"Woy sampah rendahan."
"Sampah? Sampah? Sampah seperti ku masih bisa di daur ulang, tapi sampah seperti mu pantasnya dihancurkan."
Juna Adiwiyata hanya siswa beasiswa yang datang dengan tangan kosong ke Akademi Arcapolis—sekolah elite tempat nama keluarga menentukan siapa yang berhak menunduk dan siapa yang berhak menginjak.
Di sana, tidak ada yang peduli seberapa keras kau belajar. Yang ada hanya empat faksi, empat Raja, dan satu aturan tak tertulis: yang lemah akan diinjak sampai lupa cara berdiri.
Juna pernah jadi bagian dari yang lemah itu. Dihina, dipukuli, diseret ke gudang gelap sampai tubuhnya nyaris tak bernyawa—sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dari titik matinya sendiri dan mengubah segalanya.
Bukan sistem yang memberi kekuatan cuma-cuma. Sistem yang mengukur kekuasaan.
"Aku bangkit bersama orang-orang terbuang, dan akan menghancurkan mereka yang membuang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Pagi harinya, Juna berjalan menuju kantin dengan nampan berisi nasi dan lauk seadanya di tangan. Ia baru saja hendak duduk di meja kosong di sudut ruangan ketika sebuah benda panjang menyapu kakinya dari belakang, membuatnya limbung.
Ia menoleh. Tiga orang berjaket merah berdiri di belakangnya, salah satunya menggenggam tongkat baseball logam yang berkilat di bawah lampu kantin.
"Woy, liat siapa nih," ucap yang memegang tongkat, menyeringai lebar sambil mengetuk-ngetukkan ujung tongkatnya ke telapak tangannya sendiri. "Anak miskin ngapain jajan di sini? Mendingan lu makan dari tong sampah aja, toh emang lu punya uang buat beli makan?"
Juna belum sempat menjawab ketika tongkat itu sudah berayun cepat, menghantam telak ke perutnya. Ia tersedak, tubuhnya membungkuk seketika, dan nampan yang tadinya ia pegang terlempar lurus ke wajahnya sendiri—nasi, kuah sayur, dan potongan lauk berhamburan mengenai wajah dan seragamnya sebelum akhirnya jatuh berantakan ke lantai.
Seisi kantin tertawa. Beberapa siswa lain hanya menonton dari kejauhan, tak ada satu pun yang berniat menolong.
"Anjir, kena muka sendiri, tolol banget," salah satu teman si pemegang tongkat tertawa sampai terbungkuk, menunjuk-nunjuk wajah Juna yang belepotan kuah sayur. "Foto dulu, sayang kalau kelewatan."
Juna berlutut di lantai, kedua tangan menahan perutnya yang berdenyut ngilu, sisa makanan menempel di rambut dan kerah bajunya. Ia menahan napas, menahan segala sesuatu yang ingin meledak dari dalam dadanya.
'Brengsek... sabar. Sabar dulu.'
"Bersihin sendiri tuh sampah lu," ucap si pemegang tongkat sambil menendang pelan nampan kosong hingga berdenting menjauh, lalu pergi bersama kedua temannya yang masih terbahak-bahak.
Juna bangkit perlahan, mengelap sisa kuah dari wajahnya dengan lengan baju, lalu berjalan pergi tanpa menoleh ke arah siapa pun. Ia bisa merasakan puluhan pasang mata masih menatapnya, tapi ia memilih tidak peduli.
'Melawan sekarang cuma bikin masalah tambah runyam,' batinnya, rahangnya mengeras. 'Belum waktunya.'
Setelah itu, ia berjalan menyusuri lorong menuju kelas, seragamnya masih basah dan berbau kuah sayur, ketika langkahnya kembali terhenti oleh seorang laki-laki berblazer emas yang berdiri menghalangi jalan bersama dua orang di belakangnya.
Laki-laki itu mendekat, lalu tanpa basa-basi mencondongkan wajahnya ke arah leher Juna dan menghirup dalam-dalam, seolah sedang mencium sesuatu yang menjijikkan.
"Bau amis, bau keringat, bau sayur basi," gumamnya sambil menjauhkan wajah, ekspresinya berubah jijik. "Lengkap banget paket bau lu, ya?"
Belum sempat Juna menjawab, sebuah tendangan mendarat telak di lutut belakangnya, membuat kakinya melipat dan tubuhnya oleng ke dinding lorong.
"Lu bau banget, jir," ucap laki-laki itu sambil mengeluarkan botol parfum kecil dari saku blazernya, lalu menuangkan seluruh isinya ke kepala Juna yang masih bersandar lemas di dinding, membiarkan cairan itu meresap ke rambut dan mengalir ke kerah bajunya yang sudah basah oleh kuah sayur. "Ini parfum murah yang gue beli lima puluh juta. Setidaknya bisa nutupin bau busuk lu."
Ia tertawa puas bersama kedua temannya, lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Juna bersandar di dinding, campuran bau kuah sayur dan parfum menyengat menguar dari tubuhnya. Ia menarik napas panjang, mengepalkan tangan sebentar sebelum melepaskannya lagi.
'Dua kali dalam satu pagi,' pikirnya getir. 'Sekolah ini benar-benar seperti yang dikatakan sopir itu.'
Ia memutuskan keluar sebentar, mencari udara segar di halaman belakang sekolah untuk menenangkan diri. Namun begitu ia sampai di sana, matanya menangkap sesuatu.
Seorang siswa berblazer hijau tergeletak setengah tubuh di dalam tong sampah besar, sementara seorang siswa lain berjaket hitam berdiri di sampingnya, mendorong kaki korban masuk lebih dalam sambil tertawa.
"Enak nggak, bau sampah?" ejek siswa berjaket hitam itu. "Cocok banget sama otak lu yang penuh angka doang."
Sesuatu di dalam diri Juna bergerak tanpa ia sadari. Ia melangkah maju.
"Lepasin dia," kata Juna, suaranya lebih tegas dari yang ia kira.
Siswa berjaket hitam itu menoleh, mengangkat alis, seolah baru menyadari kehadiran orang lain di tempat itu. "Siapa lu?"
"Bukan urusan lu," jawab Juna. "Lepasin dia sekarang."
Siswa berblazer hijau yang setengah badannya masih terjebak di tong sampah tiba-tiba berhasil melepaskan diri begitu perhatian bully itu teralihkan. Ia melompat turun—
—dan langsung berlari secepat mungkin, meninggalkan Juna sendirian tanpa menoleh sedikit pun.
Juna terdiam sejenak, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
'Anjing... dia kabur ninggalin aku?'
Siswa berjaket hitam itu tertawa keras. "Wah, ternyata pahlawan kesiangan malah ditinggal sendirian. Lucu banget."
Dua orang lain berjaket hitam muncul dari balik pohon, mengepung Juna dari kedua sisi.
"Kayaknya lu butuh pelajaran juga," ucap salah satu dari mereka, meretakkan jari-jarinya satu per satu.
Juna melangkah mundur satu kali, menghitung jarak dan posisi ketiga orang itu dalam sepersekian detik. Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, salah satu dari mereka sudah mencengkeram kerah bajunya dan menyeretnya paksa menjauh dari halaman, menuju gudang tua di belakang lapangan olahraga yang jarang dilewati siapa pun.
"Ayo, kita kasih pelajaran yang bener di tempat sepi," kata salah satu dari mereka sambil menyeringai lebar.
Juna hanya bisa merasakan cengkeraman kuat itu menariknya paksa, sementara suara tawa mereka menggema di telinganya.