NovelToon NovelToon
KETIKA AKU HARUS MEMILIH

KETIKA AKU HARUS MEMILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Balas Dendam
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Five Vee

Serafina Olivia mencintai Ravin Haryaka Arthadipa sejak ia berusia 17 tahun. Pria yang setahun lebih tua darinya itu, merupakan anak dari rekan bisnis sang papa. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, membuat Sera semakin menyukai Ravin. Hingga suatu hari, rencana perjodohan dua keluarga pun terdengar. Tanpa berpikir dua kali, Sera pun menerima perjodohan itu demi bisa hidup bersama pria pujaan hatinya. Bahagia hanya terasa di awal cerita. Semuanya berubah, saat rahasia hati Ravin terungkap. Pria itu tidak pernah mencintai Sera. Hatinya hanya untuk wanita lain. Di tengah lelah menanti cinta Ravin yang tak kunjung berlabuh padanya. Sera pun di hadapkan pada dua pilihan. Bertahan dalam ketidakpastian dan sakit hati. Atau pergi untuk membebaskan hati dengan cinta yang baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Berbagi Cerita Dengan Mama Safina.

Ravin merangkul pinggang sang istri saat turun dari kamarnya. Mereka terlihat serasi dengan menggunakan pakaian warna senada.

Ravin memakai baju kaos dan celana panjang berbahan kain warna putih. Begitu pula dengan Sera, ia menggunakan gaun lengan pendek setinggi lutut berwarna putih.

Di ruang keluarga kini tak hanya ada papa dan mama Ravin. Namun, orang tua Sera juga susah ada disana.

Mama Irene dan papa Bayu tersenyum senang melihat Ravin dan Sera yang terlihat begitu mesra. Tetapi, tidak dengan mama Safina.

Ia sudah mendapat kabar dari bi Sari, jika saat ini rumah tangga Sera dan Ravin sedang ada masalah.

‘Kalian sangat pintar bersandiwara.’ Monolog mama Irene dalam hatinya.

Ravin pun mengajak Sera untuk menyapa orang tua gadis itu.

“Semenjak kamu punya sopir pribadi, kita jadi tidak pernah bertemu.” Bisik mama Safina saat sang putri memeluknya.

“Mama sendiri yang memaksa aku untuk mempekerjakan mas Wira.” Dengus Sera pelan.

“Mama melakukannya demi kebaikan kamu, Sera.” Mama Safina menyunggingkan senyum penuh arti.

Sera mengerutkan keningnya. “Maksud mama?”

“Nanti juga kamu akan tau.” Mama Safina mengusap bahu gadis itu.

“Sena mana, ma?” Tanya Sera sembari mengajak Ravin untuk duduk di salah satu sofa panjang.

Mereka masih tetap dengan sandiwaranya. Menunjukkan kemesraan semu di depan para orang tua.

“Seharusnya mama yang nanya sama kamu. Kalian ‘kan satu kantor.” Mama Safina berdecak pelan.

“Kalau soal itu. Mama tanyakan saja sama papa.” Sera melihat ke arah sang papa.

Papa Bayu berdecak pelan. “Adik kamu itu calon pengganti papa. Jadi, dia harus di tempa dengan keras. Agar siap menjadi pemimpin yang baik suatu hari nanti.”

Sera pun berdecak pelan.

“Oh, ya. Bagaimana kabar kalian berdua? Apa sudah ada tanda - tanda kehadiran calon pewaris keluarga kita?” Kini giliran mama Irene yang bersuara.

Sera tertegun sejenak. Kemudian menoleh ke arah sang mertua dengan senyum terkembang di wajah cantiknya.

“Kalau soal cucu, mama tanyakan saja sama kak Ravin.” Ucap gadis itu sembari memutar kepala ke arah Ravin yang duduk di samping kanannya.

“Iya ‘kan, kak?” Sera menaik turunkan alisnya.

Ravin menjadi salah tingkah. Ia tau Sera sedang melempar umpan pada dirinya.

“M-mama doakan saja. Semoga secepatnya kalian memiliki cucu.” Ucap Ravin dengan senyum canggung.

Sera mencebik pelan.

Sekeras apapun manusia berdoa, jika tanpa diiringi dengan usaha, maka tak akan pernah membuahkan hasil.

“Maaf, nyonya. Makan malam sudah siap.” Ucap seorang asisten rumah tangga pada sang nyonya rumah.

Mama Irene menganggukkan kepalanya. “Baiklah, kita lanjutkan obrolan ini setelan makan malam.“ Ia melangkah lebih dulu menuju ruang makan.

Mama Safina dan papa Bayu pun bangkit dari tempat duduknya. Begitu pula dengan papa Rajendra. Pria paruh baya itu bangkit secara perlahan dengan bantuan sebuah tongkat di tangan kanannya.

Ravin bangkit dari tempat duduknya, kemudian mengulurkan tangan pada sang istri.

Namun, Sera menolaknya.

“Aku mau bantu papa.” Ucap gadis itu meninggalkan Ravin, kemudian menghampiri papa Rajendra yang berjalan tertatih.

“Biar aku bantu, pa.” Ucap Sera sembari merangkul lengan kiri sang papa mertua.

“Te-rima ka-sih, Se-Ra.” Ucap papa Rajendra terbata.

Penyakit stroke yang di deritanya, membuat pria itu kesulitan untuk berbicara secara normal.

“Papa tidak perlu sungkan. Bukannya sekarang aku juga anak papa.” Sera menuntun pria paruh baya itu keluar dari ruang keluarga.

Papa Rajendra tersenyum tipis. Akhirnya ada anak perempuan yang memperhatikan dirinya.

.

.

.

Mama Safina diam - diam terus memperhatikan interaksi Sera dan Ravin di meja makan.

Meski sang putri terlihat melayani suaminya, namun mama Safina dapat melihat dengan jelas, jika ada jarak di antara keduanya.

Apalagi, mama Safina sudah mendapatkan laporan dari bi Sari. Tentu wanita paruh baya itu tidak akan percaya begitu saja dengan kemesraan yang di perlihatkan Sera dan Ravin.

Setelah selesai makan malam, papa Rajendra, dan papa Bayu mengajak Ravin membahas masalah pekerjaan.

Mama Safina memanfaatkan kesempatan yang ada. Ia pun meminta ijin pada besannya—mama Irene, untuk mengajak Sera mampir sebentar ke rumah mereka.

“Ada apa, ma?” Tanya Sera saat mereka tiba di teras rumah keluarga Mahendra.

“Kita bicara di dalam.” Mama Safina membukakan pintu untuk sang putri.

Mereka kemudian duduk berdampingan di atas sofa ruang tamu karena paling dekat dengan pintu masuk.

“Mama yang seharusnya bertanya sama kamu. Apa yang terjadi di antara kamu dan Ravin?” Tanya mama Safina dengan tatapan penuh selidik.

“Tidak terjadi apapun, ma.” Dusta Sera. Gadis itu pun memalingkan wajahnya.

Mama Safina berdecak pelan. “Kamu mungkin bisa membohongi mertua dan papa kamu, Sera. Tetapi, kamu tidak akan bisa membohongi mama.” Wanita paruh baya itu menarik pelan dagu sang putri agar menatap ke arahnya.

“Katakan pada mama, apa yang terjadi di antara kalian? Kenapa mama melihat, kamu seperti kesal dengan Ravin?” Imbuh mama Safina.

Sera pun menghela nafas pelan. “Rania— mantan kekasih kak Ravin ada di Jakarta, ma.” Ucap gadis itu.

Mama Safina mengerutkan keningnya. “Darimana kamu tau, Ra? Apa kamu melihat Ravin bersama gadis itu?”

Kepala Sera menggeleng pelan. “Akhir pekan lalu, aku melihatnya di pusat perbelanjaan. Aku sempat mengejar Rania. Tetapi, aku kehilangan jejak.”

Kening mama Safina kembali berkerut dan kini semakin dalam.

“Tunggu. Kamu ke mall sama siapa?”

“Sama mas Wira. Kak Ravin waktu itu sedang keluar bermain golf sama kliennya.” Jelas Sera.

Mama Safina pun mengangguk paham. “Apa Ravin tau kamu melihat Rania?”

Kini giliran Sera yang menganggukkan kepalanya. “Sampai di rumah, aku menanyakan pada Kak Ravin. Apa dia tau tentang keberadaan Rania di Jakarta?”

“Lalu, apa kata suami kamu?” Mama Safina penasaran dengan jawaban yang Ravin berikan.

“Kak Ravin mengatakan kalau tidak dia mengetahuinya, karena sibuk bekerja di kantor.” Sera berucap sendu.

Mama Safina pun berdecak pelan. “Dan kamu percaya begitu saja ucapan pria itu?”

Sera menggeleng pelan. “Aku mulai curiga ma. Kepergian kak Ravin di malam pertama kami. Tidak pulang di hari jadi pernikahan. Bahkan, sampai saat ini, kami belum —

Gadis itu tidak melanjutkan ucapannya. Namun kepalanya kembali menggeleng pelan.

“Apa sekarang kamu sudah percaya dengan semua yang mama ucapkan? Mama bukannya berharap buruk pada rumah tangga kamu, Sera. Justru mama menginginkan yang terbaik dan kamu bahagia.” Mama Safina menjeda ucapannya dengan menghela nafas pelan.

“Sekarang sudah seperti ini. Sebaiknya kamu selidik sendiri suami kamu. Dengan apa yang dia miliki saat ini, bisa saja Ravin sebenarnya mengetahui keberadaan Rania. Bahkan, mungkin dia yang melindungi gadis itu.” Imbuh mama Safina.

Sera menganggukkan kepalanya. “Ma. Tolong jangan katakan apapun sama papa atau mertua aku. Biarkan aku menyelesaikan semua ini sendiri. Sampai dimana aku bisa.”

“Mama selalu ada disini untuk kamu, sayang. Hubungi mama jika kamu memerlukan bantuan.” Mama Safina mengusap lembut punggung Sera.

“Terima kasih, ma. Aku akan mencobanya sendiri dulu.” Ucap Sera.

Mama Safina kembali mengangguk pelan.

‘Kamu tidak sendiri Sera. Ada Raditya di samping kamu. Dia yang akan membantu kamu lepas dari Ravin.’

1
sunaryati jarum
Raditya itu Wira yang menyamar sebagai sopir Sera, ternyata suruhan mamanya.Mama Sera tahu siapa Raditya.Sehs
Seharusnya dia pewaris sebenarnya, sungguh menarik
Naufal Affiq
bagus sera,selidiki terus suami mu yang tukang bohong itu,jadi jangan percaya lagi sama omongannya,ikuti aja alur cerita suami mu itu
sunaryati jarum
Bagus Serta, jangan lemah Wira sepertinya saudara Ravin, ibunya Ravin pelakor.
Naufal Affiq
bagus sera,jangan diam aja seperti orang bodoh,ikutin aja permainan si ravin itu,
dyah EkaPratiwi
bagus sera
Noviie 🍃🍃
Fix nih Wira itu kakaknya Ravin.. tp kenapa namanya bisa ganti y??
Noviie 🍃🍃
Tuh kan.. ini Wira pasti mirip papanya waktu muda.. makanya pada ga asing sama wajahnya..
Noviie 🍃🍃
Kayaknya Wira ini kakaknya Ravin deh…
Noviie 🍃🍃
Siapakah Wira ini???
Noviie 🍃🍃
Ooo kamu ketahuan Ravin….
Noviie 🍃🍃
Recommended ❤️❤️
Naufal Affiq
harus tegas ra,biar tau suami laknat mu itu,
Naufal Affiq
harus tegas ra,biar tau suami laknat mu itu,
dyah EkaPratiwi
nah gitu Ra harus tegas
dyah EkaPratiwi
ravin bener2 kurang ajar
dyah EkaPratiwi
wah Wira berarti raditya
dyah EkaPratiwi
gemes banget sama Sera aja coba selidiki ra
dyah EkaPratiwi
betul mama mu Sera cinta boleh bodoh jangan
dyah EkaPratiwi
sera please jangan bodoh😭
dyah EkaPratiwi
jahat banget ravin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!