NovelToon NovelToon
DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Mengubah Takdir / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:968
Nilai: 5
Nama Author: Icita

Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jeritan Di Balik Dinding Beton

Tanpa uang sepeser pun di dalam dompetnya, Dara berjalan kaki menempuh jarak berkilometer-kilometer keluar dari pusat kota. Ketika tubuhnya tidak kuat lagi melangkah, ia mencegat sebuah mobil pikap sayur yang hendak menuju pasar luar kota.

Dara berlutut di pinggir jalan basah di hadapan sang sopir pikap yang terkejut. "Pak... saya mohon, Pak... bawa saya ke arah bukit... anak gadis saya diculik, Pak... saya mohon dengan sangat..."

Sopir pikap yang iba melihat kondisi Dara yang bersimbah air mata dan lumpur akhirnya membukakan pintu samping. "Naiklah, Bu. Saya antar sampai persimpangan jalan bukit."

Di atas mobil pikap yang bergetar menembus kegelapan malam, Dara menggenggam erat selendang batiknya. Hujan mulai turun kembali, menampar wajahnya yang kusam. Namun di dalam dada wanita tua itu, ketakutan telah terbakar habis. Ia siap menghadapi iblis dari masa lalunya demi mengembalikan putri tunggalnya.

Sementara itu, di dalam sebuah gudang beton yang lembab di area basement villa tua keluarga Aditama, cahaya dari sebuah lampu gantung tunggal berkedip-kedip menembus kegelapan. Bau apak dan besi berkarat memenuhi udara.

Juwita terikat kuat di atas sebuah kursi kayu di tengah ruangan. Tangan dan kakinya dililit tali tambang tebal yang mengikat erat hingga kulit pergelangan tangannya memar kebiruan. Di dahinya, terdapat luka gores kecil akibat benturan saat ia dipaksa masuk ke dalam mobil van hitam beberapa jam lalu.

Meski tubuhnya terikat dan kepalanya terasa pening, sorot mata Juwita tidak menunjukkan ketakutan. Ia menatap tajam ke arah dua sosok yang berdiri beberapa meter di hadapannya: Riko Aditama dan Kevin Aditama.

Riko duduk santai di atas kursi sofa kulit yang dibawa khusus ke dalam gudang, memegang segelas wiski dan cerutu yang menyala. Sementara Kevin berdiri di samping ayahnya, memegang laptop pribadi yang telah rusak terbakar kodenya, dengan raut wajah frustrasi dan dendam yang membara.

"Gadis angkuh..." Riko terkekeh dingin, mengembuskan asap cerutu ke udara. "Kau pikir dengan sedikit kecerdasanmu itu, kau bisa menghancurkan keluarga Aditama? Kau cuma anak dari seorang wanita pembersih rumah yang kubuang ke jalanan dua puluh tahun lalu."

"Kau bukan cuma membuangnya, Riko!" potong Juwita dengan suara tegas, matanya berkilat penuh kebencian. "Kau adalah pengecut yang takut pada kenyataan bahwa darahmu sendiri lebih cerdas daripada anak kesayanganmu yang tidak berguna ini!"

PLAK!

Kevin melangkah maju dan melayangkan tamparan keras ke pipi Juwita. Wajah Juwita terlempar ke samping, sudut bibirnya berdarah, namun ia kembali menoleh dan menatap Kevin dengan senyuman sinis yang semakin menyulut amarah pemuda itu.

"Tutup mulutmu, Juwita!" teriak Kevin histeris. "Kau sudah merusak laptopku! Kau meretas sistem ayahku! Berikan password dekripsi servermu sekarang, atau aku pastikan kau tidak akan pernah keluar dari tempat ini hidup-hidup!"

Riko mengangkat tangannya, menghentikan Kevin. Pria paruh baya itu bangkit dari sofanya, melangkah mendekati Juwita, lalu mencengkeram rahang gadis itu dengan kasar.

"Dengar baik-baik, anak haram," bisik Riko dengan suara rendah yang mengerikan. "Malam ini, kau akan menandatangani surat pengakuan kecurangan dan menyerahkan seluruh hak cipta algoritmamu pada Kevin. Setelah itu... kau dan ibumu akan menghilang selamanya dari kota ini. Jika kau menolak... ibumu yang penyakitan itu akan menyusulmu ke tempat ini dalam bentuk mayat."

Juwita meludah tepat ke arah sepatu mahal Riko. "Lakukan sesukamu, Riko. Kau tidak akan pernah mendapatkan kode itu. Dan ibuku... dia ribuan kali lebih mulia daripada manusia iblis sepertimu!"

Mata Riko membelalak penuh amarah. "Anak tidak tahu diri!" Ia mengangkat tangannya, bersiap menghantamkan tongkat kayunya ke arah Juwita.

BAM! BAM! BAM!

Tiba-tiba, suara benturan keras menghantam pintu besi utama gudang basement dari luar. Suara teriakan panik para penjaga terdengar bersahutan, disusul oleh suara kaca pecah dan deru kayu yang dihantam keras.

"Siapa di luar?!" bentak Riko pada dua orang anak buahnya yang menjaga pintu internal. "Periksa sekarang!"

Belum sempat penjaga itu meraih gagang pintu, pintu kayu tebal itu terdorong membentur dinding dengan dentuman dahsyat.

Sesosok wanita berstrata paling bawah dalam hidup mereka berdiri di ambang pintu. Dara Puspita—dengan kemeja kusam ternoda darah dan lumpur, rambut basah terurai kacau, dan kedua tangan memegang sebatang linggis besi berkarat yang ia ambil dari tempat sampah luar villa.

Napas Dara memburu, matanya merah menyala penuh murka yang tak terbayangkan. Di belakangnya, dua orang penjaga bertubuh besar tergeletak di lantai koridor, mengerang kesakitan setelah dihantam linggis secara brutal oleh wanita yang digerakkan oleh kekuatan supranatural seorang ibu.

"I-Ibu...?" panggil Juwita gembira bercampur horor, air matanya menetes melihat kondisi ibunya.

Riko Aditama melangkah mundur satu langkah, wajahnya menunjukkan keterkejutan luar biasa melihat wanita yang dulu ia buang bagaikan sampah kini berdiri tegak di hadapannya seperti iblis pencabut nyawa. "Dara...? Bagaimana bisa kau...?"

"KEMBALIKAN ANAKKU, RIKO!" jerit Dara dengan suara yang menggetarkan dinding beton gudang tersebut.

Dara tidak membuang waktu. Dengan kebangkitan tenaga yang melampaui batas fisiknya, ia menerjang maju mengayunkan linggis besi itu langsung ke arah Riko Aditama.

Crak!

Riko refleks mengangkat tangan untuk melindungi kepalanya, namun ujung linggis itu menghantam telak bahunya, membuat pria konglomerat itu melolong kesakitan dan jatuh tersungkur ke lantai, gelas wiskinya pecah berkeping-keping.

"Papa!" teriak Kevin panik. Pemuda itu mencoba mencabut pisau lipat dari sakunya untuk menyerang Dara dari samping.

Namun Dara berbalik dengan kecepatan membabi buta. Sebelum Kevin sempat mengayunkan pisaunya, Dara cengkeram kerah baju Kevin, lalu menghantamkan dahi kepalanya sendiri tepat ke hidung Kevin dengan tubrukan yang keras.

Brak!

Hidung Kevin patah seketika, darah menyembur keluar, dan pemuda manja itu jatuh menjerit-jerit di tanah sambil memegang wajahnya yang bersimbah darah.

Tanpa memedulikan Riko dan Kevin yang mengerang kesakitan di lantai, Dara melempar linggisnya, lalu berlari berlutut di hadapan Juwita. Tangannya yang berdarah dan gemetar hebat dengan cepat membuka ikatan tali tambang di tubuh putrinya.

"Juwita... Nak... kamu tidak apa-apa? Ada yang sakit, Nduk?" tangis Dara pecah saat jemarinya membelai pipi Juwita yang memar.

"Ibu... Ibu berdarah..." isak Juwita, memeluk leher ibunya erat-erat saat ikatan talinya terlepas. "Kenapa Ibu nekat ke sini..."

"Ibu tidak akan biarkan siapa pun menyakitimu lagi, Nak..." bisik Dara parau, mendekap erat tubuh putrinya. "Selama Ibu masih bernapas... tidak ada satu iblis pun yang boleh menyentuh anak Ibu..."

Namun, di saat ibu dan anak itu berpelukan dalam kepedihan, Riko Aditama yang merangkak di lantai berhasil meraih sebuah pistol rakitan hitam dari balik jasnya. Dengan mata merah penuh dendam dan bahu yang bersimbah darah, Riko mengarahkan moncong pistol itu tepat ke arah punggung Dara yang sedang memeluk Juwita.

"Wanita busuk..." geram Riko dengan suara parau mematikan. "Kalian berdua... harus mati di sini!"

Juwita melihat pantulan moncong pistol itu dari kaca jendela di belakang ibunya. Mata Juwita membelalak lebar dalam ketakutan yang mendalam. Perjuangan ibunya yang luar biasa tidak boleh berakhir dengan tragedi berdarah di tempat terkutuk ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!