Cinta Terhalang Dinding Pesantren
Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.
Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.
Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.
Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 – Jay Menolak Warisan Tekanan
Seumur hidup, Jay hampir tidak pernah membantah Abinya.
Kiai Hasyim bilang belajar, Jay belajar.
Disuruh mengajar, Jay mengajar.
Diberi amanah, jawabannya selalu satu.
"Saya laksanakan, Abi."
Malam itu jawabannya harus beda.
Ndalem Darul Hikmah ramai. Bukan ramai haflah, tapi ramai keluarga. Kiai Hasyim dan Nyai Maryam duduk di ruang utama. Di seberang ada Ayah dan Ibu Muthi'ah, dua paman Jay, dan dua sesepuh desa yang dulu tahu cerita janji di atas sajadah.
Di lemari kaca ruang tamu, sajadah hijau tua yang sudah pudar itu dipajang. Jadi saksi.
Topiknya cuma satu. Khitbah Jay dan Muthi'ah bulan depan.
Jay dipanggil masuk habis ngajar. Masih pakai koko putih, sarung. Begitu duduk, semua mata ke dia.
Kiai Hasyim langsung to the point.
"Abi dan Pak Haji sudah sepakat. Setelah Haflah selesai, bulan depan kamu khitbah Muthi'ah. Biar status jelas, biar gosip berhenti. Nikahnya nanti setelah Muthi'ah lulus."
Hening.
Kalau dulu, Jay pasti langsung jawab "Saya laksanakan". Malam ini dia menunduk, tangannya saling menggenggam erat. Heeseung di sudut ruangan tahu, Jay lagi ngatur napas.
Akhirnya Jay angkat kepala.
"Abi, Pak Haji, para sesepuh, maaf kalau lancang."
Suara pelan tapi satu ruangan dengar.
"Saya hormat sama janji Abi dan Pak Haji 18 tahun lalu. Saya tahu itu lahir dari persahabatan, niatnya baik. Saya juga hormat sama Muthi'ah. Saya lihat sendiri dia bangkit setelah difitnah kemarin."
Jay berhenti sebentar, menatap Ayah Muthi'ah.
"Tapi saya tidak bisa terima kalau khitbah ini dipercepat cuma karena gosip."
Kiai Hasyim mengernyit. "Jay..."
"Kalau suatu hari saya meminang Muthi'ah, saya mau karena saya siap, Bi. Bukan karena takut omongan wali santri. Saya mau Muthi'ah juga datang karena dia ridha, bukan karena dia merasa gak punya pilihan."
Ayah Muthi'ah menunduk. Kalimat itu kena ke dia juga.
Kiai Hasyim nadanya naik sedikit. "Jadi menurutmu Abi salah?"
Jay langsung geleng. "Abi gak salah mau melindungi Muthi'ah. Tapi caranya yang perlu diperbaiki. Gosip gak boleh jadi alasan kita nentuin hidup dua orang."
Ruangan jadi tegang. Salah satu sesepuh akhirnya buka suara sambil nunjuk lemari kaca.
"Hasyim, anakmu benar. Janji kalian dulu dibuat pas mereka masih bayi. Niatnya doa, bukan hutang yang harus dibayar bulan depan. Kalau doanya baik, jangan dipake buat nekan mereka."
Kiai Hasyim diam. Wajahnya keras, tapi bukan marah ke Jay, lebih ke malu. Seumur hidup anaknya nurut, malam ini dibantah di depan besannya sendiri.
Dia berdiri tanpa banyak ngomong.
"Abi ke belakang sebentar."
Nyai Maryam langsung nyusul ke dapur. Di ruang tamu semua nunggu kaku.
Di dapur, Kiai Hasyim lepas peci, usap wajah.
"Abi malu, Maryam. Dibantah di depan orang banyak."
Nyai Maryam duduk sebelahnya, pelan.
"Bukan dibantah, Bi. Disadarkan. Kalau Jay nikah karena takut sama kita, Abi lebih malu gak? Janji kita dulu itu doa, Bi. Doa gak ada tanggal kadaluarsa."
Kiai Hasyim lama diam. Akhirnya dia tarik napas panjang.
Beberapa menit kemudian dia balik lagi ke ruang tamu. Semua langsung tegak.
Matanya langsung ke Jay.
"Jay."
"Iya, Bi."
"Khitbah bulan depan kita tunda. Kamu selesaikan pengabdianmu dulu. Muthi'ah kasih waktu selesaikan sekolah, kasih waktu kuliah kalau dia mau. Kenali dia dengan cara yang baik, jaga batas."
Jay kaget, matanya langsung berkaca-kaca.
"Syukron, Abi."
"Bawa niatmu sendiri nanti kalau sudah siap. Bukan karena Abi nyuruh."
Jay berdiri, cium tangan Kiai lama. Kiai nepuk bahunya.
"Abi minta maaf ya, harusnya dari awal Abi tanya kamu dulu."
Di teras ndalem, Heeseung, Jake, Sunoo udah nunggu.
"Gimana?" Jake langsung nanya.
Jay senyum lega pertama malam itu.
"Ditunda."
Sunoo angkat tangan, "Alhamdulillah!"
Heeseung tepuk bahu Jay, "Akhirnya lo gak jawab 'saya laksanakan' lagi."
Jay natap halaman pesantren yang sepi.
"Bukan berarti gue nolak Muthi'ah. Gue cuma gak mau pernikahan dimulai dari ketakutan."
Malam itu rantai tekanan itu putus. Bukan janji yang hilang, tapi cara memaksakannya yang berhenti.