Sinta Maharani dijual ayah kandungnya seharga Rp 500 juta untuk lunasi hutang judi.
Pembelinya adalah Arga Wijaya, CEO Rogue terkaya dan paling kejam di Jakarta. Pernikahan kontrak 1 tahun demi warisan triliunan.
Namun di malam pertama, Arga berbisik dingin, "Keluarga Maharani adalah pembunuh keluargaku. Sekarang giliranmu yang membayarnya."
Sinta terjebak. Menikah dengan musuh yang membenci darahnya, sambil menyembunyikan rahasia bahwa dia adalah serigala terakhir berdarah murni.
Mampukah Sinta bertahan di tengah dendam dan cinta terlarang? Ataukah dia akan hancur oleh masa lalu keluarganya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: PERANG SAHAM 2 TRILIUN VS TAN GROUP DAN PELUKAN DI TENGAH BADAI
Jam 8 pagi, lonceng bursa saham Jakarta baru saja dibuka, tapi layar saham Wijaya Group sudah berwarna merah darah.
-20% dalam 30 menit. Itu angka yang sangat mengerikan untuk perusahaan sebesar Wijaya Group yang valuasinya 2 Triliun.
Di ruang kerja penthouse lantai 50, Arga berdiri dengan kemeja putih yang lengannya dilipat, dasinya dilepas, menatap 6 layar monitor saham yang semuanya merah dengan tatapan dingin yang mematikan. Di sekelilingnya ada 10 orang direksi dan tim keuangan terbaik yang wajahnya pucat ketakutan.
"Tuan, investor dari Singapura, Tan Capital, menarik dana 400 Miliar pagi ini. Mereka jual semua saham Wijaya Group. Ini jelas ulah Kelvin Tan!" kata Hendra, tangan kanan Arga, dengan suara gemetar.
Arga tidak menjawab, dia hanya mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih. 400 Miliar hilang dalam 30 menit karena ulah satu pria yang ingin merebut mertuanya.
Aku masuk ke ruang kerja dengan membawa 2 cangkir kopi hitam, aku tidak tega melihat suamiku seperti itu.
"Mas... sarapan dulu... dari semalam Mas belum makan..." bisikku pelan meletakkan kopi di meja kerjanya.
Semua direksi langsung menunduk tidak berani lihat aku yang hanya pakai piyama sutra dan rambut berantakan, mereka tahu aku adalah Nyonya Wijaya pemilik 50% saham.
Arga yang tadinya tegang langsung menarik napas panjang saat melihatku, dia menarikku ke samping dan berbisik.
"Sayang, masuk kamar dulu ya, ini urusan kantor yang agak rumit, Mas takut kamu stres."
"Tidak Mas, Sinta mau di sini, Sinta kan pemilik 50% saham juga, Sinta mau belajar gimana caranya lawan Kelvin Tan itu."
Jawaban beraniku membuat semua direksi di ruangan itu terkejut dan kagum. Gadis penjual gorengan yang 16 hari lalu tidak tahu apa itu saham, sekarang berani bilang mau lawan konglomerat Singapura.
Arga tersenyum tipis, senyum bangga, lalu mengangguk dan mendudukkanku di kursi CEO di sebelahnya.
"Baik, Nyonya Wijaya, mari kita lawan dia sama-sama."
Arga kembali menatap layar dan mulai memberi perintah dengan suara yang sangat tenang tapi mengerikan, suara CEO Rogue yang membuat semua direksi merinding.
"Hendra, hubungi semua investor loyal Wijaya Group, bilang Arga Wijaya akan buyback saham 400 Miliar hari ini juga dengan uang pribadi saya. Saya tidak akan biarkan saham Wijaya jatuh karena ulah Singapura. Dan kedua, jual semua aset dan investasi kita di Singapura senilai 600 Miliar, tarik semua. Kalau Tan Group mau perang, kita perang total!"
"Siap Tuan!"
"Dan ketiga," Arga menatapku dengan tatapan penuh cinta, "transfer 1 Miliar ke rekening pribadi Pak Herman untuk biaya pengacara lawan panggilan polisi palsu Kelvin Tan itu. Jangan sampai ayah mertua saya masuk penjara lagi."
Aku menggenggam tangan Arga di bawah meja, terharu.
Perang saham dimulai. Sepanjang hari itu, Arga tidak makan, tidak minum, hanya menatap layar dan berteriak memberi perintah. Saham Wijaya yang tadinya -20%, perlahan naik menjadi -15%, -10%, -5%, dan akhirnya jam 3 sore, saat bursa tutup, saham Wijaya kembali ke 0%, tidak rugi sama sekali!
Arga berhasil selamatkan 2 Triliun hanya dalam 7 jam! Semua direksi bertepuk tangan dan bersorak.
"SELAMAT TUAN ARGA! KITA MENANG HARI INI!"
Tapi Arga tidak terlihat senang, dia terlihat sangat lelah, matanya merah karena menatap layar seharian.
Setelah semua direksi pulang, aku memeluk Arga dari belakang di kursi CEO nya.
"Mas hebat banget... Sinta bangga sama Mas..."
Arga menarikku ke pangkuannya, menyandarkan kepalanya di dadaku, seperti anak kecil yang kelelahan mencari kenyamanan.
"Saya lelah sayang... seharian lawan Kelvin Tan... tapi saya lebih takut kalau dia bawa Tante Rina pergi... saya janji sama Mama Papa saya dulu sebelum meninggal, saya akan jaga keluarga Wijaya... Tante Rina adalah keluarga Wijaya..."
Aku mengelus rambut Arga dengan lembut, mencium keningnya yang basah karena keringat.
"Mas sudah hebat, sudah jaga keluarga kita... sekarang istirahat ya..."
Malam itu, kami tidak tidur di ranjang, kami tidur di sofa ruang kerja berpelukan, dengan layar saham yang masih menyala menunjukkan angka 0% yang stabil.
Tapi perang belum selesai. Jam 2 pagi, saat kami tertidur lelap di sofa, ponsel Arga berdering keras.
Nama yang tertera: POLDA METRO JAYA.
"Halo Tuan Arga, maaf mengganggu malam-malam, kami mau informasikan, Pak Herman Santoso, ayah mertua Tuan, baru saja kami tahan di rumah sakit atas laporan baru dari Tuan Kelvin Tan tentang kasus penipuan investasi 10 tahun lalu. Kami terpaksa tahan demi proses penyelidikan."
Arga langsung terbangun dan berdiri, matanya merah marah.
"APA? KALIAN TAHAN AYAH MERTUA SAYA DI RUMAH SAKIT? DIA MASIH SAKIT! LEPASKAN DIA SEKARANG ATAU SAYA TUNTUT POLDA 1 TRILIUN!"
Aku yang terbangun mendengar kata tahan langsung menangis histeris.
"Ayah saya ditahan lagi Mas? Kenapa? Bukannya kasusnya sudah bersih?"
Arga memelukku erat sambil menelepon pengacara dengan tangan gemetar karena marah.
Kelvin Tan benar-benar licik, dia tidak bisa hancurkan saham Wijaya, jadi dia hancurkan ayahku dengan kasus baru yang palsu.
Jam 3 pagi, kami bergegas ke Polda Metro Jaya. Di sana, ayahku yang masih memakai baju pasien rumah sakit duduk di ruang tahanan sementara dengan wajah yang sangat ketakutan dan bingung, di sampingnya ada Kelvin Tan dengan senyum kemenangan.
"Selamat malam Tuan Arga dan Nyonya Sinta, ayah kalian saya titip di sini dulu ya, biar dia belajar jangan main-main sama Tan Group," kata Kelvin dengan nada sombong.
Aku langsung berlari memeluk ayahku yang dingin.
"Ayah... Ayah tidak apa-apa?"
"Sinta... Ayah takut Nak... Ayah tidak tipu siapa pun... Ayah tidak tahu investasi apa yang dimaksud..."
Arga berjalan menghampiri Kelvin dengan langkah yang sangat pelan tapi mengerikan, setiap langkahnya membuat polisi di sana mundur ketakutan.
"Kelvin Tan, saya sudah bilang jangan sentuh keluarga saya. Anda tuli?"
"Oh saya tidak sentuh, saya hanya laporkan fakta bahwa ayah mertua kamu itu penipu 10 tahun lalu. Ada buktinya kok," Kelvin menyodorkan map palsu.
Arga tidak peduli map itu, dia langsung merebut kerah jas mahal Kelvin dan mendorongnya ke dinding ruang tahanan dengan kekuatan penuh.
"BRAK!"
Semua polisi terkejut, tidak ada yang berani pisahkan CEO Wijaya Group dan pewaris Tan Group yang sedang berkelahi di kantor polisi!
"DENGAR SAYA BAIK-BAIK KELVIN TAN! KALAU SAMPAI 1 HELAI RAMBUT AYAH MERTUA SAYA JATUH DI TAHANAN INI, SAYA AKAN HANCURKAN TAN GROUP DARI SINGAPURA SAMPAI JAKARTA! SAYA TIDAK PEDULI ANDA 10 KALI LEBIH KAYA! SAYA ARGA WIJAYA, SAYA TIDAK PERNAH KALAH!"
Mata Arga merah darah, urat lehernya keluar, dia benar-benar marah besar demi ayahku.
Kelvin yang didorong ke dinding sedikit takut, tapi masih berusaha sombong.
"Lepaskan saya Arga! Kamu akan menyesal!"
"TIDAK AKAN SAYA LEPASKAN SEBELUM AYAH MERTUA SAYA BEBAS MALAM INI JUGA!"
Tepat saat itu, pintu ruang tahanan terbuka dan masuklah ibuku, Rina Wijaya, dengan wajah yang sangat marah dan berlinang air mata.
"CUKUP KELVIN! LEPASKAN SUAMI SAYA!" teriak ibuku dengan suara yang menggema.
Ibuku berjalan menghampiri Kelvin dan menampar pipi Kelvin dengan sangat keras.
"PLAK!"
Tamparan itu membuat semua orang di ruangan terdiam.
"Selama 17 tahun saya takut sama kamu Kelvin! 17 tahun saya sembunyi! Tapi malam ini saya tidak takut lagi! Karena saya punya keluarga yang lindungi saya! Herman adalah suami saya! Sinta adalah anak saya! Arga adalah keponakan sekaligus menantu saya! Kalau kamu tahan Herman, berarti kamu tahan saya juga! TAHAN SAYA SEKARANG JUGA!"
Keberanian ibuku itu membuat Kelvin terkejut, dia tidak menyangka wanita lemah lembut yang dulu dia kenal 17 tahun lalu, sekarang berani menamparnya di depan polisi.
Polisi yang melihat situasi semakin panas akhirnya memutuskan.
"Baik, karena ada jaminan dari keluarga Wijaya dan tidak ada bukti kuat, Pak Herman kami bebaskan malam ini, tapi wajib lapor seminggu sekali."
Ayahku bebas! Aku langsung memeluk ayahku dan ibuku bersamaan sambil menangis bahagia.
Kelvin yang kalah malam itu pergi dengan wajah marah, dia menatap ibuku dengan tatapan penuh dendam.
"Rina, kamu akan menyesal tolak saya lagi. Perang ini belum selesai."
Setelah Kelvin pergi, Arga memeluk kami bertiga, keluarga kecil yang baru saja bersatu kembali setelah 17 tahun.
"Terima kasih Tante Rina sudah berani lawan Kelvin," kata Arga tulus.
Ibu Rina tersenyum dan mengusap air mata.
"Seharusnya Tante yang terima kasih, Arga. Kamu sudah jaga anak dan suami Tante seperti keluarga kamu sendiri. Tante bangga punya keponakan sekaligus menantu seperti kamu."
Malam itu, kami pulang ke penthouse jam 5 pagi, dengan perasaan lelah tapi bahagia karena keluarga kami masih utuh.
Di dalam mobil, ayahku dan ibuku duduk di belakang bergandengan tangan setelah 17 tahun terpisah, sedangkan aku tertidur di pelukan Arga di kursi depan karena kelelahan menangis.
Arga mencium keningku pelan dan berbisik.
"Tidur ya sayang, Mas ada di sini, Mas akan jaga keluarga kita selamanya, tidak akan ada Kelvin Tan lain yang bisa pisahkan kita."
Dan untuk pertama kalinya setelah 16 hari pernikahan kontrak 500 juta itu, aku benar-benar merasa, ini bukan lagi kontrak, ini adalah keluarga sungguhan yang akan aku jaga sampai mati.
Tapi di Singapura, di kantor Tan Group yang megah, Kelvin Tan sedang menatap foto Sinta yang dicetak besar di mejanya, dengan senyum obsesi yang mengerikan.
"Arga Wijaya, kamu boleh menang hari ini selamatkan mertua kamu. Tapi istri kamu, Sinta Wijaya, cantiknya mirip ibunya, saya akan buat dia jadi milik saya selanjutnya."
Bahaya baru yang lebih besar untuk Sinta akan segera datang.
(Bersambung...)
:-[