NovelToon NovelToon
Istri Gendut Yang Diceraikan

Istri Gendut Yang Diceraikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Dendam Kesumat / Cewek Gendut
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Danti tiba-tiba diceraikan oleh suaminya saat rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.

Alasannya? karena tubuh Danti berubah gemuk setelah menjalani berbagai program kehamilan yang selama ini sedang mereka perjuangkan bersama.

Bukannya menangis dan memohon agar dicintai kembali, Danti justru menerima perceraian itu dengan tenang.

Namun sebelum palu hakim diketuk, Danti akan membuktikan bahwa perempuan yang dicampakkan karena bentuk tubuhnya... kini masih bisa berubah menjadi bidadari yang membuat banyak lelaki tergila-gila.

Dan saat mantan suaminya menyesal, Danti hanya tersenyum sambil berkata...

“Aku pawang buaya yang akan membuka kembali peternakannya!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Angin

Rumah masih sunyi ketika Danti membuka pintu.

Ia berdiri di ambang beberapa detik, memandangi ruang tamu yang sama, sofa yang sama, jam dinding yang berdetak dengan irama yang sama. Tak ada yang berubah. Tapi entah kenapa, rasanya seperti memasuki rumah orang lain.

Ia melepas sandal, menaruh tas di kursi, lalu berjalan menuju kamar. Mobil Rizal belum terdengar di halaman. Masih ada waktu.

Di atas meja rias, berderet kotak-kotak kecil dan botol berwarna putih pucat. Vitamin, tablet hormon, suplemen kesuburan, kapsul yang harus diminum pagi, kapsul yang harus diminum malam. Di sebelahnya, sebuah buku catatan kecil dengan jadwal kontrol dan tanda centang yang ia gambar rapi setiap hari, nyaris tanpa pernah terlewat.

Danti menatap semua itu lama.

Dua tahun. Dua tahun penuh jarum, tablet, cemas menunggu hasil, dan tangis diam-diam di kamar mandi tiap kali garis di alat tes itu hanya satu. Dua tahun ia mengubah tubuhnya menjadi ladang percobaan demi sebuah harapan yang kini terasa seperti bayangan di dasar kolam keruh.

"Kamu butuh seseorang yang menopang kamu. Bukan orang yang ninggalin kamu sendirian di pojok pesta."

Suara Nadia kembali terngiang, jernih seperti lonceng yang berdentang.

Jemari Danti terulur, menyentuh salah satu botol. Plastiknya dingin. Ia memutar-mutarnya sebentar. Lalu ia teringat sindiran di depan lemari, tawa di ballroom, wadah plastik ibu mertuanya, dan satu kalimat yang paling menusuk dari semuanya: "Kamu memang gendut, Dan. Itu fakta."

Tak ada lagi ragu. Hanya kelelahan yang tiba-tiba berubah bentuk menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang tenang dan keras seperti batu kali.

"Cukup," bisiknya.

Ia mengambil tempat sampah kecil dari sudut kamar, meletakkannya di depan meja rias, lalu menyapu semua kotak dan botol itu ke dalamnya. Satu per satu. Gemerincing butir-butir tablet beradu dengan plastik, bunyi kecil yang anehnya terdengar seperti pintu yang tertutup. Buku catatan jadwal itu ia lempar paling akhir.

Danti menegakkan punggung. Menatap tempat sampah itu, lalu menghela napas panjang yang rasanya sudah ia tahan sejak dua tahun lalu.

Ia muak. Muak dihina, direndahkan, dan selalu mengalah dalam situasi apa pun. Mulai hari ini, ia akan menjalani hidup untuk dirinya sendiri.

Sore itu, Danti tak menyalakan kompor.

Bukan karena malas, melainkan karena tak ada yang bisa dimasak. Ia sudah memeriksa semuanya. Beras tinggal remah di dasar karung. Minyak goreng hanya setengah sendok. Telur habis, bawang tinggal sebiji, dan garam pun nyaris tak tersisa. Dompetnya? Kosong. Hanya ada selembar lima ribu yang tadi pagi tak jadi terpakai karena ia pulang naik angkot hasil patungan kecil dari Nadia.

Danti berdiri di depan cermin lemari, menatap perempuan yang balas menatapnya. Rambutnya agak berantakan, matanya masih sedikit sembap, pipinya penuh, bahunya lebar, dan gaun hijau itu masih melekat di tubuhnya seperti sahabat lama yang setia.

Ia menatap lekat-lekat, tanpa mengernyit, tanpa menghakimi.

"Kamu masih Danti," ucapnya pelan. "Kamu belum hilang."

Bayangan itu tampak seperti hendak menangis, lalu pelan-pelan, tersenyum kecil.

"Ayo, Dan. Satu hari satu langkah."

Ia mengangguk pada dirinya sendiri, lalu pergi mandi. Air hangat mengalir di kulitnya, membasuh sisa lelah dan debu perjalanan. Ia keramas lama, menggosok tubuh dengan sabun yang tinggal sisa tipis, dan membiarkan pikirannya kosong untuk pertama kalinya sepanjang hari.

Selesai mandi, ia mengenakan daster bersih, duduk di tepi ranjang, dan mengambil ponselnya. Jarinya membuka aplikasi lowongan kerja, mengetik beberapa kata kunci

Puluhan lowongan bermunculan di layar. Danti menggulir pelan. Sebagian meminta pengalaman bertahun-tahun, sebagian meminta ijazah yang entah masih ia simpan di mana. Tapi beberapa terlihat mungkin. Operator input data. Penulis lepas. Asisten toko daring.

Ia menyimpan beberapa di antaranya, lalu tersenyum kecil.

Itu langkah pertama.

Suara mesin mobil berhenti di halaman, disusul bunyi pintu ditutup keras-keras.

Danti meletakkan ponselnya, bangkit dengan tenang, dan berjalan ke ruang tamu. Ia sudah berdiri di dekat pintu ketika kenop berputar dan Rizal masuk dengan dasi longgar dan tas kerja di tangan.

Rizal sempat tertegun melihat istrinya di sana. Tak biasanya Danti menyambutnya di pintu dengan wajah setenang itu, bukan wajah yang tegang menunggu kemarahan.

"Kok... kamu berdiri di sini?" tanyanya curiga.

"Menyambut kamu, Mas."

"Oh." Rizal melepas sepatu sambil mengendus udara. Alisnya bertaut. Ada yang janggal. Rumah ini selalu beraroma bawang putih dan kaldu ketika ia pulang. Hari ini, hanya bau sabun mandi dan lantai yang baru dipel.

Ia melangkah ke dapur, membuka tudung saji. Kosong. Membuka panci, kosong menengok kompor, dingin.

"Danti!" panggilnya dengan nada yang sudah mulai meninggi. "Kamu nggak masak?"

"Nggak."

Jawaban singkat itu begitu datar hingga Rizal berhenti bergerak. Ia menoleh perlahan. "Apa?"

"Aku nggak masak, Mas."

"Kenapa nggak masak? Aku lapar banget! Dari tadi siang cuma makan bekal separuh, itu pun udah dingin!" Rizal melempar tasnya ke kursi. "Kamu tuh seharian di rumah ngapain aja sih? Kerjaan cuma satu... masak! Itu aja nggak bisa!"

Danti menatapnya tanpa berkedip. "Kalau Mas mau makan, kasih aku uang buat belanja."

Rizal mendengus keras, sudut bibirnya naik, seperti baru mendengar lelucon buruk. "Uang lagi. Uang lagi! Dari tadi pagi yang dibahas uang terus! Kamu tuh nggak ada topik lain apa?"

"Karena memang itu masalahnya, Mas. Berasnya habis, minyaknya habis, telur habis."

"Terus makanan tadi pagi ke mana? Kamu kan masak banyak! Telur gulung, tumis buncis, tempe goreng!" Mata Rizal menyipit penuh tuduhan. "Jangan-jangan kamu habisin sendirian, ya? Pantes badan kamu makin..."

"Ibumu yang bawa pulang."

Kalimat itu keluar dengan nada tinggi, tegas, dan memotong ucapan Rizal seperti pisau.

Rizal tersentak. "Apa?"

"Semuanya dibungkus Ibumu, Mas." Danti melangkah satu langkah lebih dekat. Dadanya naik-turun, tapi suaranya mantap. "Telurnya, sayurnya, tempenya, bahkan nasi dari bakul pun dicedok habis. Aku minta disisakan sedikit buat sarapan, karena aku belum makan dari semalam. Tahu apa jawaban Ibumu? Katanya biar aku nggak makin gendut. Satu butir nasi pun nggak ada yang disisain."

Rizal mengatupkan mulutnya.

Wajahnya yang tadi memerah karena marah, berangsur berubah. Alisnya turun, bahunya mengendur sedikit, dan matanya beralih ke sudut ruangan. Ia diam.

Karena ia tahu.

Tentu saja ia tahu. Ia mengenal ibunya sejak kecil. Tahu bagaimana tangan itu selalu cekatan kalau melihat makanan gratis, tahu bagaimana wadah plastik selalu tersembunyi di dalam tas jinjingnya setiap kali berkunjung ke rumah orang lain. Tahu tabiat yang selama ini ia anggap wajar dan bahkan lucu.

Untuk sesaat, di dapur yang sunyi itu, Rizal tak punya satu pun jawaban.

Ia berdeham canggung, merogoh dompet, dan mengeluarkan selembar uang seratus ribu. Ia menyodorkannya pada Danti tanpa menatap matanya.

"Nih. Masak sana. Aku udah lapar."

Danti memandang lembaran itu. Seratus ribu.

Tapi ia menerimanya. Karena perut kosong tak bisa diajak berdebat.

"Aku belanja dulu," katanya singkat, lalu mengambil kantung kain dari gantungan dan keluar.

---

Warung di ujung gang sudah mulai sepi. Bu Warni, pemiliknya, sedang menyapu lantai dengan sapu lidi pendek ketika Danti masuk.

"Eh, Mbak Danti. Tumben sore-sore."

"Iya, Bu. Mau beli beberapa barang."

Danti berkeliling sambil menghitung dalam hati. Beras, dua liter saja. Satu karton telur kecil. Minyak goreng satu bungkus kecil. Seikat bayam. Sebungkus tempe. Bawang merah, bawang putih, cabai, masing-masing seperempat ons. Garam. Gula.

Satu per satu ia taruh di meja kasir. Bu Warni mencatat dengan pensil di buku tulis lusuh, jarinya lincah menjumlahkan.

"Seratus ribu pas kurang sedikit ya, Mbak. Nih, kembaliannya empat ribu."

"Bu," kata Danti, "boleh minta notanya? Yang rinci, ya."

Bu Warni sedikit heran, tapi tersenyum. "Boleh, boleh. Sebentar ya, Ibu tulisin."

Danti menunggu dengan sabar. Ketika kertas kecil itu diserahkan, ia melipatnya rapi dan menyelipkannya ke saku daster. Lalu pulang menenteng satu kantung kresek tipis yang ringan.

---

Rizal baru saja selesai mandi ketika Danti masuk dapur. Handuk melingkar di lehernya, rambutnya masih basah, dan wajahnya sudah siap bersungut.

Matanya langsung tertuju pada kantung di atas meja.

"Itu doang?"

"Iya."

"Aku kasih seratus ribu, Dan! Seratus ribu! Dan kamu cuma bawa itu?" Rizal mengangkat kantung dan mengintip isinya dengan jijik. "Dua liter beras, segini telur, tempe sebungkus... Mana sisanya? Kamu korupsi, ya?"

Danti menghela napas. Ia tak ingin berdebat. Tak ada tenaga yang tersisa untuk itu, dan lebih dari itu, ia tak lagi merasa harus.

Tanpa berkata apa-apa, ia merogoh saku daster, mengeluarkan kertas kecil itu, lalu menyodorkannya pada suaminya.

"Apa ini?"

"Nota. Aku sengaja minta dari Bu Warni."

Rizal membuka lipatannya. Matanya menelusuri deretan angka dan tulisan tangan miring: beras 2 liter, minyak, telur, bayam, tempe, bumbu... lalu total di baris paling bawah.

Wajahnya perlahan berubah.

"Segini?" gumamnya. "Beras dua liter aja... segini harganya? Telur seperempat kilo... minyak sebungkus..." Ia membalik kertas itu, seolah ada tipuan di baliknya. "Kok mahal banget?"

"Ya memang begitu harganya sekarang, Mas."

"Tapi kok..."

"Kalau Mas mau yang murah," ujar Danti sambil mengeluarkan belanjaan satu per satu ke atas meja dengan tenang, "atau bahkan yang gratis, ada."

Rizal menatapnya. "Apa?"

Danti tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tak pernah ia perlihatkan padanya selama ini. Tidak manis, tidak patuh, tapi tenang.

"Makan angin aja, Mas."

Keheningan menyelimuti dapur itu. Rizal membuka mulut, menutupnya, membukanya lagi. Wajahnya memerah, bukan murni karena marah, melainkan campuran antara kaget, tersinggung, dan tak tahu harus membalas apa. Ia tak terbiasa menghadapi Danti yang menjawab. Danti yang diam adalah Danti yang ia kenal. Yang ini... asing.

Tapi perutnya berbunyi nyaring.

Rizal mendengus, melempar nota itu ke meja, lalu keluar dari dapur sambil menggerutu pelan. Terdengar bunyi televisi menyala dari ruang tamu, volumenya sengaja dikeraskan seperti anak kecil yang ngambek.

Danti menatap punggungnya yang menjauh. Tak ada air mata. Tak ada getar di tangan. Hanya detak jantung yang berdegup agak cepat, dan sesuatu yang aneh di dadanya.

Sesuatu yang ringan.

Ia mengambil pisau, memotong bawang dengan gerakan sabar. Minyak ia panaskan, aromanya perlahan menguar. Nasi mulai mendidih di panci kecil. Bayam dicuci bersih, tempe diiris tipis, telur dikocok dengan sejumput garam.

Suara mendesis memenuhi dapur, harum bawang putih dan cabai yang ditumis, mengusir sisa kelam yang menggantung sejak pagi.

Danti memejamkan mata sebentar sambil mengaduk.

Aneh. Ia selalu mengira melawan akan menakutkan. Ia selalu membayangkan dunia akan runtuh bila ia menyuarakan isi hati. Tapi yang ia rasakan justru kebalikannya. Seolah ada beban besar, yang selama ini ia pikul sambil tersenyum, akhirnya diturunkan dari punggungnya, sedikit saja.

"Ternyata," pikirnya sambil membalik telur di wajan, "mengeluarkan unek-unek itu senyaman ini."

Ia tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Danti memasak makan malam bukan karena takut dimarahi, melainkan karena ia sendiri lapar, dan ia berhak untuk makan.

1
Muft Smoker
ayoo dantii ,, tegakan kepala mu ,, jgn mau trus di hina dan di rendah kan oleh keluarga Rizal ,, biar hanya mereka yg tenggelam dlm kehancuran ,, sedangkan km harus ttap terbang tinggi ,,
ryuka
semangat dantiii.. kamu lah pemenang nya.. si rizal aja yg terlalu bodoh
ryuka
bagus rizal semakin cepat kamu masuk kurang klo bgini 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
selamat Rizal sbntar lgii km bkal masuk k jurang kehancuran 😏
Muft Smoker
awalnya emnk manis ,, tp nanti juga akhirnya anda bakal ngerasa mana yg tulus ma hidup mu ,, mana yg cuma tulus ma uang mu zal ,, 😒😒😒
ryuka
nunggu kehancuran kalian sekeluarga aku tuuuhhh 🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
haduuuhh biasa nya yg gampang terpukau itu yg gampang di bodohi 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
orang salah emang selalu cari pembenaran 🫠🫠🫠🫠🫠🫠
Muft Smoker
ayoo dantii ,, semangat berjuang ,,
ryuka
semangat dantiiii 👍👍👍👍👍👍👍
ryuka
kamu mulai terlena rizal.. haduh haduh haduhh.. /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Muft Smoker
gpp danti ,, biarkan si Rizal hancur sndrii dg selalu merasa bnar ,,
km tinggal fokus dg ap yg Skrang km kerjakan ,, meski rasa sakit mungkin ad ,, sbgai istri melihat suami sperti itu ,,
Muft Smoker
baru 1 hari atur uang belanja ,, km udh stress zal/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ryuka
naahhh mikir kamu sekarang.. haduuhh di bodohin kok mau aja sihhh
Muft Smoker
sbntar lgii jugaaa hancur dy ,, biarin aj ,,
ryuka
bodoh kamu bodoh rizal.. tunggu kehancuran kamu zal
Muft Smoker
gpp zal semakin km merasa bosan ma danti ,, semakin penyesalan dan kehancuran mendekat ke arah mu
ryuka
terlalu bodoh kamu rizal../Sweat//Sweat//Sweat//Sweat/
Muft Smoker
danti pun membalas ,, ' km banci mas ' 😒😒😒😒😒
Muft Smoker
good dantii ,, keluarin uneg2 mu ,, abis tu tinggalin si Rizal ,, punya suami otak ny Segede udang rebon ,, yx begitu ,, 😒 😒 😒 😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!