Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Sementara itu di ruang tamu Dalem, ketegangan masih menggantung pekat.
Umi Sinta menatap putra tunggalnya dengan raut wajah menuntut, mencoba menanamkan keraguan yang selama ini dibisikkan oleh Umi Mina.
"Musa, coba kamu pikirkan lagi baik-baik. Apakah Laila itu benar-benar pantas menjadi istri seorang ustaz terpandang seperti kamu? Dia itu sangat berbeda jauh jika dibandingkan dengan Musdalifah!" tegas Umi Sinta dengan nada penuh penekanan.
Abah Kyai Adam menggelengkan kepala melihat sikap istrinya, namun sebelum beliau sempat menyela, Musa sudah lebih dulu memotong dengan suara tenang, dalam, dan tak terbantahkan.
"Umi, sudah. Sekarang Musa sudah mempunyai istri. Dan, istri Musa adalah Laila," ucap Musa singkat namun menyiratkan batas mutlak yang tak boleh dilanggar siapa pun.
Umi Sinta seketika terdiam. Meski bibirnya terkatup rapat, dadanya masih naik-turun menahan emosi dan kejengkolan karena merasa nasihatnya tak dihiraukan oleh sang putra.
Di sisi lain, di dalam dapur Dalem yang hangat, Laila perlahan menyapu sisa tawa gembiranya bersama Bibi.
Pengalaman masa kecil Musa yang menggemaskan cukup berhasil mengikis rasa canggung di hatinya.
Dengan telaten, ia merapikan nampan kayu berisi cangkir teh manis panas untuk Umi Sinta dan kopi hitam beraroma khas untuk Abah Kyai.
Bibi dapur menatap Laila dengan binar ketakjuban dan rasa sayang yang tulus.
"Masya Allah, Mbak Laila ini bukan cuma cantik, tapi lembut dan keibuan sekali," puji Bibi dengan tulus sembari mengusap pelan lengan Laila.
"Bibi cuma bisa berdoa, semoga Mbak Laila selalu diberi kesabaran dan kekuatan ya, Mbak, menghadapi sifat dingin dan dinamika keluarga Dalem ini. Percayalah, Den Musa pasti akan selalu jadi benteng buat Mbak."
Laila mengulas senyum tulus di balik cadarnya. "Aamiin. Terima kasih banyak ya, Bi, doa dan bantuannya."
Dengan menghembuskan napas pelan untuk menetralkan hatinya, Laila mengangkat nampan kayu tersebut.
Ia melangkah keluar dari dapur menuju ruang tamu dengan gerakan yang teramat tenang, anggun, dan penuh tata krama.
Namun, tepat sebelum Laila sampai di ambang pintu ruang tamu Dalem, pintu depan utama lebih dulu terbuka lebar.
Umi Mina dan Musdalifah melangkah masuk dengan senyum manis yang dibuat-buat. Kedatangan mereka yang mendadak itu dikemas rapi dalam sandiwara bersilaturahmi.
"Assalamu'alaikum, Kyai. Umi." sapa Umi Mina dengan suara mendayu-dayu yang dipenuhi rasa hormat palsu.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi," jawab Abah Kyai singkat dengan wajah datar, sementara Umi Sinta langsung mengubah raut wajahnya menjadi lebih hangat menyambut kedatangan mereka.
Mata Musdalifah langsung berbinar saat menangkap sosok Musa yang sedang duduk gagah di kursi utama.
Tanpa memedulikan keberadaan Abah Kyai maupun tata krama pesantren, Musdalifah melangkah dengan gaya menggodanya yang dibuat-buat.
Dengan penuh percaya diri dan tanpa rasa malu, ia langsung mengambil posisi duduk tepat di sebelah Musa di atas sofa yang sama, mengikis jarak di antara mereka.
"Ustaz Musa, makin gagah saja hari ini," bisik Musdalifah dengan nada manja yang sengaja dibikin halus.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Musa langsung menggeser tubuhnya menjauh hingga ke ujung sofa.
Sepasang mata tajamnya melirik Musdalifah dengan pendar kejam dan pemicu amarah yang membara—memancarkan aura dingin nan mencekam dari seorang penguasa dunia bawah tanah yang siap menerkam siapa saja yang berani bersikap kurang ajar padanya.
Laila melangkah pelan memecah ketegangan yang menggantung di udara.
Jemari lenturnya memegang erat nampan kayu berisi cangkir-cangkir panas yang aromanya menyeruak lembut.
Setiap pijakan kakinya begitu tenang dan anggun, menunjukkan tata krama yang amat dijaganya.
Namun, kedatangan Laila seketika menyedot perhatian Musdalifah.
Tanpa tahu malu, wanita itu melirik Laila dari atas ke bawah dengan tatapan cemooh.
Sunggingan senyum miring tercetak jelas di bibirnya sebelum ia berucap menyindir dengan nada meremehkan yang amat nyaring.
"Oh, ada pembantu baru ya di Dalem?"
Aksi kurang ajar itu membuat atmosfer ruang tamu seketika membeku dan mendingin secara mendadak.
Umi Sinta hanya diam seribu bahasa, diam-diam menikmati hinaan yang dilontarkan Musdalifah untuk menyudutkan Laila.
Sebaliknya, Abah Kyai Adam mengepalkan tangannya rapat-rapat.
Pria paruh baya itu menatap Musdalifah dengan teguran keras dan kekecewaan yang membara dari sorot matanya.
Sebelum Abah Kyai sempat menyuarakan amarahnya, atau Laila meletakkan nampannya, aura dari sosok Musa yang duduk di sofa berubah sepenuhnya.
Sorot mata tajam pria itu memancarkan kekejaman dingin yang sanggup menghentikan napas siapa pun di ruangan tersebut.
Musdalifah bangkit dari duduknya, melangkah pura-pura hendak mengambil cangkir di nampan yang sedang dibawa Laila.
Dengan raut wajah licik, Musdalifah sengaja menyilangkan kakinya, berpura-pura tersandung untuk menyenggol keras nampan kayu tersebut.
Niat jahatnya jelas: membuat tumpahan air teh dan kopi panas yang mendidih menyiram serta membakar kulit Laila.
Namun, reaksi yang terjadi di luar dugaan semua orang.
Dengan kecepatan dan refleks luar biasa sebagai pemimpin mafia, Musa melompat bangkit dari duduknya.
Jemarinya siap terulur cepat untuk merengkuh pinggang Laila dan membawanya ke dalam lindungan tubuhnya.
Tetapi sebelum tangan Musa menyentuh tubuh istrinya, Laila bergerak lebin dahulu.
Sengan gerakan silat yang teramat presisi, tenang, dan secepat kilat, Laila memutar pergelangan tangannya, menangkis tekanan nampan dan membalikkan sudut tumpahan ke arah lawan.
Deg!
Langkah Musa terhenti seketika. Sepasang mata tajamnya membelalak pelan menyaksikan kelincahan istrinya yang berhasil menghindar tanpa celah.
Apa dia punya kemampuan bela diri? gumam Musa terkejut di dalam hatinya, terpana melihat gerakan refleks sang istri yang begitu terlatih.
Nampan kayu itu terbalik anggun di udara. Seluruh isi cangkir berisi air kopi dan teh mendidih yang tadinya ditargetkan menyiram Laila, tumpah sepenuhnya dan menyiram tepat ke punggung tangan serta kaki Musdalifah.
"AAARRGGHH! PANAAASSS!"
Jeritan histeris Musdalifah menggelegar memecah keheningan Dalem.
Wanita itu melompat-lompat kesakitan sembari memegangi punggung tangan dan kakinya yang mendadak memerah terkena sengatan air panas.
"Jahat kamu, Laila!!" teriak Musdalifah histeris dengan wajah merah padam, menyalahkan Laila atas kesalahannya sendiri.
Umi Mina yang terkejut langsung menjerit panik menghampiri putrinya.
Begitu pula dengan Umi Sinta; tanpa mencari tahu kebenaran insiden tersebut, Umi Sinta yang memang sudah membenci Laila langsung pasang badan membela Musdalifah.
Dengan nada memekik penuh amarah, Umi Sinta menunjuk wajah Laila.
"Laila! Kamu ini benar-benar tidak punya tata krama! Minta maaf kamu sekarang! Bersimpuh di depan Musdalifah!" tuntut Umi Sinta penuh emosi.
Sebelum Laila sempat bersuara, Musa melangkah maju dengan cepat.
Pria bertubuh tegap itu membentangkan tangannya lebar-lebar tepat di depan Laila, menjadikan tubuh kokohnya sebagai benteng mutlak yang menyembunyikan istrinya dari tuduhan.
Musa menatap ibunya dengan tatapan mata menggelegar yang sarat akan kekejaman dingin, lalu menyuarakan pembelaannya dengan suara berat tak terbantahkan.
"Umi! Musdalifah yang salah, bukan istriku!"
Kyai Adam yang sejak tadi mengamati jalannya insiden itu dengan raut wajah tegar dan penuh kewibawaan segera mengangkat tangannya, menghentikan keributan yang makin menjadi-jadi.
"Cukup!" tegas Kyai Adam dengan suara menggelegar khas pengasuh pesantren yang seketika membungkam Umi Mina dan Umi Sinta.
Kyai Adam memanggil dua orang santri laki-laki yang sedang berada di luar Dalem.
"Kalian, cepat bawa Musdalifah ke ruang kesehatan untuk diobati!" perintah Kyai Adam tegas.
"Baik, Kyai!" sahut kedua santri itu sigap. Mereka membimbing Musdalifah yang masih merintih kesakitan dan meringis menahan perih di punggung tangan serta kakinya.
Saat tubuhnya diseret perlahan keluar dari ruang tamu Dalem, Musdalifah memutar kepalanya.
Dari balik rintihannya, mata Musdalifah menatap tajam ke arah Laila—menyorotkan pendar dendam dan kebencian yang teramat pekat, seolah bersumpah bahwa pertempuran di antara mereka baru saja dimulai.
Umi Mina yang tidak terima langsung menyusul putrinya menuju ruang kesehatan dengan langkah terburu-buru, menyisakan ketegangan yang masih menyengat di dalam ruang tamu Dalem.
"Duduk semuanya!" perintah Kyai Adam dengan suara tenang namun tegas yang memberi penekanan penuh kewibawaan.
Suasana ruang tamu Dalem seketika hening. Musa membimbing Laila untuk duduk di sampingnya, merangkul bahu istrinya dengan penuh kelembutan.
Di balik kain cadarnya, Laila tampak gemetar ketakutan, masih syok dengan insiden yang baru saja terjadi serta tatapan kebencian yang dilayangkan Musdalifah padanya.
Melihat tubuh menantunya yang bergetar pelan, Kyai Adam menatapnya dengan pendar mata yang teramat teduh. Beliau memanggil bibi dapur yang melintas tak jauh dari sana.
"Bi, ambilkan teh hangat untuk menantuku," ucap Kyai Adam lembut.
"A-aku tidak apa-apa, Abah. Musa." bisik Laila lirih, mencoba menenangkan suasana meski jemarinya masih bertaut dingin.
Musa menggenggam erat jemari Laila, mengusapnya perlahan.
"Laila, turuti perkataan Abah."
Bibi dapur bergegas membawa segelas teh hangat dan menyajikannya untuk Laila.
Laila menerimanya dengan santun dan menyeruputnya perlahan hingga rasa gemetarnya memudar.
Kemudian Kyai Adam menarik napas panjang. Pria paruh baya itu membalikkan tubuhnya, menatap Umi Sinta yang masih berdiri dengan napas memburu dan raut wajah penuh emosi.
"Umi Sinta, istriku, kenapa kamu berubah? Ada apa?" tanya Kyai Adam penuh keprihatinan.
"Apa karena perjodohan kemarin gagal? Kamu malu dengan sahabatmu, Mina, sampai kamu tega merendahkan menantumu sendiri di rumah ini?"
Umi Sinta tersentak. Wajahnya memerah, mencoba membela diri.
"Tapi Abah, tadi itu jelas-jelas Laila yang—"
"Umi, bukan Laila yang bersalah. Tapi Musdalifah," cuti Musa memotong kalimat ibunya dengan suara berat dan tenang.
Musa merogoh ponsel pintarnya dari saku jas. Dengan beberapa ketukan cepat di layar, ia memutar sebuah rekaman video lalu menyodorkannya ke hadapan Umi Sinta dan Kyai Adam.
Di layar ponsel itu, terpampang jelas rekaman sudut CCTV Dalem berresolusi tinggi: Musdalifah yang secara sengaja menyilangkan kakinya dan mengarahkan tubuhnya untuk menyenggol nampan kayu yang dibawakan Laila, berniat membuat air panas itu menyiram tubuh Laila sebelum akhirnya Laila menghindar dengan refleks kilatnya.
Umi Sinta membeku seketika saat menyaksikan bukti autentik di depan matanya.
Bibirnya terkatup rapat, tak lagi sanggup mengutarakan sepatah kata pun pembelaan untuk Musdalifah.
😒😒😒😒😒🥱🥱🥱
makany jgn coba2 ngusik umi Laila ,,
jd hancur lebur kn Hrga diri kalian ,, 😏😏😏😏😏
umi Sinta bisa menerima Laila dg baik ,,
bisa2 ny pak kiyai nikahin perempuan model gtuu ,,
semangat Musa berantas semua org2 yg udh nyakitin Laila ,,
sedangkan Nakula ny B aj ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
msh aj di pilih ,, buka mata mu lebar2 umiiiiii