NovelToon NovelToon
Rumah Impian Yang Retak

Rumah Impian Yang Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eys Resa

Bagi semua orang, pernikahan Nadia dan Rian adalah gambaran kesempurnaan. Rian adalah arsitek sukses yang menopang kehidupan mereka, sementara Nadia adalah istri penurut yang melepaskan mimpi dan karirnya demi berbakti kepada suaminya. Namun di balik dinding rumah megah mereka, hubungan itu telah lama mati dingin sejak insiden keguguran dua tahun lalu.

Namun Rian yang selalu di kelilingi wanita cantik yang menggoda, membuat Nadia merasa terabaikan dengan sikap Rian yang dingin. Belum lagi menghadapi ibu mertuanya yang manipulatif, makin menyudutkan Nadia dalam fitnah dan tuduhan tak berdasar. Saat Rian lebih memilih meragukannya daripada pasang badan untuknya, Nadia akhirnya mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, menyerah dan pergi membawa surat cerai.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Yuk bantu ramaikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Nadia terperanjat, mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur pinggiran lemari. "Mas... tunggu dulu. Aku bisa jelaskan. Pria itu Angga, teman kuliahku dulu. Kami tidak sengaja ketemu di restoran dan—"

​"Cukup, Nadia!" potong Rian dengan bentakan membahana. Matanya memerah, terbakar rasa cemburu dan murka yang luar biasa. "Aku kerja banting tulang, dinas ke luar kota, tapi kamu malah enak-enakan mesra-mesran sama pria lain di belakangku!"

​"Mas Rian, dengarkan aku dulu! Kami tidak ada hubungan apa-apa! Kami cuma teman" seru Nadia, berusaha menenangkan suaminya.

​Namun, Rian yang sudah benar-benar dikuasai amarah tak lagi mendengar logika. Dengan gerakan kasar, jemarinya menyambar gesper dan meloloskan sabuk kulit tebal yang melingkar di pinggangnya.

​"Mas... Mas Rian, kamu mau apa?!" pekik Nadia panik begitu melihat sabuk di tangan Rian.

​Cetas!

​"Aagghh!" Nadia menjerit kesakitan saat sabetan kulit yang sangat keras itu mendarat tepat di lengan atasnya. Rasa panas yang membakar seketika menjalar di kulitnya.

​"Kamu sudah keterlaluan, Nadia! Kamu menghancurkan harga diriku! kamu sudah bersani bermain dengan pria lain di belakang ku." teriak Rian yang sudah gelap mata, mengayunkan sabuk itu kembali secara kalap.

​Cetas! Cetas!

​"Ampun, Mas! Sakit, Mas! Cukup!" jerit Nadia histeris, berusaha menangkis dengan kedua tangannya dan meringkuk di sudut lantai.

Kekuatan fisiknya sama sekali tak sebanding dengan emosi Rian yang membabi buta. Pukulan demi pukulan menyabet bahu, punggung, dan tungkai kakinya, meninggalkan bekas memar kemerahan yang terasa amat panas dan nyeri.

​Dari luar pintu kamar yang tidak tertutup sempurna, Bu Ratna dan Sarah berdiri menonton. Bukannya melerai, kedua wanita itu justru tersenyum puas, saling melempar lirikan licik.

​"Bagus, Rian! Hajar saja biar dia kapok!" bisik Bu Ratna dengan nada dingin tanpa nurani. "Biar tahu diri kalau jadi istri itu jangan pernah bertingkah! seenaknya saja keluar rumah. Eh, tau-taunya ketemuan sama pria lain. Mungkin selama ini, itu yang dia lakukan di luar sana."

​Sarah mengangguk pelan dengan senyum penuh kemenangan, setuju dengan dugaan Bibinya itu. Baginya, pemandangan ini adalah awal dari kehancuran Nadia di rumah tersebut. Dan tidak lama lagi, Nadia akan segera keluar dari rumah ini. Tinggal menunggu waktu Rian akan jatuh ke tangannya.

​Setelah meluapkan amarahnya hingga napasnya memburu kencang, Rian mendadak berhenti melakukan kekerasan itu. Tangannya bergetar hebat saat melihat Nadia meringkuk di lantai, menangis terisak seraya memegangi tubuhnya yang memar. Ujung sabuk di tangannya terjatuh ke lantai dengan bunyi yang berdenting nyaring.

​Kesadaran Rian seolah ditarik kembali secara paksa. Pria itu melangkah mundur, menatap tangannya sendiri dengan raut wajah horor. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rian berbalik dengan tubuh gemetar dan berjalan cepat masuk ke dalam kamar mandi, dan mengunci pintu dari dalam.

​Di bawah guyuran air shower yang dingin, Rian terduduk di lantai kamar mandi. Ia memegangi kepalanya, terisak hebat. Air mata penyesalan menetes berbaur dengan aliran air.

​Ya Tuhan, , apa yang sudah aku lakukan? bisik hatinya penuh keputusasaan. Maafkan aku, Nadia... Maafkan aku... Aku kalap, aku terbawa emosi... Maafkan aku...

​Di luar kamar mandi, Nadia masih terbaring meringkuk di lantai. Rasa perih di kulitnya bertabrakan dengan rasa hancur di dalam dadanya. Air mata menetes membasahi pipinya. Namun, dalam hitungan detik, isakannya perlahan berhenti. Tatapan matanya yang redup berubah menjadi tajam dan dingin.

​Menangis tidak akan mengubah apa pun, batin Nadia menegaskan pada dirinya sendiri. Aku harus segera pergi dari rumah ini secepatnya, sebelum Rian sadar dan malah mengurung ku di rumah ini.

​Dengan sisa tenaganya, Nadia bangkit berdiri secara perlahan. Setiap gerakannya menimbulkan rasa nyeri yang menusuk, namun ia menahan dengan sekuat tenaga untuk bisa berdiri tegak. Ia mengambil ponsel dari dalam tasnya, memotret memar-memar merah kebiruan di lengan, bahu, dan kakinya dari berbagai sudut. Ini adalah bukti kekerasan fisik (KDRT) yang sangat krusial untuk melengkapi berkas gugatan dan laporan polisi.

​Setelah mengamankan bukti-bukti foto tersebut, Nadia menghapus sisa air mata di wajahnya secara kasar. Tanpa ragu, ia membuka lemari, mengambil sisa pakaian penting serta dokumen-dokumen berharganya, lalu memasukannya dengan cepat ke dalam koper dan tas jinjingnya.

​Nadia memutar kunci kamar, melangkah keluar tanpa menimbulkan suara.

​Di ruang makan, Bu Ratna dan Sarah sedang sibuk menata piring-piring untuk makan malam, tertawa kecil dan membicarakan perbuatan Rian kepasa Nadia seolah tidak terjadi apa-apa dan itu adalah hal biasa, suami memberikan pelajaran kepada istrinya yang kurang ajar. Nadia melangkah cepat melewati ruang tengah yang memperdengarkan suara televisi yang sangat keras menuju pintu keluar, tanpa ada yang menghentikannya. Ia tidak berniat berpamitan, juga tidak berminat menatap wajah kedua wanita itu lagi.

​Pintu depan terbuka dan tertutup pelan. Nadia melangkah keluar menembus udara sore, meninggalkan rumah yang selama ini ia kira bisa menjadi sandaran masa depannya. Tapi sekarang, rumah impian itu sudah retak bahkan sudah hancur berkeping-keping, tidak ada yang bisa memperbaikinya lagi.

"Kesempatan yang kau minta sudah kau sia-siakan, dan pintu maafku sudah ku tutup untukmu, Mas! "

​Sementara itu di kamar utama, suara air shower akhirnya mati. Rian keluar dari kamar mandi dengan pakaian seadanya, rambutnya masih basah meneteskan air. Wajahnya pucat pasi, matanya sembap setelah menangis karena penyesalan. Dia akan meminta maaf, bahkan berlutut dihadapan Nadia jika perlu, agar Nadia mau memaafkannya seperti waktu itu.

​"Nadia..." panggil Rian pelan, bermaksud untuk bersimpuh dan memohon ampun pada istrinya.

​Namun, kamar utama itu sepi, tidak ada sosok Nadia yang meringkuk disana. Pandangan Rian seketika tertuju pada pintu lemari yang terbuka lebar dan berantakan. Koper Nadia sudah tidak ada di tempatnya.

​Jantung Rian berdegup kencang, disergap kepanikan yang luar biasa. "Nadia?! Nadia, kamu di mana? Jangan main-main,Nadia... keluarlah, ini nggak lucu."

​Rian berlari keluar kamar, menyusuri setiap sudut ruangan dengan langkah lebar, mencari keberadaan istrinya itu.

​"Rian? Ada apa kamu lari-lari begitu?" tanya Bu Ratna heran saat melihat anaknya panik setengah mati.

​"Nadia mana, Bu?! Nadia di mana?!" seru Rian dengan suara bergetar.

​"Ya mana Ibu tahu! Paling di kamar—"

​Tanpa mendengarkan ucapan ibunya, Rian berlari ke arah pintu depan dan membukanya lebar-lebar. Halaman rumah kosong melompong. Pagar utama sudah terbuka sedikit. Nadia benar-benar telah pergi.

​Rian mencengkeram rambutnya sendiri, memanggil nama istrinya di tengah jalanan depan rumah dengan keputusasaan yang terlambat.

"Nadia.... "

1
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart/
Heni Setiyaningsih
ditambah dong ka up nya
Ariany Sudjana
betul sekali, dasar pelacur murahan kamu Sarah, sudah pengangguran, eh pelacur murahan juga, sama seperti Maya
Ariany Sudjana
hahaha Rian Rian kamu bodoh, mau saja disetir sama Mak Lampir dan juga pelacur murahan kesayangan kamu itu 😂😂🤣🤣
Heni Setiyaningsih
ternyata suami dan mertua bersekongkol mengincar hartanya Nadia ciih menjijikan
Heni Setiyaningsih
gk sabar pengen lihat pembalasan Nadia
falea sezi
🤣🤣 trik laki. yg uda ketauan selingkuh ya begitu
Eys Resa: yah, begitulah🙈🌹
total 1 replies
Mefiani
datang lagi hama...hilang maya datanglah sarah...mungkinkah ini yg akan memicu perginya nadia??ditunggu..
Mefiani: siiip lah...👍
total 2 replies
Mefiani
mungkinkah perubahan itu bisa selamanya ato sesaat??ditunggu kelanjutane
Eys Resa: siap bos
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
kurang Thor besok update nya double ya 😄💪
Eys Resa: hehehe, kalo sempet ya kak. othor lagi ngerjain 4 novel soalnya😁🙈🌹
total 1 replies
Mefiani
pergi sono nadia dan kembalilah kekehidupanmu sebelum kamu menikah...raihlah kebebadanmu..💪
Eys Resa: hooh kk
total 3 replies
falea sezi
mertua kayak lampir lanjut thor laki bego gini di cerai aja🤣
Eys Resa: 🙈🙈🙈🤭🤭
total 1 replies
falea sezi
moga bagus ampe ending q kirim bunga dehh🤭
Eys Resa: makasih kak. semoga ya, lagi mikir alurnya kak, semoga nanti suka😁
total 1 replies
Mefiani
akhirnya buat cerita baru lagi kak resa sayank..q dah meluncur nich..😘💪
Eys Resa: makasih kak Mefi, yang pertama nih. bentar lagi juga ngisi di sebelah kak. 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!