Marco Maverick membenci wanita cantik. Trauma masa lalu membuat CEO jenius yang hobi bertingkah kocak ini lebih memilih melajang, menyawer live TikTok, dan mengasuh anak sahabatnya. Bahkan saat menyelamatkan wanita mempesona di klub malam, Marco menolaknya mentah-mentah.
Penasaran dengan satu-satunya pria yang berani mencampakkannya, Isabel nekat menyusup ke hidup Marco. Putri konglomerat yang sedang buron itu menanggalkan kemewahannya dan menjelma menjadi 'Lia', sekretaris berpenampilan cupu dan kusam.
Ironisnya, Marco justru menolak pesona Isabel dalam wujud aslinya, dan perlahan jatuh hati pada kesederhanaan Lia. Namun, tak ada kebohongan yang abadi. Ketika topeng sang sekretaris terbongkar, luka lama Marco kembali menganga, menghancurkan semua rasa percaya yang baru tumbuh.
"Apakah seru mempermainkan hatiku, Lia?"
Saat bahaya masa lalu kembali mengincar nyawa Isabel, sanggupkah ia meyakinkan pria itu bahwa cinta tak selamanya pahit, Marco!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Jarum jam besar bergaya Victoria di dinding foyer mansion keluarga Maverick baru saja menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
Pintu utama terbuka dengan bunyi decitan pelan. Marco Maverick melangkah masuk, berjalan mengendap-endap seperti maling di rumahnya sendiri. Ia sudah melepas jas mahalnya dan hanya menyampirkannya di bahu, berniat langsung kabur ke kamarnya, mandi kembang tujuh rupa untuk menghilangkan bau parfum wanita sinting di kelab tadi, lalu tidur.
Namun, baru tiga langkah ia melewati ruang tamu utama yang luas, lampu kristal gantung tiba-tiba menyala terang benderang.
"Berhenti di sana, Anak Muda."
Suara berat dan berwibawa itu membuat Marco membeku di tempat. Ia memutar tubuhnya perlahan sambil meringis.
Di tengah ruang tamu, duduk di atas sofa kulit yang harganya setara dengan tiga mobil sport, adalah kedua orang tuanya. Tuan Alden Maverick dan Nyonya Rowena Maverick. Keduanya kompak memakai piyama sutra kembar berwarna biru navy, sedang menikmati masker wajah organik sambil memegang segelas teh chamomile.
Alden, ayah Marco yang juga menjabat sebagai CEO di salah satu anak perusahaan raksasa Alexander Group, bangkit berdiri. Ia meletakkan cangkir tehnya, lalu berkacak pinggang dengan gaya bos besar yang sedang mengintimidasi karyawannya.
Matanya menatap tajam ke arah jam dinding, lalu beralih menatap putra tunggalnya.
"Jam berapa ini, Marco Maverick?" tanya Alden dengan nada menuntut.
Marco menelan ludah. "Jam setengah dua belas malam, Ayah."
"Tepat sekali!" Alden menggebrak meja kaca di depannya. Wajahnya terlihat sangat kecewa. "Jam setengah dua belas malam! Memalukan! Benar-benar memalukan keluarga Maverick!"
Marco mengerjap bingung. "Apanya yang memalukan, Ayah? Aku pulang dengan selamat, tidak ditangkap polisi, dan tidak menabrak tiang listrik."
"Itu masalahnya!" sahut Rowena, ibu Marco, yang ikut bangkit berdiri sambil mengibaskan kipas bulu-bulu mahalnya. Masker hijau di wajahnya membuat ekspresi marahnya terlihat semakin menyeramkan. "Kenapa kau sudah pulang sepagi ini?! Ini kan malam minggu! Harusnya kau masih berada di lantai dansa, menghamburkan uang, dan baru pulang jam dua atau jam tiga pagi!"
"Benar!" Alden menimpali, tangannya masih berkacak pinggang. "Kau ini CEO muda, Marco! Hartamu tidak akan habis tujuh turunan! Pria lajang sepertimu seharusnya pulang dalam keadaan sempoyongan di jam tiga pagi dengan leher dan pipi dipenuhi bekas lipstik wanita, bukan pulang dengan wajah segar bugar seperti anak sekolahan yang baru selesai bimbingan belajar! Kau ini payah sekali!"
Marco menganga tak percaya mendengar omelan absurd kedua orang tuanya. Di saat orang tua lain akan mengunci pintu dan mencoret nama anak mereka dari kartu keluarga jika pulang jam tiga pagi, orang tuanya justru memarahinya karena ia pulang terlalu cepat.
"Ayah, Ibu, dengar dulu," bela Marco, melangkah mendekat sambil mengibaskan jasnya. "Aku ini habis dari kelab malam The Eclipse. Acaranya membosankan. Aku cuma minum air putih perasan lemon. Lalu ada wanita sinting yang dikejar preman, dia menempel padaku, dan lihat jas mahalku ini? Bau parfumnya nempel semua! Aku bisa diamuk Seraphina besok kalau sampai menggendong Liam dengan bau seperti ini. Makanya aku pulang cepat!"
Mendengar kata 'wanita', mata Rowena langsung berbinar-binar. Ia mengabaikan masker hijaunya dan melesat mendekati Marco, mengendus lengan jas putranya.
"Astaga! Wangi sekali! Ini parfum edisi terbatas dari Paris!" seru Rowena kegirangan. Ia menepuk bahu Marco dengan antusias. "Lalu? Di mana wanitanya? Kau bawa pulang, kan? Kau beri dia tumpangan? Dia cantik, tidak?"
"Tentu saja tidak kubawa pulang!" jawab Marco dengan wajah merinding penuh rasa jijik. "Dia mencoba menawariku tubuhnya sebagai imbalan karena aku menyelamatkannya, jadi aku dorong saja dia. Aku bilang dia wanita gila, dan aku langsung pergi. Hiii, membayangkannya saja sudah membuat aku jadi merinding."
Senyum di wajah Rowena langsung luntur. Bahunya merosot turun. Ia menatap Marco dengan tatapan prihatin yang luar biasa dalam, lalu menepuk jidatnya sendiri.
"Ya Tuhan, anakku benar-benar payah," ratap Rowena, memutar tubuhnya dan menatap suaminya dengan pandangan menuduh. Ia menuding wajah Alden tanpa ampun. "Ini semua salahmu, Alden! Semua murni salahmu!"
Alden yang sedang asyik meminum tehnya langsung tersedak. "Uhuk! Lho? Kenapa jadi aku yang disalahkan, Rowena Sayang?"
"Karena wajah Marco itu mirip sekali dengan wajahmu!" cerocos Rowena dengan nada dramatis. "Coba saja wajah Marco tidak menurun dari cetakan wajahmu yang pas-pasan itu! Andai saja dia mewarisi gen kecantikanku yang paripurna ini, mungkin Marco sudah laku dari dulu! Mungkin dia akan jadi rebutan para pria!"
Marco melotot horor. "Para wanita, Ibu! Wanita! Kenapa jadi pria?! Aku ini masih lurus! Aku suka perempuan!"
"Terserah mau pria atau wanita, intinya kau tidak laku!" balas Ibunya sewot. "Wajahmu itu terlalu bodoh persis seperti ayahmu!"
Tidak terima ayahnya dihina, Marco langsung berlari mendekati Alden dan memeluk pria paruh baya itu dengan erat dari samping.
"Ibu jangan sembarangan menghina gen kami," protes Marco, mengangkat dagunya dengan gaya congkak yang sama persis dengan ayahnya. "Justru wajahku ini sangatlah tampan dan sempurna karena aku mewarisi rahang tegas dan pesona mematikan dari Ayah. Benar kan, Yah? Kami ini terlalu tampan sampai-sampai wanita di luar sana tidak ada yang selevel dengan kami. Aku masih single karena ini murni pilihanku, bukan karena tidak laku!"
Alden mengangguk setuju, menepuk-nepuk punggung putranya dengan bangga. "Betul sekali! Pria-pria Maverick itu tampannya seperti apotik tutup. Tidak ada obat. Ibumu saja yang matanya rabun karena tertutup masker hijau."
Melihat ibunya mulai bersiap melempar vas bunga, Marco buru-buru memutar otak untuk menyelamatkan nyawanya dan nyawa ayahnya.
"Ehem! Ngomong-ngomong, lupakan soal masalah asmaraku," Marco berdeham keras, berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia melepaskan pelukannya dan duduk di atas sofa. "Bagaimana pekerjaan kalian hari ini? Kudengar Alexander Group sedang merombak jajaran direksi?"
Mendengar topik pekerjaan, aura Alden langsung berubah santai. Ia ikut duduk dan menyilangkan kakinya.
"Ah, iya. Kemarin ada sekelompok investor asing yang menemuiku," cerita Alden dengan nada malas.
"Mereka menawariku modal triliunan rupiah. Mereka memintaku keluar dari Alexander Group dan mengajakku membuka perusahaan sendiri. Mereka bilang aku sangat jenius dan sayang kalau cuma jadi anak buah."
"Wah!" Marco mencondongkan tubuhnya tertarik. "Lalu Ayah jawab apa?"
"Tentu saja Ayah tolak mentah-mentah!" jawab Alden cepat, seolah itu adalah pertanyaan paling bodoh di dunia.
Rowena yang baru saja duduk di sofa seberang ikut mengangguk setuju. "Ibu juga kemarin ditawari posisi founder untuk sebuah perusahaan mode raksasa oleh kenalan Ibu. Tentu saja Ibu tolak. Enak saja menyuruh-nyuruh Ibu untuk buka perusahaan sendiri. Cih, memangnya dia siapa, hah?!"
Marco tertawa pelan. "Kalian memang konsisten."
"Tentu saja, Marco. Dengarkan nasehat Ayahmu ini," Alden mengangkat telunjuknya, berlagak seperti seorang filsuf. "Kita ini memang menjabat sebagai CEO, gajinya selangit, fasilitasnya nomor satu. Tapi, di atas kertas, kita tetaplah anak buah. Kita ini karyawan."
"Tepat," sambung Rowena bersemangat. "Kalau kita buka perusahaan sendiri, lalu perusahaannya bangkrut, siapa yang stres? Kita! Siapa yang dikejar-kejar bank? Kita! Tapi, kalau kita jadi anak buah, seandainya Alexander Group tiba-tiba gulung tikar besok pagi..."
"...kita tidak perlu pusing!" sahut Marco dan Alden bersamaan.
"Benar sekali!" Alden menjentikkan jarinya sambil tertawa riang. "Kalau perusahaan bangkrut, ya sudah. Tinggal bikin surat resign, kemasi barang-barang, lalu cari kerja di tempat lain. Bebas beban pikiran! Yang stres sampai botak biarkan saja para pemegang saham utamanya. Buat apa kita repot-repot memikul risiko sebesar itu?"
Marco bertepuk tangan dengan raut wajah penuh kekaguman. "Pemikiran yang sangat visioner dan revolusioner. Keputusan yang sangat jenius, Ayah, Ibu. Aku benar-benar bangga menjadi anak buah... eh, anak kalian. Hidup ini memang tidak perlu dibuat pusing."
Keluarga itu tertawa bersama, merasa sangat puas dengan prinsip hidup mereka yang santai dan menghindari tanggung jawab berat. Sikap jenius namun malas untuk pusing inilah yang diwariskan lurus-lurus ke dalam darah Marco.
Namun, keharmonisan keluarga itu hanya bertahan selama dua menit.
Rowena tiba-tiba menghentikan tawanya. Ia kembali menatap Marco dengan sorot mata mengintimidasi. Topik asmara rupanya belum benar-benar hilang dari kepalanya.
"Jangan berpikir kau bisa lolos dengan mengalihkan pembicaraan, Marco Maverick," desis Rowena, melipat tangannya di depan dada.
Marco menelan ludah. "Ibu, aku kan sudah bilang, aku belum mau pacaran..."
"Alasan!" potong Rowena cepat. Ia menuding putranya lagi. "Ibu mendesakmu begini karena Ibu malu! Coba kau lihat Noah! Umurnya hampir sama denganmu, bahkan dia sedikit lebih muda. Tapi Noah sudah punya istri yang cantik, bahkan anaknya si Leo sudah berumur tiga tahun dan pintar sekali berbicara!"
Rowena menarik napas panjang, bersiap mengeluarkan kalimat pamungkasnya dengan volume suara yang memenuhi seisi ruang tamu.
"Sementara kau?!" seru Rowena emosi. "Usiamu sudah segini, tapi belum pernah bawa perempuan ke rumah! Tiap malam, kerjamu di kamar mandi hanya asyik bermain dengan sabun batangan! Apa kau tidak bosan, hah?!"
Mata Marco membelalak sempurna. Wajahnya seketika merah padam hingga ke telinga. Ia melompat dari sofa secepat kilat, menerjang maju, dan langsung membekap mulut ibunya dengan kedua tangannya.
"Mmph!! Mmph!!" Rowena meronta-ronta karena mulutnya ditutup.
Alden yang melihat itu hanya tertawa terbahak-bahak memegangi perutnya.
"Ibu! Astaga, ssttt!" desis Marco panik, menoleh ke kiri dan ke kanan seolah ada kamera tersembunyi yang sedang merekam mereka. Wajahnya benar-benar pias.
Marco lalu menatap lurus ke arah ruang kosong di depannya—seolah ia sedang menembus dimensi dan menatap langsung ke arah orang-orang yang sedang membaca kisah ini.
"Jangan bicara begitu, Ibu!" ucap Marco dengan nada merana dan wajah memelas yang konyol. "Tolong jaga bahasamu! Nanti pembaca salah paham dan mengira aku ini pria ngenes tingkat dewa! Tolonglah, aku ini karakter utama! Harga diriku bisa hancur lebur di bab ini!"
Rowena akhirnya berhasil menepis tangan putranya. "Pembaca siapa yang kau maksud, Bocah Sinting?! Tidak ada siapa-siapa di sini!"
"Pokoknya jangan bawa-bawa sabun batangan!" Marco memanyunkan bibirnya, bersiap kabur menuju tangga. "Lagipula, aku pakai sabun cair, bukan sabun batangan! Selamat malam, Ayah, Ibu! Aku mau tidur!"
Meninggalkan teriakan omelan ibunya dan gelak tawa ayahnya yang menggema di ruang tamu, Marco berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Ia tidak tahu saja, bahwa doa ibunya agar ia segera mendapatkan wanita, akan terjawab dengan cara yang sangat tidak terduga.
oooh tdk bisaaa ,, anda gx liat tuh calon pawang ny udh ngeluarin tanduk dari kening ny🤭🤭🤭🤣🤣🤣
semangat Marco ,,
semangat liaa or Isabella ,,
kejam banget sih itu memang cewek 😡
jgn bermimpi bisa dapetin Marco Alana ,, pawang skarang ganas meski belum resmii ,, tp ttap hati2 ,,