NovelToon NovelToon
Suami Instanku Ternyata CEO Yang Ku Benci

Suami Instanku Ternyata CEO Yang Ku Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: fikafiky

Pernikahan impian yang dibayangkan Naya berubah menjadi takdir nekad saat ia terpaksa naik ke pelaminan, menggantikan sang kakak yang kabur tepat sehari sebelum akad. demi menyelamatkan kehormatan keluarganya, Naya pasrah mengikat janji suci dengan pria asing yang bahkan tak pernah ia bayangkan.

Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat tirai malam pertama tersingkap. Pria yang kini sah menjadi suaminya adalah Raka Mahendra—CEO dingin dan arogan yang pernah memanjatkan penderitaan di hidup Naya dengan memecatnya secara sesepihak di depan umum. Pernikahan atas dasar kesepakatan enam bulan pun dimulai dengan kebencian yang masih membakar dada.

Di tengah perang dingin satu atap, benteng pertahanan Raka perlahan runtuh. Sikap ketusnya berganti perhatian samar yang membuat hati Naya berdesir.
Bagaimana keseruan rumah tangga instan yang mereka jalani ??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fikafiky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengunjungi Pak Surya

Sinar matahari pagi merayap pelan menembus celah-celah tirai tipis di dalam ruang VIP Rumah Sakit Medika Utama.

Suasana di lantai empat kini amat berbeda dibandingkan beberapa hari lalu; tak ada lagi langkah tegang para pengawal pribadi yang bersiaga penuh, tak ada pula aura ancaman yang membayang di sudut-sudut koridor. Keheningan yang tersisa hanyalah hembusan pendingin ruangan yang berbisik halus dan aroma antiseptik yang berpadu dengan wangi kelopak bunga krisan putih di atas meja sudut.

Naya duduk di kursi kayu bersandar empuk di samping ranjang medis. Jemari tangannya yang lentik meremas lembut jemari tangan Surya Kanindita yang terasa semakin hangat dan berisi. Di wajah sang ayah, rona pucat yang bertahun-tahun mengendap kini perlahan luntur, berganti menjadi pendar kehidupan yang lebih segar.

Naya tersenyum haru ketika melihat ayahnya mulai menggerakkan jari. Tak lama kemudian, Surya membuka mata perlahan, menatap putrinya dengan pandangan yang masih sedikit lemah.

“Naya...” suaranya serak.

“Iya, Yah. Naya di sini.” Gadis itu segera menggenggam tangannya lebih erat, menahan air mata yang mendesak keluar.

Surya tersenyum tipis. “Maafkan Ayah karena sudah membuatmu melewati semua ini sendirian.”

Naya menggeleng cepat. “Jangan bicara begitu, Yah. Sekarang Ayah sudah membaik. Itu saja sudah cukup membuat Naya bahagia.”

Di ambang pintu, Raka berdiri diam, menyaksikan keduanya dengan tatapan hangat. Untuk pertama kalinya, ia merasa lega melihat senyum Naya kembali merekah.

Di dalam ruangan terdapat layar televisi gantung yang terpasang di sudut ruangan, tayangan berita pagi sedang memuat siaran ulang berita utama. Sosok Hendra Mahendra tampak mengenakan rompi tahanan oranye dengan kedua pergelangan tangan terikat, berjalan menunduk diiringi kawalan ketat petugas kepolisian menuju mobil tahanan. Narasi pembawa berita menggema pelan, memaparkan secara rinci pencabutan seluruh tuduhan atas kasus kebakaran pabrik tekstil delapan tahun lalu, serta permohonan maaf resmi yang dirilis oleh dewan komisaris Mahendra Group kepada nama baik Surya Kanindita.

Surya menatap kembali layar televisi itu tanpa ekspresi dendam. Pandangan matanya yang dahulu kusam dan penuh linglung kini memancarkan kejernihan yang berangsur pulih. Ia mengalihkan pandangannya dari layar kaca, kembali menatap wajah putrinya yang duduk bersandar di tepi ranjang.

"Naya ..." panggil Surya dengan suara parau yang kini jauh lebih bertenaga.

Naya segera menegakkan duduknya, tersenyum amat hangat. "Iya, Ayah? Ada yang terasa sakit? Atau Ayah mau minum?"

Surya menggeleng pelan. Sebuah ukiran senyum haru terbit di bibirnya yang kering.

"Ayah ... seperti terbangun dari mimpi buruk yang sangat panjang, Nak. Rasanya masih tidak percaya, nama Ayah ... kebenaran yang dulu Ayah kejar sampai hampir kehilangan nyawa ... akhirnya didengar oleh dunia."

Air mata bening menggenang di pelupuk mata Naya, namun wanita itu menyapunya cepat dengan ujung jemarinya. "Semua sudah selesai, Yah. Kejahatan Pak Hendra sudah terbongkar sepenuhnya. Sekarang Ayah tidak perlu menanggung beban apa-apa lagi. Ayah hanya perlu fokus untuk sembuh dan istirahat."

Surya mengangguk slowly, lalu matanya beralih ke arah pintu kamar mandi ruangan yang perlahan terbuka.

Raka keluar dari sana setelah membasuh wajahnya. Pria itu sudah tidak mengenakan setelan jas kaku tiga lapis seperti saat menghadiri sidang direksi kemarin.

Pagi ini, Raka tampil jauh lebih santai dengan kemeja katun putih bertangan panjang yang digulung hingga ke siku dan celana kain hitam.

Lengan kanan yang sempat terluka akibat sabetan pisau masih terbebat kassa tipis di balik lengan kemejanya, namun gerakan pria itu sudah tampak jauh lebih leluasa.

"Selamat pagi, Pak Surya," sapa Raka dengan nada suara yang teramat sopan dan hangat, sebuah nada bicara yang tidak pernah ia pergunakan di hadapan jajaran direksi atau mitra bisnis papan atas mana pun.

Surya tersenyum lebar, menyambut uluran tangan Raka yang menggenggam jemarinya penuh hormat. "Selamat pagi, Raka. Terima kasih ... terima kasih banyak untuk semuanya. Kalau bukan karena kamu dan Naya, Ayah mungkin akan membawa sebutan penjahat ini sampai ke dalam kubur."

"Jangan berkata seperti itu, Pak," potong Raka lembut seraya menarik kursi tambahan untuk duduk di samping Naya. "Ini adalah kewajiban saya. Kebenaran memang seharusnya menang, dan keluarga Mahendra berutang besar atas pengorbanan dan kejujuran Bapak selama bertahun-tahun."

Naya menatap Raka dari samping, memperhatikan bagaimana garis-garis tegas di wajah pria itu kini tampak jauh lebih rileks. Tidak ada lagi kerutan dingin di dahinya, tidak ada lagi pandangan tajam penuh prasangka yang dulu selalu menyambut Naya di hari-hari awal pernikahan mereka.

Klek.

Pintu kamar rawat mendadak terdorong dari luar. Ibu Naya, Rahmi, masuk bersama seorang dokter spesialis saraf dan dua orang suster. Wajah Rahmi yang biasanya dipenuhi garis-garis kecemasan dan kelelahan kini tampak begitu bersinar. Ia membawa sebuah kantung berisi pakaian bersih dan beberapa barang pribadi.

"Selamat pagi, Dokter," sapa Raka dan Naya serempak seraya berdiri dari duduk mereka.

Dokter paruh baya berkacamata itu tersenyum ramah, lalu memeriksa grafik perkembangan medis Surya di papan pengawasan. Setelah memeriksa denyut nadi, refleks mata, dan tekanan darah Surya, dokter tersebut berbalik menghadap mereka semua.

"Perkembangan kondisi Pak Surya sangat luar biasa," ujar dokter tersebut dengan nada optimistis. "Saraf-saraf otaknya merespons sangat baik setelah tekanan emosional trauma masa lalunya terangkat. Hasil pemindaian CT-Scan terakhir menunjukkan tidak ada lagi pendarahan atau penyumbatan sisa. Jika perkembangannya stabil seperti ini, besok sore Pak Surya sudah diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan di rumah."

"Benarkah, Dokter?!" seru Rahmi dengan suara bergetar gembira. Tangan senjanya mengusap dada dengan penuh rasa syukur. "Alhamdulillah ya Allah ..."

Naya meremas tangan ibunya gembira, sementara Raka mengangguk mantap pada sang dokter. "Terima kasih banyak, Dokter. Mohon siapkan seluruh fasilitas rawat jalan terbaik dan tim medis pendamping untuk di rumah nanti."

"Baik, Pak Raka. Kami akan siapkan semuanya," jawab sang dokter sebelum pamit meninggalkan ruangan bersama para suster.

Setelah dokter berlalu, kehangatan kembali melingkupi kamar rawat tersebut. Namun di tengah canda tawa kecil antara Rahmi dan Surya yang sedang membahas makanan apa yang paling ingin disantap saat pulang nanti, ponsel pintar di dalam saku kemeja Raka bergetar halus.

Raka merogoh benda itu, melihat nama sang Ibunda, Siska Mahendra, berkedip di layar.

Raka menatap Naya pelan. "Naya, ikut aku sebentar ke luar? Ibu ada di lantai bawah."

Naya mengangguk paham. Ia pamit sebentar pada kedua orang tuanya, lalu berjalan berdampingan bersama Raka menelusuri koridor rumah sakit yang tenang menuju taman terbuka di area belakang gedung utama.

Taman belakang rumah sakit itu ditata dengan sangat asri. Pepohonan hijau yang rindang dan hamparan rumput segar menyerap sisa-sisa embun pagi. Di salah satu bangku kayu yang naungi pohon kamboja, Siska Mahendra duduk anggun mengenakan pakaian kasual berwarna krem.

Di tangannya, tergenggam sebuah cangkir teh hangat yang asapnya masih mengepul tipis.

Saat mendengar langkah kaki Raka dan Naya yang mendekat, Siska meletakkan cangkirnya di atas meja besi, lalu berdiri menyambut kedatangan mereka.

"Ibu," sapa Raka lembut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!