Amira Anastasya, yang setia menunggu janji dari Glen Anggara yang akan segera pulang dalam dua tahun setelah menyelesaikan pendidikannya di Eropa dan menikahi nya. Namun tidak sesuai dengan ala yang Amira harapkan.
Bertahun-tahun Amira menunggu akan tetapi Glen tidak kunjung datang, bahkan tidak pernah menghubungi Amira setelah satu bulan di Eropa tiba-tiba saja dia menghilang tanpa kabar, dan Amira pun tidak dapat menghubunginya.
Hingga lima tahun kemudian, ketika Amira dibandara dan hendak pergi keluar negeri tanpa sengaja mereka bertemu. Saat itu juga Glen pulang dari luar negeri.
Melihat kepergian Amira, Glen merasa sedih ketika dia hendak menemui Amira tetapi kenapa malah amira pergi keluar negeri dan tidak mau mendengarkan Glen saat itu.
Selama di Indonesia Glen berusaha mencari tahu kehidupan Amira selama ini, apakah dia baik-baik saja selama dia tidak ada atau malah sebaliknya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penpena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Berusaha
"Hem, terserah kamu deh." Ucap Alvero pasrah. "Oh iya, Bagaimana tadi?." Alvero bertanya apakah masalah Glen dan Amira sudah baik-baik saja.
Glen menghela napasnya enggan. "Dia tidak mau mendengarkan aku, sepertinya dia sangat kesal sekali terhadapku." Ucapnya menyadari.
"Ya iyalah Glen, Kamu meninggalkan dia bertahun-tahun, selain itu kamu tidak pernah memberi kabar kepadanya. Coba deh bayangkan hidupnya selama itu, berharap mendapat kabar dari mu yag bahkan kamu tidak pernah memberinya. kalau aku jadi dia pun aku tidak akan memaafkan mu dan melemparkan mu ke sungai." Tutur Alvero membela Amira.
"Benar kah?."
"Masih nanya. Lagian kenapa sih kamu tidak pernah menghubungi dia selama ini?, selama kuliah kamu pernah menceritakan tentang pacarmu Amira padaku, tapi kenapa kamu tidak pernah mengabarinya?"
"E-em, banyak masalah yang ku alami dan aku tidak mau dia ikut merasa khawatir apa yang ku alami, Al. karna itu aku memilih untuk tidak berhubungan dulu dengannya." Jelas Glen kaku.
Alvero mencerna perkataan Glen. "Benarkah?, kenapa kamu tidak cerita padaku saat itu kalau kamu ada masalah?, yang aku lihat hidupmu selalu berbahagia seperti tidak ada masalah waktu itu. Ternyata kamu bisa menyembunyikannya ya. Emang masalah apa yang kamu hadapi saat itu, Glen?." Tanya Alvero serius.
"Sudah lah lupakan, lagian sudah lama juga. Aku tidak ingin menceritakannya lagi."
Alvero mengangguk paham, karena setiap orang itu berhak untuk membatasi memberitahukan permasalahan pribadi mereka.
"Baik lah, lain kali kalau ada masalah cerita sama ku Bro. Mungkin ajah aku bisa menambah masalah mu." Ucap Alvero bercanda.
"Sialan." Desis Glen kesal dan mebuat Alvero terkekeh.
**
"Hai, Mir, gimana? apa kamu sudah sampai?." Tanya Melly dari balik telpon setelah Amira menelponnya barusan.
"Iya, Mell. Aku sudah sampai tadi pagi."
"Syukurlah, Oh iya disini rasanya sepi banget gak ada kamu. Jadi kangen deh."
"Hahaha, baru ajah aku pergi dari rumah mu. Tapi aku juga kangen sma kamu sih Mell, berharap aku tidak banyak urusan aku pasti bakal kesitu lagi."
"Hahaha, kita lihat ajah apakah seorang Owner ini akan punya banyak waktu untuk berlibut." Ucap Melly bisa melihat kalau Amira pasti akan sibung sepanjang hari dan tidak punya waktu banyak untuk berlibur. Yang liburan kemaren ajah Amira masih tetap kerja secara Online dan tidak benar-benar puas menikmati liburnya.
"Oh iya, Mell aku mau cerita."
"Cerita apa itu?." Tanya Melly kepo.
"Aku ketemu dia lagi."
"Siapa?, Glen?." Tanya Melly kaget dan bingung.
"Hem, bener. Dia bahkan datang ke cafe ku dan baru saja mereka pergi." Jelas Amira.
Melly terdiam sejenak.
"Terus, apa yang terjadi Mir?, apa semua baik-baik saja?, maksud ku kalian sudah baikan?."
"Ya, enggak lah. Gak semudah itu bagiku untuk bisa menerimanya kembali, Mel."
"Bagus lah."
"Ha?," Tanya Amira bingung. "Tumben kamu bilang seperti itu?, biasanya kamu selalu membela dia."
"E-em, maksud ku, ya bagus kalau kamu punya prisip seperti itu Mir, aku mulai mendukung mu sekarang. Sekali-kali seorang pria itu harus diberi pelajaran biar tidak seenaknya saja."
"Oh, syukur deh. Akhirnya kamu ada di sisi ku sekarang." Ucap Amira senang.
"Terus, apa lagi yang terjadi antara kalian?." Tanya Melly canggung.
"Gak ada sih, hanya saja dia tadi memohon-mohon maaf pada ku, dan akan menjelaskan semua apa yang dia alami selama ini makanya tidak mengabari aku selama ini. Dan aku tidak mau mendengarkannya, aku tidak perduli lagi apa yang mau dia jelaskan. Semua itu tidak penting lagi bagiku."
"Oh, begitu."
"Hem."
"E-em, Mir. Apa kamu yakin tidak akan kembali bersamanya lagi?." Tanya Melly lagi serius.
Pertanyaan itu membuat Amira terdiam, sejujurnya dia masih bingung dengan perasaanya. Ketika dia berkata tidak mau kembali kepada Glen lagi, tapi hatinya seperti berkata lain, dia sangat berat mengatakannya.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi dimasa depan, Mell. Tapi aku harap hal itu tidak akan terjadi."
"Oh, aku cuman bisa berharap kamu melakukan apa yang terbaik menurut mu Mir, apapun pilhan mu aku yakin itu lah yang terbaik bagimu."
Amira lagi-lagi terharu mendengar perkataan baik Melly. Temannya itu selalu mendukungnya.
"Makasih lo Mell. Oh iya Mell, aku ada urusan sekarang, telponnya aku matikan dulu ya."
"Okey, Mira. Bay."
"Bay Melly sayang." Ucapnya dan mematikan Hape nya.
Setelah semua pekerjaan selesai di Handle, Amira berniat untuk pulang kerumah, karena dia sudah sangat merasa lelah. Setelah perjalanan semalaman di pesawat dia langsung bekerja, sungguh melelahkan.
Ketika hendak berjalan keluar dari cafe nya itu, dia terhenti melihat Glen yang berjalan kearahnya. Ya, Glen kembali.
Amira terus melihat Glen yang berjalan kearahnya sekilah kenangan dulu terlintas di benaknya. Apalagi melihat senyuman lebar Glen saat ini seperti tidak pernah terjadi sesuatu yang menyakitkan.
"Amira."
Amira masih terpaku menatap Glen. Tentu saja Glen bingung dengan tatapan Amira yang tidak biasa, dia berpikir apakah Amira sudah memafkannya atau tidak, karena melihat ekspresi Amira seperti tidak ada kekesalan.
"Amira, apa kamu baik-baik saja?" Tanya nya lagi.
Amira sontak tersadar dan memalingkan pandangannya dari Glen. Dia memaki dirinya dalam hati kenapa dia sampai menatap Glen seperti itu.
Setelah itu Amira langsung melangkah pergi, dia tidak mengatakan sepatah kata pun kepada Glen. Namun, ketika hendak melangkah dengan cepat Glen menarik tangan Amira dan membuatnya terhenti.
"Lepaskan!."
"Amira, ayo kita bicara sebentar."
"Sudah kukatakan aku sangat sibuk."
"Amira, aku mohon. Kali ini saja, dengarkan aku."
Amira membalikkan badannya dan menatap Glen.
"Kita tidak ada apa-apa lagi, Glen. Kamu tidak perlu menjelaskanya, aku tidak membutuhkan itu lagi. Dan aku tidak mengharapkan mu lagi. Jadi, bisakah kamu membiarkan ku dan tidak menggangguku lagi?."
"Tidak, tidak Amira. Aku tidak mau kehilangan kamu."
"Tapi kamu sudah kehilangan aku Glen." Tegasnya mengingatan Glen. "Semenjak tiga tahun lalu aku sudah merelakan mu dan tidak mengharapkan mu lagi. Harapan ku telah pupus, Dan aku tidak mau tahu tentang mu lagi. Sejak saat itu juga, kamu kehilangan aku. Tidak ada lagi yang perlu diperjelas." Tutur Amira.
"Tapi, Mira-"
"Stt, Sudah cukup!. Aku sudah memaafkan mu. Jadi sekarang tolong jangan ganggu kehidupan ku lagi."
"Tidak Amira, itu tidak benar. Aku tidak mau kehilangan mu, Amira." Ucap Glen mengejar langkah Amira yang hendak masuk keadalan mobilnya. namun amira tidak memberikan respon apa-apa lagi.
Amira menghela napasnya berat dan langsung menancapkan mobilnya meninggalkan Glen yang masih saja memanggil-manggilnya.
Dengan cepat Glen masuk kemobilnya dan mengejar Amira. Glen tidak bisa membiarkannya begitu saja, kali ini dia tidak mau kehilangan Amira lagi. Dia sudah bertekad akan memperbaiki semunya dan memperjuangkan Amira.
Glen terus memastikan dia tidak kehilangan jejak mobil Amira. Hingga mobil Amira berhenti disalah satu rumah dua lantai, Terlihat minimalis namun mewah.
"Apa ini rumah Amira?." Ucapnya berkata0kata sendiri, karena yang dia tahu Amira tinggal bukan disini dulu.
Glen melihati Amira turun dari mobil dan tidak menunggu lama dia melihat seorang pria menghampirinya sambil tersenyum menyambut nya.