NovelToon NovelToon
Suara Untuk Dia

Suara Untuk Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Balas Dendam / Idola sekolah
Popularitas:153
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Putra Satria Hsb

【Perjuang keras meraih cinta+Cerita di waktu SMA+Romantis nonfiksi】Seseorang yang jatuh cinta kepda perempuan terpintar di sekolah... Meskipun dia bukan pria yang pandai dalam akademi tapi dia ingin membuktikan jika dia layak mendapatkan perempuan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13- Bimbingan Sore Dan Sepotong Roti

Minggu-minggu berikutnya berjalan terasa begitu cepat. Suasana di kelas X IPA 2 mulai makin padat dengan tugas-tugas tengah semester. Di saat anak-anak lain mulai pusing memikirkan jadwal ulangan harian yang menumpuk, Nara harus menanggung beban ganda: tugas kelas dan persiapan Olimpiade Fisika yang makin dekat.

Pagi itu jam pelajaran pertama kosong karena Bu Lis, guru Sejarah kami, sedang ada keperluan dinas di luar kota. Anak-anak cowok di barisan belakang langsung memanfaatkan momen ini buat main kartu atau sekadar mengobrol gaje, sementara beberapa anak cewek memilih pergi ke perpustakaan.

Aku melirik ke meja barisan depan. Nara duduk sendirian sambil menopang dagunya, memandangi buku rumus Fisika tebal yang terbuka di atas meja. Raut wajahnya kelihatan sangat lelah, ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya.

Aku berdiri dari bangku saya, mengambil satu bungkus roti cokelat dan sebotol susu kotak rasa stroberi dari dalam tas ranselku—stok ganjal perut yang kubeli di minimarket dekat rumah tadi pagi—lalu melangkah santai menuju mejanya.

Tak.

Aku meletakkan roti dan susu kotak itu persis di atas halaman buku Fisika yang lagi dia baca.

Nara yang tadinya melamun kaget sedikit, lalu mendongak menatapku dengan alis terangkat sebelah.

"Ngapain ini, Satria?" tanya Nara dengan nada bicaranya yang datar.

"Dimakan. Dari tadi aku perhatikan mukamu udah kayak orang belum makan tiga hari, kusam banget," kataku santai sambil menarik kursi di sebelahnya dan langsung duduk.

Nara menatap roti cokelat itu, lalu beralih menatapku dengan sorot mata curiga yang khas. "Ini roti sisa ya?"

"Yee! Enak aja kalau ngomong! Itu roti baru beli tadi pagi pas berangkat sekolah, masih segel!" omelku berpura-pura kesal sambil mengetuk meja. "Niat baik dikira ngasih makanan basi. Tahu gitu tak makan sendiri tadi."

Nara terkekeh pelan melihat reaksimu. Ketegangan di wajahnya kelihatan sedikit mencair. Dia mengambil roti cokelat itu, menyobek bungkus plastiknya, lalu mengunyahnya pelan-pelan.

"Makasih ya," ucap Nara pelan, hampir tak terdengar di tengah kebisingan kelas.

"Nah gitu dong, bilang makasih kan enak didengar. Jangan marah-marah terus," balasku sambil tersenyum lebar. "Gimana bimbingan sama Pak Ridwan kemarin? Aman?"

Nara menghela napas pendek, menelan suapan rotinya sebelum menjawab. "Aman sih... tapi makin pusing. Pak Ridwan nambah jam bimbingan tiap sore habis bel pulang. Jadi aku bakal jarang ada di kelas pas jam istirahat kedua."

Aku manggut-manggut paham. porsi belajarnya Nara memang gila-gilaan. Anak seumuran kami biasanya habis pulang sekolah kalau enggak main game ya nongkrong, tapi dia harus berkutat sama soal-soal tingkat tinggi.

"Nggak apa-apa, Ra. Yang penting kesehatanmu dijaga. Jangan sampai pas hari-H olimpiade kamu malah tumbang gara-gara kurang tidur," kataku memberi masukan realistis.

Nara menatapku agak lama, lalu menyedot susu stroberinya sampai berbunyi srek. "Kamu sendiri gimana? Kata Diko kemarin kamu ditawari Mas Teguh buat masuk tim utama kejuaraan silat antar-SMA?"

Aku agak kaget Diko sudah membocorkan hal itu ke Nara. "Iya, sih. Mas Teguh minta aku nambah porsi latihan malam seminggu tiga kali di padepokan. Tapi aku masih mikir-mikir."

"Kenapa mikir-mikir? Kan itu kesempatan bagus buat kamu, Sat," sergap Nara cepat.

Aku menggaruk tengkuk leherku yang enggak gatal. "Ya... kalau aku nambah latihan malam, waktu luangku habis dong. Nanti siapa yang isengin kamu di kelas kalau aku kecapekan terus?"

Nara memutar kedua bola matanya malas, tapi rona merah tipis menyelinap di pipinya. Dia menyabetkan penggaris plastiknya pelan ke lenganku.

"Ngalur ngidul terus kalau ngomong! Nggak ada hubungannya ya! Kalau ada kesempatan bagus buat prestasimu, ya diambil, Satria. Jangan malas!" serunya dengan nada judesnya yang balik lagi.

Aku tertawa melihat reaksi tegas darinya. Mendorongku untuk maju dengan caranya sendiri yang terkesan mengomeli, itulah Nara.

Sore harinya, bel tanda berakhirnya jam pelajaran berbunyi nyaring. Seperti biasa, lorong sekolah langsung ramai oleh murid-murid yang berhamburan mau pulang.

Aku dan Diko baru saja selesai merapikan buku di meja ketika Mas Teguh berjalan melewati depan kelas X IPA 2. Senior bertubuh kekar itu menghentikan langkahnya di ambang pintu, lalu melambaikan tangan memanggilku.

"Satria, ikut aku sebentar ke ruang eskul," panggil Mas Teguh dengan suaranya yang berat.

"Siap, Mas!" sahutku cepat.

Aku melirik Diko. "Dik, kamu duluan aja ke parkiran. Aku mau nemui Mas Teguh sebentar."

"Sip, Sat. Jangan lama-lama ya, ntar kehujanan lagi," kata Diko sambil menggendong tasnya.

Di ruang eskul silat yang beraroma matras dan minyak urut, Mas Teguh menyodorkan sebuah formulir resmi berwarna kuning.

"Ini surat izin dan jadwal pemusatan latihan buat seleksi tingkat pelajar bulan depan. Aku mendaftarkan namamu di kategori tanding kelas C putra," kata Mas Teguh tegas. "Aku lihat ketahanan fisik dan refleksmu paling bagus di antara anak-anak kelas X lainnya. Tapi konsekuensinya, fisikmu bakal dikuras habis seminggu ke depan. Gimana, sanggup?"

Menatap lembaran surat di tangan Mas Teguh, rasa ragu yang sempat ada di kepalaku seketika menguap. Aku teringat kata-kata Nara tadi pagi di kelas. Kalau ada kesempatan bagus buat prestasimu, ya diambil!

"Sanggup, Mas! Saya ambil," jawabku mantap.

Mas Teguh menepuk bahuku agak keras sampai badanku sedikit terdorong. "Bagus! Itu baru mental juara. Latihan perdana mulai besok sore di padepokan."

Keluar dari ruang eskul sekitar jam lima sore, koridor sekolah sudah sepi. Langit di luar mulai meredup dipayungi awan mendung tebal. Saat berjalan menyusuri teras utama menuju parkiran motor, aku melihat sosok Nara baru keluar dari ruang bimbingan Pak Ridwan di lantai dua.

Dia berjalan sendirian turun melewati tangga, membawa tas ranselnya yang kelihatan sangat berat. Raut wajahnya kelihatan begitu lelah, sampai-sampai dia enggak sadar kalau aku berdiri di dekat tiang bawah tangga.

"Woi, Mbak Olimpiade!" sapaku kaget-kagetan saat dia menginjak anak tangga terakhir.

Nara jingkat kaget, memegangi dadanya. "Astaga, Satria! Kaget tahu!" serunya sambil memelototkan mata.

Aku tertawa melihat kepanikannya. "Lagian berjalan kayak zombie gitu, melamun terus dari tadi."

Nara menghela napas panjang, merapikan letak jilbab putihnya yang agak miring. "Capek banget, Sat. Otakku rasanya udah kering disuruh ngitung rumus dari tadi siang."

"Sama, aku juga baru habis dipanggil Mas Teguh tadi," kataku sambil berjalan di sampingnya menuju arah parkiran motor yang tersisa beberapa kendaraan saja. "Aku fix ambil seleksi kejuaraan silat itu, Ra."

Nara menghentikan langkahnya di samping motor bebek merah marun milik kesayangannya. Dia menoleh, menatap wajahku di bawah remang lampu parkiran sekolah.

"Beneran diambil?" tanya Nara.

"Iya. Kan kata cewek paling galak se-IPA 2 tadi pagi, kesempatan bagus enggak boleh dilepas gitu aja," balasku sambil tersenyum bangga.

Nara diam sejenak, lalu sebuah senyuman tipis yang sangat tulus terukir di bibirnya. Senyuman yang beda dari biasanya—tanpa ada nada ejekan atau pura-pura galak.

"Bagus deh. Selamat ya, Satria. Aku yakin kamu pasti bisa lolos seleksi," ucap Nara pelan. Suaranya terdengar sangat hangat di tengah hembusan angin sore yang dingin.

Dipuji dan didukung langsung sama cewek yang paling kita suka itu rasanya luar biasa. Capek dan pegal di badanku serasa hilang seketika digantikan oleh semangat raksasa yang meletup-letup.

"Kamu juga semangat bimbingannya, Ra. Nanti kalau kamu menang olimpiade dan aku menang kejuaraan silat, kita minta makan-makan gratis sama Diko di kantin," kelakarku.

Nara terkekeh pelan sambil memakai helm merahnya. "Kenapa harus Diko yang bayar coba? Kasihan anak orang dimanfaatin terus."

"Ya kan Diko anak paling berada di kelompok kita, Ra. Sekali-kali ditumbalkan enggak apa-apa," jawabku ngawur.

Nara memutar kedua bola matanya gembira, memasang tali helmnya dengan cekatan.

"Yaudah, aku pulang duluan ya, Sat. Jalanan udah mulai gelap," pamit Nara sambil menyalakan mesin motor bebek merah marunnya yang berbunyi nyaring.

"Sip. Hati-hati di jalan, Ra! Jangan ngebut!" pesanku.

Nara mengangguk pelan dari balik kaca helmnya, lalu menarik gas melesat keluar dari gerbang sekolah. Aku berdiri memandangi lampu merah bagian belakang motornya yang pelan-pelan menjauh dan hilang di belokan jalan raya.

Hari itu, aku merasa duniaku dan dunia Nara berjalan ke arah yang makin positif. Kami berdua punya panggung perjuangan masing-masing, tapi tetap saling memberi semangat di tengah himpitan beban sekolah.

Aku bener-bener percaya kalau komitmen kecil dan rasa saling dukung ini bakal membawa kami ke hubungan yang makin dekat. Tanpa pernah menduga sedikit pun, kalau perjuangan keras kami di panggung masing-masing ini bakal pelan-pelan menciptakan jarak fisik dan waktu yang bikin celah baru di antara kami.

Malam harinya di kamar, aku selesai merapikan seragam latihan silat untuk besok sore. Di meja belajar, HP jadoelku bergetar sekali menandakan ada pesan masuk.

Dari Nara:

"Jangan lupa bawa minum yang banyak besok pas latihan malam. Awas kalau pingsan di padepokan!"

Aku tersenyum lebar membaca SMS singkat itu, lalu mengetikkan balasan dengan cepat:

"Siap, Galak. Kamu juga jangan lupa tidur cepat, biar gak kayak zombie lagi besok!"

Pesan balasan darinya masuk satu menit kemudian:

"Bising."

Aku tertawa kecil membaca balasan satu kata yang sangat khas darinya itu, lalu mematikan lampu kamar dengan perasaan gembira. Malam itu, aku siap melangkah lebih jauh demi mengejar mimpi dan posisiku di sampingnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!