Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.
Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.
Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Hari pernikahan yang megah itu akhirnya tiba. Gedung konvensi mewah dipenuhi oleh ribuan karangan bunga dan dihadiri oleh para pejabat, pengusaha, serta media nasional.
Kilatan lampu kamera dari para jurnalis di luar sana tiada hentinya menerangi karpet merah, menyambut para tamu kelas atas yang datang dari berbagai penjuru negeri.
Pernikahan ini bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan peristiwa besar yang akan mengubah peta kekuatan ekonomi dan bisnis di bawah bendera Dewanta Group.
Di dalam ruang transit yang kedap suara namun terasa begitu mencekam,
Langit Prita Dewanta, seorang wanita berusia 32 tahun yang menjabat sebagai CEO Dewanta Group, berdiri di depan cermin besar.
Langit merasakan jantungnya berdegup kencang, sebuah sensasi asing yang jarang ia rasakan bahkan saat menghadapi rapat pemegang saham yang paling menegangkan sekalipun.
Gaun putihnya terasa berat, melambangkan beban tanggung jawab yang dipikulnya. Gaun sutra bertabur payet kristal karya desainer ternama itu seolah meremas dadanya, membuatnya kesulitan bernapas.
Sebagai pewaris dan pemimpin tertinggi imperium bisnis keluarganya, Langit terbiasa mengendalikan segala hal.
Namun hari ini, kendali itu terasa semu. Pernikahan ini adalah benteng pertahanan terakhirnya untuk menyelamatkan posisi Dewanta Group dari kudeta internal yang direncanakan oleh para dewan komisaris yang serakah.
Di mata dunia, ini adalah pernikahan dongeng. Namun di balik pintu tertutup, ini adalah kesepakatan bisnis yang paling berisiko dalam hidupnya.
Pintu kayu jati ruang transit bergeser terbuka dengan perlahan.
Bumi, sang calon suami yang berusia 6 tahun lebih muda darinya, masuk dengan setelan tuxedo hitam sempurna.
Setelan jas wol Italia itu melekat pas di tubuhnya yang tegap dan proporsional. Sama sekali tak terlihat jika dia adalah laki-laki biasa.
Penampilannya malam ini begitu memukau, memancarkan aura karisma dan wibawa yang bahkan mampu menandingi para pria dari kalangan bangsawan.
Bumi melangkah mendekat dengan ritme yang tenang.
Langkah kakinya yang mantap memecah keheningan ruangan. Saat jarak mereka mengikis, Bumi melihat kegelisahan di mata Langit.
Ia menangkap getaran halus pada jemari wanita yang biasanya selalu tampak tangguh dan tak tersentuh itu.
Tanpa ragu, Bumi berlutut di depan tempat duduk Langit, menggenggam kedua tangan wanita itu. Sentuhan tangan Bumi terasa hangat dan kokoh, kontras dengan tangan Langit yang sedingin es.
Bumi mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Langit yang dipenuhi kecemasan.
Bumi menyuruh Langit melihat matanya, meyakinkan Langit bahwa semua yang dilakukan ini akan dimenangkan oleh mereka.
"Lihat aku, Langit," bisik Bumi dengan suara rendah yang menenangkan, menghilangkan jarak formalitas di antara mereka untuk sesaat.
"Tatap mataku. Jangan lihat ribuan orang di luar sana, jangan pikirkan kamera media, dan jangan biarkan keraguan merusak hari ini. Kita sudah melangkah sejauh ini."
Langit menelan ludah, mencoba mencari pegangan pada tatapan mata hitam pekat milik Bumi.
"Bumi, ini terlalu besar. Di luar sana ada ribuan orang yang menunggu kita melakukan kesalahan. Jika rencana ini gagal, Dewanta Group akan runtuh, dan hidupmu juga akan ikut hancur."
Bumi tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang memancarkan keyakinan mutlak. Ia mempererat genggaman tangannya pada jemari Langit.
Bumi menegaskan kembali bahwa tidak peduli walau ini hanya nikah kontrak saja, mereka adalah tim yang solid.
"Ini memang di atas kertas adalah sebuah kontrak bisnis," kata Bumi dengan nada yang sangat tegas namun lembut. "Kontrak yang mengatakan aku adalah suamimu demi mengamankan posisimu sebagai CEO. Tapi bagiku, begitu aku menandatangani kesepakatan itu, aku sudah menyerahkan seluruh duniaku untuk melindungimu. Di atas panggung nanti, dan di depan hukum, aku adalah perisaimu. Kita akan memenangkan pertempuran ini bersama-sama, Langit. Percayalah padaku."
Kata-kata Bumi mengalir bagaikan obat penenang yang langsung meresap ke dalam aliran darah Langit.
Beban berat yang tadinya menekan pundak Langit perlahan-lahan terasa terangkat.
Karisma dan ketenangan yang ditunjukkan oleh pria yang lebih muda darinya ini entah bagaimana berhasil meruntuhkan dinding pertahanan dan ketakutan yang ia bangun sendirian selama berminggu-minggu.
Langit mengangguk pelan, sebuah senyuman tipis akhirnya terukir di bibirnya yang dilapisi lipstik merah merona.
Tepat pada saat itu, ketukan tiga kali terdengar di pintu ruangan.
Pintu terbuka penuh, menampilkan sosok wanita dengan alat komunikasi nirkabel yang menempel di telinganya.
Prosesi ijab qobul akan segera dimulai. Wedding Organizer (WO) sudah siap dan memberitahu mereka berdua untuk segera menempati tempat yang sudah disediakan.
"Ibu Langit, Bapak Bumi, waktu kita sudah tiba. Penghulu dan para saksi sudah berada di meja akad. Para tamu sudah menempati kursi masing-masing. Silakan berjalan menuju pintu utama aula utama," ucap sang ketua WO dengan sikap profesional yang tergesa-gesa namun teratur.
Bumi berdiri dari berlututnya. Ia merapikan tuxedo hitamnya sejenak, lalu mengulurkan siku kanannya ke arah Langit dengan gestur tubuh seorang pria sejati.
Langit menarik napas dalam-dalam untuk terakhir kalinya, membiarkan paru-parunya terisi dengan keyakinan baru. Ia menyambut uluran tangan Bumi, melingkarkan lengannya di siku pria itu.
Saat mereka melangkah keluar dari ruang transit dan mendekati pintu ganda aula utama yang terbuat dari kayu mahoni berukir emas, lampu di area lobi meredup. Pintu besar itu perlahan-lahan terbuka, menyingkap sebuah ruangan megah yang dipenuhi oleh ribuan pasang mata.
Alunan musik instrumental syahdu mulai menggema, memenuhi setiap sudut langit-langit gedung konvensi yang tinggi.
Kemunculan Langit dan Bumi membuat semua mata terpana. Seketika itu juga, bisik-bisik dan obrolan para tamu undangan terhenti secara serentak.
Suasana menjadi hening demi menghormati kehadiran sepasang pengantin yang sedang melangkah di atas karpet beludru bertabur kelopak bunga mawar putih.
Keduanya begitu serasi. Langit berjalan dengan keanggunan seorang ratu, dagunya terangkat dengan tatapan mata yang kini penuh dengan keyakinan dan otoritas.
Gaun putih megahnya menyapu lantai dengan sangat indah, memancarkan kemilau setiap kali terkena sorotan lampu sorot.
Di sampingnya, Bumi berjalan dengan langkah tegap, memancarkan aura maskulin yang sangat kuat, mendampingi Langit tidak sebagai bawahan atau pion, melainkan sebagai seorang pelindung sejati yang siap menghadapi badai apa pun.
Semua orang di dalam ruangan itu, mulai dari para menteri, konglomerat saingan, hingga kamera media nasional yang menyiarkan acara tersebut secara langsung, tidak dapat memalingkan pandangan mereka.
Kecantikan dan ketampanan yang hakiki terpancar dari kombinasi visual mereka berdua.
Mereka tampak seperti sepasang dewa-dewi yang turun dari langit, menciptakan standar baru tentang apa yang disebut sebagai pasangan sempurna.
Para musuh bisnis Langit yang awalnya berharap melihat sang CEO tampil dengan raut wajah penuh tekanan, kini hanya bisa terdiam seribu bahasa.
Genggaman tangan mereka yang erat saat menuju meja akad nikah mengirimkan pesan yang sangat jelas kepada dunia, mereka tidak akan bisa dihancurkan.
Kontrak di atas kertas mungkin menjadi awal dari segalanya, namun di bawah lampu kristal yang bersinar terang malam itu, Langit dan Bumi siap untuk memulai sebuah awal baru, memenangkan permainan takdir yang telah mereka pilih bersama.