anggota yang sempat di hubungi Bang Arben tak ada yang datang tepat waktu.
Bang Rico yang tengah terpuruk, tak bisa berpikir jernih, mentalnya benar-benar berada pada titik terendah bagi seorang pria. Ia merasa dirinya gagal menjadi seorang suami, seorang ayah dan beban bagi rekannya yang lain.
Pikiran buruk menguasainya, pernah kehilangan Rania, dosa besar akan masa lalunya, dan kini yang lebih parah adalah kepergian Kinan. Ia pun merasa tidak punya alasan untuk hidup lagi tanpa Kinan. Dengan tangan gemetar, ia mengambil sangkur dari dalam nakas dan mencoba memotong urat nadinya.
Baru saat darah mulai menetes, pintu kamar terbuka. Bang Garin dan Bang Jay yang baru saja pulang dari dinas luar bergegas masuk setelah merasa ada yang salah dalam kesunyian rumah Bang Rico. Ia segera menekan luka di pergelangan tangan Bang Rico dan memanggil ambulans team medis Batalyon.
"Ya Allah, Ric. Banyak istighfar..!!! Kamu tidak bisa seperti ini terus. Kamu harus melanjutkan hidupmu..!!!" Ujar Bang Jay menangisi sahabatnya, begitu pula dengan Bang Garin yang turut prihatin.
***
Bang Ronald mengantar Nira check up kandungan di rumah sakit. Saat dokter menunjukkan hasil USG di layar, kedua mata mereka langsung tertuju pada bayi yang sedang bergerak di dalam perut Nira. Bola matanya sampai berkaca-kaca.
"Alhamdulillah, anaknya sehat sekali Pak. Anak bapak laki-laki." Kata dokter.
"Alhamdulillah." Ucap lirih Bang Ronald.
Bang Ronald merasa dada berdebar begitu kencang. Secara tidak sadar, ia membayangkan bagaimana rasanya merawat anak laki-laki itu, bermain bersama dia, dan melihatnya tumbuh besar. Perhatiannya pada Nira sudah jauh melampaui rasa tanggung jawab semata, hatinya mulai tergerak tanpa ia sadari, rasa semakin dalam yang tidak pernah ia tolak.
Nira sendiri menatap layar USG dengan wajah terpaku. Meskipun ia tidak bisa mengingat masa lalunya, ada rasa hangat yang menyelimuti hatinya. Ia tau, Bang Ronald bukanlah ayah biologis dari bayinya, namun perhatian Bang Ronal melebihi segalanya, lebih dari seorang suami bahkan seorang ayah.
Alam bawah sadarnya yang belum pulih mulai merespon kehadiran Bang Ronald, di dalam hatinya. Nira merasa aman, tenang, dan bahkan mulai merasa nyaman setiap kali dekat dengan pria tersebut. Saat mereka pulang, Nira tidak sengaja memegang lengan Bang Ronald, membuatnya terkejut namun tidak ingin melepaskannya.
:
"Abang suka anak laki-laki?? Hmm.. Maksud Nira anak-anak..." Tanya Nira pelan sebab sejak keluar dari ruang periksa rumah sakit tadi, Bang Ronald tidak sekaku sikap sebelumnya.
"Laki-laki atau perempuan sama saja. asal kamu dan dia sehat. Tapi melihat hasil USG dulu... rasanya seperti sudah bisa membayangkan dia bermain sepak bola atau cerita dengan 'kita' di malam hari."
Seketika Nira menoleh mendengarnya. Kedua bola mata mereka saling bertemu. Secara tidak sadar, ia mengingat sebuah momen samar tentang seorang pria sedang berbicara tentang impian memiliki anak laki-laki, tapi wajahnya sama sekali tidak berbatang dalam pikiran Nira. Namun hatinya berdebar, dan ia tersadar saat tangan Bang Ronald menggapai jemarinya.
"Apakah boleh kalau Abang menjadi ayahnya?" Tanya Bang Ronald. Nira pun terkejut, tapi ia segera menepuk tangan Nira dengan lembut lalu mengusap perut Nira. "Abang siap menjadi apa saja yang kamu butuhkan, Nira. Baik itu pelindung, teman, atau bahkan ayah buat anak ini . Tapi... Abang tidak mau memaksamu. Kalau suatu saat kamu ingat tentang masa lalumu nanti dan ingin mencari orang tersayang dalam hidupmu, Abang akan mengusahakan segala yang terbaik untukmu."
.
.
.
.
pada gelut ga niii kalau ketemu...
makin penasaran mba Nara👍
tetap💪💪🙏
Aduuh...piye to bang Ric....🥹
lanjut mba Nara