Nabila tidak pernah menyangka jika putri yang selama enam tahun ia besarkan dengan kemewahan ternyata adalah anak palsu. Darah dagingnya yang asli, Luna Wegan, diam-diam ditukar saat lahir oleh keluarga suaminya sendiri dan terpaksa hidup menderita sebagai pengemis jalanan. Takdir akhirnya mempertemukan Nabila dengan seorang gadis kecil penuh luka memar di depan mall, di mana sebuah tahi lalat di balik telinga membongkar pengkhianatan keji masa lalu. Bersama suaminya, sang CEO kejam Leon Wegan, Nabila kini siap menghancurkan siapa pun yang telah berani menyiksa putri kandung mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Dia selalu disuruh bangun pagi buta untuk mengemis di lampu merah.
Jika dia pulang tidak membawa target uang seratus ribu, maka pukulan dan tendangan akan menjadi makan malamnya.
Luna sering melihat anak-anak sebayanya digandeng oleh orang tua mereka saat dia sedang mengemis di jalan.
"Kenapa orang tuaku tidak memelukku seperti itu? Apa aku memang anak yang sangat nakal?" batin Luna menyalahkan dirinya sendiri.
Siska akhirnya melepaskan jambakannya dan mendorong Luna hingga menabrak lemari kayu yang sudah lapuk.
"Malam ini kau tidur di luar! Jangan berani masuk sebelum ada yang memberimu makan!" ancam Siska tanpa belas kasihan.
Siska menarik kerah baju Luna dan menyeret anak itu layaknya karung rongsokan menuju pintu depan.
"Jangan, Bu! Di luar hujan deras dan sangat dingin!" teriak Luna panik sambil memegangi tangan Siska.
Tapi tenaga anak kurang gizi itu tidak ada artinya dibandingkan dengan tenaga Siska yang sedang emosi.
Brak!
Pintu gubuk itu ditutup rapat dari dalam setelah Siska melempar Luna keluar.
Luna jatuh tersungkur di genangan lumpur yang dingin dan kotor.
Hujan langsung mengguyur tubuh kurusnya tanpa ampun.
Luna merangkak mendekati pintu lalu menggedor-gedornya dengan tangan mungilnya yang gemetar.
"Ibu! Buka pintunya! Luna kedinginan, Bu!" teriak Luna sambil menangis histeris.
Hanya suara petir menyambar yang menjawab tangisan menyayat hati dari anak berumur enam tahun itu.
Luna memeluk lututnya sendiri di teras gubuk yang sempit itu mencoba mencari sedikit kehangatan dari tubuhnya sendiri.
Angin malam yang berembus kencang seolah menusuk tulang-tulangnya yang menonjol di balik kulit pucatnya.
"Aku lapar sekali, perutku perih," rintih Luna sambil memegangi perutnya yang kempis.
Luna menyandarkan kepalanya ke dinding kayu gubuk dan menatap langit malam yang gelap gulita.
Tidak ada satu pun bintang yang bersinar malam ini, sama seperti jalan hidupnya yang sangat gelap.
Di saat anak-anak seusianya sedang tidur nyenyak di kasur yang empuk, Luna harus tidur berteman lumpur dan air hujan.
Air matanya menyatu dengan air hujan yang mengalir turun ke lehernya.
Tepat di belakang telinga kirinya, aliran air itu melewati sebuah tahi lalat kecil berwarna hitam yang sangat presisi.
Sebuah tanda lahir yang menjadi satu-satunya petunjuk tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
"Besok pagi-pagi sekali kau pergi ke kawasan mall besar di pusat kota!"
Suara teriakan Siska terdengar samar-samar dari balik pintu kayu tempat Luna bersandar.
"Di sana banyak orang kaya sombong yang gampang ditipu dengan tampang melasmu itu!" lanjut Siska memberi perintah dari dalam.
"Jangan berani pulang kalau tidak bawa uang banyak!" tambah Herman menimpali dengan suara mabuknya.
Luna hanya diam mendengarkan perintah itu dengan pandangan kosong.
"Iya, Bu. Luna akan mengemis di depan mall besok," gumam Luna pelan merespons dengan pasrah.
Luna memejamkan matanya mencoba melupakan rasa perih di lukanya dan rasa lapar di perutnya.
Gadis kecil itu akhirnya tertidur karena kelelahan menangis di bawah guyuran hujan yang mulai mereda.
Keesokan paginya matahari terbit menyinari ibu kota yang sibuk.
Nabila sedang duduk di meja riasnya menatap pantulan dirinya yang terlihat sangat lelah di cermin.
Dia sudah berpakaian rapi dengan gaun elegan dan tas tangan bermerek yang harganya miliaran.
"Ayo kita ke mall hari ini, Bianca. Mama harap hari ini kamu tidak membuat keributan lagi," batin Nabila sambil menghela napas panjang.
Di saat yang sama, Luna sedang tertatih-tatih berjalan menyusuri trotoar jalan raya dengan kaki telanjang.
Luka goresan kaca di kakinya semalam belum diobati dan sekarang mulai bernanah karena terkena kotoran jalan.
Tapi Luna tidak berani berhenti karena dia harus segera sampai di depan mall besar seperti perintah ibunya.
Takdir perlahan mulai bergerak menarik benang merah yang sempat terputus enam tahun lalu.
Garis waktu yang sengaja dipelintir oleh orang jahat sebentar lagi akan kembali ke jalurnya yang benar.
Darah tidak akan pernah bisa dibohongi walau ditutupi oleh kemewahan atau kemiskinan sekalipun.
Sebuah pertemuan yang akan mengubah nasib dua keluarga ini akan segera terjadi dalam beberapa jam ke depan.
Kebenaran yang tertidur pulas selama enam tahun akan segera meledak dan menghancurkan segalanya.
Dan saat badai kebenaran itu datang, Leon Wegan pastikan tidak akan ada pengampunan bagi siapa pun yang terlibat.
Di depan pintu masuk mall yang terbuat dari kaca megah itu, pertemuan yang tak terhindarkan akan segera dimulai.
Matahari bersinar terik, menjadi saksi bisu awal mula dari sebuah pembalasan dendam yang paling mematikan.
baru mulai baca
Cerita nya bagus banget