Bagaimana jadinya jika seorang dokter bedah dan ahli toksikologi jenius dari abad ke-21 bertransmigrasi ke tubuh seorang Permaisuri yang lemah dan dibuang?
Anran, seorang dokter genius masa depan, tewas dalam insiden laboratorium dan terbangun di tubuh Permaisuri Kerajaan Great Yan. Tak hanya dibuang ke Istana Dingin karena fitnah kejam, tubuh Permaisuri ini juga diracuni secara perlahan oleh musuh-musuhnya di istana belakang.
Permaisuri lama yang penakut dan mudah menangis telah lenyap. Kini, Anran bangkit membawa kecerdasan medis modern, keahlian racun yang mematikan, dan keberanian tanpa batas!
Satu per satu racun dibongkar, fitnah selir licik dipatahkan, dan intrik politik kerajaan dihancurkan. Seluruh istana dibuat gempar oleh perubahan drastis sang Permaisuri yang kini anggun, cerdas, dan tidak bisa diintimidasi oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut bab 26
Perburuan itu resmi dimulai sebelum senja merambat menyelimuti benteng istana.
Di bawah naungan bayang-bayang Istana Fengyi, sepuluh prajurit bayangan dari Skuadron Naga Hitam berlutut bersujud di hadapan Anran. Berbeda dengan pengawal istana biasa, mereka berbalut zirah sutra hitam pekat, membawa belati berkembar di pinggang, dan bergerak tanpa suara bagaikan hantu di tengah malam.
"Hamba Pemimpin Naga Hitam, Shadow, siap menerima perintah Yang Mulia Permaisuri!" ucap pemimpin skuadron dengan suara serak yang tenang.
Anran berdiri anggun di tengah aula peraduan, memegang peta denah kompleks istana belakang dan daftar inventaris barang impor kerajaan.
"Pangeran Xiao membawa Daun Darah Hitam dan Selir Mei memperoleh Bunga Malam Biru," ujar Anran dengan nada dingin. "Dua bahan beracun ini tergolong komoditas terlarang yang hanya bisa melewati gerbang ibu kota jika mendapat stempel izin khusus dari Balai Logistik Istana atau Kediaman Ibu Suri."
Shadow menengadah sedikit, mata tajamnya berkilat di balik topeng hitam. "Apakah Yang Mulia mencurigai Kediaman Ibu Suri?"
"Ibu Suri Agung terlalu tua dan sudah lama mengasingkan diri di Kediaman Panjang Umur untuk tidak mengurusi politik," potong Anran tenang. "Namun, bibi dari Selir Mei Ibu Suri Muda Dowager Xian memiliki kendali langsung atas stempel logistik sebelum aku mengambil alih Balai Pengobatan. Shadow, malam ini periksa ruang rahasia di paviliun Dowager Xian tanpa meninggalkan jejak sedikit pun."
"Hamba laksanakan perintah!" seru Shadow. Dalam sekejap mata, sepuluh prajurit bayangan itu melompat keluar jendela dan menghilang di antara kegelapan genteng istana.
Anran melangkah mendekati meja kerja, memeriksa sisa sampel racun di bawah pendar cahaya lilin. Sebagai ilmuwan medis modern, ia tahu betul bahwa setiap bahan racun langka memiliki jejak rantai pasokan yang tidak bisa dihapus begitu saja.
Beberapa jam kemudian, di tengah malam yang sunyi, Shadow kembali ke Istana Fengyi. Ia membawa sebuah kotak besi kecil berukir lambang feniks hitam yang berhasil ditemukan di bawah lantai ganda paviliun Dowager Xian.
"Yang Mulia," bisik Shadow seraya meletakkan kotak itu. "Kami menemukan ini tersembunyi di balik altar doa Dowager Xian."
Anran membuka kotak besi itu. Di dalamnya terdapat beberapa lembar surat rahasia berstempel lilin merah Kerajaan Selatan serta sepaket serbuk halus berwarna ungu tua—Akar Racun Bintang, racun tingkat tinggi yang sanggup merusak organ dalam secara perlahan tanpa terdeteksi oleh uji jarum perak biasa.
Anran membaca isi surat-surat itu, senyum dingin mengulas di bibirnya. "Rupanya Dowager Xian telah lama bersekutu dengan Perdana Menteri Kerajaan Selatan untuk menjatuhkan Kaisar Tian, agar keponakannya—anak dari Selir Mei—bisa didudukkan di atas Tahta Naga sebagai raja boneka."
"Apakah kita perlu menangkap Dowager Xian sekarang juga, Yang Mulia?" tanya Shadow.
"Tidak," sahut Anran seraya menutup kembali kotak besi tersebut. "Menangkapnya di tengah malam hanya akan membuat pengikutnya di istana panik dan memusnahkan sisa bukti lainnya. Kita akan menjebaknya di hadapan Kaisar Tian saat ritual doa esok malam."
Malam berikutnya, di dalam Aula Persembahyangan Kerajaan yang terang benderang oleh ratusan lilin minyak cendana, Dowager Xian duduk anggun di atas kursi ukir jati. Di sekelilingnya, beberapa pejabat senior dan dayang istana berdiri berbaris rapi, memanjatkan doa yang berpura-pura memohon keselamatan pasukan perang di perbatasan selatan.
Tiba-tiba, pintu kayu raksasa Aula Persembahyangan terdorong terbuka kencang!
Kaisar Tian melangkah masuk dengan wajah sekeras batu karang, didampingi oleh Anran yang berbalut gaun sutra kebesaran merah-hitam. Di belakang mereka, puluhan prajurit Skuadron Naga Hitam mengepung seluruh penjuru aula dengan pedang terhunus.
Dowager Xian berdiri dengan raut wajah terkejut yang dibuat-buat. "Yang Mulia Kaisar? Permaisuri? Ada apa dengan kegemparan di tempat suci ini?"
Anran melangkah maju dengan tenang, mengeluarkan kotak besi berukir feniks hitam dan meletakkannya tepat di atas meja altar doa.
"Dowager Xian," ujar Anran dengan suara jernih yang memotong keheningan aula. "Doa yang