NovelToon NovelToon
Lima Kakak Valerius

Lima Kakak Valerius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: mona28

Di mata masyarakat, keluarga Valerius adalah keluarga pengusaha terpandang dan salah satu keluarga terkaya di kota. Namun di balik kemewahan mansion mereka, keluarga Valerius merupakan salah satu keluarga mafia paling berkuasa dan ditakuti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mona28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KAKAK-KAKAK YANG TIDAK BISA DIKALAHKAN

Pukul enam pagi, mansion Valerius sudah dipenuhi aktivitas.

Para pelayan menyiapkan sarapan. Pengawal bergantian memeriksa halaman. Beberapa kendaraan keluar masuk garasi, sementara staf rumah tangga memastikan seluruh ruangan tetap rapi.

Namun, di lantai dua, seorang pemuda masih tertidur pulas.

Aren Valerius sama sekali tidak menyadari bahwa kelima kakaknya sudah berkumpul di ruang makan untuk membicarakan dirinya.

"Aren belum turun?" tanya Darren sambil melihat jam tangannya.

Leon menggeleng.

"Aku sudah mengirim pesan kepadanya."

"Dan?"

"Belum dibalas."

Riven menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Biarkan dia tidur. Kemarin hari pertamanya di sekolah dan dia harus menghadapi kekacauan."

Raka menatapnya.

"Kau juga harus berhenti pulang larut malam."

Riven langsung duduk tegak.

"Apa hubungannya denganku?"

"Kau pulang hampir pukul dua pagi."

"Aku ada urusan."

"Urusan apa?"

Riven diam.

Kian mengangkat wajah dari laptopnya.

"Dia pergi ke markas gengnya."

Riven langsung menoleh.

"Hei! Kau tidak perlu memberitahukan semuanya!"

Kian mengangkat bahu.

"Aku hanya menjawab pertanyaan Kak Raka."

Darren tertawa.

Raka menghela napas panjang.

"Kalian semua sudah dewasa. Berhentilah bertingkah seperti anak-anak."

Leon mengangkat cangkir kopinya.

"Kita memang harus mengatur jadwal supaya Aren tidak sendirian, tetapi jangan sampai dia merasa sedang diawasi setiap saat."

Raka mengangguk.

"Itu sebabnya kita akan bergantian menjemputnya."

Riven mengerutkan kening.

"Kenapa harus dijemput? Dia bisa pulang bersama pengawal."

"Karena kita tidak tahu siapa yang sedang mengincarnya," jawab Raka.

Kian memutar laptopnya.

Di layar terlihat foto gerbang belakang Akademi Valerius dan beberapa rekaman yang berhasil ia pulihkan.

"Aku menemukan kendaraan yang digunakan kelompok Black Ravens."

Darren mendekat.

"Apakah kendaraan itu terdaftar?"

"Nomornya palsu. Tetapi aku berhasil menemukan kamera jalan yang merekam mereka sebelum memasuki wilayah sekolah."

Kian menekan beberapa tombol.

Sebuah gambar muncul.

Mobil hitam yang sama terlihat berhenti di sebuah bangunan tua di kawasan industri.

Raka memperhatikan gambar tersebut.

"Tempat apa itu?"

"Gudang milik perusahaan yang sudah tidak beroperasi."

Darren menyipitkan mata.

"Perusahaan apa?"

Kian menampilkan dokumen lain.

"Perusahaan keamanan swasta yang dibubarkan tujuh tahun lalu."

Leon meletakkan cangkirnya.

"Apa hubungannya dengan Aren?"

"Itulah yang sedang kucari."

Riven berdiri.

"Aku akan pergi ke sana."

Raka langsung menggeleng.

"Tidak."

"Kenapa?"

"Karena kita tidak tahu siapa yang menunggu di sana."

"Aku bisa membawa anak buahku."

"Dan membuat seluruh kota tahu bahwa keluarga Valerius sedang menyelidiki tempat itu?"

Riven mendecakkan lidah.

"Jadi kita hanya akan duduk diam?"

"Kita akan menyelidiki dengan cara yang benar."

Riven menatap kakaknya beberapa saat sebelum kembali duduk.

Ia memang sering bertindak lebih dahulu daripada berpikir, tetapi ia tidak pernah benar-benar mengabaikan keputusan Raka.

Di tengah pembicaraan mereka, terdengar langkah kaki dari tangga.

Aren muncul dengan seragam sekolah yang sudah rapi.

Rambut hitamnya masih sedikit basah.

Ia menguap kecil sambil berjalan menuju meja makan.

"Pagi, semuanya."

Lima pasang mata langsung tertuju kepadanya.

Darren tersenyum.

"Selamat pagi, adik kecil."

Aren duduk di kursinya.

"Kak Darren, jangan panggil aku begitu terus."

"Baiklah, adik paling kecil."

"Itu sama saja!"

Riven tertawa keras.

"Kalau kau ingin dipanggil kakak, tumbuhlah lebih tinggi dariku."

Aren memandangnya dari ujung kepala sampai kaki.

"Kalau begitu, aku akan tumbuh tinggi supaya bisa menginjak kakimu."

Ruangan mendadak hening.

Kian menutup mulutnya untuk menahan tawa.

Darren sampai menunduk di atas meja.

Leon menggelengkan kepala.

Riven menatap Aren dengan ekspresi tidak percaya.

"Kau baru dua hari di rumah ini dan sudah berani mengancamku?"

Aren tersenyum manis.

"Aku hanya bercanda, Kak Riven."

Raka akhirnya tertawa kecil.

Suara itu membuat semua orang menoleh.

Raka Valerius, pria yang terkenal dingin dan jarang memperlihatkan emosi, ternyata bisa tertawa karena adik bungsunya.

Aren merasa sedikit bangga.

Setidaknya, ia berhasil membuat kakak pertamanya tersenyum.

Sarapan berlangsung dengan lebih santai daripada malam sebelumnya.

Namun, ketika Aren hendak mengambil roti kedua, Leon langsung memperhatikan piringnya.

"Kau sudah makan telur?"

"Sudah."

"Buah?"

"Belum."

Leon mendorong piring buah ke hadapannya.

Aren menatap piring itu dengan pasrah.

"Kak Leon, aku bukan pasien di rumah sakit."

"Justru karena kau bukan pasienku, aku ingin memastikan kau tetap sehat."

Darren tertawa.

"Leon memang tidak bisa berhenti menjadi dokter."

Setelah sarapan, Raka memutuskan bahwa mereka akan mengantar Aren bersama-sama.

Aren langsung menolak.

"Jangan."

Lima kakaknya menoleh.

Aren menunjuk lima kendaraan yang sudah disiapkan di depan mansion.

"Kalau kalian semua mengantarku, satu sekolah akan mengira aku seorang presiden."

Riven menyeringai.

"Memangnya salah kalau kau diperlakukan seperti presiden?"

"Aku ingin menjadi siswa biasa."

Raka memperhatikan wajah adiknya.

Kemudian ia mengangguk.

"Baik. Aku yang mengantar. Yang lain berangkat seperti biasa."

Darren mengangkat bahu.

"Setuju."

Leon mengingatkan Aren untuk membawa obat pribadi yang diperlukan, meskipun Aren menegaskan bahwa dirinya baik-baik saja.

Kian memasukkan sebuah alat komunikasi kecil ke dalam tas Aren.

"Ini untuk keadaan darurat."

Aren memegang benda itu.

"Apakah ini alat penyadap?"

Kian tersenyum tipis.

"Bukan. Hanya alat komunikasi."

Aren menatapnya curiga.

"Kak Kian, jangan memasang kamera di tasku."

Kian diam selama dua detik.

Kemudian ia berkata, "Aku tidak akan menjawab pertanyaan itu."

"KAK KIAN!"

Ruang makan kembali dipenuhi tawa.

Akademi Valerius terlihat lebih ramai daripada hari sebelumnya.

Berita mengenai tawuran dan kedatangan kelompok Black Ravens sudah menyebar ke seluruh sekolah.

Ketika mobil Raka memasuki gerbang, beberapa siswa langsung memperhatikan.

Namun, kali ini Aren turun sendirian.

Raka tetap berada di dalam mobil.

"Jangan lupa pesan yang kemarin."

Aren mengangguk.

"Kalau ada masalah, aku akan menghubungi Kakak."

Raka mengangguk puas.

"Bagus. Selamat belajar."

Aren menutup pintu mobil.

Sebelum kendaraan itu pergi, Raka menurunkan kaca jendela.

"Aren."

Aren menoleh.

"Ya, Kak?"

"Kalau kau ingin memiliki teman, bertemanlah. Kau tidak harus selalu bersama kami."

Aren tersenyum.

"Baik."

Mobil meninggalkan gerbang.

Aren berjalan menuju kelas dengan perasaan sedikit lebih ringan.

Ia berharap hari ini berjalan normal.

Ia ingin belajar, berbicara dengan Naya, dan makan siang tanpa harus mendengar ancaman dari siapa pun.

Namun harapannya tidak berlangsung lama.

Ketika ia sampai di lorong kelas, beberapa siswa sedang berkumpul di depan papan pengumuman.

Seseorang melihat Aren dan langsung berbisik.

"Itu dia."

"Adik keluarga Valerius?"

"Iya."

Aren mencoba mengabaikan mereka.

Namun, ketika ia mendekati papan pengumuman, ia melihat sebuah kertas besar ditempel di sana.

Tulisan di kertas itu berbunyi:

TANTANGAN TERBUKA UNTUK AREN VALERIUS.

Di bawahnya terdapat kalimat lain.

JIKA KAU BENAR-BENAR PANTAS MENYANDANG NAMA VALERIUS, TEMUI KAMI DI LAPANGAN BELAKANG SEPULANG SEKOLAH.

Aren membeku.

Beberapa siswa langsung menoleh kepadanya.

Dimas berdiri tidak jauh dari papan pengumuman dengan senyum mengejek.

"Sepertinya ada yang ingin berkenalan denganmu."

Aren menatap kertas itu.

Kemudian ia menoleh kepada Dimas.

"Kau yang memasangnya?"

Dimas mengangkat bahu.

"Bukan aku. Tapi kalau kau takut, kau boleh pulang sekarang."

Aren mengembuskan napas.

"Aku tidak takut."

"Kalau begitu, datanglah."

Dimas pergi sambil tertawa kecil.

Aren merobek kertas tersebut dan membuangnya ke tempat sampah.

Ia tidak berniat memenuhi tantangan itu.

Ia tahu bahwa orang-orang tersebut hanya ingin memancingnya.

Namun, ketika ia masuk kelas, Naya langsung menghampirinya.

"Aren, kau sudah melihat pengumuman di luar?"

"Sudah."

"Kau jangan datang ke lapangan belakang."

"Aku memang tidak berniat datang."

Naya terlihat lega.

"Bagus. Kelompok itu berbahaya. Mereka sering mengajak siswa berkelahi hanya untuk mempermalukan mereka."

Aren mengangguk.

"Aku tidak ingin mencari masalah."

Naya tersenyum.

"Kalau begitu, nanti makan siang bersamaku."

Aren membalas senyumnya.

"Baik."

Untuk beberapa jam berikutnya, semuanya berjalan cukup normal.

Aren mengikuti pelajaran, mencatat materi, dan sesekali berbicara dengan Naya.

Namun, menjelang jam istirahat kedua, suasana sekolah kembali berubah.

Suara teriakan terdengar dari lapangan belakang.

Beberapa siswa berlari menuju jendela.

Aren ikut melihat.

Di lapangan, puluhan siswa berkumpul.

Dimas berdiri di tengah mereka.

Di hadapannya terdapat seorang siswa dari kelas lain yang tampak ketakutan.

Aren melihat Dimas mendorong siswa tersebut.

"Kenapa dia melakukan itu?" bisik Aren.

Naya yang berdiri di sampingnya terlihat cemas.

"Mungkin siswa itu menolak bergabung dengan kelompoknya."

Aren mengepalkan tangan.

Ia tidak menyukai kekerasan, terutama ketika seseorang menggunakan jumlah teman untuk menekan orang lain.

Ia teringat masa kecilnya di panti asuhan.

Dahulu, beberapa anak yang lebih besar sering mengambil barang milik anak-anak yang lebih kecil.

Aren tidak pernah menyukai orang yang menggunakan kekuatan untuk menindas orang lain.

"Aku akan memanggil guru," katanya.

Namun, sebelum ia bergerak, terdengar suara keras dari lapangan.

Siswa yang didorong Dimas jatuh ke tanah.

Aren langsung berlari menuju pintu.

"Aren!" seru Naya.

Aren tidak berhenti.

Ia berlari menuruni tangga dan menuju lapangan belakang.

Ketika sampai, ia melihat Dimas sedang mengangkat kerah seragam siswa tersebut.

"Lepaskan dia!"

Suara Aren terdengar jelas.

Semua orang menoleh.

Dimas tersenyum.

"Lihat siapa yang datang."

Aren berjalan mendekat.

"Lepaskan dia. Dia sudah jatuh."

Dimas melepaskan kerah siswa itu, tetapi kemudian mendorongnya sekali lagi.

Aren langsung membantu siswa tersebut berdiri.

"Kau baik-baik saja?"

Siswa itu mengangguk gugup.

Aren menoleh kepada Dimas.

"Kalau kau punya masalah dengannya, bicarakan baik-baik."

Dimas tertawa.

"Kau pikir kau siapa?"

"Aku hanya meminta kau berhenti."

"Kalau aku tidak mau?"

Aren menatapnya.

"Kalau begitu, aku akan memanggil guru."

Dimas mendecakkan lidah.

"Dasar pengecut."

Ia melangkah mendekati Aren.

Namun, sebelum sempat melakukan apa pun, sebuah suara terdengar dari belakang kerumunan.

"Siapa yang berani mengganggu adikku?"

Semua orang langsung terdiam.

Riven Valerius berdiri di pintu masuk lapangan.

Di sampingnya terdapat beberapa siswa senior yang mengenal reputasinya.

Wajah Riven terlihat tenang.

Justru itulah yang membuat suasana semakin menegangkan.

Dimas langsung mundur setengah langkah.

"Kak Riven..."

Riven tidak memedulikannya.

Ia berjalan menuju Aren dan memeriksa keadaan adiknya.

"Kau terluka?"

Aren menggeleng.

"Tidak."

"Kenapa kau berada di sini?"

"Aku hanya membantu siswa yang didorongnya."

Riven menatap siswa yang berdiri di samping Aren.

Kemudian ia kembali menatap Dimas.

"Kau suka mendorong orang yang lebih lemah?"

Dimas menunduk.

"Tidak begitu, Kak."

"Kalau begitu, jelaskan apa yang terjadi."

Dimas tidak bisa menjawab.

Riven mengeluarkan ponselnya.

"Aku akan memanggil guru. Semua yang berada di sini akan memberikan keterangan."

Beberapa siswa langsung gelisah.

Mereka mengira Riven akan menyelesaikan masalah dengan kekerasan.

Namun, Riven justru memilih membawa persoalan itu kepada pihak sekolah.

Aren menatap kakaknya dengan kagum.

Riven meliriknya.

"Apa?"

Aren tersenyum.

"Tidak apa-apa, Kak."

Riven mengacak rambutnya.

"Jangan berlari ke tempat berbahaya sendirian lagi."

Aren mengangguk.

"Baik."

Namun, ketika mereka hendak meninggalkan lapangan, ponsel Riven bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

Riven membukanya.

Hanya ada satu kalimat.

KALIAN BOLEH MELINDUNGI AREN DI SEKOLAH, TETAPI KALIAN TIDAK BISA MELINDUNGINYA SELAMANYA.

Riven langsung mengangkat kepala.

Ia menatap sekeliling.

Namun, tidak ada seorang pun yang terlihat mencurigakan.

Pesan kedua masuk.

TANYAKAN KEPADA ADRIAN VALERIUS MENGAPA DIA MEMILIH AREN.

Wajah Riven berubah serius.

Ia memasukkan ponselnya ke saku.

Aren memperhatikan ekspresinya.

"Kak Riven, ada apa?"

Riven memaksakan senyum.

"Tidak ada."

Namun, Aren tahu kakaknya sedang menyembunyikan sesuatu.

Sore harinya, kelima kakak Aren berkumpul di ruang kerja Raka.

Riven menunjukkan pesan yang diterimanya.

Kian segera memeriksa nomor pengirim.

"Nomornya tidak terdaftar. Pesan ini dikirim melalui jaringan yang disamarkan."

Darren menyilangkan tangan.

"Jadi, orang yang sama masih mengawasi Aren."

Leon terlihat khawatir.

"Apakah kita harus memberitahukan semua ini kepadanya?"

Raka terdiam cukup lama.

"Aren berhak mengetahui kebenaran. Tetapi kita harus memastikan apa yang benar-benar kita ketahui sebelum menjelaskan apa pun."

Riven mengangguk.

"Aku tidak akan membiarkan orang itu mendekati Aren."

Kian kembali menatap layar.

"Tunggu."

Semua orang menoleh.

"Ada sesuatu di dalam pesan ini."

Kian memperbesar salah satu bagian data.

Sebuah simbol kecil muncul.

Simbol serigala yang sama dengan lambang pada gelang Aren.

Darren mendekat.

"Itu bukan lambang keluarga kita?"

Kian menggeleng perlahan.

"Mirip, tetapi berbeda."

Ia membuka sebuah arsip lama yang sebelumnya ditemukan dalam sistem komputer.

Di sana terdapat gambar simbol yang sama.

Di bawahnya tertulis sebuah nama.

PROYEK SERIGALA HITAM.

Ruangan menjadi sunyi.

Raka menatap layar.

"Proyek apa itu?"

Kian menggeleng.

"Aku belum tahu. Sebagian besar arsipnya telah dihapus."

Kemudian ia menemukan satu dokumen yang masih bisa dibuka.

Dokumen itu hanya berisi beberapa baris.

Nama subjek: tidak diketahui.

Status: dipindahkan.

Tanggal: tujuh belas tahun lalu.

Catatan: JANGAN BIARKAN SUBJEK JATUH KE TANGAN KELUARGA VALERIUS.

Leon memucat.

"Ini tidak masuk akal."

Darren menatap Raka.

"Apakah Ayah mengetahui proyek ini?"

Raka berdiri.

"Kita akan bertanya langsung kepadanya."

Kelima bersaudara berjalan menuju ruang kerja Adrian.

Namun, ketika pintu terbuka, mereka menemukan ruangan itu kosong.

Di atas meja terdapat sebuah amplop hitam.

Raka mengambilnya.

Di bagian depan amplop tertulis satu nama.

AREN VALERIUS.

Raka membuka amplop tersebut.

Di dalamnya terdapat sebuah foto lama.

Foto Adrian yang berdiri di depan sebuah rumah sakit tujuh belas tahun lalu.

Di samping Adrian terdapat seorang wanita yang wajahnya sengaja dicoret dengan tinta hitam.

Dan di tangan wanita itu terdapat seorang bayi.

Bayi yang memakai gelang serigala.

Raka menatap foto tersebut dengan rahang mengeras.

Darren terdiam.

Leon menutup mulutnya.

Kian segera mengambil foto itu untuk diperiksa.

Riven mengepalkan tangannya.

Di balik foto terdapat tulisan tangan.

KALIAN TIDAK SEDANG MENYELAMATKAN AREN. KALIAN SEDANG MENJAGA RAHASIA YANG SEHARUSNYA TETAP TERKUBUR.

Pada saat yang sama, suara langkah kaki terdengar dari belakang mereka.

Adrian Valerius berdiri di ambang pintu.

Tatapannya tertuju pada foto di tangan Raka.

Untuk beberapa detik, kepala keluarga itu tidak mengatakan apa-apa.

Kemudian ia menutup pintu perlahan.

"Aku sudah menduga surat itu akan datang."

Raka menatap ayahnya.

"Ayah, siapa sebenarnya Aren?"

Adrian menarik napas panjang.

Ia memandang kelima putranya satu per satu.

Kemudian berkata dengan suara yang lebih berat daripada sebelumnya.

"Ada sesuatu tentang masa lalu Aren yang belum pernah Ayah ceritakan."

Hening menyelimuti ruangan.

"Dan sebelum kalian mengetahui kebenarannya, kalian harus berjanji satu hal."

Raka bertanya, "Apa itu?"

Adrian menatap foto bayi tersebut.

"Jangan pernah membiarkan Aren mengetahui rahasia ini dari musuh kita."

Namun, tanpa mereka sadari, seseorang sedang berdiri di luar ruang kerja.

Aren.

Ia baru saja datang untuk mencari Raka.

Dan melalui pintu yang belum tertutup rapat, ia mendengar satu kalimat yang membuat langkahnya terhenti.

"Aren bukan anak yang seharusnya kita adopsi."

Aren membeku.

Tangannya perlahan mengepal.

Untuk pertama kalinya sejak tinggal di mansion Valerius, ia merasakan ketakutan yang berbeda.

Bukan ketakutan terhadap musuh.

Bukan ketakutan terhadap tawuran.

Melainkan ketakutan bahwa keluarga yang baru saja menerimanya mungkin menyimpan sesuatu yang bisa mengubah seluruh hidupnya.

Aren mundur perlahan.

Ia tidak ingin mereka mengetahui bahwa dirinya sudah mendengar percakapan tersebut.

Namun, ketika ia berbalik, sebuah suara terdengar dari ujung lorong.

"Aren?"

Leon berdiri di sana.

Aren segera menghapus ekspresi terkejut dari wajahnya.

"Kak Leon."

Leon memperhatikan adiknya.

"Kau mencari siapa?"

Aren memaksakan senyum.

"Tidak mencari siapa-siapa. Aku hanya ingin bertanya apakah Kak Raka ada."

Leon terdiam.

Ia tahu Aren sedang menyembunyikan sesuatu.

Namun, ia tidak memaksanya menjawab.

"Raka sedang sibuk. Kalau kau ingin berbicara, tunggu sebentar di ruang keluarga."

Aren mengangguk.

"Baik, Kak."

Ia berjalan melewati Leon.

Tetapi sebelum mencapai tangga, Aren berhenti.

"Kak Leon."

Leon menoleh.

"Ya?"

Aren menatap kakaknya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Kalau suatu hari kalian mengetahui sesuatu yang buruk tentang masa laluku... apakah kalian masih akan menganggapku sebagai adik kalian?"

Leon terdiam.

Pertanyaan itu terasa begitu menyakitkan.

Ia berjalan mendekat dan meletakkan kedua tangannya di bahu Aren.

"Dengarkan aku."

Aren mengangkat wajah.

"Kau mungkin belum mengenal kami dengan baik. Tetapi satu hal yang harus kau tahu, Aren."

Leon tersenyum lembut.

"Kau tidak perlu memiliki masa lalu yang sempurna untuk menjadi bagian dari keluarga ini."

Aren menahan napas.

"Selama kau adalah Aren yang kami kenal, kau tetap adik kami."

Mata Aren memerah.

Leon menariknya ke dalam pelukan singkat.

"Kau tidak sendirian lagi."

Aren memejamkan mata.

Untuk sesaat, ia ingin mempercayai kata-kata itu sepenuhnya.

Namun, jauh di dalam hatinya, pertanyaan itu masih ada.

Siapa dirinya sebenarnya?

Mengapa seseorang begitu ingin menemukannya?

Dan mengapa Adrian Valerius mengatakan bahwa dirinya bukan anak yang seharusnya mereka adopsi?

Malam itu, Aren kembali ke kamarnya dengan membawa lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

Sementara di ruang kerja, Adrian akhirnya membuka rahasia yang selama tujuh belas tahun ia simpan.

"Aren bukan sekadar anak yang ditemukan di rumah sakit."

Raka menatap ayahnya.

"Jadi siapa dia?"

Adrian memejamkan mata.

Kemudian mengucapkan sebuah nama yang membuat kelima putranya terdiam.

"Dia adalah anak dari seseorang yang pernah menjadi musuh terbesar keluarga Valerius."

Dan untuk pertama kalinya, kelima kakak Aren menyadari bahwa ancaman yang datang bukan sekadar tentang seorang anak angkat.

Ancaman itu berasal dari masa lalu yang belum selesai.

Masa lalu yang mungkin akan memaksa keluarga Valerius memilih antara mempertahankan kekuasaan mereka...

atau melindungi adik bungsu yang sudah mereka anggap sebagai bagian paling berharga dari keluarga.

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!