Ketika mahkota kekaisaran ternoda oleh keserakahan dan tirani seorang saudara kandung, seorang putri yang terbuang harus bangkit dari abu pembantaian.
Diasingkan sejak lahir di Desa Bunga Lotus, Zhao Lianhua tidak pernah tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah kekaisaran. Namun saat pedang istana membakar rumah dan menghancurkan kedamaiannya, ia terpaksa mengambil pedang demi keadilan rakyat jelata!
Bisakah seorang putri terbuang menumbangkan kerajaan yang dipimpin oleh saudara kandungnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Tawa Kecil di Lembah Lotus
Tahun-tahun berlalu bagai kepakan sayap burung camar di atas Lembah Bunga Lotus. Bekas-bekas pembantaian dan api yang pernah membakar desa perlahan-lahan terkubur di bawah tanah yang subur.
Atas gotong royong para veteran perang dan warga yang selamat, Desa Bunga Lotus bangkit kembali. Rumah-rumah panggung beratap jerami berdiri kokoh, dan rawa-rawa di sekitar lembah kembali dipenuhi oleh hamparan bunga lotus yang mekar mempesona.
Sejak malam berdarah itu, Tuan Zhao memegang teguh janjinya. Ia merawat bayi Lianhua dengan kasih sayang penuh seorang ayah, dan merahasiakan identitas darah bangsawan sang putri dari dunia luar.
Namun, Tuan Zhao tidak membesarkannya seorang diri. Seluruh warga lembah, mulai dari para veteran perang berbaju lusuh, ibu-ibu penenun, hingga para tetua desa, ikut mengasuh Lianhua kecil.
Bagi mereka, Lianhua bukan hanya sekadar anak yatim piatu, melainkan simbol harapan dan cahaya yang menyatukan mereka di tengah penderitaan.
Kini, Lianhua telah tumbuh menjadi seorang bocah perempuan berusia lima tahun. Keindahannya mulai memancar alami; kulitnya seputih kelopak lotus fajar, matanya jernih berbinar bagaikan telaga bening, dan senyumnya memiliki kehangatan ajaib yang sanggup meluluhkan hati siapa pun yang menatapnya.
Suara tawa renyah melengking memecah keheningan pagi di tepi ladang gandum.
"Ayah Zhao! Tangkap aku kalau bisa!" seru Lianhua kecil sambil berlari kencang.
Kakinya yang mungil bertelanjang menapak lincah di atas tanah lembap, sementara gaun kain linen sederhananya yang berwarna merah muda melambai-lambai ditiup angin pagi. Rambut hitamnya yang dikuncir dua bergoyang-goyang seirama dengan langkah kakinya.
Di belakangnya, Tuan Zhao berjalan santai dan berpura-pura mengejarnya dengan langkah berat dan wajah ditekuk yang berpura-pura galak.
"Pencuri mantel kecil! Kembalikan topeng bambuku!" seru Tuan Zhao berpura-pura terengah-engah, dan berusaha menahan senyum bangga yang hampir meledak di wajahnya yang penuh bekas luka parut.
Lianhua berlari menuju gubuk tempa besi milik Paman Han, seorang mantan prajurit bertubuh kekar yang kini menjadi pandai besi desa.
"Paman Han! Tolong aku! Ayah Zhao mau menangkapku!" jerit Lianhua sambil bersembunyi di balik tubuh besar Paman Han, sembari memegang erat celana kain sang pandai besi.
Paman Han yang sedang menggemblok besi panas langsung menghentikan palunya. Wajahnya yang gersang dan penuh keringat mendadak melunak seketika saat melihat wajah mungil Lianhua yang mengintip dari balik badannya dengan mata berkedip-kedip polos.
"Oho! Siapa yang berani mengganggu Putri Bunga kita?" kelakar Paman Han sambil tertawa terbahak-bahak. Ia kemudian berbalik dan pasang badan menghadap Tuan Zhao. "Panglima Zhao, jika kau ingin menangkap anak ini, kau harus berhadapan dengan palu tempa milikku dulu!"
Tuan Zhao berhenti, lalu bersedekap dada sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Han, kau terlalu memanjakannya. Lihat, dia menyembunyikan peralatan ukirku lagi di atas pohon bambu."
Lianhua tertawa kecil, sambil menjulurkan lidahnya dengan jenaka. "Habisnya Ayah Zhao terus saja mengukir kayu dari pagi! Ayah harus makan bubur manis buatan Bibi Mei!"
"Aiya, bocah pintar!" Dari arah dapur umum desa, Bibi Mei, seorang wanita paruh baya yang hangat melangkah keluar membawa mangkuk tanah liat berisi bubur gandum kacang merah yang masih berasap. "Lianhua benar, Zhao. Kau ini terlalu kaku. Sini, Lianhua sayang, Bibi sudah buatkan bubur kesukaanmu."
"Terima kasih, Bibi Mei!" Lianhua melompat gembira, sambil menerima mangkuk itu dengan kedua tangan mungilnya dengan penuh sopan santun. Ia lalu duduk di atas bale-bale kayu di luar bengkel tempa, dan menikmati buburnya dengan lahap hingga sisa kuah manis menempel di pipinya.
Warga desa yang lalu lalang mulai dari bapak-bapak yang membawa cangkul, para ibu yang memikul keranjang kain, hingga anak-anak sebayanya, semuanya menyapa Lianhua dengan hangat.
Masing-masing dari mereka menyimpan rahasia besar tentang siapa sebenarnya bocah kecil ini, namun dalam pengasuhan mereka sehari-hari, Lianhua dididik menjadi anak desa biasa yang rendah hati, tangguh, dan penuh kasih sayang.
Meskipun Lianhua dibesarkan sebagai anak biasa, tanda-tanda keistimewaan dalam dirinya tidak bisa disembunyikan. Ia memiliki ketajaman insting dan kelincahan yang luar biasa untuk anak seusianya.
Sore harinya, Tuan Zhao mengajak Lianhua ke hutan bambu di pinggir sungai. Ini adalah rutinitas mereka setiap sore. Tuan Zhao mulai mengajarinya dasar-dasar keseimbangan dan pernapasan, bukan sebagai latihan membunuh, melainkan sebagai bentuk perlindungan diri.
"Lianhua," panggil Tuan Zhao lembut, seraya duduk bersila di atas batu datar. "Tutup matamu. Dengar suara angin yang berhembus menembus daun bambu."
Lianhua kecil ikut duduk bersila di atas rumput. Ia memejamkan mata, dan memiringkan kepalanya sedikit. "Aku mendengarnya, Ayah. Ada suara gemerisik... dan ada suara kepakan sayap burung di atas sana."
"Bagus," puji Tuan Zhao. "Seorang anak dari lembah ini harus bisa merasakan bahaya bahkan sebelum matanya melihatnya. Sekarang, berdiri di atas satu kaki di atas tunggul kayu itu tanpa jatuh selama seratus hitungan."
Lianhua kemudian melompat berdiri di atas tunggul kayu yang licin berlumut. Kakinya sempat bergoyang sedikit, tetapi dengan cepat ia menyesuaikan napasnya.
Wajah kecilnya yang cantik berubah menjadi sangat serius dan penuh fokus, hingga memancarkan aura keteguhan yang sangat mirip dengan almarhumah ibunya, Selir Meizhen.
Tuan Zhao menatap anak itu dengan pandangan haru. 'Ia tumbuh begitu cepat,' batinnya. 'Darah kekaisaran dalam dirinya mulai berbisik, tetapi kebaikan hati warga desa inilah yang akan membentuk jiwanya menjadi seorang pemandu rakyat.'
Tiba-tiba, saat hitungan mencapai delapan puluh, Lianhua membuka matanya lebar-lebar. Ia menoleh ke arah semak-semak gelap di tepi sungai.
"Ayah..." bisik Lianhua pelan, suaranya berubah menjadi waspada. "Ada yang aneh di balik semak itu."
Tuan Zhao menyipitkan matanya. Tangannya secara refleks bergerak mendekati gagang pisau pemburu di pinggangnya. "Ada apa, Lianhua?"
"Ada suara langkah kaki... tapi bukan langkah kaki warga desa. Langkahnya sangat berat dan berbau besi," ujar Lianhua dengan polos namun tepat sasaran.
Tuan Zhao melangkah pelan mendekati semak-semak, dan meletakkan Lianhua di belakang tubuhnya. Dari balik pepohonan bambu yang rapat, muncul dua orang pria bertubuh tegap berpakaian pemburu lusuh.
Namun, mata Tuan Zhao yang berpengalaman langsung menangkap sepatu boot kulit hitam bertulang besi yang mereka kenakan, sepatu standar milik pengintai kerajaan!
Kedua pria itu terkejut melihat Tuan Zhao dan Lianhua. Salah satu dari mereka memandangi wajah Lianhua dengan teliti, lalu melirik gambar buronan tua di gulungan kertas yang tersembunyi di balik jubahnya.
"Paman, kalian mencari siapa?" tanya Lianhua tiba-tiba sambil melangkah dari balik tubuh Tuan Zhao, dan menatap kedua pengintai itu dengan pandangan jernih tanpa rasa takut.
Pengintai pertama menyeringai dingin. "Kami hanya pemburu tersesat, Bocah..." Namun tangannya perlahan memegang gagang belati di pinggangnya.
Sebelum pengintai itu sempat menarik senjatanya, Tuan Zhao sudah bergerak cepat bagai bayangan.
Dengan satu gerakan memutar yang kuat, Tuan Zhao mendaratkan pukulan telapak tangan tepat di dada pengintai pertama hingga pingsan seketika, lalu menendang pergelangan tangan pengintai kedua hingga belatinya terpental jatuh ke sungai.
Brak!
Dalam hitungan detik, kedua pengintai istana yang mencoba menyusup ke Lembah Lotus berhasil dilumpuhkan oleh Tuan Zhao tanpa sempat mengeluarkan suara gertakan.
Lianhua membelalak kaget, bukan karena takut melihat perkelahian itu, melainkan karena kagum pada gerakan ayahnya. "Wah! Ayah Zhao hebat sekali!"
Tuan Zhao menghela napas berat, lalu memeriksa pakaian kedua pengintai itu. Ia menemukan lambang rahasia Burung Enggang milik faksi Permaisuri di balik lipatan baju mereka dan hatinya pun mencelos.
'Istana... mereka masih terus menyebar mata-mata hingga ke pelosok lembah ini,' batin Tuan Zhao gusar. 'Garis takdir tidak bisa dihindari selamanya.'
Tuan Zhao berlutut di hadapan Lianhua, dan memegang kedua bahu kecil anak itu dengan lembut namun penuh penekanan.
"Lianhua," ujar Tuan Zhao menatap dalam-dalam ke mata jernih sang putri. "Mulai hari ini, janji pada Ayah... jangan pernah pergi ke luar batas lembah tanpa didampingi Ayah atau Paman Han. Dunia di luar sana belum aman untukmu."
Lianhua menatap wajah Ayah Zhao yang tampak khawatir. Ia mengulurkan tangan mungilnya, dan mengusap bekas luka di pipi Tuan Zhao dengan lembut.
"Iya, Ayah Zhao. Lianhua janji," jawab Lianhua seraya tersenyum manis. "Lianhua akan latihan lebih giat lagi, supaya nanti Lianhua yang bisa melindungi Ayah dan semua orang di Desa Bunga Lotus!"
Tuan Zhao memeluk bocah lima tahun itu erat-erat di bawah naungan pohon bambu. Di balik keindahan dan keceriaan masa kecil Lianhua di desa terpencil itu, benih-benih takdir besar telah mulai berkecambah.
Sang Putri Pilihan Rakyat sedang tumbuh, dilindungi oleh kasih sayang seluruh warga desa yang siap mempertaruhkan nyawa demi menyongsong hari esok.
Bersambung...