Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 Yang Tak Bisa Tidur
Hotel tempat Navin menginap berada di kawasan Dago, di lantai dua puluh dua, dengan pemandangan lampu kota Bandung yang berkelip seperti taburan pasir emas. Kamar suite itu mahal dan sepi. Pukul sebelas malam, ia berdiri di depan jendela dengan kemeja setengah terbuka, segelas air yang belum diminum, dan pikiran yang menolak diam.
Ia sudah mandi, berganti pakaian, membaca tiga laporan, dan mencoba tidur. Semuanya gagal. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat senyum tipis yang sempurna itu.
Terima kasih atas penilaian pribadinya, Pak.
Navin mengusap wajahnya dengan kasar. Ini konyol. Ia pernah mengatakan hal-hal jauh lebih kejam pada orang-orang yang jauh lebih kuat, dan tidak pernah kehilangan tidur. Kenapa harus perempuan itu?
Ayahnya pernah berkata, dari ranjang rumah sakit yang putih, bahwa pemimpin harus tahu kapan ketegasan dibutuhkan dan kapan itu hanya kelemahan yang menyamar. Waktu itu Navin menganggapnya nasihat orang sakit. Malam ini ia mulai bertanya-tanya apakah selama ini ia salah paham.
Ia mengambil ponsel dan menekan satu nama. Dering ketiga, suara Dimas terdengar terengah. "Pak?"
"Kamu sudah tidur?"
"Belum, Pak. Ada yang perlu saya siapkan?"
"Tidak." Navin terdiam. Ini bukan dirinya. Ia tidak pernah menelepon hanya karena ingin bicara. "Dimas. Hipotetis."
"Ya, Pak?"
"Kalau seseorang mengatakan sesuatu pada orang lain. Sesuatu yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Apakah itu bisa dianggap menyakitkan?"
Sunyi lama sekali di ujung sana. Navin hampir bisa mendengar otak Dimas bekerja keras mencari jawaban yang tidak akan membuatnya dipecat.
"Tergantung apa yang dikatakan, Pak."
"Misalnya tentang status pribadi seseorang."
"Umm." Dimas menelan ludah. "Kalau tentang status pribadi, Pak, biasanya iya. Biasanya menyakitkan. Terutama kalau orangnya sudah sering mendengar hal serupa dari orang lain."
Sering mendengar hal serupa dari orang lain.
Dada Navin mengencang. "Dan kalau yang mengatakannya adalah atasannya?"
"Maka lebih menyakitkan, Pak. Karena dia tidak bisa membalas."
Navin memejamkan mata. Ia tidak bertanya lagi. Ia mengucapkan "Terima kasih" dengan suara yang terdengar aneh di telinganya sendiri, lalu memutus telepon sebelum Dimas sempat menyahut. Di seberang sana, Dimas menatap ponselnya beberapa menit dengan ekspresi campuran antara ngeri dan takjub, karena kata terima kasih itu belum pernah keluar dari mulut atasannya dalam tiga tahun.
Navin duduk di tepi tempat tidur. Ia membuka berkas staf yang masih tergeletak di meja dan menemukan halaman dengan foto kecil Ophelia. Rambut dikuncir, tatapan lurus, sudut bibir yang terkendali. Tanggal lahir, alamat, status: belum menikah. Kolom catatan pribadi kosong.
Ia menatap kata belum menikah itu lama sekali. Tadi siang ia menjadikannya senjata. Ia memakai sesuatu yang paling mungkin melukai, tanpa tahu apa pun tentang perempuan yang memilikinya. Bagaimana kalau ia sedang berduka? Bagaimana kalau ia baru ditinggalkan? Bagaimana kalau seluruh keluarganya membicarakan hal itu di setiap makan malam?
Bagaimana kalau kamu hanyalah satu lagi orang yang menyakitinya?
Ia teringat ibunya sendiri, yang sejak pagi meneleponnya lima kali hanya untuk menanyakan kapan ia akan menikah. Ia tahu betul rasanya diburu oleh pertanyaan yang sama. Dan justru ia melempar pertanyaan itu, dalam bentuk paling kejam, pada seseorang yang mungkin sudah lelah mendengarnya seumur hidup.
Ia menutup berkas dengan kasar dan melemparnya ke sofa.
"Aku hanya menyebut fakta," gumamnya keras-keras pada ruangan kosong. "Itu fakta. Dia memang tiga puluh satu. Dia memang belum menikah."
Ruangan itu tidak menjawab. Bahkan pantulan dirinya di kaca jendela tampak tidak percaya. Ia mengulang kalimat itu sekali lagi, lebih pelan. Tetap tidak meyakinkan.
Pukul dua dini hari, ia akhirnya tertidur di sofa, dengan lampu menyala dan kemeja yang belum diganti. Ia bermimpi tentang lorong sepi dan pergelangan tangan yang berdenyut di bawah jarinya, lalu terbangun pukul lima dengan napas memburu.
* * *
Pagi berikutnya, ia tiba di kantor cabang pukul tujuh empat puluh lima, lima belas menit sebelum jam kerja dimulai. Bukan karena rajin. Ia hanya ingin tiba sebelum siapa pun, sebelum ada yang sempat melihat bahwa CEO mereka tidak tidur semalaman.
Kecuali satu orang.
Petugas kebersihan yang sedang mengelap kaca lobi membeku ketika melihatnya, tak percaya CEO mereka sudah datang sepagi ini tanpa rombongan. Navin berdiri di depan lift ketika pintu kaca lobi terbuka dan Ophelia masuk sambil mengibaskan payung yang basah. Hujan tipis lagi. Rambutnya sedikit lembap di ujung, dan ada bintik air di bahu blazernya. Ia berhenti tiga langkah dari Navin.
Sesaat, mereka saling menatap. Ada butir hujan di bulu matanya. Navin baru menyadari hal-hal semacam itu, hal-hal yang tak pernah ia perhatikan pada siapa pun.
Navin membuka mulut. Kata-kata yang sudah ia rangkai semalaman, maaf, aku keterlaluan, seharusnya tidak, semuanya menguap, dan yang keluar hanya, "Pagi."
"Selamat pagi, Pak Navin." Suara Lia datar dan sempurna, seperti rekaman panduan lift. Ia menunduk sopan, tidak lebih dalam dan tidak lebih dangkal dari standar, lalu berjalan melewatinya menuju tangga. Bukan lift. Tangga. Seolah ia lebih memilih mendaki tiga lantai daripada berbagi ruang sempit dengan pria itu.
Navin menatap punggungnya sampai ia menghilang di tikungan.
"Pak?" Dimas muncul di sampingnya dengan tablet. "Jadwal hari ini..."
"Dimas."
"Ya, Pak?"
"Apakah dia tersenyum pada resepsionis tadi?"
Dimas mengikuti arah pandangan atasannya. Di meja depan, Sinta baru saja menerima sapaan Lia. Perempuan itu tersenyum kecil pada Sinta, senyum yang hangat, apa adanya, senyum yang sampai ke matanya.
"Sepertinya ya, Pak."
"Bukan padaku."
"Bukan pada Bapak," Dimas membenarkan dengan hati-hati. Dalam hati ia menambahkan bahwa ia baru saja menyaksikan sejarah: CEO Sundara cemburu pada seorang resepsionis.
Navin tidak menjawab. Ia masuk ke lift dan menekan tombol lantai tiga dengan jemari yang terlalu keras. Di dalam kotak logam itu, sendirian, ia menyadari sesuatu yang membuat rahangnya mengeras.
Selama hidupnya, ia tidak pernah peduli apakah seseorang tersenyum padanya atau tidak. Ia justru menikmati ketakutan di wajah orang lain karena itu berarti ia aman. Tapi pagi ini, ada seseorang yang tidak takut padanya, tidak membencinya secara terbuka, dan tidak pula menghindarinya dengan gugup. Ia hanya memperlakukannya seperti dinding yang sopan. Dan itu jauh lebih sakit daripada kebencian.
Pintu lift terbuka. Navin melangkah keluar dengan satu keinginan yang tidak masuk akal dan tidak bisa ia bantah:
Ia ingin ditatap lagi, bahkan jika tatapan itu penuh amarah.
Sampai siang, keinginan itu tidak terpenuhi. Empat kali ia melihat Ophelia melintas di koridor dari balik dinding kaca ruangannya, berpura-pura membaca laporan, dan empat kali pula perempuan itu tidak menoleh sedikit pun.