Impian Amara untuk bersatu dengan kakak angkatnya akhirnya terwujud juga. Keduanya terikat dalam sebuah pernikahan yang disatukan oleh Abi mereka sendiri.
Sayangnya, Apa yang Amara bayangkan tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Dalam pernikahan ini, Hanya Amara yang menginginkannya. Tapi tidak dengan Fadli Adiputra. Dia tidak pernah menginginkan pernikahan ini sama sekali.
Sikap perhatian yang selalu Fadli berikan berubah menjadi sikap dingin tanpa alasan.
Amara sadar, Bahwa dia bukan pilihan pria itu..
Hingga pada akhirnya, Amara mundur dalam pernikahannya.
Apakah Fadli bahagia atas kemunduran Amara? Atau justru terkurung dalam penyesalan?
•••••
"Kalau pernikahan ini tidak bertahan atas pilihan Abi.. Nanti, Aku akan pertahankan pernikahan ku atas pilihanku sendiri..." Amara Alfhatunnisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Benalu 2
"Saya mau, Kamu cepat menceraikan Fadli. Dan biarkan Lidya yang menggantikan mu menjadi Nyonya dirumah ini...
Mendengar itu, Amara hanya bereaksi biasa saja. Wanita itu tidak kaget, Tidak pula tertegun. Amara memang akan cerai dengan Fadli, Tapi bukan sekarang.
Amara menunda perceraian ini bukan karena masih ingin bertahan dengan Fadli. Tapi masih menunggu banyak bukti. Selain bukti kedekatan Fadli dan Lidya, Amara juga memperbanyak bukti tentang keluarga benalu ini.
Semuanya sudah Amara atur dengan sangat rapi sekali. Lihatlah sekarang? Ibu dari wanita yang selalu dekat dengan suaminya datang. Dan yang lebih lucunya lagi, Wanita paruh baya itu memintanya agar segera mundur dari pernikahannya bersama Fadli.
Sudah miskin, Benalu, Gak tahu malu, Gak tahu diri. Semuanya diborong oleh mereka. Dan semuanya minus, Tak ada plusnya. Memakai pakaian mewah saja nunggu dibeliin orang, Miris sekali bukan?
"Fadli menikahi kamu itu cuma karena terpaksa. Sebenarnya dia itu cintanya cuma sama Lidya anakku.. Jadi, Daripada kamu disini, Jadi istri yang tak dianggap dan terus berada dalam belenggu rumah tangga yang yang pahit. Mending kamu mundur saja..." Kata Bu Nur lagi. Dia kira, Amara akan menangis atau tak kuat mental dengan ucapannya. Tapi salah, Amara hanya menunggu wanita itu menyelesaikan ucapannya sebelum Amara menyerang.
"Lidya itu wanita cantik.. Makanya Fadli tergila-gila.. Fadli menikahi kamu itu cuma buat senang-senang aja. Tapi aslinya enggak.. Dia..
"Udah selesai ngomongnya?" Bu Nur kaget dengan ucapan Amara. Putri bungsu Abi Rafa dan Umma Zakia itu hanya tersenyum saja.
"Jadi Ibu datang kesini, Mau ketemu saya, Mau bicara empat mata sama saya, Cuma mau bahas masalah yang tidak penting ini?" Amara menggelengkan kepalanya.
"Ck ck ck Bu.. Sebegitu inginnya ibu ingin putri ibu menjadi istri Fadli.. Sampai-sampai datang kesini, Minta istrinya buat cerai.." Amara terkekeh. Sungguh Ibu Lidya ini merasa sangat lucu sekali. Astagaaa..
Amara mengetuk-ngetuk meja dengan jari-jari tangannya yang putih dan kukunya yang cantik. Mata indah Amara menatap Bu Nur yang tak mengatakan apapun.
"Ibu datang kesini, Cuma minta saya ngalah? Minta saya mundur dari pernikahan ini?
"Iya.. Biarkan Lidya yang menggantikannya.." Ucapnya yakin.
"Tapi kenapa harus saya yang mundur?
"Mak.. Maksud kamu?
"Ya, Kan disini yang menginginkan saya cerai dengan Fadli itu ibu.. Dan pertanyaannya, Kenapa harus saya yang mundur? Kenapa tidak ibu saya yang usaha.." Amara berdiri, Wanita itu membungkukan tubuhnya, Mencondongkan wajahnya tepat dihadapan Bu Nur.
"Dengar, Sekalipun saya mau bercerai dengan Fadli.. Saya tidak akan melepaskan pernikahan ini begitu saja. Karena apa, Karena bukan saya yang salah disini.. Kalau ibu mau saya dan Fadli segera bercerai.." Amara menarik dirinya dan duduk kembali dikursi.
"Usaha sayang, Usahaa..!! Yang butuh posisi jadi Nyonya Fadli itu bulan saya, Tapi putri ibu.. Ya, Usaha sendiri dong!! Masa Putri ibu yang butuh saya yang usaha, Saya yang berjuang.. Enak sekali.. Kalian siapanya saya sampai suruh aku yang mundur?? Sok Akrab.." Bu Nur diam, Wanita itu hendak bicara namun didahului oleh Amara.
"Ohya, Katanya putri ibu cantik?" Bu Nur mengangguk mantap.
"Iya.. Anak saya itu cantik, Lidya itu..
"Tapi tak lebih cantik dari saya, Kan?" Bu Nur kembali terdiam, Amara terkekeh.
"Ya, Jelas lah lebih cantik saya.. Secara dari sudut manapun saya memang cantik, Ada bule-bule nya lagi..
"Kamu menghina Lidya jelek?" Bu Nur mulai emosi. Sejak tadi dia tak pernah menang adu bicara dengan Amara.
"Yang bilang jelek bukan saya, Ya.. Ibu sendiri yang bilang. Dan tadi saya hanya memuji diri saya sendiri tanpa menghina putri ibu..
"Kamu!!
"Ya, Kalau memang Ibu mengakui putri ibu cantik, Kenapa harus incar suami orang Bu? Emangnya putri ibu gak laku dikalangan pria lajang?" Bu Nur menelan salivanya..
"Ka.. Kata siapa putri saya tidak laku.. Dia laku kok. Banyak yang mau sama dia..
"Yaudah, Suruh aja pria lajang itu lamar anak ibu..
"Tapi, Lidya maunya Fadli, Katanya Fadli cinta sama putri saya..
"Ya, Kalau Fadli memang cinta anak ibu kenapa nyuruh saya yang menceraikan Fadli? Kenapa saya yang disuruh mundur? Kenapa gak Ibu aja yang nyuruh Fadli untuk menceraikan saya..." Bu Nur terdiam, Lalu..
"Saya.. Saya..
"Kenapa? Gak berani?
"Itu.. Itu,,Saya...
"Saya hubungi Fadli sekarang.. Ibu bisa bicara sama..
"Saya pulang dulu.." Katanya dan langsung beranjak. Bu Nur pergi dari rumah itu, Mungkin karena sudah tak punya stok kata untuk melawan Amara.
Yang dikatakan Amara memang benar, Kan? Kalau Fadli mencintai Lidya, Kenapa harus Amara yang mundur. Suruh saja Fadli untuk menceraikannya, Bereskan?
Tapi mana Bu Nur berani meminta Fadli untuk menceraikan Amara. Fadli saja takut apabila diceraikan. Sementara setiap ucapan Bu Nur yang keluar dari Bibirnya tidaklah benar.
Setiap ucapan Bu Nur yang mengatakan kalau Fadli mencintai Lidya itu semua bohong. Memang kapan Fadli mengatakan kalau pria itu cinta Lidya, Fadli hanya dekat dan itupun karena Fadli merasa masih punya tanggung jawab. Fadli saja yang belum tahu kau selama ini dia hanya dimanfaatkan saja.
"Dia udah pergi Ning?" Bi Darmi mendekati Amara usai mengintip sejak tadi..
"Dia kabur Bi.. Tapi tenang aja, Aku udah rekam ucapannya tadi yang minta aku mundur.. " Amara meraih benda pipihnya. Permintaan Bu Nur yang meminta Amara untuk segera bercerai dengan Fadli terekam dengan jelas diponselnya.
Amara tidak akan menunjukkan rekaman ini sekarang. Rekaman ini akan Amara tunjukkan nanti agar keluarga benalu itu sadar diri. Bahwa orang yang mereka lawan adalah orang yang salah..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Didalam ruangan luas itu, Fadli duduk tidak tenang. Video yang tengah viral tersebut benar-benar merimbas pada perusahaannya..
Banyak pertanyaan yang harus Fadli jawab. Tentang pernikahannya dengan Amara yang memang tak banyak orang lain tahu.
Tentang benar apakah tidaknya hubungannya dengan Lidya. Dan masih banyak lagi. Selain itu para rekan kerja pun juga banyak yang membatalkan kerja sama. Padahal kerja perusahaan Fadli kadung menerima banyak kerja sama dengan perusahaan lainnya.
"Fadli..." Lidya masuk tanpa mengetuk pintu.
"Kamu bisa gak sih? Masuk ketuk pintu dulu?!" Lidya menunduk. Nada bicara Fadli agak meninggi membuat Lidya kaget.
"Maaf, Aku pikir..
"Kamu gak denger tadi? Ada karyawan yang bilang kalau katanya aku ini pilih kasih.. Aku biarin kamu masuk dengan sesuka hati kamu keruangan ini. tanpa ketuk pintu.." Lidya tak menjawab. Memang ada salah satu karyawan yang mengatakan kalah katanya Fadli ini lebih memprioritaskan Lidya saja. Yang lain salah dikit kena marah, Sementara Lidya masuk tanpa ketuk pintu dimaklumi. Dikomentar seperti itu tentu saja Fadli malu.
"Aku gak bakalan ulangi lagi.. Lagian aku kesini cuma mau tanya sesuatu..
"Mau tanya apa?
"Soal mobil yang kemarin kamu janjikan ke aku.." Fadli langsung menatap tajam Lidya, Dan..
BRAAAK!
"Disaat aku lagi pusing gini kamu masih sempet tanya mobil??!!
•
•
•
TBC
aduuuh siap2 deh km tinggal di hotel prodeo ,, selain tuntutan Amara ,, sekaligus tuntutan dr pihak hotel ,,
tuh liat fadliu wanita pilihan mu ,, sungguh luar binasa 🤣😁
heh jalang, siap-siap kamu dan keluarga kamu masuk penjara dan jadi gembel 🤣🤣🤭🤭