NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Ratu Terbuang

Reinkarnasi Ratu Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Nitaastri

Isabella adalah mantan pembunuh bayaran paling berbahaya dan paling di takuti di dunia gelap. Selama bertahun-tahun tangannya telah berlumuran darah.

Namun semuanya berubah saat Isabella menemukan seorang bayi perempuan di depan apartemennya. Sejak saat itu dia memutuskan pensiun demi keselamatan anaknya. Tapi sayangnya sang bos tidak menyukai itu, hingga dia membunuh anak Isabella karena menganggap jika anak itu adalah penghalang Isabella.

Melihat sang putri tewas, Isabella marah dan mulai memburu satu persatu orang yang telah membunuh putrinya. Setelah dendamnya terbayar, Isabella memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Namun kematian ternyata bukan akhir baginya, karena setelah membuka mata kembali. Isabella mendapati dirinya berada di tubuh seorang wanita bernama Isabella Iris, seorang ratu yang di buang dari istananya sendiri.

Bagimana kisah Isabella selanjutnya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Seragam Bandit 1

Setelah selesai berbelanja di kota Rivendel, Isabella memutuskan untuk segera kembali ke Desa Sylvarin.

Perjalanan pulang cukup panjang, jalan yang mereka lewati membentang melewati hutan lebat yang terkenal berbahaya. Banyak cerita tentang para bandit gunung yang sering menghadang para pedagang dan warga yang melewati wilayah tersebut.

Namun selama beberapa jam pertama, perjalanan mereka berlangsung dengan aman. Isabella duduk tenang di dalam kereta kuda sambil melihat pemandangan hutan dari balik jendela. Ia bahkan sempat merasa perjalanan ini cukup menyenangkan.

Sampai tiba-tiba—

HIIIIIH!

Kuda yang menarik kereta mendadak meringkik keras dan berhenti, tubuh Isabella sedikit terdorong ke depan.

"Apa yang terjadi?"

Sang kusir yang duduk di depan langsung terlihat panik.

"Non—!"

Belum sempat menyelesaikan ucapannya, pria itu berteriak ketakutan.

"BANDIT!"

Isabella segera membuka pintu kereta dan turun, begitu kakinya menginjak tanah, pandangannya langsung tertuju ke jalan di depan.

Sekelompok pria berdiri menghadang mereka, jumlahnya sekitar lima belas orang. Mereka mengenakan pakaian hitam, beberapa memakai pelindung tubuh sederhana, sementara masing-masing membawa pedang. Salah satu dari mereka maju dan mengangkat pedangnya ke arah Isabella.

"Serahkan semua barang berharga kalian!"

Isabella melirik pria itu dengan tenang, kemudian ia melihat ke arah kereta yang dipenuhi barang-barang hasil belanja.

"Kalau aku menolak?"

Kelima belas bandit itu saling memandang, kemudian mereka tertawa.

"Hahaha!"

Pemimpin mereka menyeringai.

"Kalau kau menolak, kami akan mengambilnya sendiri."

Beberapa bandit mulai maju sambil menghunus pedang, sang kusir langsung pucat.

"Nona, kita harus pergi!" Kata Sang kusir dengan panik, lalu dia kembali berpikir bagaimana cara mereka meloloskan diri dari para bandit ini.

"Masuklah ke dalam kereta." Perintah Isabella pada Sang kusir.

"Nona... "

"SEKARANG." perintah Isabella tanpa ingin dibantah sedikitpun.

"Kael, Aeron, lindungi kusir itu." Lanjut Isabella.

"Kami akan membantumu." Kata Kael dalam pikiran Isabella.

"Tidak, kalian tidak perlu membantuku. Lagipula mereka hanyalah sekumpulan semut, jadi tidak begitu sulit untuk mengalahkan mereka." Ujar Isabella, menatap tajam sekumpulan bandit itu.

"Sayang sekali."

Pemimpin bandit mengerutkan keningnya bingung.

"Apa?"

Isabella perlahan menarik pedang yang dibawanya.

Sring!

Kilatan cahaya pedang terlihat di bawah sinar matahari yang menembus sela-sela pepohonan, tatapan Isabella berubah semakin tajam.

"Aku baru saja selesai berbelanja."

Ia mengangkat pedangnya.

"Dan aku tidak ingin barang-barangku dirampas."

"Serang!" Teriak pemimpin bandit itu.

Salah satu bandit menerjang ke arah Isabella dengan senjata terangkat, berniat menyerangnya dari samping.

Namun, Isabella bergerak lebih cepat.

Tubuhnya berputar ringan, membuat serangan itu hanya menebas udara di tempat ia berdiri sesaat sebelumnya. Tanpa membuang waktu, Isabella melangkah maju dan mengayunkan pedangnya dengan gerakan yang begitu cepat dan presisi.

Sret!

Tebasan itu mengenai lengan sang bandit, bandit tersebut menjerit kesakitan dan menjatuhkan senjatanya, sementara Isabella berdiri tegak di hadapannya. Lalu menusuk tepat di dada bandit itu, darah segar langsung terciprat di wajah Isabella.

Tatapan Isabella tetap tenang, tanpa sedikit pun keraguan, gerakannya begitu cekatan dan percaya diri, seolah menghadapi sekelompok bandit bukanlah sesuatu yang perlu ia takuti.

Sang kusir yang menyaksikan semuanya dari dekat hanya bisa menelan ludah, Ia bergidik ngeri ketika melihat bagaimana Isabella menebas lengan bandit itu tanpa ragu.

"Siapa sebenarnya wanita ini?" pikirnya dengan wajah pucat.

Baru saja tadi Isabella terlihat seperti seorang wanita biasa yang terlihat lemah, namun sekarang, di hadapan para bandit, auranya berubah menjadi begitu tajam dan mengintimidasi.

Tiga orang bandit kembali menyerbu Isabella secara bersamaan, salah seorang mengayunkan pedangnya ke arah kepala Isabella. Isabella segera mengangkat pedangnya dan menangkis serangan itu dengan keras.

Clang!

Benturan logam terdengar di tengah hutan, Isabella memutar tubuhnya dengan cepat. Gerakannya begitu lincah hingga lawannya kehilangan keseimbangan, dalam satu putaran, kakinya melayang dan menghantam dada bandit pertama.

Buk!

Bandit itu terhuyung mundur.

Isabella tidak memberinya kesempatan, Ia maju dan melayangkan sebuah pukulan keras ke wajahnya, kemudian menangkap lengannya dan menggunakan momentum tubuh bandit itu untuk membantingnya ke tanah.

Namun, dua bandit lainnya sudah berada di belakangnya. Isabella berbalik tepat waktu.

Salah satu bandit mencoba menusuknya dari samping, tetapi Isabella menghindar dengan menundukkan tubuh, pedangnya kemudian bergerak cepat.

Sret!

Tebasan tajam mengenai leher bandit tersebut, tubuhnya jatuh tak berdaya ke tanah. Bandit terakhir berteriak marah dan menyerang Isabella dengan membabi buta.

Isabella menangkis satu demi satu serangannya, setelah menemukan celah, ia melangkah masuk dan menusukkan pedangnya tepat ke tubuh bandit itu. Bandit tersebut terdiam, menatap pedang yang kini menusuk dadanya.

"Uhuk."

Isabella lalu menarik kembali pedangnya dan tubuh pria itu pun ambruk ke tanah, keheningan kembali menyelimuti hutan.

Isabella berdiri di antara ketiga mayat bandit yang telah dikalahkannya, pakaiannya telah dipenuhi bercak darah, beberapa tetes bahkan mengenai pipi dan wajahnya.

Namun, Isabella hanya mengusap darah yang mengalir di dekat sudut matanya, tatapannya tetap dingin.

Ia menggenggam pedangnya erat-erat sambil mengamati setiap gerakan para bandit yang tersisa, kini tersisa 11 orang bandit lagi.

Isabella berdiri tegak menghapus darah di wajahnya dengan tatapan menyeringai, sementara keenam bandit itu menatapnya dengan penuh kebencian.

Alih-alih mundur, Isabella justru tersenyum tipis.

“Kalau kalian merasa cukup kuat,” ucapnya dingin, “serang aku bersama-sama.”

Perkataan itu membuat keenam bandit tersebut saling berpandangan. Tanpa membuang waktu, mereka langsung bergerak.

Enam orang bandit mengepung Isabella dari segala arah, tatapan mereka tajam dan penuh niat membunuh, namun Isabella sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.

Tangannya justru semakin erat menggenggam pedang, kemudian ia menarik pedang keduanya.

Kini Isabella berdiri dengan dua pedang di kedua tangannya.

“Enam melawan satu...” gumam salah seorang bandit. “Kau benar-benar sudah gila.”

Isabella hanya tersenyum sinis.

“Buktikan.”

Dalam sekejap, keenam bandit menyerang secara bersamaan. Seorang bandit menerjang dari depan, Isabella memutar tubuhnya dengan cepat. Pedang lawannya meleset beberapa sentimeter dari tubuhnya, dengan satu gerakan kaki, Isabella menendang dada bandit tersebut hingga tubuhnya kehilangan keseimbangan. Sebelum pria itu sempat bangkit, Isabella sudah berada di hadapannya. Lalu menusuk bandit itu, hingga pedangnya menembus tubuh sang bandit.

Pria itu terdiam sebelum akhirnya jatuh tak bergerak. Namun, Isabella belum sempat berbalik ketika seorang bandit lainnya menyerangnya dari belakang.

Tanpa panik, Isabella menarik tubuh bandit yang baru saja dikalahkannya dan menggunakannya sebagai perisai.

BRAK!

Serangan bandit itu menghantam tubuh rekannya sendiri. Isabella kemudian melepaskan mayat tersebut dan melayangkan tendangan keras.

Bandit itu terpental beberapa meter.

“Ugh!”

Sebelum dia sempat berdiri, Isabella sudah mengejarnya.

Dengan satu ayunan cepat—

SWING!

Pedang Isabella menebas, bandit itu jatuh tak bergerak. Kini hanya empat orang yang tersisa, keempatnya langsung maju bersama-sama.

Satu menyerang dari kanan, satu dari kiri, dua lainnya menyerang dari depan, namun Isabella justru tersenyum. Gerakannya berubah menjadi jauh lebih cepat.

Clang!

Ia menangkis satu serangan bandit itu dan langsung menebas kepala bandit itu.

"Lumayan." Gumam Isabella.

Lalu seorang bandit mencoba menyerang dari belakang, tetapi Isabella berputar dan menghantam tubuhnya hingga terjatuh ke tanah.

Belum sempat dia bangkit, Isabella sudah berada di atasnya. Sementara itu, dua bandit lainnya kembali menyerang. Isabella melompat menghindari serangan mereka, berputar di udara, lalu mendarat dengan kedua pedang terhunus. Isabella membunuh mereka dengan sangat brutal, mulai dari menikam, menebas dan membanting setiap bandit yang menyerangnya ke tanah.

BRAK!

Tanah bergetar ketika tubuh pria itu menghantam permukaan tanah, Isabella tidak memberinya kesempatan untuk bangkit.

Dalam beberapa gerakan cepat, Isabella langsung menebas kepala bandit itu hingga kepala bandit itu terpisah dari tubuhnya, pertarungan itu akhirnya berakhir.

Keempat bandit terakhir akhirnya tumbang, Isabella berdiri di antara mereka dengan napas yang tetap tenang. Kedua pedangnya masih berada di tangannya.

Ia menatap keenam lawannya yang telah dikalahkan.

Kemudian Isabella membersihkan pedangnya dan memasukkannya kembali ke sarung.

“Enam orang...” katanya pelan dengan senyum dingin.

“Dan kalian masih mengira jumlah bisa mengalahkan seseorang yang lebih kuat dari kalian.”

Wajahnya yang berlumuran darah membuat sosoknya terlihat jauh lebih mengerikan daripada sebelumnya.

Bersambung

1
kiu kiu
lanjut thor...semakin menarik...
Murni Dewita
lanjut
Dewi Anggraeni
Semangat thor up date nya 👍
Dewi Anggraeni
Lanjutttt terusss yah Thor .... Aku suka ceritanya ....
Murni Dewita
lanjut dan tetap semangat
Naru_Ch@n: siap siap💪
total 1 replies
kiu kiu
wkkk...gadis yg unik banget isabela ini. dia bersni melawan monster...klu ada jodoh yg pantas utknya....bawakan satu yg setara dg nya.semangat thor...ak penggemar dunia fantasy.apalagi fantasy barat... 😍😍😍
Naru_Ch@n: siap siap, makasih atas dukungannya💪
total 1 replies
kiu kiu
🤣🤣🤣🤣 isabella msmang tiada duanya.memang si kusir yg sembunyi d dlm kereta emang ptia penakut.herannya kenpa juga klu penakut terima tawaran menjadi kusir di mlm gelap gulita di desa itu.seharusnya dia pulang lebih awal.
Naru_Ch@n: Soalnya bayarannya banyak, makanya dia tergiur🤭
total 2 replies
Murni Dewita
next
xuer jinghao
lanjut Mangat thor 💪
kiu kiu
semangat thor...💪💪💪 terus lanjutkan.apa isabela tidak akan pulang mlm itu.bukankah ia janji pada 3 anaknya akan segera pulang sebelum petang.
Misa
👍
xuer jinghao
lanjut thor semangat ☺️
Murni Dewita
yaelah dikit amat thor
kiu kiu
lanjut thor
kiu kiu
kedua mahkluk mitos semakin tunduk pada isabella.bagus dong isa.bela semakin tk terkalahkan...
kiu kiu
good job...isabella harus sering mengasah kemampuannya.agar bisa menjatuhkan raja yg telah menyingkirkannya...kasihan sekali isabella dan ank anknya.mungkinkah ada akhir bahagia utk mereka ...lanjutkan thor..💪💪💪
Mio
lanjut terus thor
kiu kiu
lanjut thor...
Murni Dewita
lanjut dan tetap semangat
Murni Dewita
double up thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!