Setelah 8 tahun, Dara bertemu lagi dengan Luth, mantan pacarnya saat SMA yang dulu koma karenanya. Bukan hanya fisik sang mantan yang berubah jadi tampan, tapi ternyata, Luth juga tak mengenalinya.
"Kamu benar-benar tidak mengenaliku?" Dara menatap tak percaya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Luth terlihat bingung.
Dara semakin merasa bersalah, karena kemungkinan Luth hilang ingatan karena benturan keras yang sampai membuat dia koma 8 tahun lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Dengan ditemani kedua orang tuanya, Dara ke kantor polisi pagi itu. Cukup lama dia disana, sampai keringat dingin dan gemetaran karena dicecar banyak sekali pertanyaan. Keluar dari kantor polisi, bukan berarti ia bisa bernafas lega, karena setelah dari sana, kedua orang tuanya mengajaknya ke rumah sakit. Mereka ingin melihat kondisi Luth sekaligus minta maaf pada keluarganya.
Dara mencengkram erat lengan Maminya saat kaki mereka baru saja menginjak lantai rumah sakit. Ia takut berhadapan dengan keluarga Luth, mereka pasti marah padanya.
"Permisi, apa pasien atas nama Luth Kael Nugraha masih di ICU?" tanya Papi Ojan pada bagian informasi.
"Sebentar ya Pak, saya cek dulu."
Wanita berpakaian serba putih tersebut lalu menunduk, mengecek di komputernya. Beberapa saat kemudian, kembali menatap Ojan sambil tersenyum ramah.
"Pasien atas nama Luth Kael Nugraha ya?" Ulangnya untuk memastikan.
"Iya, benar."
"Mohon maaf, pasien atas nama Luth, sudah tidak dirawat lagi disini."
Deg
Jantung Dara rasanya langsung merosot ke perut. Tidak dirawat lagi? Apa ini artinya Luth sudah...
"Pasien tersebut sudah dipindahkan," lanjut pegawai administratif.
"Pi, pindah?" tanya Dara. "Dia belum meninggalkan?" Jantungnya berdegup kencang, tangannya memegang erat lengan Maminya.
"Belum. Pasien di pindahkan ke rumah sakit lain."
Jawaban itu membuat Dara sedikit merasa tenang. Setidaknya ia masih bisa bertemu Luth untuk meminta maaf.
"Kalau boleh tahu, dipindahkan ke rumah sakit mana ya?" tanya Papi Ojan.
"Mohon maaf, untuk informasi rumah sakitnya, kami tidak bisa memberi tahu. Itu di luar kewenangan kami."
"Kami hanya ingin menjenguknya," ujar Dara. "Tolong, beritahu kamu dimana dia dipindah."
"Sekali lagi kami mohon maaf, tidak bisa memberikan informasi mengenai itu."
"Tolong, saya ingin bertemu dengannya." Dara sedikit memaksa.
"Dara." Mami Nisa menggeleng, memberi isyarat pada Dara agar tidak bersikap seperti itu. Mareka harus menghormati peraturan rumah sakit.
Mereka akhirnya meninggalkan rumah sakit tanpa kejelasan dimana Luth saat ini dan bagaimana kondisinya.
"Papi yakin, Luth dipindahkan ke luar negeri." Ojan yang sedang mengemudi, menoleh pada Nisa yang duduk di sampingnya.
"Aku juga mikir begitu," sahut Nisa. "Rumah sakit tadi yang terbesar sekaligus terlengkap fasilitasnya di Jakarta, mustahil mereka pindah ke rumah sakit yang lebih kecil."
Di bangku belakang, Dara menyandarkan kepala di keca jendela. Ia terus menangis sejak masuk mobil hingga kini hampir sampai di rumah.
"Papi akan datang ke kantor orang tua Luth untuk menanyakan keberadaannya sekaligus minta maaf. Nanti kita cari waktu untuk bisa jenguk Luth di luar negeri."
"Itu ide yang bagus. Bagaimanapun, kita wajib ikut bertanggung jawab atas perbuatan Dara." Nisa menoleh ke belakang, menatap putrinya yang melamun sambil terus menangis.
Sesampai di rumah, Dara langsung masuk kamar. Ia duduk di kursi meja belajarnya, menarik laci, mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sana. Kotak tersebut, berisi beberapa barang pemberian Luth. Ia mengambil sebuah gelang rantai mas putih yang diberikan Luth saat mereka baru jadian. Ia masih ingat, bagaimana mereka jadian waktu itu.
Pagi itu, Dara menunggu Luth di dekat gerbang sekolah. Begitu melihat Luth turun dari mobil yang mengantarnya, la langsung tegang.
Senyum Luth mengembang lebar melihat Dara ada di dekat gerbang. Langkah kakinya makin cepat ke arah gadis itu.
"Hai Dara..." Sapa Luth riang. Ia berhenti di depan Dara, memegangi kedua tali tas ransel di pundaknya sambil senyum-senyum.
"Ikut aku." Dara menarik lengan Luth, mengajaknya ke suatu tempat.
Kaki Luth mengikuti kemana Dara menariknya, sementara matanya hampir tak bisa lepas menatap tangan Dara yang memegangi pergelangan tangannya. Sebuah sentuhan kecil yang mungkin tak berarti apa-apa bagi Dara, namun tidak baginya. Jantungnya terasa seperti mau meledak karena sentuhan sederhana itu.
"Dara, sini aku bawain tas kamu," tawar Luth.
"Gak usah."
Dara terus saja menarik Luth hingga berhenti di dekat lab kimia yang lumayan sepi. Ia melepaskan tangan laki-laki itu, menatapnya sampai Luth salah tingkah.
"Ka, kamu ngapain ngajak aku kesini?" tanya Luth gugup, ia menunduk, menghindari tatapan Dara yang membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
"Kamu pernah nembak aku lima kali."
"I, ya."
Dara menghela nafas panjang sebelum akhirnya berkata. "Aku mau jadi pacar kamu."
"Hah!" Luth langsung mengangkat wajah. "A, apa? Bisa kamu ulangi lagi."
"Budek lo!" Dara melipat kedua lengan di dada, ekspresi wajahnya tampak kesal.
"Eng, enggak, aku cuma mau memastikan." Luth menggigit bawahnya, perasaannya membuncah, sampai ia tak tahu harus berkata apa.
"Aku mau jadi pacar kamu." Dara mengulang sekali lagi.
"I, ini gak bercanda kan?" Ia mencubit tangannya sendiri, takut jika saat ini, dia sedang tidur dan bermimpi indah. Tapi ia merasakan sakit. Ini bukan mimpi, ini kenyataan.
Dara melihat jam di ponselnya. "Aku kembali ke kelas dulu, udah mau bel."
"Dara tunggu!" Luth melangkah ke depan Dara. "Kita... pacaran sekarang?" Ia seolah sedang memastikan sekali lagi.
"Iya."
Senyum Luth merekah makin lebar. Ia menutup wajah dengan kedua telapak menyembunyikan senyum bahagia sekaligus malu-malu.
Dara sampai geleng-geleng melihat reaksi berlebihan Luth. Ia sebenarnya tak sungguh-sungguh ingin pacaran dengan Luth. Ia melakukan itu hanya supaya setelah ini, bisa lebih bebas, tak selalu diikuti Elang. Diego sudah tahu soal ini, setuju dia pura-pura jadian dengan Luth.
"Aku pergi dulu."
"Dara, tunggu!" Luth mengejar gadis itu, berhenti di depannya. "Apakah mulai sekarang, aku boleh bilang kangen ke kamu?"
"Terserah."
"Apa aku boleh panggil kamu sayang?"
Dara membuang nafas kasar. "Asal gak di depan orang."
Luth mencengkeram kedua tas ransel di pundaknya. "Dan apa...kita akan pergi kencan saat Sabtu atau Minggu?"
"Nanti aku pikirkan. Aku ke kelas dulu." Dara buru-buru pergi.
"Dara tunggu!' Luth kembali menahannya.
"Ada apa lagi?" Dara tampak kesal.
"E...I love you."
"Astaga." Dara membuang nafas kasar. "Aku harus kembali ke kelas. Awas kamu panggil aku lagi."
Luth mengangguk faham, lalu membiarkan Dara pergi. Ia berjalan menuju kelasnya dengan langkah yang lebih ringan daripada sebelumnya. Ia menyapa siapa pun yang lewat.
"Pagi..." Tak pernah sebelumnya, ia merasakan pagi seindah ini.
Keesokan harinya, Luth mendatangi Dara di kelasnya. Melihat Luth datang, buru-buru Dara keluar, menarik cowok itu tempat yang agak sepi.
"Mau ngapain kamu ke kelas aku?" Dara menatap Luth tajam.
"Emang nyamperin pacar ke kelasnya gak boleh ya?"
"Enggak. Gak boleh."
'Kenapa?" Luth terlihat kecewa.
"Udah deh, gak usah banyak tanya. Mau ngapain nyamperin aku?"
"E...aku kangen." Luth tersenyum malu-malu.
"Astaga, cuma itu." Dara melotot.
"Bukan hanya itu, tapi aku mau ngasih sesuatu buat kamu." Luth merogoh saku baju seragamnya, mengeluarkan sebuah gelang rantai dari mas putih. "Aku mau ngasih ini ke kamu, hadiah jadian kita."
Dara langsung menarik gelang itu, memasukkan ke dalam saku baju. "Udah, sekarang kamu pergi."
"Tapi..."
"Tapi apa lagi?"
"Aku pengen makein ke tangan kamu."
'Gak usah, aku bisa pake sendiri." Dara lalu pergi setelah itu. Ia bahkan tak menghiraukan saat Luth memanggilnya.
tapi ya gitu memastikan apa Dara cinta sama Luth saat ini ketika penampilan nya berbeda di banding ketika SMA ternya Anya gayung bersambut,,,maka. dari itu
Luth mengejar Mu. dan ya sedikit bikin ulah 🤣peran pembantu nya Valeri Bia,,makanya Luth percaya kalau ada Diego karena Luth sudah melihat sebelumnya,,,kayanya satpam dan pegawai hotel yang. membantu. Diego keluar sedangkan Luth sibuk meredakan ketakutan Dara,,,,ya sudah Luth ngaku saja
kalau Luth sudah ingat. sudah. keceplosan
🤭🤭 up lupa Luth bilang Diego 🤣🤣🤣🤣
ko bisa menghilang