Isabella adalah mantan pembunuh bayaran paling berbahaya dan paling di takuti di dunia gelap. Selama bertahun-tahun tangannya telah berlumuran darah.
Namun semuanya berubah saat Isabella menemukan seorang bayi perempuan di depan apartemennya. Sejak saat itu dia memutuskan pensiun demi keselamatan anaknya. Tapi sayangnya sang bos tidak menyukai itu, hingga dia membunuh anak Isabella karena menganggap jika anak itu adalah penghalang Isabella.
Melihat sang putri tewas, Isabella marah dan mulai memburu satu persatu orang yang telah membunuh putrinya. Setelah dendamnya terbayar, Isabella memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Namun kematian ternyata bukan akhir baginya, karena setelah membuka mata kembali. Isabella mendapati dirinya berada di tubuh seorang wanita bernama Isabella Iris, seorang ratu yang di buang dari istananya sendiri.
Bagimana kisah Isabella selanjutnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Pertemuan Pertama Seorang Ibu
Tidak lama kemudian, pintu kamar Isabella terbuka. Seorang wanita berpakaian seperti pelayan memasuki kamar isabella, wajahnya terlihat panik, bahkan matanya sudah dipenuhi air mata.
“Nyonya Alicia!”
Wanita itu segera menghampiri tempat tidur, Isabella yang baru saja duduk menatapnya dengan bingung.
“Martha?”
Martha berhenti di hadapannya, begitu melihat Isabella sudah sadar dan bisa berbicara, air matanya langsung jatuh.
“Syukurlah…”
Martha menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Syukurlah Anda baik-baik saja, Nyonya.”
Isabella tersenyum tipis.
“Aku sudah baik-baik saja, Martha. Berhentilah menangis.”
Namun perkataan itu justru membuat Martha semakin terisak.
“Saya kira, saya kira Nyonya tidak akan selamat.”
Martha mengusap air matanya.
“Selama beberapa hari ini tubuh Nyonya sangat panas, saya benar-benar takut.”
Isabella terdiam, Ia baru menyadari betapa buruk kondisinya beberapa hari terakhir.
“Sebenarnya saya ingin memanggil tabib,”
Martha menatap isabella sedih.
“Tetapi saya tidak tau bagaimana caranya keluar dari hutan ini, saya tidak memiliki sihir teleportasi. Maafkan saya nyonya.”
Martha menundukkan kepalanya.
“Jadi saya hanya bisa merawat Nyonya sendiri.”
Isabella menatap wanita di hadapannya dalam-dalam. Selama lima tahun terakhir, Martha-lah yang merawat rumah ini, Martha pula yang membawakan makanan ke kamarnya, Martha yang merawat ketiga anaknya dan ketika Isabella jatuh sakit, Martha masih tetap merawatnya tanpa mengeluh sedikit pun.
“Terima kasih,” ucap Isabella pelan.
Martha menggeleng cepat.
“Tidak perlu berterima kasih kepada saya, Nyonya. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan.”
Isabella kemudian teringat sesuatu.
“Martha…”
“Ya, Nyonya?”
“Bagaimana keadaan anak-anak?”
Martha terdiam sejenak.
“Mereka baik-baik saja.”
Isabella menundukkan pandangan.
“Ketiga anakku…”
Ia menarik napas dalam.
“Siapa nama mereka?”
Martha membeku.
“Nyonya…”
“Jawab saja.”
Martha menggigit bibirnya sebelum akhirnya berkata pelan.
“Maafkan saya.”
“Untuk apa?”
“Saya telah lancang.”
Martha menundukkan kepalanya dalam-dalam.
“Karena Nyonya tidak pernah memberikan nama kepada mereka, saya… saya akhirnya memberikan nama kepada mereka.”
Isabella terdiam, Martha segera melanjutkan dengan gugup.
“Saya tahu saya tidak memiliki hak untuk melakukan itu, tetapi saya tidak tega terus memanggil mereka hanya dengan sebutan anak pertama, anak kedua, dan anak ketiga.”
Isabella justru tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
Martha mengangkat kepalanya.
“Benarkah?”
“Ya.”
Isabella menatap Martha dengan tatapan lembut.
“Justru aku yang harus berterima kasih padamu.”
Martha terdiam.
“Selama ini aku terlalu sibuk dengan kesedihanku sendiri sampai melupakan mereka.”
Isabella mengepalkan tangannya di atas selimut.
“Sedangkan kau, kau merawat mereka ketika aku tidak bisa merawat mereka.” Ucap Isabella.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Terima kasih, Martha.” Kata Isabella tulus.
Martha langsung menangis.
“Nama mereka…”
Ia tersenyum sambil menghapus air matanya.
“Anak anda yang pertama adalah laki-laki, namanya Sean.”
“Sean…”
“Anak anda yang kedua juga laki-laki, namanya Liam.”
“Liam…”
“Dan yang ketiga, dia anak perempuan yang sangat cantik, namanya Elora.”
Isabella mengulang ketiga nama itu dalam hati.
Sean.
Liam.
Elora.
Isabella tersenyum, ternyata dia masih di beri kesempatan untuk menjadi seorang ibu dan anaknya bukan hanya satu, tapi ada tiga.
“Martha, aku ingin bertemu dengan mereka.”
Martha terkejut.
“Nyonya ingin bertemu mereka sekarang?”
Isabella mengangguk.
“Ya.”
Martha tersenyum.
“Baiklah.”
Martha membawa Isabella menyusuri lorong rumah. Semakin jauh mereka berjalan, semakin jelas Isabella menyadari betapa buruk kondisi rumah itu. Rumah itu ternyata cukup kecil, padahal Alicia sendiri adalah seorang bangsawan. Benar-benar menyedihkan. Akhirnya mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu tua.
“Mereka di sini, Nyonya.”
Isabella mengangguk, Martha lalu membuka pintu kayu itu. Begitu memasuki kamar, Isabella langsung terdiam. Dadanya terasa sesak, ruangan itu sangat kecil dan kumuh. Tidak ada tempat tidur yang layak, tidak ada selimut hangat. Di sana hanya ada beberapa tumpukan jerami yang diberi alas kain tipis dan di atas jerami itulah tiga anaknya tidur. Isabella memandangi mereka dengan hati yang terasa diremas, suaranya tercekat.
“Apa mereka tidur di sini setiap malam?”
Martha menundukkan kepala.
“Iya, Nyonya.”
“Kenapa?”
“Di rumah ini hanya ada satu kamar tidur yang layak nyonya.”
Martha melirik ke arah kamar Isabella.
“Kamar itu adalah kamar nyonya.”
Isabella terdiam, Ia tidak bisa berkata apa-apa.
Bukan karena marah kepada Martha, melainkan karena ia menyadari sesuatu. Selama lima tahun, ia menganggap kamarnya sebagai tempat paling aman. Ia mengurung diri di sana karena depresi, kesedihan, dan ketakutan yang tidak pernah bisa ia lawan. Tetapi selama ia mencari tempat aman untuk dirinya sendiri, ketiga anaknya justru hidup tanpa kenyamanan.
Tiba-tiba terdengar suara kecil.
“Siapa itu?”
Isabella menoleh, Sean sudah terbangun.
Anak laki-laki itu menatap Isabella dengan mata penuh rasa ingin tahu, Liam yang berada di sebelahnya ikut bangun, Elora juga membuka matanya. Ketiganya memandang Isabella, tidak ada satu pun dari mereka yang mengenal wajah wanita di hadapan mereka.
Mereka tidak tau, jika wanita yang berdiri di hadapan mereka itu adalah ibu mereka. Ibu yang sangat mereka rindukan selama empat tahun ini, Ibu yang hanya mereka lihat dari balik pintu kamar yang selalu tertutup.
Selama lima tahun ini, mereka tidak pernah melihat wajah isabella, tidak pernah berbicara dengannya bahkan tidak pernah merasakan pelukan seorang ibu darinya. Mereka hanya mengetahui isabella lewat setiap cerita Martha.
Isabella menatap ketiga anak itu, kini ketiga anak itu resmi menjadi anaknya sama seperti putrinya Bianca.
Isabella perlahan melangkah mendekat, ketiga anak itu terlihat sedikit takut, tapi Isabella tidak berhenti, perlahan dia berlutut di hadapan mereka.
Mata Isabella mulai berkaca-kaca.
“Sean…”
Sean terdiam.
“Liam…”
Liam memandangnya.
“Elora…”
Anak perempuan kecil itu memeluk lututnya sendiri, Isabella menelan rasa sesak di tenggorokannya.
“Maafkan ibu.”
Ketiga anak itu terdiam, menatap isabella dengan mata berkaca-kaca. Ternyata wanita di hadapan mereka ini adalah ibu mereka, Ibu yang hanya mereka impikan lewat setiap cerita martha, kini tepat di hadapan mereka.
Isabella menundukkan kepalanya.
“Ibu tahu, selama ini Ibu bukan ibu yang baik.”
Air mata mulai mengalir di pipinya.
“Selama empat tahun, Ibu tidak pernah ada untuk kalian. Ibu tidak pernah memeluk kalian, bermain sama kalian, bahkan Ibu juga tidak memberikan kalian nama."
Suaranya bergetar.
“Maafkan Ibu.”
Sean menatap Isabella cukup lama, kemudian ia perlahan turun dari jerami. Anak kecil itu berjalan mendekati Isabella, Isabella menahan napas, Sean mengangkat tangannya yang kecil dan menyentuh pipi Isabella.
“Ibu?”
Satu kata sederhana itu membuat hati Isabella hancur.
“Ya sayang, ini Ibu”
Air mata Isabella semakin deras.
“Aku Ibu kalian.” Ucap Isabella.
sean menatap Isabella lalu kemudian memeluk Isabella, akhirnya ibu mereka mau menemui mereka juga, tubuh kecil itu menempel di tubuhnya.
“Ibu sudah sembuh?” Tanya Sean, dia tahu dari martha jika beberapa hari ini ibunya jatuh sakit. Sebenarnya Sean, Liam dan Elora sangat ingin menemui Isabella. Tapi mereka takut, kehadiran mereka justru akan membuat Isabella semakin sakit.
Isabella membeku, kemudian kedua tangannya perlahan memeluk tubuh Sean.
“Ya, Ibu sudah sembuh…” ucap Isabella.
Tangisan Sean akhirnya pecah, dia bahagia akhirnya ibunya sembuh. Selama beberapa hari ini mereka bertiga sangat khawatir dengan kondisi Isabella, tapi syukurlah sekarang Isabella sudah sembuh, bahkan dia sudah bisa menerima kehadiran mereka, Sean merasa sangat bahagia.
“Ibu sudah sembuh, syukurlah.”
Liam yang melihat kakaknya memeluk Isabella akhirnya ikut mendekat.
“Ibu”
Isabella segera membuka sebelah tangannya.
“Liam…”
Liam ikut memeluknya.
Elora yang awalnya hanya berdiri memandang mereka akhirnya berlari kecil dan ikut memeluk Isabella. Dalam sekejap, ketiga anak itu berada dalam pelukan Isabella, Isabella menangis tanpa suara, tangannya memeluk mereka erat seolah takut mereka akan menghilang.
Dan saat itu…
Sebuah wajah kecil muncul di dalam ingatannya.
Bianca.
Putrinya.
Anak yang dulu pernah ia sayangi dengan seluruh hatinya, kenangan tentang Bianca membuat dada Isabella semakin sakit. Ia teringat bagaimana rasanya memeluk anaknya, bagaimana rasanya saat pertama kali Bianca memanggilnya "mommy”.
Dan sekarang…
Isabella kembali mendapatkan kesempatan untuk merasakan semuanya, Isabella menutup matanya.
“Ibu janji…”
Ketiga anak itu terdiam dalam pelukannya.
“Mulai sekarang, Ibu akan menjadi ibu yang baik untuk kalian.”
Isabella mencium kepala Sean.
“Ibu akan menyayangi kalian.”
Ia mencium kening Liam.
“Tidak peduli apa yang terjadi.”
Kemudian ia mencium kening Elora.
“Kalian adalah anak-anak Ibu.”
Isabella memeluk mereka semakin erat.
“Dan Ibu tidak akan meninggalkan kalian lagi.”
Martha yang berdiri di dekat pintu ikut menangis melihat pemandangan itu. Akhirnya setelah empat tahun, kamar kecil itu tidak lagi terasa dingin, tidak lagi terasa sepi. Karena kali ini, ketiga anak yang selama ini hanya memiliki satu sama lain itu akhirnya memiliki seorang ibu yang benar-benar ingin memeluk mereka.
Dan Isabella akhirnya menyadari satu hal, mungkin Tuhan memberinya kesempatan kedua bukan untuk memperbaiki masa lalunya.
Melainkan untuk memberikan masa depan yang lebih baik kepada tiga anak yang selama ini telah diabaikan oleh ibu mereka.
Bersambung