Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33. Pengen Disuapi Dia
Elden kembali ke rumah sakit dengan beberapa kantong makanan di tangannya.
Sejak meninggalkan tempat itu tadi, pikirannya terus tertuju pada Dea. Ia tahu perempuan itu mungkin akan menunjukkan reaksi yang sama jika melihatnya datang mendekat. Tatapan ketakutan itu masih membekas di dalam benaknya.
Karena itulah, Elden memutuskan untuk tidak menemui Dea secara langsung.
Ia menghentikan seorang perawat yang kebetulan melintas di koridor.
“Permisi, Suster. Bisa bantu saya untuk memberikan ini kepada Dea?”
Perawat itu menatap kantong makanan di tangannya, lalu beralih menatap Elden dengan heran. “Bapak siapa?”
Elden pun merasa bingung. Sebenarnya dia ini sebagai 'siapa?' bagi Dea.
Suami?
Bukan. Ia sendiri yang telah menghancurkan pernikahan mereka. Ia sendiri yang menjatuhkan talak dan meninggalkan Dea dalam merana. Tentu saja ia tak pantas menyebut dirinya 'suami' bagi Dea.
“Saya kenalannya,” jawab Elden akhirnya.
Perawat itu mengangguk kecil. “Baik. Nanti saya sampaikan.”
Elden menyerahkan kantong makanan tersebut, tetapi sebelum perawat itu pergi, ia kembali membuka suara.
“Kalau boleh tahu, apa saya bisa sarapan di sini juga?”
Perawat itu mengerjapkan mata, kemudian terkekeh pelan. “Boleh, Pak. Silakan sarapan di tempat ternyaman Bapak.”
“Baik. Terima kasih.”
Perawat itu melanjutkan perjalanan. Elden menunggu beberapa saat dan diam-diam mengikutinya.
Ia tidak ingin Dea melihatnya.
Setidaknya, ia ingin memastikan Dea menerima makanan tersebut tanpa merasa terancam oleh kehadirannya.
Dari balik sudut koridor, Elden melihat perawat tadi memasuki ruangan tempat Dea berada.
Dea yang sedang memeriksa beberapa catatan segera mengangkat wajah. “Ini untuk saya, Suster?”
“Iya. Ada yang menitipkan sarapan untuk Mbak Dea.”
Dea mengerutkan kening. “Siapa?”
“Katanya kenalan Mbak Dea.”
Perawat itu meletakkan kantong makanan di atas meja, kemudian pamit setelah menyampaikan beberapa kalimat singkat.
Dea masih memandangi kantong tersebut dengan wajah heran.
Sementara itu, Elden hanya bisa memperhatikan gerak-geriknya dari kejauhan
Setelah beberapa waktu, akhirnya Dea membuka kantong itu, tampak beberapa kotak makanan tersusun rapi di dalamnya. Ada bubur hangat, roti, serta beberapa camilan.
Dea terdiam cukup lama. Ia ragu apakah harus menerima atau mungkin membuangnya?
Perlahan, tangan Dea turun menyentuh perutnya.
Di balik pakaian yang dikenakannya, ada seorang anak yang butuh nutrisi. Kebetulan dia belum sarapan hingga akhirnya ia memutuskan untuk memakannya.
Dan pria yang menjadi ayah anak tersebut kini berada tidak jauh darinya.
Elden menatap tangan Dea yang menyentuh perutnya. Sudut bibirnya bergerak sedikit ketika melihat perempuan itu membuka salah satu kotak makanan.
“Jadi, dia memang belum sarapan?"
Pikiran itu melintas begitu saja.
“Kenapa dia belum makan? Apa dia tidak punya uang?”
Elden terdiam.
Ia teringat kehidupan Dea setelah akad nikah mereka selesai. Terlebih, ia masih mengingat sikap ibu Dea di saat semuanya telah bubar.
Ibunya seolah tidak peduli pada dirinya, tidak berusaha menahannya, tidak pula mempertanyakan keputusan buruk yang telah dibuatnya.
Saat itu, Elden menganggap semuanya tidak penting.
Namun, sekarang, ketika ia melihat Dea menjalani hari-harinya seorang diri, ada sesuatu yang menghantam dadanya begitu keras.
Ia bahkan tidak tahu apakah Dea memiliki seseorang yang memperhatikannya ketika sakit, seseorang yang mengingatkannya untuk makan, atau seseorang yang menemaninya ketika malam terasa terlalu panjang.
Selama ini, Elden tidak pernah memikirkan semua itu. Ia terlalu sibuk membenci Dea hingga lupa bahwa perempuan itu juga manusia.
Elden memejamkan mata.
Rasa bersalah itu kembali menghunjam tepat di jantungnya.
“Harusnya ... aku bertahan menjadi suamimu.” Kalimat itu keluar begitu lirih, nyaris tidak terdengar.
Namun, sesaat kemudian, Elden menyadari sesuatu yang jauh lebih menyakitkan. Dia tidak lagi memiliki hak untuk meminta Dea kembali menjadi istrinya.
Elden kemudian berjalan menuju sudut koridor yang agak sepi. Ia duduk berjongkok di dekat dinding, meletakkan kantong makanannya di lantai, lalu membuka salah satu kotak.
Aroma makanan hangat tercium, tetapi ia justru kehilangan selera. Matanya kembali mencari sosok Dea dari kejauhan.
Perempuan itu mulai menyantap sarapannya perlahan.
Elden menatapnya dalam diam.
Dalam khayalannya, ia membayangkan duduk di hadapan Dea. Perempuan itu tersenyum kecil, mengambil sesendok bubur, lalu menyuapkannya ke mulutnya.
Bayangan sederhana itu terasa begitu nyata hingga Elden tanpa sadar membuka mulut sedikit, seolah benar-benar sedang menerima suapan darinya.
Namun, ketika ia tersadar, yang ada di hadapannya hanyalah kotak makanan dan lorong rumah sakit yang lengang.
Senyum tipis yang sempat muncul di bibirnya perlahan menghilang. Air mata mulai jatuh membasahi pipinya.
Elden buru-buru menyekanya, tetapi air mata berikutnya kembali menetes.
Ia tetap menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri, meski rasanya hambar. Sesekali, ia melirik Dea, berharap perempuan itu akan menoleh ke arahnya.
Namun, Dea tidak pernah melakukannya.
Kini, ia hanya bisa membayangkannya dari kejauhan. Tanpa berani mendekat.
Dan tanpa tahu apakah suatu hari nanti Dea akan mengizinkannya berada di dekatnya lagi.
“Dea ...”
Nama itu terucap di antara isak yang berusaha ia tahan.
Elden menunduk semakin dalam, membiarkan air matanya jatuh tanpa suara.
Ia begitu tenggelam dalam penyesalannya hingga tidak menyadari bahwa seseorang telah berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Sosok itu memperhatikan tingkah lakunya sejak tadi, dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
Bersambung.
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella