PERANG TANPA PAHLAWAN
Ardan hanyalah seorang pemuda biasa dari desa kecil yang tidak pernah membayangkan dirinya akan menginjakkan kaki di medan perang. Ia bukan bangsawan, bukan kesatria terpilih, dan tidak memiliki kekuatan istimewa. Baginya, kehidupan sederhana bersama keluarga sudah lebih dari cukup.
Namun semuanya berubah ketika perang pecah dan desanya menjadi salah satu korban pertama. Kehilangan rumah dan keluarganya membuat Ardan bergabung dengan militer, bukan demi kejayaan, melainkan hanya untuk bertahan hidup.
Di medan perang, ia menemukan kenyataan yang jauh lebih mengerikan daripada cerita tentang kepahlawanan. Ia menyaksikan sahabat-sahabatnya gugur, desa-desa terbakar, dan ribuan manusia saling membunuh tanpa benar-benar memahami alasan mereka berperang.
Seiring waktu, Ardan naik pangkat dari prajurit biasa hingga menjadi seorang komandan. Setiap kenaikan pangkat memberinya kekuasaan lebih besar, tetapi juga tanggung jawab yang semakin berat. Setiap perintah yang ia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19 — Aliansi Beastkin
Tiga hari menunggu keputusan dewan suku terasa seperti keabadian, diisi dengan interaksi hati-hati antara tim kecil Ardan dan para Beastkin yang masih mengamati mereka dengan kewaspadaan yang belum sepenuhnya hilang.
Selama masa penantian itu, Ardan menghabiskan waktu mengamati kehidupan suku dengan rasa hormat yang tulus—cara mereka merawat tanah dengan penuh perhatian, tradisi lisan yang mengajarkan sejarah panjang mereka dari generasi ke generasi, ikatan komunitas yang jauh lebih erat daripada apa pun yang pernah ia saksikan di kota-kota manusia.
"Kau memperhatikan dengan mata yang berbeda dari kebanyakan manusia yang pernah kutemui," komentar Kestra suatu sore, menemukan Ardan duduk sendirian mengamati anak-anak Beastkin bermain di padang rumput.
"Aku dibesarkan di lembah pertanian kecil," jelas Ardan. "Mungkin itu mengajarkanku untuk menghargai hubungan dengan tanah, dengan komunitas, meski bentuknya berbeda dari yang kalian miliki di sini."
Kestra duduk di sampingnya, mengamati anak-anak yang sama dengan ekspresi yang sedikit melunak. "Dewan telah membuat keputusan. Mereka bersedia berbagi apa yang mereka ketahui, dengan syarat."
"Syarat apa?"
"Bahwa kalian membawa bukti ini bukan hanya untuk mendapatkan keadilan bagi kerajaan manusia, tapi juga untuk memastikan Federasi Beastkin mendapat pengakuan yang sepantasnya atas eksploitasi yang telah kami alami selama ini." Mata Kestra menajam. "Kami lelah menjadi alat bagi perang orang lain, dibayar dengan janji-janji yang jarang ditepati."
---
"Aku berjanji," kata Ardan, suaranya penuh ketulusan yang jarang ia tunjukkan secara formal. "Apa pun yang terungkap dari penyelidikan ini, Federasi Beastkin akan diakui sebagai sekutu dan korban, bukan hanya alat yang digunakan dan dibuang."
Kestra mengangguk, menerima janji itu dengan keseriusan yang menunjukkan betapa besarnya makna kata-kata itu baginya. "Baiklah. Aku akan membawamu ke salah satu tetua kami yang telah mengumpulkan catatan tentang transaksi-transaksi mencurigakan selama bertahun-tahun."
Tetua yang dimaksud, seorang lelaki tua bernama Orrin Bulansenja dengan bulu keperakan yang menunjukkan usianya yang lanjut, menyambut mereka di sebuah tenda besar yang berfungsi sebagai semacam perpustakaan suku, dipenuhi gulungan-gulungan catatan yang disimpan dengan hati-hati.
"Aku telah mencatat setiap transaksi senjata dan perjanjian yang melibatkan suku kami selama empat puluh tahun terakhir," jelasnya, suaranya serak namun jelas. "Pola yang kalian jelaskan—insiden-insiden yang memicu konflik tanpa penjelasan jelas, pihak ketiga yang selalu diuntungkan—aku telah melihatnya berulang kali."
Ia menunjukkan beberapa gulungan, detail-detail yang semakin menguatkan gambaran yang telah mulai terbentuk dari penyelidikan mereka—nama-nama perusahaan cangkang yang sama, pola transaksi yang identik dengan yang ditemukan dalam catatan Hendrick, meski kali ini melibatkan suku Beastkin sebagai korban alih-alih Valdren atau Sylvaris.
---
"Ini luar biasa," gumam Serena, memeriksa salah satu gulungan dengan mata yang berbinar oleh kombinasi kekaguman dan kemarahan. "Catatan ini, digabungkan dengan yang kita miliki dari Hendrick, bisa menjadi bukti yang hampir tak terbantahkan tentang skala operasi Majelis Abu."
"Dengan satu syarat," tambah Orrin Bulansenja. "Catatan asli ini tidak boleh meninggalkan wilayah kami. Tapi kalian boleh membuat salinan, dan aku akan menyertakan kesaksian tertulis dariku sendiri, menjelaskan apa yang telah kusaksikan selama bertahun-tahun."
Proses menyalin catatan-catatan itu memakan waktu dua hari penuh, Serena dan penerjemah mereka bekerja tanpa lelah untuk memastikan setiap detail tercatat dengan akurat, sementara Ardan dan Kael membantu dengan tugas-tugas lain, termasuk membangun hubungan lebih jauh dengan anggota suku lainnya.
Kael, dengan bakat alaminya untuk memanah, mendapati dirinya terlibat dalam sesi latihan bersama pemanah-pemanah muda Beastkin, teknik mereka yang mengandalkan insting dan kecepatan alami berbeda namun sama efektifnya dengan teknik yang telah ia pelajari sebagai manusia.
"Kau punya mata yang tajam untuk seorang manusia," puji seorang pemanah muda Beastkin bernama Fenn, setelah menyaksikan Kael mengenai target yang sulit.
"Aku punya guru yang baik," jawab Kael, memikirkan ayahnya yang jauh di utara. "Dan teman-teman yang mengajarkanku bahwa belajar dari orang lain, apa pun latar belakang mereka, hanya membuat kita lebih kuat."
---
Ketika akhirnya tiba waktu untuk kembali ke garis depan Sylvaris, Kestra mengantar mereka sampai batas wilayah, membawa pesan resmi dari dewan suku untuk Jenderal Roderic, menyatakan kesediaan Federasi Beastkin untuk menjadi sekutu dalam mengungkap kebenaran tentang Majelis Abu.
"Ini baru permulaan," kata Kestra, menyerahkan gulungan pesan resmi itu pada Ardan. "Tapi permulaan yang penting. Terima kasih telah datang dengan hati yang terbuka, Letnan Ardan."
"Terima kasih atas kepercayaan Anda," jawab Ardan tulus. "Aku berjanji, kami tidak akan mengecewakannya."
Perjalanan kembali ke garis depan dipenuhi dengan rasa optimisme yang telah lama absen—untuk pertama kalinya, mereka tidak hanya mengumpulkan bukti, tapi juga membangun jaringan sekutu yang mulai melampaui batas-batas kerajaan tunggal, sebuah koalisi yang mungkin, pada akhirnya, memiliki kekuatan untuk benar-benar menghadapi Majelis Abu.
"Kita membangun sesuatu yang lebih besar dari yang kita bayangkan," kata Serena, menatap gulungan-gulungan bukti yang mereka bawa pulang. "Bukan hanya penyelidikan, tapi aliansi yang mungkin mengubah cara kerajaan-kerajaan ini berhubungan satu sama lain, jauh melampaui perang ini sendiri."
Ardan mengangguk, merasakan berat dan harapan yang sama-sama nyata dalam perjalanan yang telah mereka tempuh sejauh ini, dan yang masih harus mereka tempuh ke depan.
---
Kepulangan mereka ke garis depan Sylvaris disambut dengan kabar yang tidak sepenuhnya menggembirakan—selama ketidakhadiran mereka, Ravharn telah melancarkan dua serangan signifikan, memanfaatkan berkurangnya kekuatan di beberapa sektor pertahanan.
"Kita kehilangan beberapa posisi di sektor timur," lapor Orwin ketika mereka tiba, wajahnya menunjukkan kelelahan dari hari-hari pertempuran yang intens. "Tidak ada yang kritis, tapi cukup untuk mengingatkan kita bahwa perang konvensional tidak berhenti hanya karena kita sibuk dengan penyelidikan lain."
Ardan merasakan beban ganda dari situasi mereka—di satu sisi, kemajuan luar biasa dalam mengungkap Majelis Abu; di sisi lain, tanggung jawab nyata sebagai perwira militer yang harus tetap fokus pada perang yang sedang berlangsung.
"Berapa korban?" tanyanya, menyiapkan diri untuk kabar buruk.
"Lebih sedikit dari yang dikhawatirkan, berkat kepemimpinan Serjeant pengganti yang kau latih dengan baik." Orwin memberikan senyum tipis, pengakuan atas sistem yang telah Ardan bangun dalam regunya. "Tapi beberapa rekrut baru terluka parah. Wyn di antaranya."
Kabar itu menghantam Ardan dengan kekhawatiran langsung. Ia segera menuju tenda perawatan, menemukan Wyn terbaring dengan perban tebal melilit dadanya, wajahnya pucat namun matanya masih sadar ketika Ardan mendekat.
---
"Sersan," gumam Wyn lemah, mencoba tersenyum meski rasa sakit jelas terlihat di wajahnya. "Maaf... tidak bisa menjaga posisi dengan baik tanpa Anda."
"Jangan minta maaf," jawab Ardan, duduk di sampingnya. "Kau masih hidup. Itu yang terpenting."
Lena, yang merawat Wyn, memberikan laporan medis singkat pada Ardan setelah mereka menjauh sedikit dari tempat tidur pemuda itu. "Lukanya serius tapi tidak mengancam nyawa. Ia akan pulih, meski butuh waktu beberapa minggu sebelum bisa kembali bertugas penuh."
"Terima kasih, Lena. Atas segalanya."
"Itu pekerjaanku," jawabnya sederhana, meski senyum tipis menunjukkan bahwa ia menghargai pengakuan itu. Ardan memperhatikan bagaimana Tobin, yang juga datang menjenguk, bertukar pandang dengan Lena yang berlangsung sedikit lebih lama dari yang diperlukan secara profesional—sesuatu yang telah berkembang perlahan sejak pertemuan pertama mereka berbulan-bulan lalu.
---
Laporan resmi kepada Roderic tentang hasil misi ke wilayah Beastkin diterima dengan antusiasme yang jarang ditunjukkan sang jenderal secara terbuka.
"Ini melebihi ekspektasiku," katanya, memeriksa gulungan-gulungan bukti yang mereka bawa pulang. "Dengan catatan dari Hendrick dan sekarang dari Beastkin, kita memiliki pola yang konsisten melintasi beberapa dekade dan berbagai pihak yang terlibat. Ini mulai menjadi kasus yang bisa dibawa ke hadapan Raja sendiri."
"Apakah kita sudah cukup siap untuk itu?" tanya Ardan.
"Belum sepenuhnya," Roderic mengakui. "Tapi kita semakin dekat. Aku perlu waktu untuk mengatur pertemuan yang aman, memastikan informasi ini sampai ke tangan yang tepat tanpa risiko dicegat oleh mereka yang mungkin masih berpengaruh di istana."
Diskusi strategi berlanjut hingga larut malam, merencanakan langkah-langkah selanjutnya sambil tetap menyeimbangkan tanggung jawab militer konvensional yang masih menuntut perhatian penuh mereka.
---
Beberapa hari kemudian, ketika rutinitas garis depan mulai kembali normal, Ardan menemukan momen untuk berbicara dengan Tobin secara pribadi, mengamati kedekatannya yang terus berkembang dengan Lena.
"Jadi," katanya, mencoba nada ringan, "kapan kau akan mengakui perasaanmu padanya?"
Tobin tersipu, sesuatu yang jarang terjadi pada sahabatnya yang biasanya tenang. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan."
"Tobin, aku telah mengenalmu sejak kita masih anak-anak di Elar. Aku tahu kapan kau menyembunyikan sesuatu."
Helaan napas panjang keluar dari Tobin, akhirnya menyerah pada pengakuan yang telah lama ia tahan. "Aku takut, Ardan. Dengan segala yang terjadi—perang ini, bahaya dari penyelidikan kita—bagaimana aku bisa memikirkan sesuatu seromantis itu di tengah semua kekacauan ini?"
"Mungkin justru karena semua kekacauan ini," jawab Ardan lembut, "kita perlu memegang erat momen-momen kebahagiaan yang kita temukan. Hidup ini singkat dan tidak pasti, terutama bagi kita yang berada di garis depan. Jangan biarkan ketakutan menghalangimu dari sesuatu yang mungkin membawa kebahagiaan nyata."
Kata-kata itu tampaknya menyentuh sesuatu dalam diri Tobin, karena beberapa hari kemudian, Ardan melihatnya berjalan bersama Lena di sepanjang tepi sungai kecil dekat perkemahan, tangan mereka saling bertautan, senyum yang jarang terlihat menghiasi wajah keduanya.
"Kurasa seseorang akhirnya mengumpulkan keberanian," goda Kael, bergabung dengan Ardan menyaksikan pemandangan itu dari kejauhan.
"Mereka pantas mendapatkan kebahagiaan itu," jawab Ardan tulus. "Kita semua pantas, setelah semua yang telah kita lalui."