Anindya Maheswari, menikah dengan Raditya Wicaksono tanpa restu dari orang tua Radit karena Anindya hanya seorang yatim piatu dan besar di panti asuhan.
Cinta tulus dari Radit membuat Anindya bertahan, berjuang bersama, banting tulang, memeras otak dan keringat. Memulai segalanya dari nol hingga akhirnya sukses.
Namun, siapa sangka setelah sukses Radit malah berkhianat? Menjalin hubungan dengan gadis yang lebih muda, memiliki seorang anak, dan bahkan selingkuhan itu sedang hamil lagi.
Membawa amarahnya yang membara, Anindya bertekad mengembalikan Radit dan keluarga nya ke keadaan semula.
“Kamu lupa satu hal. Jika aku bisa membuatmu sukses, aku juga bisa membuatnu hancur!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
.
Suasana di dalam ruangan lelang tender yang tadinya sedikit riuh oleh suara bisik dan obrolan antar pengusaha, perlahan-lahan menjadi hening saat pembawa acara yang ditunjuk untuk memandu jalannya acara tersebut, seorang pria tampan berjas rapi naik ke atas panggung dan berdiri di belakang podium mikrofon.
"Selamat siang dan salam sejahtera untuk Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian," sapanya dengan suara yang lantang dan jelas menggema ke seluruh penjuru ruangan.
"Terima kasih kami ucapkan atas kehadiran Bapak dan Ibu semua yang telah meluangkan waktu untuk hadir dalam acara pelelangan tender proyek pembangunan infrastruktur skala nasional ini. Kami tahu, banyak sekali perusahaan besar dan ternama yang antusias untuk ikut serta dalam kesempatan emas ini."
Pria itu tersenyum profesional sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh hadirin.
"Seperti yang kita ketahui bersama, proyek ini bukan hanya sekadar proyek biasa. Nilainya yang mencapai triliunan rupiah membuktikan betapa besarnya kepercayaan yang diberikan, serta tanggung jawab yang akan dipikul oleh pemenang nantinya. Oleh karena itu, proses pemilihan kali ini dilakukan dengan sangat ketat, transparan, dan demi mencari pihak yang benar-benar mampu memberikan yang terbaik."
Raditya di kursinya hanya mengangguk malas sambil tersenyum miring. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Anindya, dan berbisik, ‘'Kamu lihat, Anin. Itu cuma formalitas doang. Basa-basi. Tapi ujung-ujungnya tetap aku yang dapat,’'
"Oh, ya? Aku jadi tidak sabar menunggu," ucap Anin seolah percaya apa yang dikatakan oleh pria yang sampai saat ini masih berstatus sebagai suaminya.
"Dan sekarang..." suara MC meninggi, membuat seluruh tubuh hadirin seketika menegang. "Tanpa berlama-lama lagi, mari kita sambut kedatangan sosok yang kita tunggu-tunggu. Pemilik dari grup perusahaan terbesar di negeri ini..."
"Yang terhormat, Tuan Purnama!!"
Pembawa acara berseru lantang dengan telapak tangan mengarah pada pintu utama di belakang ruangan yang seketika terbuka bersamaan.
Semua kepala serentak menoleh ke belakang. Sorot mata semua orang tertuju pada sosok yang baru saja melangkah masuk.
Seorang pria paruh baya dengan postur tubuh yang tegap dan gagah berjalan dengan langkah yang tenang namun penuh wibawa. Wajahnya teduh namun tajam, menatap lurus ke depan dengan aura yang begitu kuat. Di kanan dan kirinya, beriringan beberapa pria berjas hitam dan berkacamata hitam yang tampak sigap, menjaga keamanan bos besar.
Itulah Tuan Purnama. Sosok yang namanya selalu disebut-sebut, namun sangat jarang orang bisa bertemu langsung.
Seluruh ruangan seolah menahan napas. Semua peserta, termasuk para CEO besar lainnya, langsung berdiri dari tempat duduk mereka sebagai bentuk penghormatan.
Raditya pun ikut berdiri, dadanya membusung bangga. ‘'Lihat Anin, ini adalah levelku. Orang sehebat Tuan Purnama pun akan bekerja sama denganku,'’ bisiknya lagi di telinga istrinya.
Dan lagi, Anindya hanya mengangguk dan tersenyum, padahal dalam hatinya berkata, “Kalau kamu se-percaya diri ini, aku tidak akan tanggung jawab jika nanti kamu langsung terkena stroke.”
Tuan Purnama hanya menganggukkan kepala pelan membalas sapaan semua orang, lalu terus berjalan menaiki tangga kecil menuju panggung utama tepat di samping podium.
Setelah berdiri di tengah panggung, Tuan Purnama mengambil alih mikrofon yang diukur kan oleh pembawa acara. Ia mengedarkan pandangan tajamnya ke seluruh penjuru ruangan, menatap satu per satu wajah orang-orang di hadapannya, seolah mampu menembus isi pikiran mereka.
"Selamat siang," sapanya singkat namun berwibawa.
"Silakan duduk," ucapnya santun, namun seolah memiliki kekuatan untuk dipatuhi.
Semua orang kembali duduk dengan tertib tanpa suara.
"Saya melihat banyak wajah-wajah baru dan juga lama hari ini," mulai Tuan Purnama. "Saya tahu, semua yang hadir di sini membawa modal besar, tenaga, dan juga keinginan yang kuat untuk memenangkan tender ini. Dan saya menghargai itu semua."
"Tapi, perlu Bapak dan Ibu ketahui. Bagi saya dan perusahaan, uang bukanlah segalanya. Kepercayaan, reputasi, dan kemampuan untuk menjaga visi jangka panjanglah yang menjadi kunci utama. Karena proyek ini bukan hanya soal membangun gedung atau jalan, tapi membangun kepercayaan untuk masa depan."
Tuan Purnama berhenti sejenak, matanya menyapu seluruh ruangan hingga akhirnya berhenti tepat di barisan depan, di mana Raditya dan Anindya duduk bersebelahan.
"Oleh karena itu, hari ini kita akan memilih pemenangnya dengan benar-benar adil. Tidak ada yang namanya 'hak khusus' atau 'kawan lama' yang bisa memuluskan jalan tanpa melalui penilaian yang ketat," ucapnya tegas, seolah ada pesan tersirat yang ditujukan khusus pada seseorang.
Setelah memberikan sambutan, Tuan Purnama tersenyum tipis lalu menoleh ke arah pembawa acara.
"Baiklah, saya rasa tidak perlu berlama-lama. Silakan lanjutkan acaranya," ucapnya seraya mundur dan duduk di kursi utama yang telah disediakan di tengah panggung, dengan dua orang ajudan berdiri tegak di belakangnya.
"Baik, terima kasih Tuan Purnama," sahut MC. "Seperti yang telah disampaikan, sekarang saatnya para peserta untuk mempresentasikan proposal dan penawaran terbaik mereka. Kami akan memanggil satu per satu secara acak..."
Presentasi pun dimulai. Pembawa acara memanggil nama satu persatu.
Ketika tiba gilirannya dipanggil, dengan angkuh, Raditya maju ke depan, berdiri gagah di depan layar proyektor, memancarkan aura kesombongan yang kental.
"Hadirin sekalian, Tuan Purnama," ucapnya lantang. "Yang berdiri di hadapan Anda saat ini adalah pemimpin dari RA Group. Perusahaan ini bukan perusahaan sembarangan. Ini adalah bukti nyata dari jerih payah dan kerja keras saya seorang diri membangun dari nol hingga menjadi raksasa seperti sekarang."
Raditya menepuk dadanya sendiri bangga. "Saya yang merancang strategi, saya yang mencari modal, dan saya yang mengatur segalanya. Tanpa ketangguhan saya, mungkin perusahaan ini tidak akan pernah ada."
Seketika, suasana di bawah panggung menjadi gaduh. Bukan karena terkesan, tapi karena kaget dan geram.
Suara bisik-bisik mulai terdengar di seluruh ruangan. Para pengusaha tua yang memang sudah lama mengenal mereka saling pandang dengan wajah tidak suka. Mereka tahu persis betapa besar kontribusi Anindya, dan betapa tidak tahu malunya Raditya saat ini.
"Kenapa Tuan Radit bicara seperti itu? Dia bilang hasil kerja kerasnya seorang diri?"
"Bukankah dulu Bu Anindya juga ikut mbangun perusahaan itu?”
“Iya benar! Saya bahkan bisa bersaksi, saya melihat sendiri waktu Bu Anin melobi kesana kemari, mencari investor.”
“Bahkan menurut saya, peran Bu Anindya lebih besar daripada Tuan Radit yang hanya duduk tanda tangan.”
“Dia seperti kacang yang lupa kulitnya.”
"Dasar tidak tahu malu... Apa dia pikir mata semua orang ini buta?”
"Kasihan Bu Anin, duduk manis di sana tapi suaminya malah menghapus jasa seenaknya."
Di atas panggung, Raditya yang tidak peka terhadap bisikan-bisikan sinis itu justru merasa bangga. Ia mengira semua orang terpesona oleh ucapannya.
Di bawah panggung, Anindya duduk di kursinya dengan kepala tertunduk seolah sedang sangat bersedih. Padahal dalam hatinya tertawa terbahak-bahak.
"Dasar bodoh!’' makinya dalam hati. “Bukan menawarkan proposal malah pamer omong kosong. Di depan Tuan Purnama pula. Kamu tidak tahu cara main dunia bisnis, Radit. Semakin kamu meninggi, semakin orang merendahkanmu! Ayo lanjutkan! Klaim saja semuanya sebagai milikmu, Radit. Tapi kamu tidak tahu, itu malah membuat borokmu terkelupas!"
‘
Orng lain aja tau spa yg lbih pntr,tp dia msih bs songong tnpa tau kl dia ga bsa apa2 tnpa anin.....
heraaaannn....sbnrnya pas pmbgian otak,dia kbgian ga sihhhh?????🤣🤣🤣